NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Alunan Danse Macabre yang dimainkan oleh pria bertopeng itu terasa menyayat telinga, sebuah simfoni kematian di tengah lautan manusia yang sedang panik.

Ballroom itu kini bagaikan neraka kecil. Para elit dan pengusaha saling injak untuk mencapai pintu keluar.

"Reyhan! Jaga hakim itu! Aku akan mengejar si topeng sialan itu!" teriak Alena dari kejauhan.

Tanpa menunggu jawaban, Alena menerjang kerumunan, matanya terkunci pada sosok berbaju putih di balkon lantai dua.

Ia berlari menuju tangga melingkar, pistolnya tergenggam erat.

"Tunggu, Detektif! Jangan gegabah!" Reyhan mencoba mencegah, namun suaranya tenggelam oleh teriakan massa.

Reyhan mengutuk dalam hati. Instingnya yang baru saja dipertajam oleh Skill Observasi Tingkat Menengah berteriak keras. Ada yang salah. Semuanya terasa terlalu mudah, terlalu... teatrikal.

Ia menatap Hakim Sudarsono yang masih terduduk lemas di kursinya, dikelilingi beberapa pengawal pribadinya yang baru saja tiba.

"Pak Hakim, Anda harus segera pergi dari sini. Tempat ini tidak aman," ucap Reyhan tegas.

"Si... siapa kau sebenarnya? Kau bukan pelayan biasa," Hakim Sudarsono menatapnya dengan curiga, tangannya gemetar memegangi dada.

"Itu tidak penting. Yang penting, ada pembunuh gila yang mengincar nyawa Anda. Ayo pergi!"

Reyhan membantu sang hakim berdiri, namun matanya terus memindai sekeliling dengan kecepatan luar biasa.

[Skill Observasi (Tingkat Menengah) aktif.]

Detail-detail kecil yang sebelumnya terabaikan kini terlihat jelas.

Ia melihat pria berjas abu-abu yang tadi gagal menyuntikkan racun tidak benar-benar lari keluar.

Pria itu justru bersembunyi di balik pilar besar, mengawasi meja sang hakim dengan senyuman puas.

Kenapa dia tersenyum padahal rencananya gagal?

Lalu, pandangan Reyhan beralih ke gelas sampanye di atas meja Hakim Sudarsono.

 Gelas yang sama yang tadi dipegang sang hakim sebelum keributan terjadi.

Di bibir gelas itu, terdapat serbuk putih tipis yang sangat halus.

"Jarum suntik itu..." gumam Reyhan ngeri. "Itu cuma pengalih perhatian!"

Pembunuhan utamanya bukan dari jarum suntik, melainkan dari racun di gelas sampanye yang sudah disiapkan sejak awal.

Pria berjas abu-abu itu bertugas memastikan sang hakim meminumnya, atau menyuntiknya jika rencananya meleset.

Hakim Sudarsono tiba-tiba terbatuk keras. Ia mencengkeram lehernya, wajahnya berubah merah keunguan.

"Uhuk... Panas... Tenggorokanku panas!" erang sang hakim, tubuhnya kejang dan ambruk ke lantai.

"Pak Hakim!" para pengawalnya panik.

"Sialan! Dia sudah meminumnya!" Reyhan berlutut di samping sang hakim. Mulut hakim itu mulai mengeluarkan busa putih.

Di saat yang sama, dari lantai dua terdengar suara tembakan.

Dor! Dor!

Reyhan mendongak. Alena telah mencapai balkon, menembak ke arah pria bertopeng yang berlari menuju pintu atap.

"Berhenti di sana!" teriak Alena garang.

Pria bertopeng itu tidak berhenti, malah berbelok ke sebuah koridor sempit. Alena mengejarnya tanpa ragu.

"Alena, jangan ke sana! Itu jebakan!" Reyhan berteriak sekuat tenaga, tapi suaranya tak terdengar.

Ia dihadapkan pada pilihan mustahil. Menyelamatkan hakim yang sedang sekarat, atau menyusul Alena yang jelas-jelas digiring ke dalam perangkap.

[Ding! Misi Cabang terpicu.]

[Misi: Pilihan Hidup dan Mati.]

[Opsi A: Selamatkan Hakim Sudarsono dengan melakukan CPR dan memanggil ambulans. Hadiah: Hakim selamat, reputasi naik tipis. Hukuman: Detektif Alena tewas.]

[Opsi B: Kejar Detektif Alena dan biarkan sang hakim menghadapi takdirnya. Hadiah: Alena selamat, petunjuk baru. Hukuman: Reputasi hancur, Anda menjadi tersangka utama kematian hakim.]

"Sistem bajingan!" umpat Reyhan keras.

Ia menatap Hakim Sudarsono yang nyawanya tinggal di ujung tanduk. Hakim korup yang membebaskan gembong narkoba.

Lalu ia memikirkan Alena. Detektif galak yang, meskipun menyebalkan, adalah satu-satunya orang di kepolisian yang mau mendengarkannya.

Bagi sang pembunuh, ini adalah 'pertunjukan'. Dan pertunjukan membutuhkan korban.

Reyhan mengambil keputusan.

"Bawa dia ke rumah sakit sekarang! Lakukan CPR! Jangan biarkan dia mati!" perintah Reyhan pada pengawal sang hakim.

Tanpa menunggu balasan, Reyhan melesat menuju tangga, memilih Opsi B.

Ia berlari menaiki tangga dua langkah sekaligus, napasnya memburu.

Ia sampai di koridor tempat Alena dan pria bertopeng itu menghilang. Koridor itu gelap, hanya diterangi lampu darurat yang berkedip merah.

Di ujung koridor, terdapat pintu menuju atap. Pintu itu sedikit terbuka.

"Alena!" panggil Reyhan pelan, melangkah masuk ke koridor.

Tidak ada jawaban.

Reyhan mengaktifkan Skill Observasi-nya. Ia memeriksa setiap inci koridor.

Ada kabel setipis benang yang melintang di tengah lantai koridor.

Kabel pemicu peledak.

Reyhan melompat melewati kabel itu dengan hati-hati dan mendorong pintu atap.

Angin malam Jakarta langsung menerpa wajahnya. Di atap hotel yang luas itu, Alena sedang mengarahkan pistolnya ke sosok pria bertopeng yang berdiri di ujung gedung.

"Angkat tanganmu, brengsek! Buka topengmu!" ancam Alena, napasnya memburu.

Pria bertopeng itu terkekeh. Suaranya terdengar mekanis, seperti menggunakan pengubah suara.

"Detektif yang berani. Sayang sekali, aktingmu kurang memukau."

"Aku tidak sedang berakting! Buka topengmu atau aku tembak!"

Pria itu merentangkan tangannya perlahan. "Pertunjukan malam ini sangat memuaskan. Aktor kita memilih pilihan yang menarik."

Pria bertopeng itu melirik ke arah Reyhan yang baru saja muncul dari pintu atap.

"Kau memilih menyelamatkan detektif bodoh ini daripada sang hakim? Pilihan yang... romantis."

Alena menoleh ke belakang, terkejut melihat Reyhan. "Reyhan? Apa yang kau lakukan di sini? Hakimnya bagaimana?!"

"Hakimnya diracun," jawab Reyhan cepat, matanya terpaku pada pria bertopeng. "Ini jebakan ganda, Alena. Mundur dari sana."

Pria bertopeng itu tertawa pelan. "Benar sekali, Reyhan. Dan jebakan untuk detektif kita ini... jauh lebih meledak-ledak."

Pria itu mengeluarkan sebuah remote kecil dari saku jasnya.

"Bum."

Ia menekan tombolnya.

Seketika, suara ledakan kecil terdengar dari arah pintu atap tempat Reyhan berdiri.

Bukan ledakan besar, tapi cukup untuk menghancurkan engsel pintu dan menjatuhkan tumpukan puing, menutup satu-satunya jalan kembali ke bawah.

"Pintu keluar sudah tertutup. Dan sebentar lagi..." Pria bertopeng itu menunjuk ke arah kaki Alena.

Alena menunduk dan membelalakkan matanya. Di bawah lantai beton tempatnya berpijak, terdengar bunyi 'beep... beep... beep' yang sangat cepat.

Bom waktu.

"Selamat menikmati kembang api, Detektif. Dan kau, Aktor... teruslah bermain dengan baik."

Pria bertopeng itu mundur satu langkah, membiarkan tubuhnya jatuh bebas dari atas gedung hotel berlantai dua puluh itu.

"TIDAK!" Alena berlari ke tepi gedung, namun pria itu sudah menghilang di kegelapan malam, kemungkinan menggunakan parasut atau tali peluncur yang sudah disiapkan.

"Alena, lari dari sana!" teriak Reyhan, berlari menghampirinya.

"Bomnya ada di bawah sini, Reyhan! Lantainya ditanam bahan peledak!" Alena panik, melihat angka di sebuah layar kecil yang tertanam di lantai.

Waktu mundur menunjukkan: 00:15.

Lima belas detik!

Pintu tertutup puing. Lantai siap meledak. Tidak ada jalan keluar.

Reyhan meraih tangan Alena. "Ikut aku!"

Ia menarik paksa detektif wanita itu menuju pinggiran atap, tepat di mana terdapat kolam renang di lantai bawahnya, lima lantai ke bawah.

"Kau gila! Kita akan mati kalau melompat sejauh itu!" teriak Alena meronta.

"Lebih baik patah tulang daripada hancur berkeping-keping!" bentak Reyhan.

Waktu di bom menunjukkan: 00:05.

Reyhan tidak memberi Alena kesempatan berpikir. Ia merangkul pinggang Alena erat-erat.

"Tahan napasmu!"

Reyhan melompat dari tepi gedung, membawa Alena bersamanya, tepat saat bom di lantai meledak dengan suara memekakkan telinga.

DUARRR!!!

Gelombang panas dari ledakan itu mendorong mereka berdua jatuh lebih cepat menembus udara malam.

Byurrrr!!!

Mereka berdua menghantam air kolam renang dengan keras, menciptakan cipratan air yang sangat besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!