Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Beberapa hari setelah momen hangat di apartemen mereka, atmosfer santai berganti menjadi kesibukan yang kian intens. Farra, Barra, dan sahabat-sahabatnya mulai memfokuskan seluruh energi untuk menghadapi ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Berbekal latar belakang pendidikan dari SMK Kesehatan Hewan, mereka telah bertekad bulat untuk mengejar cita-cita yang sama, yaitu menjadi dokter hewan. Di tengah perjuangan belajar yang menguras pikiran, Barra menjelma menjadi benteng garda terdepan bagi Farra. Setiap kali Farra mulai kelelahan atau terserang mual akibat kehamilannya, Barra dengan sigap mengambil alih buku catatan, membacakan materi pelajaran, hingga menyuapkan suplemen nutrisi agar sang istri tak sampai mengalami stres.
Hari pengumuman yang mendebarkan akhirnya tiba. Satu per satu dari mereka membuka portal hasil seleksi dengan jantung berdebar kencang, hingga isak tangis haru dan sorak gembira seketika mewarnai sambungan telepon grup mereka. Farra dan Barra berhasil lolos dan resmi diterima di Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Indonesia. Kegembiraan mereka kian lengkap karena Gabriella dan Ben juga dinyatakan diterima di kampus dan jurusan yang sama. Sementara itu, Amelia bersiap merantau ke Yogyakarta setelah lolos di Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, dan Farraz berhasil menembus Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Perjuangan keras selama masa sekolah dan masa-masa sulit ujian akhirnya membuahkan hasil yang begitu manis.
Namun, di balik selebrasi dan kebahagiaan yang melingkupi mereka, ada satu fakta tersembunyi yang sama sekali tak disadari oleh siapa pun. Di dalam sebuah kamar megah di sudut lain kota, Vanessa menatap layar laptopnya dengan senyum dingin yang mengerikan. Pada layar monitor itu, tertera surat kelulusan resmi atas namanya di Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Indonesia. Menggunakan kekayaan dan koneksi orang tuanya usai lolos dari jerat hukum, Vanessa sengaja membidik kampus yang sama demi bisa terus mengawasi Barra. Jemarinya mengusap kasar foto Barra dan Farra di layar ponsel, membayangkan rencana pembalasan dendam yang siap ia jalankan begitu perkuliahan dimulai.
...................
Memasuki minggu-minggu awal perkuliahan di Universitas Indonesia, kehidupan baru sebagai mahasiswa Kedokteran Hewan mulai menyita perhatian Farra, Barra, Gabriella, dan Ben. Jadwal kuliah yang padat, praktikum di laboratorium, hingga hafalan anatomi hewan yang menumpuk kini menjadi makanan sehari-hari. Meski begitu, status Farra yang sedang mengandung anak kembar membuat Barra bertindak bagaikan bodyguard pribadi di area kampus. Setiap pagi, mobil Barra selalu terparkir tepat di depan gedung fakultas agar Farra tidak perlu berjalan terlalu jauh, dan Barra tak pernah lupa membawakan bekal serta botol air hangat untuk istrinya. Ben dan Gabriella pun selalu sigap pasang badan membantu Barra menjaga Farra di area kampus.
Hari itu, saat jeda kuliah di kantin fakultas, Farra, Barra, Gabriella, dan Ben sedang menikmati makan siang bersama di salah satu sudut meja yang tenang. Perut Farra yang mulai membuncit samar di balik baju longgar menjadi perhatian khusus bagi Barra. Dengan penuh kelembutan, Barra memotongkan daging ayam di piring Farra dan memastikan istrinya menyantap makanan dengan cukup. Ben dan Gabriella yang duduk di hadapan mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli melihat tingkat ke-bucin-an sahabatnya yang sudah berada di level suami siaga.
Namun, kehangatan di meja kantin itu mendadak menguap saat sebuah bayangan berdiri tepat di samping meja mereka. Farra mendongak dan seketika menghentikan suapannya. Begitu pula dengan Barra yang raut wajahnya langsung berubah dingin dan mengeras. Vanessa berdiri di sana dengan pakaian modis, tersenyum manis namun menyiratkan tatapan yang sangat manipulatif.
"Hai, Barra... Farra. Wah, nggak akrab banget ya kita, ternyata satu kampus dan satu jurusan lagi," sapa Vanessa dengan nada sok akrab yang dibuat-buat, seolah kejadian kelam di malam prom night dan masa penahanannya di kantor polisi tidak pernah terjadi.
Barra langsung meletakkan sendoknya dengan dentang nyaring, menyandarkan punggungnya di kursi sembari menatap Vanessa dengan pandangan tajam penuh intimidasi. "Mau apa kamu ke sini, Vanessa?" tanya Barra dingin tanpa embel-embel keramahan sedikit pun.
Vanessa terkekeh pelan, mengibaskan rambutnya dengan santai. "Lho, kok galak banget sih, Bar? Aku kan cuma mau nyapa teman seangkatan. Lagipula, kita kan bakal sering ketemu di kelas dan laboratorium. Mending kita lupakan masalah lalu dan mulai berteman baik, kan?"
"Nggak usah pura-pura amnesia ya, Ness," tembak Gabriella pedas, melipat tangannya di dada sambil menatap Vanessa jijik.
Ben yang berada di samping Gabriella pun ikut menimpali dengan tatapan tak kalah dingin. "Punya muka berapa kamu, Ness? Mending jauhin meja kita sebelum kita panggil sekuriti kampus."
Senyum manis di wajah Vanessa sempat goyah sejenak mendengar ucapan Gabriella dan Ben, namun ia dengan cepat menguasai dirinya kembali. Matanya yang licik bergulir menatap Farra yang duduk diam sembari memegang tangan Barra. Vanessa menyadari adanya gestur protektif yang berlebihan dari Barra terhadap Farra, termasuk bagaimana Barra selalu meneliti makanan Farra dan enggan membiarkan Farra kelelahan.
"Yaaah, terserah kalian mau mikir apa," ujar Vanessa santai sambil melangkah mundur. "Aku cuma mau bilang selamat atas perkuliahan kita. Sampai ketemu di kelas praktikum ya, Barra..." lanjutnya dengan lirikan penuh arti sebelum akhirnya berbalik melangkah pergi.
Sepeninggal Vanessa, Barra meremas jemari Farra dengan erat, berusaha menenangkan istrinya sekaligus menahan amarahnya sendiri. "Kamu nggak apa-apa, kan, Sayang? Kalau kamu merasa nggak nyaman, aku bisa urus biar dia dipindah kelas."
Farra mengusap lembut punggung tangan suaminya, menyunggingkan senyum menenangkan. "Aku nggak apa-apa kok, Barra. Jangan emosi ya... Ada kamu, Ben, dan Gabriella di sini, aku merasa aman."
Meskipun Farra berusaha menenangkannya, Barra tahu betul bahwa kemunculan Vanessa di kampus yang sama bukanlah sebuah kebetulan semata. Di balik wajah tenangnya, Barra bersumpah akan meningkatkan kewaspadaannya berkali-kali lipat demi melindungi Farra dan calon anak kembar mereka dari ancaman apa pun yang mungkin sedang direncanakan oleh Vanessa.