Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Memori yang Terbuang
Suasana di dalam toko barang antik yang sempit dan berdebu itu mendadak menjadi tegang. Pria gemuk dengan setelan jas mencolok bermotif kulit ular itu menatap Arthur dengan pandangan merendahkan, seolah ia hanyalah kerikil yang menghalangi jalannya. Di sisi kiri dan kanan pria itu, dua orang pengawal bertubuh gempal meretakkan buku-buku jari mereka, bersiap menggunakan kekerasan.
"Kau tuli, anak muda? Letakkan kotak itu dan pergi dari sini sebelum pengawalku mematahkan tanganmu!" ancam pria gemuk itu dengan suara nyaring, mengeluarkan setumpuk uang tunai dari saku jasnya dan melemparkannya ke atas meja kasir kayu.
Pemilik toko yang sudah renta tampak gemetar ketakutan di balik mejanya. Ia tidak berani menatap mata para preman berjas tersebut.
Arthur tetap berdiri dengan tenang, kotak kayu berukir naga itu masih berada dalam genggaman tangan kirinya. Matanya yang tajam mengukur jarak dan postur kedua pengawal di depannya. Enam tahun lalu, di medan perang, pria-pria seperti ini tidak akan bertahan lebih dari dua detik di hadapannya. Sebagai pemimpin dari sebuah organisasi asing paling besar, ia terbiasa memberikan perintah.
Namun, Arthur tidak lagi berada di medan perang Karakum.
Sebagai seorang mantan militer tingkat tinggi, Arthur sangat menjunjung tinggi kedisiplinan dan memahami bahwa kota metropolis ini digerakkan oleh hukum sipil. Menyelesaikan setiap masalah kecil dengan membunuh atau melumpuhkan warga sipil secara fatal hanya akan memancing perhatian kepolisian dan merusak kehidupan damai yang tengah ia bangun. Arthur sudah memikirkan titik tekan di leher kedua pengawal itu untuk membuat mereka pingsan tanpa cedera permanen.
Namun, sebelum Arthur sempat mengangkat tangannya, sebuah aroma parfum lily yang lembut menyapu penciumannya.
Mia Zimmer, yang sejak tadi berdiri diam di belakang Arthur, tiba-tiba melangkah maju dan menempatkan dirinya tepat di antara Arthur dan para preman itu. Gaun kasual berwarna krem yang ia kenakan berkibar anggun.
"Tindakan Anda sangat tidak beradab, Tuan. Barang ini sudah berada di tangan kami terlebih dahulu," ucap Mia dengan suara dingin dan penuh otoritas, memancarkan aura seorang pewaris miliarder sejati.
Pria gemuk itu tertawa meremehkan. "Wanita cantik sepertimu sebaiknya mundur sebelum gaunmu kotor. Singkirkan dia!" perintahnya kepada kedua pengawalnya.
Salah satu pengawal bertubuh besar mengulurkan tangannya yang kasar, berniat mencengkeram bahu Mia dan mendorongnya kasar.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat mata Arthur sedikit melebar karena terkejut.
Alih-alih menjerit atau mundur ketakutan, Mia bergerak dengan ketenangan air yang mengalir. Begitu tangan pengawal itu hampir menyentuh bahunya, Mia memiringkan tubuhnya dengan sangat lincah. Tangan lentiknya menyambar pergelangan tangan pria raksasa itu, lalu dengan menggunakan teknik momentum Aikido yang sangat presisi, Mia memutar tubuhnya dan menarik lengan pria itu ke arah bawah.
Bruk!
Pria seberat seratus kilogram itu kehilangan keseimbangan dan terpelanting keras menghantam lantai kayu hingga debu-debu beterbangan.
Pengawal kedua yang terkejut melihat rekannya dijatuhkan oleh seorang wanita, langsung mengayunkan pukulan liar ke arah wajah Mia. Gadis itu menunduk dengan elegan menghindari pukulan tersebut. Saat bangkit, Mia menggunakan telapak tangannya untuk memberikan dorongan keras dan terukur tepat di ulu hati sang pengawal, disusul dengan sapuan kaki yang sangat cepat di bagian pergelangan kaki pria itu.
Gedebuk!
Pengawal kedua jatuh telentang menimpa rak buku tua, mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya yang kram. Seluruh pertarungan itu selesai dalam waktu kurang dari lima detik. Gerakan Mia tidak mematikan, tidak brutal, namun sangat efektif dan indah layaknya tarian angsa.
Pria gemuk itu membelalakkan matanya, wajahnya memucat pasi melihat kedua pengawal bayarannya mengerang di lantai.
"K-kalian... kalian ini monster!" jerit pria gemuk itu panik. Tanpa memedulikan uang tunainya yang berserakan di atas meja, ia berbalik dan lari terbirit-birit keluar dari toko antik tersebut. Kedua pengawalnya yang kesakitan segera merangkak bangun dan tertatih-tatih menyusul bos mereka.
Suasana kembali hening, hanya menyisakan suara napas Mia yang sedikit memburu. Gadis itu merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan, lalu menoleh ke arah Arthur dengan rona merah yang menjalar di pipinya. Ia tampak salah tingkah, seolah baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang memalukan.
"Maafkan saya, Arthur," cicit Mia, menundukkan kepalanya. "Saya bertindak tidak anggun. Saya terbawa emosi melihat mereka mencoba menyerang Anda."
Arthur menatap gadis di hadapannya dengan perasaan campur aduk. Ia adalah dewa perang yang tak terkalahkan, pria yang bisa menghancurkan satu batalion militer sendirian. Namun hari ini, seorang gadis muda dengan gaun krem rela pasang badan untuk melindunginya dari preman jalanan. Hati Arthur yang keras karena pengkhianatan di masa lalu, perlahan merasakan sebuah getaran hangat yang aneh.
Senyum tulus akhirnya mengembang di bibir Arthur.
"Kau luar biasa, Mia," puji Arthur dengan suara bariton yang lembut. "Aku tidak tahu bahwa pewaris Keluarga Zimmer diajari cara melumpuhkan pria raksasa."
Wajah Mia semakin memerah mendengar pujian dari pria yang diam-diam ia kagumi itu. "Keluarga utama Zimmer sangatlah besar dan memiliki banyak cabang musuh, Arthur. Kakek mewajibkan semua keturunan langsung untuk mempelajari ilmu bela diri Jujitsu dan Aikido sejak kecil, bukan untuk membunuh, melainkan murni untuk pertahanan diri. Tapi... ilmu saya mungkin hanya seperti tarian anak kecil jika dibandingkan dengan Anda."
"Itu adalah tarian yang sangat indah," sahut Arthur, membuat Mia tersenyum tersipu.
Arthur kemudian berbalik ke arah meja kasir, mengambil beberapa lembar uang ratusan dolar dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja bersama uang milik pria gemuk tadi. "Ini untuk kotak tersebut, dan untuk mengganti rak buku Anda yang rusak, Pak Tua."
Pemilik toko mengangguk dengan tangan bergetar, bersyukur tidak ada kekacauan yang lebih besar di tokonya.
Arthur dan Mia kemudian berjalan keluar dari pasar barang antik menuju sebuah taman kecil yang sepi di pinggiran distrik. Angin sore berhembus menyejukkan. Mereka duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang.
Arthur meletakkan kotak berukir naga itu di pangkuannya. Tangannya yang terampil mulai meraba sisi-sisi kotak tersebut, menekan beberapa ukiran kayu secara bersamaan dengan pola tertentu.
Klik.
Sebuah kompartemen rahasia di dasar kotak itu terbuka. Dari dalamnya, Arthur mengeluarkan sebuah gulungan perkamen tua yang sudah menguning. Ketika ia membuka gulungan itu, terlihatlah deretan rumus kimia kuno dan diagram anatomi tubuh.
"Ini..." Mia mendekat, matanya menyipit membaca tulisan pudar di perkamen itu. "Ini bukan barang antik biasa. Ini adalah resep pengobatan kuno yang dapat meregenerasi sel saraf. Jika disempurnakan, ini bisa menjadi fondasi untuk obat penawar penyakit saraf paling langka di dunia medis."
Arthur mengangguk pelan. "Sekarang aku mengerti mengapa Keluarga Sterling mengambil alih gedung laboratorium kampus. Mereka sedang mencari cara untuk mensintesis obat-obatan ilegal atau formula ekstrem dari peninggalan masa lalu. Pria gemuk tadi kemungkinan adalah utusan bayaran mereka."
Melihat Arthur yang kembali fokus pada intrik konspirasi, Mia menghela napas pelan. Gadis itu menatap profil wajah Arthur dari samping. Rahang yang tegas, mata yang dalam, dan beban tak kasat mata yang selalu dipikul oleh pria itu. Keberanian dari adrenalin pertarungannya tadi entah bagaimana membuat Mia merasa lebih dekat dengan Arthur.
"Arthur..." panggil Mia lembut. "Di kafe tadi, saya meminta maaf karena telah mengungkit masa lalumu tentang Keluarga Summers. Tapi... jika suatu saat Anda butuh seseorang untuk mendengarkan, saya ada di sini."
Arthur terdiam. Ia menggulung kembali perkamen itu. Pandangannya menerawang jauh menembus dedaunan musim gugur yang berguguran. Biasanya, ia akan menutup diri dengan tembok es yang tebal. Namun, mengingat bagaimana gadis ini tanpa ragu melindunginya tadi, Arthur merasa bahwa Mia pantas mendapatkan sedikit kejujuran darinya.
"Keluarga Summers di Utara adalah salah satu klan bangsawan terbesar di negara ini," Arthur mulai berbicara, suaranya sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin. "Enam tahun yang lalu, ketika aku diusir dari Summer Manor, aku dibiarkan begitu saja berkeliaran di jalanan dengan kondisi yang menyedihkan."
Mia menahan napasnya, dadanya terasa sesak mendengar kepedihan dalam nada suara Arthur.
"Ibuku meninggal secara tragis," lanjut Arthur, matanya memancarkan kesedihan yang telah lama ia kubur. "Aku tahu ada konspirasi di balik kematiannya. Namun, ayahku dan para tetua keluarga justru menutup mata. Mereka melindungi para pelakunya demi stabilitas bisnis klan. Saat aku menuntut keadilan, mereka membuangku karena aku dianggap terlalu radikal dan membahayakan kedudukan mereka."
Arthur menatap kedua telapak tangannya sendiri tangan yang telah mencabut nyawa ribuan musuh di medan perang. "Di jalanan itulah aku belajar bahwa di dunia ini, keadilan tidak diberikan; ia direbut. Aku membuang nama 'Summers' dan berjanji tidak akan pernah kembali ke Utara sampai aku memiliki kekuatan untuk meruntuhkan mereka semua dari atas takhta mereka."
Suasana di taman itu menjadi sangat hening. Kesunyian yang sarat akan luka dan pemahaman mendalam.
Perlahan, Mia mengangkat tangannya. Dengan sangat lembut, ia menyentuh punggung tangan Arthur yang mengepal. Sentuhan kulit yang hangat itu membuat kepalan tangan Arthur sedikit mengendur.
"Anda tidak lagi berkeliaran sendirian di jalanan, Arthur," bisik Mia dengan mata yang berkaca-kaca karena empati. "Anda telah membangun kerajaan Anda sendiri. Dan di kota ini... Anda memiliki teman."
Arthur menoleh, menatap wajah cantik Mia yang diterpa cahaya matahari senja. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki kembali di kota metropolis ini, sang Jenderal merasa bahwa ia mungkin menemukan sebuah rumah yang sesungguhnya. Sebuah hubungan yang tidak dibangun di atas ego atau tuntutan kemewahan, melainkan murni dari rasa saling menjaga.
Arthur tidak menarik tangannya dari sentuhan Mia. Ia membalas senyuman gadis itu dengan tulus.
Namun, ketenangan ini hanyalah jeda singkat sebelum badai yang sesungguhnya menghantam. Di dalam saku jas Arthur, ponsel terenkripsinya bergetar pelan. Ia menarik tangannya dengan enggan dan melihat layar ponsel tersebut. Sebuah pesan singkat dari Maya Lin baru saja masuk:
Bos. Seseorang dari Universitas St. Jude baru saja diculik oleh pasukan elit Keluarga Sterling. Mereka menginginkan gulungan kuno itu sebagai tebusan. Paman Drake sedang melacak lokasinya.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...