Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pagi menjelang siang dengan langit yang mendung, tak ada cahaya yang masuk hanya sedikit cahaya matahari yang masuk membias lantai keramik. Di deretan kursi tunggu, Raisa duduk termenung dengan jemari yang bertautan erat. Tubuhnya nampak sangat elegan dengan mengenakan gaun lengan pendek warna hijau tua, sampai lutut. Rambutnya terlihat di kepang ke samping.
"Mama...kalo mama nggak sembuh, Mas Dion akan ceraikan aku, Mah." Raisa terlihat terdiam, memikirkan hidupnya.
Dirinya memang di benci oleh Dion Raharja, karena waktu kecil Raisa sendiri yang membully sang suami. Tak segan Raisa menghina bahkan mencaci maki Dion, namun sejak saat itu Dion membencinya dan pindah sekolah. Namun sebuah takdir mengatakan berbeda, keluarga Adiratna berhasil berjasa dengan membantu bisnis keluarga Raharja.
Bahkan menyekolahkan Dion sampai S2 di Australia, hal itu membuat keluarga Raharja menikahkan Raisa dengan putranya. Karena saat itu, putri tunggal mereka sebatang kara----Tuan dan Nyonya Adiratna mengalami kecelakaan tragis di Tol Cipularang.
Perjalanan Bisnis yang mengalami tragedi, Raisa termenung memikirkan nasibnya yang tragis, "mungkinkah ini karmaku ya tuhan, karena sudah banyak menyakiti orang dulu."
Meski begitu Raisa saat reuni sudah meminta maaf pada setiap orang yang di sakitinya, namun karma tetaplah karma yang harus di bayar. Bahkan teman-teman yang dulu pernah di sakiti Raisa, tetap berhubungan baik dengan Raisa---tak segan menanyakan kabar.
"Bu Raisa?" panggil Dokter Hassan yang seketika membuat lamunannya terbuyar.
Raisa yang menyadari ada orang langsung menghapus air matanya, dan berusaha tersenyum.
"Dokter."
Dokter Hassan baru saja menyelesaikan pemeriksaan pagi pada pasien yang mengalami gangguan saraf, dan salah pasiennya adalah mertua Raisa. Hari ini sang Dokter mengenakan kemeja biru muda yang rapi, dipadukan dengan celana formal warna hitam.
Tanpa mengenakan jas putih yang biasa dikenakannya. Terlihat keduanya sudah sangat dekat, lebih tepatnya terlihat seperti teman lama daripada seorang praktisi medis bagi Raisa. Namun, keduanya sama sekali tak memiliki hubungan 'affair' atau perselingkuhan----hanya sekedar Dokter dan keluarga Pasien saja.
"Silahkan duduk Dok," ucap Raisa menggeser tubuhnya ke samping, agar sang Dokter bisa duduk di sampingnya.
Dokter Hassan terlihat duduk di kursi tepat di samping Raisa, menjaga jarak cukup dekat, berusaha memberikan rasa nyaman yang di butuhkan wanita itu.
"Bagaimana perkembangan mama saya, Dok?" tanya Raisa dengan suara lirih.
Terlihat mata wanita ini seolah menatap penuh harap ke arah Dokter Hassan, seolah-olah Dokter ini adalah kekuatannya. Hassan menghela napas pendek. Itu adalah sebuah isyarat yang membuat hati Raisa sedikit ketakutan, sebelum sebuah kata-kata dengan penuh kejujuran keluar dari bibir sang Dokter.
"Bu Raisa, sejujurnya perkembangan Nyonya Raharja belum menunjukkan perubahan sama sekali, kondisinya masih tahap observasi ketat...karena----" ucapan Dokter Hassan terhenti.
Saat tak sanggup mengatakannya, apalagi membuat Raisa semakin terpuruk. Sungguh Hassan tak bisa melihat wanita di hadapannya ini bersedih, namun Raisa meminta Hassan melanjutkan kalimatnya.
"Karena apa, Dok?" tanya Raisa mengerutkan keningnya.
"Karena stroke yang sudah stadium akhir ini cukup berat dan sudah sampai komplikasi---dampaknya cukup luas," lanjutnya dengan berat hati.
Deg.
Mendengar penjelasan itu, Raisa memejamkan matanya rapat-rapat---jantung berdetak cepat, dirinya saat ini hanya memiliki sang mertua.
Suami? suaminya saja seolah membencinya, bahkan enggan menyentuhnya.
Raisa menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan---mencoba menguatkan dirinya akan kesabaran yang mulai hilang. Kesabaran merawat mertuanya dan kesabaran menghadapi suaminya---yang bisa di bilang 'redflag'.
KDRT dan selingkuh. Pagi ini Raisa juga mengalami pemukulan dari Dion, bahkan punggungnya masih memar akibat Dion yang menyabetnya menggunakan gesper.
Di balik kelopak mata yang terpejam seolah ada keterpurukan, Raisa berusaha berdoa agar meminta kekuatan menghadapi kemungkinan terburuknya. Suami yang akan menjatuhkan talak padanya, jika sang mertua wafat.
"Ya allah sembuhkanlah mama, karena hamba tak memiliki siapapun lagi di dunia ini selain mama mertua hamba."
Mata Hassan yang bulat dengan bola mata yang indah memperhatikan wajah Raisa dari samping, seolah ada beban yang tertumpu dalam diri wanita ini. Namun, Raisa mencoba menjalaninya dengan sabar---meski cobaannya bertubi-tubi, baginya ini adalah hidupnya.
"Jangan sedih Bu Raisa," kata Hassan dengan nada lembut.
"Nyonya Raharja wanita kuat, anda menjaganya dengan tulus. Pasti beliau akan sembuh, kita perlu memberinya waktu dengan pengobatan."
Tangan Hassan menepuk pelan bahunya, lalu Raisa menoleh ke bahu kanannya, menatap tangan sang Dokter di bahunya. Raisa menghela napas panjang dan menghembuskannya, tangan sang Dokter di sentuhnya lalu di turunkan.
Seketika senyum Hassan menghilang, di gantikan heran. Raisa ingat betul, bagaimana sang suami memukulinya hanya karena Dokter Hassan menaruh tangannya di bahunya.
"Maaf Dok, takut ada salah paham seperti waktu itu...," ujar Raisa dengan lirih.
Hassan tertegun sejenak mendengar Raisa mengatakan itu, dalam diam---dirinya mengakui sebuah perasaan yang seharusnya di kubur dalam-dalam.
Dirinya tahu bahwa Raisa sudah bersuami, dan Hassan memilih kagum saja kepada Raisa. Bagaimana wanita ini tetap berdiri tegak dan berbakti, meski sudah mendapatkan guncangan beberapa kali. Wajah Raisa cantik alami, dan tak akan luntur dengan kesedihan membuat hati Hassan sedikit bergetar.
Status pernikahan Raisa adalah batas yang tak boleh di langgar sebagai seorang pria terhormat. Baginya Raisa adalah cerminan dari ketulusan yang langka. Sangat jarang di jaman sekarang, wanita bisa sesabar Raisa---namun Dion buta akan dendam masa kecilnya yang tak berujung.
Istri yang sabar, tulus, dan cantik begini malah di sandingkan dengan seorang LC. Raisa membuka matanya kembali, menatap Hassan.
"Terima kasih Dok, saya harus ke kamar mertua saya. Karena saya harus disana menunggunya," ucap Raisa, nadanya terdengar lirih dan putus asa.
"Sama-sama, jika ada sesuatu anda bisa cerita padaku...," jawab Hassan secara spontanitas.
Raisa bangkit dari kursi tunggu, berjalan menuju ruang rawat inap.
"Wanita yang sabar...kenapa ya allah, wanita sesabar itu tak engkau berikan padaku. Jika engkau berikan padaku hamba pasti akan membahagiakannya."
Dokter Hassan bergumam dalam hatinya, sebenarnya dirinya tahu jika Raisa mendapatkan KDRT dari suaminya. Matanya sendiri menyaksikan bagaimana Raisa di tampar dengan tangan suaminya----saat di dalam ruang rawat inap.
Saat itu kondisi Nyonya Raharja masih diam tak bisa bicara, tanpa bisa membela menantunya yang di tindas oleh putranya sendiri. Sampai kapan kesabaran Raisa itu bertahan.
*
*
*
*