"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: KAWAH REFLEKSI ES
Mo Xie mengangguk pelan, membuang jauh-jauh sisa nostalgia menyakitkan yang sempat melintas di benaknya.
Ia melangkah mantap, menjaga jarak konstan di belakang Xue Qingyue saat mereka melewati ambang pintu gerbang es yang terbuka lebar. Aura spiritual dingin yang tebal langsung menyelimuti tubuh mereka, membawa aroma Qi murni yang sangat pekat dan membekukan.
Di dalam aula, suasananya terasa megah namun sepi. Pilar-pilar es raksasa menjulang tinggi hingga ke langit-langit kubah yang tak terlihat, berkilau memantulkan cahaya biru redup dari kristal-kristal purba.
Di ujung ruangan, di atas tangga batu yang membeku, berdiri sebuah takhta es yang tampak kokoh dan dingin. Namun, perhatian Mo Xie langsung tertuju pada sosok yang duduk di atas takhta tersebut.
Ketua Agung Sekte Es Abadi. Lelaki itu tampak tua, tetapi memancarkan tekanan yang bisa menghancurkan apa pun dalam sekejap.
Rambutnya kelabu keperakan, dan matanya—yang tidak memiliki pupil murni melainkan bersinar biru terang bagai bintang musim dingin—langsung mengunci pandangan pada Mo Xie.
Tekanan aura yang dipancarkannya begitu masif, seolah seluruh gunung es di benua utara sedang menindih pundak Mo Xie secara bersamaan.
Xue Qingyue melangkah maju, lalu berlutut dengan satu kaki di dasar tangga takhta, menundukkan kepalanya dengan hormat yang mendalam.
"Ketua Agung, saya telah membawa anak ini yang selamat dari kehancuran Lembah Yunlan. Wadah dari pedang kegelapan," lapor Xue Qingyue, suaranya bergema jernih di aula yang sunyi.
Ketua Agung tidak segera menjawab. Ia menopang dagu dengan tangannya, menatap Mo Xie yang tetap berdiri tegak tanpa menunjukkan niat untuk berlutut. Keheningan yang menekan merayap di antara mereka selama beberapa detik yang menegangkan.
"Mo Xie..." suara Ketua Agung terdengar berat dan dalam, menggetarkan lantai es di bawah kaki mereka bagai gempa kecil.
"Aku bisa mencium aroma keputusasaan dan dendam yang pekat dari jiwamu. Kekuatan kegelapan di lenganmu itu... ia merespons kemarahanmu. Tapi katakan padaku, apa gunanya kemarahan seekor semut jika langit memutuskan untuk menginjakmu sekali lagi?"
Mo Xie tidak menjawab, tetapi ia tetap berdiri tegak menghadap lelaki tua itu.
Ketua Agung menegakkan tubuhnya, meletakkan kedua tangannya di atas sandaran takhta, bersiap melontarkan ujian pertama bagi pemuda yang berani menantang takdir para Dewa tersebut.
Lalu, sebuah seringai tipis yang dingin terukir di sudut bibir Mo Xie.
Meski ia bisa merasakan setiap sendi di tubuhnya berderit akibat tekanan aura masif dari lelaki tua itu, tidak ada sedikit pun rasa gentar di matanya.
"Kemarahanlah yang membuatku bisa berdiri di hadapanmu sekarang," sahut Mo Xie, suaranya terdengar tenang tanpa rasa takut, memecah kesunyian Aula Agung yang membeku.
Mendengar kelancangan itu, Xue Qingyue yang masih berlutut sedikit menegangkan bahunya. Jemarinya yang mencengkeram erat gagang pedang kristalnya, bersiap bertindak jika sang Ketua Agung murka.
Namun, Mo Xie belum selesai berbicara. Ia terdiam sesaat, membiarkan keheningan dingin meresap sebelum ia melanjutkan dengan nada suara yang lebih berat.
"Tapi aku tahu aku masih lemah..." Mo Xie menatap langsung ke dalam sepasang mata biru terang milik pria di atas takhta itu. "Dan masih terlalu awal untuk menantang langit. Karena itulah aku datang menemuimu."
Ketua Agung menatap Mo Xie tanpa berkedip. Tekanan udara di dalam aula mendadak menjadi begitu pekat hingga uap napas mereka membeku menjadi serpihan kristal kecil di udara.
Namun perlahan, keheningan mencekam itu pecah oleh suara tawa berat yang bergemuruh dari dada sang pemimpin tertinggi wilayah utara.
"Hahaha... keberanian dan sadar diri. Kombinasi yang langka bagi seseorang yang mengusung kekuatan terkutuk," ujar Ketua Agung, mencondongkan tubuhnya ke depan.
Sinar matanya yang bagai bintang musim dingin kini menatap Mo Xie dengan minat yang jauh lebih besar.
"Kemarahan memang bahan bakar yang baik untuk bertahan hidup, tetapi tanpa kendali, itu hanya akan membakarmu dari dalam sebelum kau sempat menyentuh musuhmu."
Ketua Agung perlahan bangkit dari takhta esnya. Setiap langkah kaki menuruni tangga batu mengeluarkan pendar cahaya es yang membekukan seisi aula.
Ia berhenti tepat beberapa langkah di hadapan Mo Xie.
"Aku adalah Han Wuyan, Ketua Agung Sekte Es Abadi," ucap sang pria tua itu, menepuk pundak Mo Xie.
Mo Xie hanya terdiam di hadapannya. Jarak yang begitu dekat membuatnya tidak bisa bergerak akibat tekanan yang tak kasat mata.
"Jika kau ingin mengendalikan kegelapan di lenganmu dan menuntut takdir baru, kau harus membuktikan bahwa jiwamu tidak akan hancur saat es kami membekukan kemarahan liarmu."
Han Wuyan menoleh sedikit ke arah Xue Qingyue, memberi isyarat dengan anggukan kepala yang tegas.
"Xue Qingyue. Mulai hari ini, dia adalah tanggung jawabmu. Bawa dia ke Kawah Refleksi Es. Jika dia selamat dari malam pertama di sana, kita akan mulai menorehkan jalan bagi pedangnya."
"Baik, Ketua Agung," sahut Xue Qingyue tegas.
Ia bangkit berdiri dengan gerakan anggun namun penuh disiplin, lalu berbalik menatap Mo Xie dengan sepasang mata birunya yang tanpa kompromi.
"Ikut aku."
Mo Xie tidak membantah. Ia membalikkan badannya, meninggalkan Aula Agung di bawah tatapan tajam dan menyelidik dari Han Wuyan yang kembali duduk di atas takhta esnya.
Mereka melintasi koridor kastil yang semakin jauh menurun ke dalam perut gunung. Suhu udara di sekitar mereka merosot drastis dengan sangat cepat. Setiap embusan napas yang keluar dari mulut Mo Xie kini langsung membeku menjadi kristal es halus sebelum sempat jatuh ke tanah.
Lengan kanan Mo Xie yang terlilit kain hitam mulai bereaksi; simbol pedang hitam di pergelangan tangannya terasa berdenyut ngilu, seolah menolak hawa dingin ekstrem yang mencoba mengisolasi kekuatannya.
"Kawah Refleksi Es adalah tempat di mana para praktisi kami menguji ketetapan hati mereka," Xue Qingyue menjelaskan tanpa menoleh, langkah kakinya terdengar konstan di atas lantai es yang licin.
"Es di sana tidak hanya membekukan fisik, tetapi juga memproyeksikan ketakutan, penyesalan, dan kegelapan terdalam di dalam jiwamu menjadi ilusi nyata. Banyak yang kehilangan akal sehat mereka di sana karena tidak kuat menatap pantulan diri mereka sendiri."
Mo Xie mendengarkan dengan saksama.
Dan akhirnya, mereka sampai di sebuah gua bawah tanah yang sangat luas.
Di tengah gua tersebut, terdapat sebuah kawah raksasa yang tidak berisi lava, melainkan hamparan es hitam yang sangat jernih bagai cermin raksasa. Angin badai es berputar-putar di dalam kawah tersebut, menciptakan suara lolongan parau yang terdengar seperti jeritan jiwa-jiwa yang tersiksa.
Xue Qingyue berhenti di tepi kawah, lalu berbalik menghadap Mo Xie.
Angin dingin meniup helai-helai rambut putihnya, menyingkap wajah cantiknya yang sekilas kembali membuat dada Mo Xie berdenyut nyeri karena kemiripannya dengan Chu Yurou.
"Masuklah ke tengah kawah itu, Mo Xie," perintah Xue Qingyue, menunjuk ke arah pusat hamparan es hitam yang berputar.
"Gunakan rasa sakit dan kemarahanmu sebagai jangkar agar jiwamu tidak terseret oleh ilusi es. Jika kau membiarkan dirimu goyah bahkan untuk sedetik saja... kau akan membeku di sana selamanya sebagai patung es tanpa jiwa."