Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : NENEK SAKIT DAN AIR MATA DI KECAMATAN
Rangga memulai hari pertamanya di SMP Negeri 1 Kecamatan dengan penuh semangat dan antusiasme yang membara. Sekolah itu jauh lebih besar dan megah dari SD Sumbermulyo—gedungnya berlantai dua dengan cat putih yang masih bersih, memiliki perpustakaan yang lengkap dengan ratusan buku, laboratorium IPA sederhana dengan mikroskop dan alat-alat kimia, serta lapangan olahraga yang luas. Rangga merasa seperti memasuki dunia baru yang penuh kemungkinan. Teman-teman barunya berasal dari berbagai desa di kecamatan dan bahkan dari kota kecil, masing-masing dengan latar belakang yang berbeda-beda. Mereka semua ramah dan menerima Rangga dengan baik, meskipun ada beberapa yang mengejeknya karena seragamnya yang kusam dan sepatu jepitnya yang sudah usang.
"Kau dari desa mana?" tanya seorang anak berambut rapi dengan seragam baru berwarna putih bersih, namanya Rizki, anak seorang pedagang kaya di kecamatan.
"Sumbermulyo," jawab Rangga dengan percaya diri, tidak malu sedikitpun.
"Ooh, desa terpencil di balik bukit itu? Kukira kau anak kampung, ternyata benar. Sepatumu jelek sekali. Kenapa tidak beli yang bagus?" kata Rizki sambil tertawa, diikuti oleh beberapa temannya yang ikut mengejek.
Rangga tidak marah. Ia hanya tersenyum dengan tenang. "Memang jelek, tapi ini adalah sepatu terbaik yang aku punya. Dan aku tidak perlu sepatu mahal untuk menjadi pintar. Nilai tidak diukur dari sepatu, kan?"
Rizki terdiam, tidak tahu harus membalas apa. Rangga pun berlalu meninggalkan mereka dengan kepala tegak. Ia tidak ingin membuang waktu untuk orang-orang yang meremehkannya hanya karena penampilan. Ia datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk bermain gengsi atau pamer harta.
Di sekolah, Rangga bertemu dengan Anisa—yang ternyata juga bersekolah di SMP yang sama. Anisa tersenyum lebar melihatnya, matanya berbinar-binar. "Rangga! Kau juga di sini! Aku senang sekali! Aku tidak menyangka kita akan satu sekolah lagi!"
Rangga tersenyum, hatinya berdebar-debar seperti biasa setiap kali melihat Anisa. "Aku juga senang, Anisa. Aku dapat beasiswa di sini. Ini semua berkat doa Nenek dan bantuan Bu Siti."
"Hebat! Aku juga dapat beasiswa dari yayasan kecamatan. Ayahku mendaftarkanku ke sini. Kita sekelas, lho! Aku sudah lihat daftar pembagian kelasnya!" kata Anisa dengan penuh semangat, matanya berbinar-binar.
Rangga merasa seperti bermimpi. Bukan hanya ia bisa sekolah di SMP favorit se-kecamatan, tetapi ia juga satu kelas dengan Anisa—gadis yang selama ini ia kagumi dari kejauhan. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar lebih giat lagi, agar ia bisa menjadi seseorang yang layak di sampingnya dan membuat Nenek bangga.
Namun, di balik kebahagiaan Rangga di sekolah, ada kabar buruk yang datang dari desa seperti petir di siang bolong. Suatu malam, saat Rangga sedang asyik belajar di kamar asramanya yang sederhana, seorang utusan dari desa datang membawa surat dari Ucok. Rangga membuka surat itu dengan tangan gemetar, jantungnya berdebar kencang karena firasat buruk.
"Rangga, Nenek Saroh jatuh sakit parah. Ia demam tinggi dan tidak bisa bangun dari tempat tidur selama tiga hari. Ia tidak mau makan dan hanya minum air putih. Bu Siti sudah membawanya ke puskesmas, tetapi dokternya bilang ia perlu perawatan lebih lanjut di rumah sakit kecamatan. Nenek terus memanggil-manggil namamu. Kau harus pulang segera, Rangga. Nenekmu sangat lemah. Aku khawatir…"
Rangga tidak bisa menahan tangisnya. Surat itu jatuh dari tangannya, dan ia langsung berlari ke kantor wali asrama untuk meminta izin pulang. Wali asrama, seorang pria tua bernama Pak Maryono, langsung mengizinkannya setelah melihat ekspresi panik di wajah Rangga.
"Pulanglah, Nak. Urusan sekolah bisa diatur nanti. Keluargamu lebih penting," kata Pak Maryono dengan suara lembut.
Rangga berangkat ke desa pada malam yang sama, meskipun tidak ada angkutan umum pada jam segitu. Ia berlari sejauh mungkin, menumpang angkutan desa yang kebetulan lewat, dan terus berlari menuju gubuk Nenek. Perjalanan yang biasanya memakan waktu satu jam terasa sangat lama, seperti seumur hidup. Keringat bercucuran di dahinya, napasnya tersengal-sengal, tetapi ia tidak berhenti sedetik pun.
Ketika ia tiba di gubuk, ia melihat pemandangan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Nenek Saroh terbaring lemah di tikar pandan, wajahnya pucat seperti kapur, bibirnya kering dan pecah-pecah, dan napasnya terasa sangat pendek dan lemah. Di sampingnya, Ucok, Bu Siti, dan beberapa tetangga duduk dengan wajah cemas dan mata sembab karena menangis.
"Nek! Nenek!" teriak Rangga, berlutut di samping neneknya. Ia memegang tangan nenek yang dingin dan lemah, merasakan tulang-tulangnya yang menonjol karena kurus. "Aku pulang, Nek! Aku di sini! Aku tidak akan pergi lagi!"
Nenek Saroh membuka matanya perlahan, seolah butuh tenaga yang sangat besar untuk melakukannya. Melihat Rangga, ia tersenyum lemah, senyum yang membuat kerut-kerut di wajahnya semakin dalam. "Nak… kau pulang… Nenek senang… Nenek merindukanmu…"
Rangga menangis tersedu-sedu, air matanya jatuh ke tangan neneknya. "Nek, kenapa tidak bilang aku lebih awal? Kenapa Nenek sembunyikan penyakit Nenek dari aku?"
Nenek Saroh menggeleng pelan, dengan susah payah. "Nenek tidak mau mengganggu sekolahmu, Nak. Kau sedang mencapai mimpimu. Nenek tidak mau menjadi beban… Nenek tidak mau kau berhenti sekolah karena Nenek…"
"Tidak! Nenek bukan beban! Nenek adalah segalanya bagiku!" Rangga memeluk neneknya dengan hati-hati, takut melukainya. "Aku akan merawat Nenek. Aku akan berhenti sekolah jika harus. Aku tidak akan meninggalkan Nenek lagi!"
Bu Siti yang mendengar itu segera memegang bahu Rangga dengan tegas. "Rangga, jangan gegabah. Kau tidak boleh berhenti sekolah. Itu adalah pengorbanan terbesar Nenekmu. Nenekmu ingin kau sukses, bukan kau berhenti di tengah jalan. Kau harus menghormati keinginannya."
"Tapi Bu, Nenek sakit! Aku tidak tega meninggalkannya!" sela Rangga, suaranya putus asa.
"Aku akan merawat Nenekmu," kata Bu Siti dengan tekad yang kuat. "Aku akan minta tolong tetangga untuk menjaganya secara bergiliran. Dan kau, kau harus kembali ke sekolah. Kau harus belajar dengan giat untuk membuat Nenekmu bangga. Itu adalah yang terbaik yang bisa kau lakukan untuknya."
Rangga menatap neneknya, lalu menatap Bu Siti. Hatinya terpecah dua seperti dibelah dengan pisau—ingin merawat Nenek sepenuh waktu, tetapi juga ingin melanjutkan sekolah demi masa depannya. Akhirnya, Nenek Saroh sendiri yang memutuskan dengan suara yang sangat lemah.
"Nak," bisik Nenek dengan susah payah, "kembalilah ke sekolah. Nenek berjanji akan sembuh. Nenek akan menunggumu pulang setiap akhir pekan. Nenek tidak akan pergi sebelum kau lulus SMP. Kau janji?"
Rangga menangis, tetapi ia mengangguk dengan berat. "Aku janji, Nek. Aku akan kembali ke sekolah. Aku akan belajar dengan giat. Aku akan membuat Nenek bangga. Tapi Nenek juga harus berjanji—Nenek harus minum obat tepat waktu, Nenek harus makan teratur meski tidak nafsu, dan Nenek harus beristirahat yang cukup."
"Siap, Nak," kata Nenek Saroh dengan senyum lemah. "Nenek janji. Nenek akan berusaha sembuh untukmu."
Rangga menghabiskan malam itu di samping Nenek. Ia tidak tidur sedetik pun. Ia terus memperhatikan setiap helaan napas Nenek, memastikan Nenek tetap hangat dengan selimut tambahan, dan sesekali memberi Nenek minum air putih hangat. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah mengabaikan Nenek lagi, untuk selalu pulang setiap akhir pekan, dan untuk menjadi anak yang berbakti.
Keesokan harinya, Rangga kembali ke kecamatan dengan berat hati. Namun ia membawa tekad baru yang lebih kuat dari sebelumnya: ia akan belajar dengan lebih giat, agar ia bisa lulus dengan cepat dan kembali ke desa untuk merawat Nenek selamanya.
---
[Bersambung...]
---