NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Langkah kaki tegap Nicolas Vance berderap nyaring membelah koridor basemen yang dingin. Tubuhnya yang tinggi besar tampak tegang saat ia membopong tubuh Sienna yang terasa teramat ringan dan terkulai lemas di dekapannya.

Pria itu menaiki tangga darurat dengan langkah-langkah lebar, mengabaikan napas Sienna yang terasa panas bagaikan embusan api menembus kemeja tipisnya.

Matteo yang berlari dari arah lorong utama langsung membukakan pintu penthouse.

"Tuan Nicolas, Dokter Leo sedang dalam perjalanan, diperkirakan sampai sepuluh menit lagi," lapor Matteo terengah-engah.

Nico tidak menjawab. Wajahnya yang kaku, pria itu menerobos masuk ke dalam unit mewah penthouse, melintasi ruang tengah, dan mendorong pintu kamar dengan kakinya.

Ia menatap tempat tidur king size berseprai abu-abu gelap di tengah ruangan, kamar utama yang sebelumnya ditempati Sienna sebelum insiden perpustakaan tua siang tadi.

Nico sempat berniat melemparkan gadis itu kembali ke kamar sempit pelayan, namun kondisi Sienna yang membiru dan panasnya suhu tubuh gadis itu membuat logika pragmatis Nico mengambil alih, jika Sienna mati karena hipotermia dan infeksi parah malam ini, maka seluruh penderitaan dan penebusan dosa yang dirancangnya akan sia-sia.

Nico merebahkan tubuh Sienna ke atas kasur empuk dengan gerakan yang dipaksa kasar, meski ada sedikit kehati-hatian tak terjelaskan saat kepalanya menyentuh bantal.

"James, ambilkan kain basah dan panggil Perawat Maya!" gertak Nico seraya berdiri tegap di samping tempat tidur.

Sienna menyentuh bantal empuk itu tanpa kesadaran. Wajahnya yang tirus tampak begitu tragis di bawah pendar lampu gantung kristal. Bibirnya yang pecah-pecah meratap pelan, mengeluarkan gumaman tak berarah dalam igauan demamnya yang tinggi.

"Ayah dingin..." cicit Sienna, suaranya terputus-putus oleh napasnya yang berat dan memburu. Kedua tangannya yang kurus menggapai udara secara refleks, jemarinya yang gemetar cemas seolah mencari pegangan di tengah kegelapan yang menyiksanya.

Nico menatap jemari mungil yang menggapai-gapai itu. Kilatan kemarahan atas hancurnya mawar kering ibunya kembali berkilat di matanya, namun pemandangan Sienna yang begitu rapuh dan sekarat membuat jemari tangan Nico menyimpul kaku di sisi tubuhnya.

"Tutup mulutmu Sienna," desis Nico pelan, suaranya dingin namun bergetar tipis oleh frustrasi yang tak ia pahami. "Jangan sebut nama pria itu di depanku."

Perawat Maya berlari masuk membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil, disusul oleh Dokter Leo yang masuk dengan tas medis hitam di tangannya.

"Tuan Nicolas, tolong berikan ruang," ujar Dokter Leo tegas seraya langsung berlutut di samping tempat tidur dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Sienna.

Nico melangkah mundur dua langkah, menyilangkan tangannya di dada seraya berdiri bersandar pada dinding kamar. Matanya yang tajam menatap setiap gerak-gerik dokter dan perawat yang mulai bekerja dengan cekatan.

Dokter Leo membuka sweter krem yang dikenakan Sienna. Saat lapisan kain itu tersingkap, Perawat Maya menahan napasnya.

Jahitan di luka operasi dada kiri Sienna telah terbuka sebagian. Cairan darah tipis bercampur nanah merembes membasahi perban putih yang melilit tubuhnya.

Benturan keras pada dinding kayu perpustakaan mansion keluarga Vance tadi siang telah merobek kembali jaringan kulit yang baru saja mulai menutup.

"Ini buruk, Tuan Vance," kata Dokter Leo dengan nada serius seraya menyiapkan antiseptik dan jarum suntik.

"Luka infeksinya terbuka kembali akibat benturan fisik yang cukup keras. Demam tingginya mencapai 40,2 derajat Celsius, dipicu oleh peradangan parah dan kelelahan mental yang ekstrim. Jika kita tidak menekan infeksi ini dalam dua jam ke depan, tubuhnya bisa mengalami syok."

Nico memicingkan matanya. Wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi, namun cengkeraman tangannya di lengan sendiri makin mengetat.

"Lakukan tugasmu, Leo," jawab Nico datar, menutupi gejolak aneh di dadanya. "Aku membayarmu bukan hanya untuk mendiagnosis penyakitnya. Buat dia tetap hidup."

"Saya butuh menggunting pakaian luarnya agar bisa membebat ulang dada dan membersihkan infeksinya," tanggap Dokter Leo profesional seraya mengambil gunting medis.

Perawat Maya dengan sigap mulai melepas mantel cokelat pudar yang masih melekat di tubuh Sienna.

Saat perawat itu menarik lengan mantel cokelat tua tersebut keluar dari tubuh Sienna, mantel itu terlipat dan jatuh ke sisi lantai di dekat kaki Nico.

Di dalam lipatan jahitan dalam mantel itu, kertas resep medis tua berstempel laboratorium rumah sakit, bukti vital tentang racun arsenik yang merenggut nyawa Christina Vance secara perlahan tersembunyi dengan aman, terlindungi oleh lipatan kain tebal yang tak tersentuh oleh siapa pun.

Dokter Leo mulai membersihkan luka di dada Sienna. Setiap kali cairan antiseptik menyentuh jaringan kulit yang meradang, tubuh Sienna melonjak kecil. Rintihan kesakitan yang menyayat hati keluar dari tenggorokannya yang kering.

"Aaghh... s-sakit..." tangis Sienna dalam ketidaksadarannya. Air mata segar kembali menetas di sudut matanya yang tertutup rapat.

Nico memalingkan pandangannya ke arah jendela kamar, menolak untuk menatap wajah Sienna yang merintih. Namun suara tangisan dan cicitan lemah gadis itu seakan menembus dinding pertahanan jiwanya.

Rasa benci yang amat sangat dan dorongan aneh untuk melindungi berbenturan dengan hebat di dalam dada Nico, menciptakan sensasi mencekik yang membuat pria itu merasa muak pada dirinya sendiri.

Dua jam berlalu dalam ketegangan yang pekat.

Jarum jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi. Langit di luar jendela mulai menyambut fajar dengan warna keabu-abuan yang basah oleh sisa hujan semalam.

Dokter Leo menyelesaikan suntikan antibiotik dosis tinggi terakhir dan merapikan peralatan medisnya. Perawat Maya telah mengganti pakaian Sienna dengan gaun tidur kain katun putih yang bersih dan memasang infus baru di punggung tangan kiri gadis itu.

"Suhu tubuhnya mulai turun ke angka 38,5 derajat," kata Dokter Leo seraya membasuh tangannya di wastafel kamar mandi luar dan kembali menemui Nico yang masih berdiri kaku di sudut ruangan.

"Saya sudah menjahit ulang bagian kulit yang merobek dan menyuntikkan obat penenang. Dia akan tertidur lelap setidaknya hingga besok."

Nico mengangguk kaku. "Apakah dia sudah aman?"

"Untuk saat ini, ya. Tapi saya peringatkan Anda, Tuan Vance," Dokter Leo menatap Nico dengan pandangan penuh penekanan. "Fisik gadis ini sangat rapuh. Jantung dan sistem imunnya tidak sanggup menerima tekanan fisik maupun trauma emosional yang berlebihan lagi. Satu insiden benturan atau tekanan parah lagi... dan saya tidak bisa menjamin nyawanya akan tertolong."

Nico menatap Dokter Leo dengan tatapan dingin yang tak tertebak. "Terima kasih, Leo. Matteo akan mengantarmu keluar."

Dokter Leo menghela napas pelan, membungkuk hormat, lalu melangkah keluar kamar diikuti oleh Perawat Maya.

Pintu kamar tertutup rapat. Ruangan berukuran luas itu kini kembali diselimuti keheningan yang tebal.

Nico melangkah pelan mendekati sisi tempat tidur. Suara langkah sepatunya teredam oleh karpet tebal. Pria itu berdiri di samping Sienna yang kini terbaring tenang di bawah selimut tebal. Pipi Sienna yang tadinya memerah panas kini berangsur pucat, dan napasnya mulai terdengar lebih teratur meski masih terasa tipis.

Nico mengulurkan tangannya yang besar secara perlahan. Jemarinya melayang beberapa sentimeter di atas wajah Sienna, seakan hendak menyapu helai rambut yang menempel di dahi basah gadis itu. Namun tepat sebelum ujung jarinya menyentuh kulit Sienna, Nico membeku.

Pria itu menarik kembali tangannya dengan cepat, mengepalkannya rapat-rapat di sisi tubuhnya.

"Dia adalah pembunuh ibumu, Nicolas," bisik suara kegelapan di dalam benak Nico, menguatkan kembali dinding dendam yang sempat retak.

"Dia memegang senjata itu malam itu. Dia yang menghancurkan peninggalan ibumu kemarin. Jangan biarkan rasa ibamu merusak semua yang sudah kau rencanakan."

Nico membalikkan tubuhnya dengan kasar, menolak untuk menatap wajah polos yang terlelap itu lebih lama lagi. Ia melangkah keluar dari kamar utama dan membanting pintunya pelan dari luar.

...****************...

Sementara itu, di sudut lain kota. Ruang tamu mansion keluarga Ophelia bernuansa emas dan merah marun yang megah. Aroma parfum mahal dan asap cerutu mahal menyeruak di udara.

Claudia Ophelia, ibu tiri Nico sekaligus wanita simpanan Sebastian Vance di masa lalu duduk di sofa kulit mahal seraya menggoyangkan gelas anggur merah di tangannya.

Wajahnya yang berusia empat puluh tahunan masih tampak cantik dan anggun berkat perawatan estetika berbiaya tinggi, namun sepasang mata tajamnya memancarkan kecemasan dan kepanikan yang teramat sangat.

Di hadapannya, berdiri Liam Vance, yang tampak kacau dengan kemeja yang kusut dan lingkaran hitam di bawah matanya.

"Bagaimana bisa Nicolas mendapatkan bukti interogasi dari perawat rumah sakit itu?" desis Claudia dengan suara tertahan namun sarat akan amarah yang meledak-ledak. "Ibu sudah menyuruh orang untuk membungkam wanita itu. Kenapa Nicolas bisa melangkah lebih cepat dari kita?"

Liam membuang mukanya dengan gusar, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya yang gemetar. "Nicolas menggunakan jaringan intelijen privatnya, Bu! Dia memblokir seluruh akses keluar kota untuk perawat itu sebelum orang-orang kita sempat menyentuhnya. Sekarang persidangan pembekuan asetku akan digelar lusa, dan jika jaksa menggunakan bukti itu, seluruh rekening dan asetku atas nama perusahaan cangkang akan disita negara!"

Claudia mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Anak sialan itu... Nicolas benar-benar ingin mematikan pergerakan kita secara perlahan."

"Kita harus bertindak, Bu!" seru Liam seraya mencondongkan tubuhnya ke arah ibunya. "Kalau Nicolas berhasil memenjarakanku dan membekukan aset kita, dia akan mulai membongkar aliran dana masa lalu dari yayasan milik Christina. Dan kalau dia tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelas tahun lalu di halaman belakang..."

"DIAM, LIAM!" gertak Claudia tajam, matanya membelalak lebar seraya menatap sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada pelayan yang mendengar. "Jangan pernah menyebut peristiwa malam itu di rumah ini."

Liam bungkam, merapatkan bibirnya dengan napas yang memburu.

Claudia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang berkejaran. Ia menyesap anggur merahnya sedikit, lalu memicingkan matanya penuh tipu daya.

"Nicolas pikir dia sudah memegang seluruh kendali," bisik Claudia dengan senyuman miring yang dingin dan penuh bisa. "Pria itu terlalu fokus pada dendam butanya kepada gadis Sinclair itu. Nicolas begitu yakin bahwa Hans Sinclair dan anaknya adalah pelaku tunggal yang menghancurkan hidupnya."

"Tapi gadis Sinclair itu sekarang ada di tangan Nicolas Bu," ujar Liam cemas. "Bagaimana kalau gadis itu menemukan sesuatu? Bagaimana kalau dia mengingat detail kejadian sebelum penembak Christina malam itu?"

Claudia tertawa kecil, sebuah tawa yang hampa dan mengerikan.

"Gadis polos itu hanya seorang anak kecil yang ketakutan malam itu, Liam. Dia tidak tahu apa-apa," tutur Claudia dingin.

"Tapi jika keberadaan gadis itu mulai membahayakan atau membuat Nicolas ragu, maka kita hanya perlu memastikan bahwa gadis itu tidak akan pernah bisa berbicara lagi selamanya."

Claudia berdiri dari sofanya, melangkah mendekati jendela kaca besar yang menghadap ke taman depan mansionnya.

"Lagipula," lanjut Claudia seraya mengelus permukaan gelas kristalnya, "fotografer bodoh itu masih terus memeras kita setiap bulan. Kita harus menyelesaikan dua masalah ini sekaligus sebelum persidangan lusa digelar."

"Apa rencana Ibu?" tanya Liam seraya mendekat.

Claudia memutar tubuhnya, menatap putranya dengan pandangan yang sarat akan kekejaman. "Fotografer itu meminta bayaran tambahan sebesar lima miliar rupiah untuk menyerahkan salinan asli rekaman video malam tragedi itu. Kita akan berpura-pura menyetujui transaksinya malam ini."

"Dan setelah kita mendapatkan rekamannya?"

"Setelah kita mendapatkan rekamannya," jawab Claudia dengan bisikan mematikan, "kita akan melenyapkan fotografer itu dan barang bukti. Biarkan dua cacing itu saling membunuh dalam dendam palsu mereka, sementara kita menikmati seluruh kekayaan keluarga Vance tanpa ada sisa halangan."

Liam tersenyum picik, rasa cemas di wajahnya seketika tergantikan oleh rasa puas yang jahat. "Ibu memang luar biasa."

...****************...

Pendar sinar matahari terbenam menyusup masuk melalui celah gorden kamar utama penthouse milik Nico.

Sienna perlahan membuka matanya. Bulu matanya yang lentik bergetar pelan saat rasa pusing yang hebat menghantam kepalanya. Kelopak matanya terasa berat, dan tenggorokannya begitu kering bagaikan padang pasir.

"Ugh..." cicit Sienna pelan.

Gadis itu mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa lemas yang luar biasa menahan seluruh sendinya. Matanya yang kabur perlahan menyesuaikan dengan cahaya ruangan, mengenali plafon tinggi dan lampu gantung kristal kamar utama.

Sienna tersentak kecil di dalam hatinya. Ia tidak lagi berada di sel penyimpanan basemen yang dingin dan berdebu. Ia kembali berada di atas tempat tidur empuk kamar utama.

Sienna memutar kepalanya dengan lemah ke samping. Di atas meja nakas di dekat tempat tidur, tergeletak segelas air putih dan dua botol obat antibiotik. Dan tepat di samping meja nakas, mantel cokelat tuanya terlipat rapi di atas kursi kayu.

Sienna mengembuskan napas panjang yang bergetar. Ingatannya tentang kejadian semalam mendadak berputar kembali dengan sangat jelas, cengkeraman kasar Nico di perpustakaan, benturan di dinding, rasa dingin sel basemen, dan kertas resep medis laboratorium yang tersembunyi.

Sienna dengan panik mencoba memiringkan tubuhnya, menahan rasa sakit di dada kirinya yang kembali dibebat rapat oleh perban medis baru.

Jemari tangannya yang gemetar menggapai mantel cokelat tua yang terlipat di atas kursi. Dengan sisa tenaganya, Sienna meraba lipatan jahitan dalam mantel tersebut.

Dada Sienna berdegup kencang secara tak beraturan.

Kertas resep medis tua berstempel laboratorium rumah sakit yang memuat bukti racun arsenik atas nama Christina Vance itu, masih tersimpan dengan aman di dalam lipatan kain. Tidak ada yang menyentuhnya. Nico belum mengetahui rahasia besar ini.

Sienna memeluk mantel itu rapat-rapat di dadanya, air mata keharuan dan rasa takut bercampur menjadi satu.

Gadis itu tahu, kertas kecil ini adalah satu-satunya kunci untuk membersihkan namanya dan almarhum ayahnya, Hans Sinclair, dari tuduhan pembunuh yang selama belasan tahun ini melekat bagaikan kutukan.

Namun di saat yang sama, bukti ini adalah sebuah bom waktu yang sangat berbahaya. Jika ia salah melangkah atau menunjukkan bukti ini kepada Nico tanpa persiapan yang matang, siapapun orang-orang di balik konspirasi ini tidak akan ragu untuk menghabisi nyawanya sebelum kebenaran itu sempat terungkap di depan hukum.

Suara selot pintu kamar yang diputar dari luar mendadak mengejutkan Sienna.

KLIK.

Sienna dengan cepat menyelipkan kembali kertas itu ke dalam jahitan mantelnya dan menarik selimut hingga ke dada, mencoba menetralkan raut wajahnya yang pucat.

Pintu kamar terbuka.

Nicolas Vance melangkah masuk dengan kemeja putih yang lengannya tergulung kaku hingga siku. Wajah pria itu tampak tegap, kaku, dan tak tersentuh oleh emosi apa pun. Sepasang mata kelabunya menatap lurus ke arah Sienna yang terbaring lemah di atas tempat tidur.

Atmosfer di dalam kamar seketika berubah menjadi begitu tegang dan sarat akan dominasi. Sienna menatap Nico dengan sepasang mata cokelatnya yang redup dan penuh ketakutan.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!