Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Di Balik Bingkai Kaca
Kuliah Algoritma Pemrograman yang di ajarkan oleh Pak Bambang baru saja berakhir sepuluh menit yang lalu. Koridor lantai dua Fakultas Ilmu Komputer berangsur tenang ketika para mahasiswa keluar secara berangsur-angsur. Dimas berjalan santai di samping Bayu yang sibuk membenarkan letak tas ransel lusuhnya.
"Materi Pak Bambang tadi bener-bener bikin pusing," ujar Dimas sambil meregangkan kedua tangannya ke atas. "Tapi buat lu pasti cuma kayak baca komik anak SD kan, Bay?"
Bayu tersenyum tipis, merapikan gulungan kertas tugas di tangannya. "Tidak juga, Dim. Penjelasan beliau soal kompleksitas waktu di algoritma pemrosesan data tadi cukup berbobot. Ada beberapa poin baru yang bisa kita terapkan."
"Alah, sok rendah hati lu," kekeh Dimas. "Orang lu tadi cuma ngetik-ngetik sebentar di laptop tua lu itu langsung kelar tugasnya. Gue rasa lu udah paham materi itu sebelum Pak Bambang buka mulut."
"Aku cuma sering baca dokumentasinya di internet, Dim. Bukan berarti aku lebih pintar," sahut Bayu rendah hati.
Keduanya berjalan menurun menuju taman tengah fakultas, tempat yang teduh di bawah rindangnya pohon mahoni. Di sana terdapat beberapa bangku kayu yang sering dijadikan tempat berkumpul para mahasiswa antar-jurusan.
Saat mereka hampir mencapai area taman, kerumunan kecil mahasiswa di dekat gazebo utama mencuri perhatian. Suara gelak tawa dan obrolan riuh terdengar jelas. Di tengah-tengah pusat perhatian itu, berdiri seorang mahasiswi dengan rambut hitam bergelombang yang terurai indah. Melisa.
"Lihat tuh, Bay," bisik Dimas seraya menyenggol lengan Bayu pelan. "Bidadari kampus kita baru selesai kelas juga tampaknya."
Bayu menghentikan langkahnya sejenak, mengalihkan pandangannya ke arah gazebo. Melisa sedang tersenyum ramah sambil menanggapi obrolan teman-temannya. Gaun kasual berwarna krem yang ia kenakan tampak sangat pas, memancarkan keanggunan yang alami tanpa terkesan berlebihan. Parasnya yang jelita dan senyumnya yang hangat selalu berhasil menyita perhatian siapa pun yang melintas.
"Dia memang sangat menawan," gumam Bayu pelan, hampir tak terdengar.
Dimas menoleh ke arah Bayu dan terkekeh. "Cuma 'menawan'? Lu itu cowok normal kan, Bay? Melisa itu idaman satu kampus. Bukan cuma cantik, dia juga pintar dan anak pengusaha baik-baik. Kata orang si Nadeo beberapa kali berusaha mendekati dia pakai mobil mewahnya, tapi Melisa selalu merespons dengan sopan tanpa pernah mau diajak jalan berdua."
"Baguslah kalau begitu. Artinya Melisa wanita yang punya pendirian," komentar Bayu tenang.
"Lu nggak tertarik gitu sama dia, Bay?" goda Dimas sambil menaikkan kedua alisnya. "Nggak pernah ada niat buat nyoba menyapa atau sekadar kenalan?"
Bayu tertawa kecil, suara tawa yang sangat jarang terdengar. Ia menggelengkan kepala seraya membetulkan kacamata berbingkai hitam tebal yang bertengger di hidungnya.
"Jangan bercanda, Dim. Lihat diriku," kata Bayu seraya menunjuk bajunya sendiri. "Kemeja kebesaran yang warnanya sudah memudar, celana kain yang sudah agak rombeng, dan kacamata tebal ini. Kita hidup di dunia yang berbeda."
Dimas tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di depan Bayu. Matanya menatap wajah sahabatnya itu dengan cermat, seolah sedang meneliti sebuah objek eksperimen.
"Kenapa, Dim? Ada yang salah dengan mukaku?" tanya Bayu bingung melihat tingkah sahabatnya.
Tanpa permisi, Dimas mengangkat tangannya dan melepas kacamata tebal Bayu. Ia juga menyisir poni rambut Bayu yang agak panjang dan berantakan ke arah belakang menggunakan jemarinya.
"Dim, kembalikan kacamataku. Pandanganku kabur," protes Bayu seraya mencoba memicingkan matanya.
Dimas tidak langsung mengembalikan kacamata tersebut. Ia malah berdecak kagum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gue udah curiga dari dulu, Bay," ucap Dimas dengan suara serius namun tertahan. "Lu itu sebenernya ganteng banget. Rahang lu tegas, garis wajah lu simetris, hidung lu mancung, dan mata lu punya binar yang tajam banget pas nggak ketutup kaca tebal ini."
"Jangan ngelantur, Dim. Cepat berikan kacamatanya," pintanya lagi sambil mengulurkan tangan.
Dimas mengembalikan kacamata itu ke tangan Bayu. "Gue serius, Bay! Ketampanan lu itu cuma tertutupi total sama gaya lu yang kelewat cuek. Lu sengaja pakaikan kemeja kedodoran, kacamata pantat botol, sama rambut berantakan gini kan?"
Bayu memasang kembali kacamatanya, membiarkan poni rambutnya jatuh menutupi sebagian dahi dan alisnya. Wajah tampan dan tegas itu seketika kembali tersembunyi di balik penampilan seorang mahasiswa dungu dan culun yang tidak menarik perhatian.
"Penampilan bukan hal penting bagiku saat ini, Dim," jawab Bayu santai sambil terus berjalan menuju bangku taman yang kosong. "Untuk apa menonjolkan diri kalau kehidupan ekonomiku saja masih serba sulit?"
Dimas menyusul dan duduk di samping Bayu. "Tapi setidaknya kalau lu rapi sedikit, cewek-cewek di kampus ini nggak bakal cuma memandang lu sebelah mata, Bay. Bahkan gue yakin Melisa pun bakal melirik lu."
"Memangnya kalau Melisa melirikku, apa yang bisa kuberikan padanya?" Bayu menatap Dimas dengan pandangan yang dalam dan realistis. "Mengajaknya makan di warung makan pinggir jalan? Memboncengnya naik sepeda motor tua milik almarhum ayahku? Memikirkan romansa saat ibuku masih harus berjuang melawan penyakit parah di rumah kontrakan sempit itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal, Dim."
Dimas terdiam. Kata-kata Bayu menamparnya kembali pada kenyataan pahit yang sedang dihadapi sahabatnya itu. Rasa hormat di dada Dimas semakin membuncah.
"Maaf, Bay. Gue nggak bermaksud bercanda soal kondisi lu," ujar Dimas dengan nada menyesal.
"Tidak perlu minta maaf. Aku tahu kamu cuma ingin menyemangatiku," balas Bayu tersenyum tulus. "Aku sangat sadar posisi. Lagipula, mengagumi seseorang dari jauh seperti ini saja sudah lebih dari cukup. Melisa pantas mendapatkan seseorang yang bisa membahagiakannya tanpa beban."
Saat mereka sedang berbicara, langkah kaki terdengar mendekati area taman. Melisa berjalan melintas tak jauh dari bangku mereka bersama dua orang teman wanitanya. Saat melewati bangku Bayu dan Dimas, Melisa sempat menghentikan pandangannya sejenak. Matanya beradu pandang dengan Bayu yang sedang duduk tenang.
Melisa memberikan anggukan kepala dan senyuman tipis nan ramah ke arah mereka berdua sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir kampus.
Dimas menepuk paha Bayu dengan heboh setelah Melisa berjalan jauh. "Lihat kan?! Dia senyum ke arah kita! Maksud gue, dia senyum ke arah lu, Bay!"
"Dia cuma bersikap sopan pada sesama mahasiswa, Dim. Jangan berlebihan," tanggap Bayu tenang, meski ada sedikit getaran asing yang sempat hinggap di dadanya saat menatap mata Melisa tadi.
"Terserah lu mau bilang apa, tapi senyuman tadi itu tulus banget," kekeh Dimas. "Ya sudah, sekarang sudah jam sebelas siang. Lu bilang mau tebus obat Ibu lu ke apotek kan?"
Bayu mengecek jam tangannya yang sudah tua. "Iya, benar. Aku harus segera ke apotek dekat rumah sakit daerah sebelum stok obatnya habis."
"Ayo, gue antar pakai mobil gue. Nggak ada alasan menolak," tegas Dimas seraya berdiri dan mengambil kunci mobil dari sakunya.
Bayu mengangguk penuh rasa terima kasih. Ia berdiri, merapikan tas lusuhnya sekali lagi, lalu melangkah bersama Dimas meninggalkan area taman kampus. Di balik kesederhanaan dan penampilan yang ia gunakan sebagai pelindung dari perhatian dunia, Bayu Anggara melangkah dengan keyakinan bahwa suatu saat nanti, nasib dan takdirnya akan berubah.