NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

"Langsung bunuh atau bagaimana?" tanya salah satu mata-mata yang saat ini sedang memantau di luar rumah sakit.

"Yang nyonya mulai ingin dia lenyap. Jadi bereskan saja."

Nyonya benar-benar tidak akan membiarkan wanita itu hidup lebih lama," katanya dengan suara rendah, seolah mengingatkan dirinya sendiri.

"Tenang," balas rekannya, yang juga tengah memantau dengan cermat. "Kita punya waktu. Mereka pasti akan keluar dalam beberapa jam, dan kita hanya perlu memastikan mereka tidak melihat kita."

Mata-mata yang pertama mengangguk, meremas ponselnya lebih kuat. "Aku sudah terlalu lama mengincarnya. Begitu dia berumur 25 tahun, segalanya akan berubah."

"Jangan terburu-buru," kata rekannya dengan suara yang lebih tenang. "Kita punya kesempatan langka ini, jangan sampai gagal."

Pandangannya beralih ke jendela rumah sakit, ke arah Elara yang tampak sedang menjalani pemeriksaan dengan Dreven. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun mereka tahu, Elara tidak akan pernah tahu bahwa waktunya sudah hampir habis.

Dan Nyonya tidak akan memberi ampun.

Mata-mata itu menarik napas panjang, merasakan ketegangan yang membungkus setiap inci tubuhnya. "Akan ada banyak hal yang berubah, begitu misi ini selesai."

Dan setelah hampir tiga jam menunggu, akhirnya Elara dan Dreven keluar dari rumah sakit dan masuk ke dalam mobil.

"Ikuti mobil mereka."

Mata-mata itu segera memberi isyarat pada rekannya, yang duduk di dalam mobil van hitam yang parkir tak jauh dari pintu keluar rumah sakit. Dengan gerakan cepat, mereka menyalakan mesin dan mulai mengikuti mobil Elara dan Dreven, menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok.

"Mobil mereka sudah keluar," kata mata-mata yang mengemudi, memantau jalanan melalui spion. "Kita harus hati-hati, mereka bisa jadi curiga."

"Jangan khawatir," jawab rekannya dengan suara dingin, "Kita tetap di belakang mereka, jangan sampai kehilangan jejak."

Sementara itu, di dalam mobil Dreven, Elara duduk dengan diam, matanya tertutup sejenak, lelah dengan rangkaian pemeriksaan yang sangat banyak itu.

Tapi begitu mereka melewati jalanan sepi, tiba-tiba ban mobil mereka pecah. Elara langsung membuka matanya.

"Ada apa?"

"Ban pecah," jawab Dreven singkat dari kursi rodanya yang sudah dimodifikasi di dalam mobil, matanya fokus pada jalan yang semakin sulit dilalui. "Kita berhenti di sisi jalan."

Elara merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul, instingnya langsung bereaksi. Meskipun mobil berhenti dengan perlahan di sisi jalan sepi, dia tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ketika Dreven meminta supirnya untuk keluar memeriksa ban, Elara mengamati sekelilingnya dengan waspada. Jalanan yang begitu sepi ini terasa semakin mencekam.

"Elara, aku akan suruh supir ganti ban. Tunggu di sini," kata Dreven, tanpa menoleh ke Elara.

Namun, Elara tidak merasa tenang. Dia memeriksa sekeliling mobil dengan cepat, dan hatinya mulai berpacu lebih cepat. Sesuatu tidak beres, dan dia bisa merasakannya. Perasaannya terbukti saat ia melihat sebuah mobil hitam yang terparkir cukup jauh di belakang mereka, seolah menunggu.

"Dreven, cepat!" serunya, sedikit panik, meski dia berusaha menjaga ketenangannya.

Dreven menoleh dari kursi rodanya, bingung dengan nada suara Elara yang tiba-tiba tegang. "Apa yang—"

Namun, sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara mesin mobil lain mendekat dengan cepat. Elara meraih pegangan pintu, siap untuk melompat keluar jika diperlukan.

"Ada yang salah," bisik Elara, lebih pada dirinya sendiri.

Namun saat dia ingin keluar, pintu mobil tiba-tiba macet tanpa sebab. Elara semakin panik terlebih saat melihat mobil itu seperti akan menabraknya.

Dreven yang tadinya fokus menyuruh supirnya untuk mengganti ban terkecil kala melihat mobil yang melaju sangat cepat ke arah mobil mereka.

"Elara, keluar!" teriak Dreven dari dalam mobil, terkejut saat melihat mobil yang melaju cepat ke arah mereka. Dengan tubuhnya yang lumpuh, dia tidak bisa keluar dengan cepat seperti orang normal.

Elara menoleh dengan cepat ke arah suara Dreven, tetapi dalam hitungan detik, mobil itu semakin mendekat. Mobil itu langsung menabrak bagian belakang mobil mereka, membuat tubuh Elara terlempar ke depan, dan kaca belakang yang pecah memecah keheningan.

"Apa yang—!" Elara berteriak, merasa seolah semuanya terjadi dalam sekejap.

Dreven yang berada di dalam mobil langsung terkejut dan panik. "Elara!" Dia mencoba menggerakkan kursi rodanya menuju pintu, namun posisinya yang terbatas membuat gerakannya lambat. "Cepat keluar!"

Elara berusaha membuka pintu yang macet dengan tangan gemetar, sementara Dreven dengan susah payah mencoba mendekatinya dari kursi rodanya. Ketegangan semakin meningkat saat mereka melihat dua mobil hitam yang berhenti lebih jauh, dengan beberapa pria yang mulai keluar dari kendaraan, membawa senjata tajam dan terlihat sangat terlatih.

Elara yang di dalam mobil merasa udara semakin sesak, rasa tercekik dan panik menguasai dirinya. Tanpa bisa menunggu lagi, ia berteriak, "Buka pintu! Cepat!"

Dreven akhirnya berhasil meraih pegangan pintu dari dalam dan dengan sekuat tenaga mencoba membukanya. Namun, dengan tubuhnya yang lumpuh, tenaganya terbatas. Supir mereka yang berada di luar melihat situasi dan segera berlari membantu membuka pintu dari luar. Dengan beberapa kali hentakan, pintu itu terbuka dan Dreven dengan cepat meraih tangan Elara.

"Keluar! Cepat!" teriak Dreven, menarik tangan Elara dengan sekuat tenaga meskipun dari posisi duduknya.

Elara berhasil keluar dari mobil, dan Dreven segera mendorong kursi rodanya menjauh dari kendaraan. Supir mereka sudah lebih dulu berlari menjauh, memberikan jalan bagi mereka.

Namun, Dreven tahu dia tidak bisa berlari. Dengan tubuhnya yang lumpuh, dia hanya bisa mengandalkan kursi roda elektroniknya. Dia menatap Elara dengan tatapan panik.

"Elara, kau harus lari! Tinggalkan aku!" teriak Dreven, suaranya tegas namun penuh keputusasaan.

Elara menatapnya dengan mata membelalak. "Apa? Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!"

"Kau tidak punya pilihan! Aku tidak bisa berlari!" Dreven berteriak, frustasi. "Pergi! Cari bantuan!"

Namun Elara menggeleng keras. "Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu di sini!"

Dia meraih pegangan kursi roda Dreven dan mulai mendorongnya secepat mungkin menyusuri jalan setapak di samping jalan raya. Dreven terkejut dengan kekuatan dan tekad Elara, tapi dia tidak bisa membiarkan ini terjadi.

"Elara, lepaskan! Kau akan terbunuh!" teriaknya.

"Kalau kau mati, aku juga mati!" balas Elara dengan suara bergetar namun penuh tekad. "Jadi berhentilah bicara dan bantu aku mendorong!"

Dreven terdiam, kata-kata Elara menusuk hatinya. Untuk pertama kalinya, seseorang tidak mau meninggalkannya meskipun dia tidak bisa bergerak cepat. Dengan perasaan yang campur aduk, dia mengarahkan kursi rodanya untuk membantu Elara bergerak lebih cepat, menggunakan motor elektronik di kursi rodanya.

Mereka berdua bergerak menyusuri jalan setapak, meninggalkan mobil yang hancur di belakang. Di belakang mereka, suara mobil para pengejar semakin mendekat.

"Ke hutan! Cepat!" teriak Dreven, menunjuk ke arah pepohonan di kejauhan.

Elara mendorong kursi roda Dreven dengan sekuat tenaga, berlari menembus semak-semak dan pepohonan yang mulai menghalangi langkah mereka. Di belakang, suara mobil itu semakin mendekat, mesin yang meraung keras menandakan mereka tidak diberi waktu untuk melarikan diri.

Dreven menoleh ke belakang, melihat mobil hitam yang mengejar mereka, berlari menembus hutan seperti binatang yang tergila-gila.

"Ada jalan keluar, Elara! Kita harus terus bergerak!" Dreven berteriak, tangannya menggenggam erat pegangan kursi roda.

Elara terus mendorong, keringat mulai membasahi wajahnya. Perasaan takut mulai meresap ke dalam dirinya, tapi dia tidak berhenti.

"Ke sana!" Dreven menunjuk ke arah pohon besar yang menutupi bagian belakangnya, menyadari mereka harus mencari tempat untuk bersembunyi. "Sana, cepat!"

Mereka bergerak secepat yang mereka bisa, menghindari batu-batu besar dan ranting-ranting pohon yang melintang. Elara mendorong kursi roda Dreven dengan sekuat tenaga, sementara Dreven menggunakan motor elektronik kursi rodanya untuk membantu mempercepat gerakan mereka. Tapi meskipun mereka bergerak cepat, suara mobil yang terus mengikuti mereka tidak pernah berhenti, dan hanya semakin dekat.

Setelah beberapa menit bergerak, mereka menemukan danau yang tenang.

"Kau bisa menahan nafas berapa lama?" tanya Dreven dengan serius, tak ada pilihan lain selain mereka bersembunyi di bawah air.

Elara menatap danau yang tenang itu, tubuhnya masih terengah-engah, merasa beban ketakutan yang besar masih membebani dada. Namun, Dreven sudah berada di tepi danau dengan kursi rodanya, matanya fokus, menghitung setiap detik yang bisa mereka manfaatkan.

"Kau bisa menahan nafas berapa lama?" tanya Dreven lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kerutan kecemasan.

Elara menatap danau yang luas di hadapannya, mengira-ngira berapa lama dia bisa bertahan di bawah air. "Lima menit," jawabnya dengan suara ragu, tapi mantap. Itu adalah estimasi terbaiknya.

"Bagus," Dreven berkata singkat, dan tanpa menunggu lebih lama, ia berusaha memindahkan dirinya dari kursi roda ke dalam air. Namun, dengan tubuhnya yang lumpuh, gerakannya sangat lambat dan canggung. "Elara, bantu aku!" teriaknya frustasi.

Elara segera membantunya, dengan susah payah menurunkan tubuh Dreven ke dalam air. Dreven menggigit bibirnya menahan rasa sakit dan malu karena harus dibantu seperti ini.

"Kita harus masuk ke dalam. Jangan keluar sampai aku bilang," kata Dreven dengan napas tersengal setelah berada di air.

Elara hanya mengangguk, merasa sebuah dorongan insting yang kuat untuk mengikuti perintah Dreven. Meskipun dia merasa tidak nyaman dengan ide itu, dia tahu, ini adalah satu-satunya cara untuk melarikan diri.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka berdua langsung terjun ke dalam danau, dengan tubuh yang tenggelam perlahan ke dalam air yang dingin dan jernih. Dreven berpegangan pada Elara, karena tanpa kursi rodanya, dia tidak bisa berenang sendiri. Elara menahan napas sambil menopang tubuh Dreven di dalam air. Suara gelombang air seakan menelan suara langkah mereka, menciptakan kedamaian semu, yang justru semakin menegangkan.

Bersambung...

1
Muft Smoker
hati2 elara ,, Galileo pria yg berbahaya ,,
Muft Smoker: 😱😱😱😱😱🤭🤭
total 2 replies
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
Alia Chans: siap kl🤭
total 1 replies
Muft Smoker
hihihi sbar yx dreven🤭🤭😂😂
Miranda.
kek anak kecil yang lagi bujuk emaknya wkwk
Alia Chans: Dreven nya caper🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Miranda.
akting ga sih ini? biar dapet perhatian dari sang istri?/Doge//Doge/
Miranda.
apa sih kek bocil aja lu, Ren, Ren😂😂
Miranda.
daren aja duduk dikursi. masa bisa ngebalik kursi lain ups—
Muft Smoker
lanjuut kak ,,
Miranda.
jangan bilang BU pliss. si perantara bakalan ngejual harga miring itu nantinya😭😭
Alia Chans: 🤣🤣🤣🤣 gimana ya kak..
total 1 replies
Miranda.
untung ga dikhianati sm dja/Smile/
Miranda.
agak jahat sih. memanfaatkan rasa seseorang
Miranda.
sebuah perintah, atau ramalan nih?🤔
Alia Chans: tannya orang nya langsung 🙄🙄
total 1 replies
Mingyu gf😘
bisa saja draven sebenarnya sudah bisa berjalan, tapi hanya pura pura saja
Alia Chans: bisa jadi sih🤭🤭
total 1 replies
Mingyu gf😘
nahhb semakin curiga sama draven
Mingyu gf😘
jangan jangan draven itu mafia
Mingyu gf😘
waduhhh😭😭prontal banget woyy
Muft Smoker
jgn2 ni ulah Galileo Galilei 🤔🤔🤔



🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁😁😁😁
total 2 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
emm serem tapi oke🤭🤭
Alia Chans: wow... semoga suka ya☺
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
aaaaw so sweet
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Wanita yang dia maksud adalah istrinya sendiri
Alia Chans: 🤣🤣🤣 biasa Dreven nyari kesempatan🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!