NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:47.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​

​Beberapa hari telah berlalu sejak peristiwa makan malam perayaan kebebasan Husna bersama Devan dan Deka. Setelah rentetan ketegangan, drama pendaftaran perceraian di Pengadilan Agama, hingga kehancuran bisnis Bian yang mengejutkan publik, hari-hari Husna kini berganti menjadi begitu tenang, damai, dan dipenuhi keceriaan.

​Sore itu, akhir pekan di salah satu pusat perbelanjaan dan supermarket premium di kawasan Jakarta Selatan tampak cukup ramai. Husna memutuskan untuk belanja kebutuhan bulanan rumah utamanya. Namun kali ini, ia tidak pergi sendirian. Kedua putra kembarnya, Devan dan Deka, dengan sigap memosisikan diri sebagai pengawal pribadi bunda tercinta.

​"Bunda mau beli apa lagi? Biar Deka yang dorong trolinya. Bunda tinggal tunjuk-tunjuk aja bagaikan ratu," seloroh Deka riang seraya mendorong troli belanjaan yang sudah terisi beberapa barang kebutuhan dapur dan perlengkapan rumah tangga.

​Husna tertawa halus mendengar racikan humor anak bungsunya. "Bunda cuma mau cari bumbu-bumbu dapur impor sama beberapa buah segar buat stok di kulkas, Deka. Kalian kalau mau ambil camilan atau minuman favorit ambil saja, mumpung Bunda yang bayar."

​"Asyik! Itu dia kalimat yang paling Deka tunggu-tunggu dari tadi!" seru Deka antusias, langsung menggamit lengan kembarannya. "Yuk, Dev! Kita serbu lorong camilan!"

​Devan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kembarannya, namun senyum tipis menghiasi wajah tampannya. "Jangan boros-boros, Deka. Ingat trolinya nanti makin berat."

​Husna berjalan anggun menyusuri lorong bagian buah-buahan segar dan bahan makanan organik. Penampilannya sore itu tampak begitu segar dan elegan dengan balutan stelan tunik warna krem lembut dan jilbab senada. Tidak ada raut kelelahan; aura wanita matang yang sukses, mandiri, dan bahagia terpancar sangat kuat dari dirinya.

​Saat Husna sedang memilah-milah apel merah segar di salah satu rak pendingin, suara langkah kaki dan tawa renyah dari lorong sebelah terdengar mendekat.

​"Papa, kan Dita udah bilang, sirup maple yang biasa dipake buat pancake itu merk yang tempat botolnya kaca begini, bukan yang plastik," ujar sebuah suara wanita muda yang terdengar begitu ramah dan santai.

​"Iya, Papa tadi salah ambil karena warnanya mirip, Dita. Untung Tita yang meriksa barang di troli," sahut suara pria berwibawa dengan nada bass yang begitu hangat dan tenang.

​Deg.

​Husna menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang buah apel. Suara pria itu nada bicaranya, intonasinya, dan cara tertawanya yang khas mendadak memicu untaian ingatan masa lalu yang sudah puluhan tahun terkubur rapat di dalam benaknya.

​Husna perlahan membalikkan badannya, menatap ke arah lorong tempat suara itu berasal.

​Di sana, tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak seorang pria paruh baya yang tampil begitu karismatik dan rapi dengan kemeja kasual warna biru gelap yang tergulung hingga siku. Pria itu tampak matang, tampan di usianya, dan memancarkan wibawa yang sangat kuat, namun raut wajahnya ramah tanpa kesan sombong. Di sisi kanan dan kirinya, berdiri dua wanita muda berparas cantik, anggun, dan dewasa yang memegang beberapa barang belanjaan.

​Seketika mata Husna membelalak kecil. Bibirnya bergetar pelan.

​"Rafli...?" bisik Husna lirih, hampir tak terdengar.

​Pria itu Rafli yang sedang tertawa mendengar candaan anak-anaknya, refleks menoleh ketika merasa ada seseorang yang menyebut namanya. Saat tatapan mata Rafli bertabrakan dengan pandangan mata Husna, langkah kaki pria itu mendadak terhenti seketika.

​Suasana di lorong supermarket itu seolah berhenti berputar sejenak. Mata Rafli berbinar, memancarkan rasa kaget, tak percaya, sekaligus kerinduan mendalam atas kenangan sahabat lamanya.

​"Husna...?" ucap Rafli dengan suara rendah dan bergetar halus.

​Rafli melangkah mendekat, menghentikan jalannya beberapa langkah di depan Husna. Senyuman lebar yang sangat tulus terkembang di wajah tampan pria itu. "Masya Allah... Husna? Ini benar-benar kamu, Na?"

​Husna tak sanggup menahan senyum hangat yang merekah dari bibirnya. Rasa canggung yang sempat terlintas seketika lebur oleh kehangatan kenangan masa lalu.

​"Iya, Rafli... Ini aku. Masya Allah, sudah berapa puluh tahun ya kita tidak pernah ketemu?" ujar Husna dengan nada suara yang penuh rasa haru.

​Dulu, Rafli adalah sahabat terbaik Husna semasa kuliah. Mereka sangat dekat dan selalu saling mendukung dalam urusan akademik maupun kehidupan.

Namun, komunikasi mereka terputus total puluhan tahun lalu bukan karena pertengkaran, melainkan karena Husna memilih bijak dan menjaga jarak setelah mengetahui istri Rafli dulu memiliki rasa cemburu yang sangat berlebihan terhadap hubungan persahabatan mereka. Demi menjaga keutuhan rumah tangga sahabatnya, Husna memilih mundur perlahan hingga mereka kehilangan kontak sama sekali saat Rafli pindah ke luar kota.

​"Puluhan tahun, Na... Puluhan tahun," ulang Rafli seraya menggelengkan kepala, tatapannya menatap Husna dengan pandangan takjub. "Kamu... sama sekali tidak berubah, Na. Tetap anggun dan tenang seperti dulu."

​"Ah, kamu bisa saja, Rafli. Umur sudah berkepala empat begini," jawab Husna tersipu pelan.

​Dua wanita muda yang berdiri di samping Rafli melangkah mendekat seraya tersenyum manis. Mereka adalah Dita dan Tita, dua putra-putri tercinta Rafli yang kini sudah tumbuh dewasa dan bekerja sebagai profesional muda di kantor cabang perusahaan keluarga mereka di Jakarta.

​"Papa... ini Tante Husna ya?" tanya Dita, putri sulung Rafli, dengan senyuman yang sangat ramah dan menyejukkan.

​Tita, putri bongsor Rafli, ikut tersenyum lebar seraya menatap Husna penuh kekaguman. "Iya, Pa! Ini pasti Tante Husna yang suka Papa ceritain dulu kan?"

​Mendengar ucapan anak-anaknya, wajah Rafli mendadak merona tipis, menimbulkan tawa halus di antara mereka. Husna yang mendengar hal itu sedikit tersentak kaget namun tersentuh.

​"Kalian berdua Dita dan Tita, ya?" tanya Husna penuh kehangatan. "Dulu saat terakhir denger kabar, kalian masih kecil-kecil banget. Sekarang tumbuh jadi gadis-gadis yang cantik dan anggun sekali."

​"Terima kasih, Tante Husna," sahut Dita dan Tita kompak seraya menyalami tangan Husna penuh rasa hormat. Tatapan kedua anak perempuan Rafli itu memancarkan rasa hangat dan kebahagiaan yang tak biasa. Seolah-olah dari senyuman dan pandangan mata Dita dan Tita, mereka sudah tahu rahasia tersirat dari cerita-cerita nostalgia yang sering disampaikan ayah mereka tentang sosok wanita tegar bernama Husna ini.

​Saat kehangatan itu terjalin, langkah kaki dari arah lorong camilan mendekat. Devan dan Deka berjalan menghampiri dengan troli yang sudah terisi beberapa boks makanan ringan.

​"Bumbu dapurnya udah ketemu, Bun" kalimat Deka terhenti saat melihat ibunya sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria paruh baya bertubuh tegap dan dua wanita muda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

​Devan dan Deka saling bertukar pandang sejenak. Sepanjang hidup mereka, kedua anak kembar ini sama sekali tidak pernah tahu atau mendengar bahwa bunda mereka memiliki seorang sahabat laki-laki. Penampilan Rafli yang begitu berwibawa, mapan, dan memancarkan aura pria terhormat seketika mencuri perhatian kedua pemuda itu.

​"Eh, anak-anak Bunda..." Husna menyadari kehadiran kedua putranya dan langsung melambaikan tangan. "Sini, Nak."

​Devan dan Deka mendekat dengan sopan.

​"Devan, Deka... kenalkan, ini Om Rafli. Beliau ini... sahabat lama Bunda zaman kuliah dulu," tutur Husna memperkenalkan. "Dan ini Dita sama Tita, putri-putrinya Om Rafli."

​Devan dan Deka langsung mengulurkan tangan, menyalami Rafli dengan raut wajah penuh hormat.

​"Saya Devan, Om," ucap anak sulung Husna tegas dan sopan.

​"Saya Deka, Om," sambung Deka dengan senyum ramahnya.

​Rafli menepuk bahu Devan dan Deka bergantian dengan raut wajah yang tampak sangat terkesan. "Masya Allah... anak-anak kamu sudah besar-besar dan gagah begini ya, Na. Ganteng-ganteng dan kelihatan sangat protektif sama bundanya."

​"Iya, Om. Kami memang pengawal pribadinya Bunda," sahut Deka santai, memecah kekakuan dan memicu tawa renyah dari Dita dan Tita.

​"Papa ini sekarang fokus mengurus beberapa cabang bisnis di Jakarta, Tante. Jadi Papa decided buat stay di Jakarta biar bisa dekat sama kami berdua yang memang kerja di kantor cabang sini," Dita memberikan penjelasan singkat tentang keberadaan Ayahnya saat ini, memperjelas bahwa kini Rafli sudah berstatus duda setelah istrinya berpulang beberapa tahun lalu dan hidup mandiri bersama gurita bisnisnya.

​"Wah, kebetulan sekali ya," jawab Husna tulus.

​Rafli melirik barang belanjaannya yang ada di troli, lalu melihat jam di tangannya. Raut wajahnya memperlihatkan sedikit penyesalan karena situasi yang kurang tepat untuk mengobrol panjang lebar.

​"Na... sebenarnya banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan dan obrolkan setelah puluhan tahun hilang kontak," ujar Rafli lembut, tatapannya tertuju lurus pada mata Husna. "Tapi kebetulan barang belanjaan anak-anak ini sudah harus dibawa pulang dan kami ada janji makan malam keluarga sebentar lagi."

​"Ah, iya, Rafli. Tidak apa-apa, jangan sampai mengganggu jadwal kalian," jawab Husna mengerti.

​"Boleh aku minta nomor telepon kamu yang aktif sekarang, Na?" tanya Rafli tanpa ragu, merogoh ponsel pintarnya dari saku kemeja. "Siapa tahu... di lain waktu kalau kamu ada waktu luang, kita bisa minum kopi atau makan siang bareng untuk menyambung silaturahmi sahabat lama?"

​Husna tersenyum hangat. Tidak ada alasan untuk menolak niat baik dari sahabat yang selalu menghormatinya. "Boleh, Rafli. Catat ya..."

​Husna pun menyebutkan nomor ponselnya, yang langsung disimpan rapi oleh Rafli di ponselnya.

​"Terima kasih ya, Na. Nanti aku hubungi kamu," ucap Rafli dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan sejati.

​"Tante Husna, Mas Devan, Mas Deka... kami pamit duluan ya. Senang sekali bisa ketemu Tante hari ini," pamit Dita dan Tita seraya tersenyum manis. Tatapan penuh dukung manis dari kedua anak perempuan itu kembali terpancar jelas saat mereka melirik sang ayah yang tampak begitu semringah.

​"Iya, Dita, Tita... Hati-hati di jalan ya," balas Husna ramah.

​Setelah bertukar sapaan terakhir, Rafli dan kedua putrinya melangkah menuju kasir. Sebelum benar-benar menghilang di balik kerumunan pengunjung, Rafli sempat menoleh kembali ke arah Husna, menyunggingkan senyuman paling hangat yang dibalas anggukan lembut dari Husna.

​Setelah rombongan Rafli menjauh, Deka langsung memajukan badannya, menatap bundanya dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu yang membuncah.

​"Bunda. Tadi itu beneran sahabatnya Bunda?!" bisik Deka heboh. " Kok Deka sama Devan gak pernah tahu kalau Bunda punya sahabat cowok keren kayak gitu?"

​Devan ikut menyandarkan tangannya di troli, menatap ibunya dengan senyum tipis yang sarat akan arti dukungan. "Om Rafli kelihatan seperti pria yang sangat terhormat dan dewasa, Bun. Pandangan matanya ke Bunda tadi... kelihatan banget kalau beliau sangat menghargai Bunda."

​Husna menggeleng-gelengkan kepala seraya tertawa halus menutupi rasa hangat yang menjalar di dadanya. "Kalian ini ada-ada saja. Beliau itu cuma sahabat lama Bunda zaman Sekolah. Sudah, yuk kita ke kasir, nanti keburu malam."

​Meskipun Husna mencoba mengalihkan pembicaraan, senyuman tipis tak bisa lepas dari wajah cantiknya. Pertemuan tak sengaja sore itu bagaikan takdir manis yang menyapa lembut. Di antara dorongan troli dan hangatnya suasana supermarket, sebuah benih harapan dan awal dari kisah baru yang penuh penghormatan perlahan mulai bersemi dalam kehidupan Husna.

1
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍
susi ana
aku geli sama istilah "niat jantan" dr Rafli..... lucu banget 😂
falea sezi
wahh uda end ternyata si bapak durjana
Noey Aprilia
Akhir tragis buat sng pngkhianat....
btw,srius end kk????
mksh crtanya,aku otw crtamu yg lain...💃💃💃
blcak areng: terima kasih Kak
total 1 replies
Muft Smoker
ceritanya seperti biasa ,,
bagus dan banyak pelajaran ny
Muft Smoker
waaah udh tamat kak ,,

yx seburuk-buruk ny kelakuan manusia di saat Dy berpulang tetap harus d lakukan yg terbaik ,,
bian udh menyadari dan menyesali perbuatan ny ,, ,,

terimakasih buat cerita ny kali ini kak ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
semangat dan sukses selalu buat kk ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,,
karya terbaru ny udh msuk list aq ,,
total 2 replies
Muft Smoker
kn emnk udh jdi ibu ny kak 🤭🤭😁😁🫰
T🥀007
lanjut
Nieta Poedjo
kartu hitam = black card
bukan
kartu hitam black card
Nieta Poedjo
katanya berhijab, kok ada kalimat anak rambut?
katanya sdh nikah, kok ada kalimat calon ibu?
Muft Smoker: 👌👌👌👌😁😁😁😁
total 3 replies
Noey Aprilia
Buah ksbaran husna d msa lalu,akhrnya ktmu jg dgn kbhgiaan...
slain syng sm dia,jg syng sm ank2nya....
Noey Aprilia
Mkin meranalh nnti sng mntan...
smntra mntan istri mkin sukses plus nkah lg sm orng brkuasa,dia msh ttp jd gmbel.....😛😛😛
Muft Smoker
semangat truuus kak ,,

lanjuut kak ,,

akhirnya Bu Husna menemukan org yg tepat ,,
semoga bahagia truss keluarga kalian ,,
Muft Smoker
kak sbnrnya yg kk sypa ,, Dita tita atau Devan deka ,,
kn yg menikah dluan pak Rafli ,,
Rahmawati Amma
awalnya ceritanya menarik tapi setelah aku baca sengaja loncat di bagian bab 38an aku udah malas bacanya pada hal aku ingin melihat bian menderita dan husna walaupun janda tapi berkelas dan tambah sukses tak taunya kawin lagi jadi malas baca soalnya bosan yg cerita cerai tapi kawin lagi😔😮‍💨
Rahmawati Amma
maaf thor saya ke luar dari novelmu paling malas klu ceritanya gini awalnya saya emang suka ceritanya tapi melihat babnya saya langsung berhenti ku kira ngak bakalan kawin lagi soalnya anaknya udah pada remaja tak tahunya malahan kawin lagi sama aja mantan suaminya gila s***n## kukira habis cerai dia akan menjadi lebih sukses dan menjadi janda elegan tak taunya gini ceritanya maaf thor aku keluar maaf tidak beri bintang full😔😢🙏
Muft Smoker
laki2 kayak pak Rafli 1 banding 100000000 ,, bnr2 langka ,,
Rahmawati Amma
pembalasan berkelas🤣🤣🤣
Noey Aprilia
D saat yg lain lbh suka pmer hrta dmi pujian,tp mas rafli lbih mmilih k tnah suci dmi niat yg suci jg....salut plus mkin mnghormati dia krna skapnya...
Nieta Poedjo
ooooo gitu tho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!