Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Peluru dan Borgol
Rasa panas yang membakar menusuk dalam-dalam di bahu kanan Rendy saat peluru timah panas dari pistol revolver Danang menembus daging dan serat jas mewahnya. Sensasi nyeri yang teramat sangat seketika menjalar ke seluruh jaringan sarafnya, membuat napasnya tertahan dan tubuh tegapnya bergetar hebat. Namun, dalam dekapan erat tubuh Rendy yang kokoh, Siska sama sekali tidak tersentuh oleh proyektil maut tersebut.
"R-Rendy?!" jerit Siska histeris, air matanya meledak deras saat merasakan cairan hangat berwarna merah pekat mulai membasahi gaun dan bahunya.
"Rendy, kamu tertembak! Ya Tuhan, Rendy!"
Rendy tidak membiarkan rasa sakit melumpuhkan kesadarannya. Dengan sisa-sisa tenaga dan ketahanan fisik yang luar biasa, ia memutar tubuhnya seketika.
Sebelum Danang sempat menarik pelatuk pistolnya untuk kedua kali, Rendy menerjang maju menggunakan lengan kirinya yang bebas, menekan leher Danang ke lantai semen yang kasar dan mencengkeram pergelangan tangan Danang yang memegang senjata hingga terdengar bunyi retakan kecil.
"Aaargh!" Danang menjerit kesakitan saat pegangan jarinya lepas. Pistol revolver hitam legam itu terlempar dan menggelinding jauh ke sudut ruangan yang gelap.
Rendy mengunci seluruh pergerakan Danang di bawah himpitan tubuhnya, menahan pria gila itu agar tidak bergeming sedikit pun meski darah dari bahu kanannya terus mengalir deras membasahi lantai.
BRAK!
Pintu utama gudang tua itu mendadak hancur dihantam dari luar. Cahaya lampu sorot berdaya tinggi yang menyilaukan seketika menembus kegelapan ruangan, diikuti oleh masuknya belasan personel tim elit kepolisian berseragam lengkap dengan senjata laras panjang terkokang.
"Jangan bergerak! Angkat tangan!" teriak perwira polisi di barisan depan dengan suara menggelegar.
Petugas kepolisian langsung mengepung tempat kejadian. Dua anggota Brimob melompat maju, menarik tubuh Danang yang terikat tak berdaya secara kasar, lalu menekan kepalanya ke lantai beton yang basah.
Klek! Klek!
Bunyi sepasang borgol besi tebal yang mengunci kedua pergelangan tangan Danang bergema nyaring di tengah ruangan. Kali ini, tidak ada lagi celah hukum, tidak ada lagi uang jaminan, dan tidak ada lagi pengacara kaya yang bisa menyelamatkannya.
Danang telah melakukan tindakan penculikan, pemerasan, dan percobaan pembunuhan berencana—sebuah kombinasi kejahatan berat yang memastikannya akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi penjara berkeamanan tinggi.
"Lepaskan aku! Rendy! Siska! Aku akan membunuh kalian!" jerit Danang histeris seraya memberontak, namun para petugas menyeret tubuhnya tanpa ampun keluar menuju mobil tahanan. Kehancuran total kini telah resmi mengunci takdirnya.
Saat ancaman bahaya telah sepenuhnya lenyap, pertahanan fisik Rendy akhirnya runtuh. Kesadarannya perlahan mengabur oleh pendarahan yang masif.
Tubuhnya yang lemas dan berlumuran darah terkulai jatuh ke samping, ambruk tepat di pangkuan Siska yang masih terikat di kursi.
"Rendy! Rendy, buka matamu!" jerit Siska dengan suara yang sangat pecah dan serak. Dengan jemari gemetar, Siska berusaha membebaskan tangannya dari ikatan tali tamang yang dipotong oleh petugas medis kepolisian yang berlarian mendekati mereka.
Siska memangku kepala Rendy yang terasa sangat dingin. Ia menekan luka tembak di bahu Rendy dengan telapak tangannya sendiri, tidak peduli jemarinya yang lecet kini bersimbah darah kental milik pria itu.
Wajah Rendy yang tampan kini sangat pucat, matanya terpejam rapat, dan napasnya terdengar sangat lemah serta patah-patah.
"Jangan tinggalkan aku, Rendy... Tolong... Aku mohon..." tangis Siska pecah dalam histeria penyesalan yang teramat dalam.
Dulu ia meremukkan hati pria ini tanpa belas kasihan, namun malam ini, pria yang sama rela mempertaruhkan nyawanya sendiri di bawah tajamnya peluru demi melindunginya.
Dua orang petugas medis menyangga tubuh Rendy dengan hati-hati, memindahkannya ke atas tandu darurat seraya memasangkan masker oksigen di wajahnya. Siska berlari kecil di samping tandu, terus menggenggam erat jemari Rendy yang makin membeku.
Di luar gudang tua, sirine beberapa unit mobil ambulans dan pengawal kepolisian meraung-raung nyaring membelah sunyinya malam yang diguyur hujan.
Lampu rotator merah-biru menyapu kegelapan jalanan saat iring-iringan kendaraan medis itu melesat dalam kecepatan tinggi membawa Rendy yang dalam kondisi kritis menuju Rumah Sakit Pusat, menembus detik-detik paling menegangkan yang menentukan hidup dan matinya sang penguasa Adhitama.