NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Giliranku Menata Ulang Permainan

Selena membuka mulut, tetapi tak ada jawaban yang keluar.

Ia menoleh kepada Robert. "Papa, aku benar-benar nggak sengaja. Semua orang berdesakan."

"Tadi kamu bilang tidak mendorong," Amaya mengingatkan.

"Karena aku memang nggak merasa mendorongmu. Mungkin tanganku menyentuh punggungmu waktu aku sesak."

"Jadi menyentuh atau tidak?"

Air mata Selena jatuh. "Aku sedang sulit bernapas. Mana mungkin aku ingat semuanya?"

Kalimat itu mengubah dirinya dari tertuduh menjadi pasien lagi. Nathan spontan melangkah ke sisi ranjang. Bahkan Robert mengembuskan napas, seolah pertanyaan Amaya mulai berlebihan.

Pola lama kembali bekerja.

Amaya tidak membiarkannya selesai.

"Pa," katanya, masih dengan suara lembut, "aku cuma minta satu jawaban. Kalau memang rumah kita harmonis seperti yang selalu Papa bilang, bukankah kakak yang membuat adiknya terluka seharusnya minta maaf dulu?"

"Belum terbukti Selena sengaja mendorongmu."

"Aku juga nggak bilang sengaja. Aku minta maaf karena tindakannya membuatku jatuh."

Karina menatap suaminya. "Maya yang terluka. Meminta Selena bilang maaf bukan hukuman."

Robert memandang kedua putrinya bergantian. Selama bertahun-tahun ia selalu memakai kalimat yang sama: tangan kanan dan tangan kiri sama-sama daging, jangan suruh orang tua memilih.

Malam ini, tangan kiri terbaring dengan infus dan semua orang mengelilinginya. Tangan kanan datang sendiri dengan pakaian berlumur darah.

Mungkin keduanya memang daging.

Namun hanya satu yang selama ini dibiarkan menahan luka tanpa suara.

"Selena," kata Robert akhirnya. "Minta maaf."

Wajah Selena membeku. "Papa?"

"Maya dijahit karena kejadian di rumah. Sengaja atau tidak, minta maaf."

Selena menggigit bibir. Air matanya makin deras ketika ia menatap Amaya. "Maaf. Aku nggak sengaja mendorongmu. Aku juga panik dan nggak bisa bernapas. Kalau aku sadar ada kaca di belakangmu, aku pasti menahanmu."

Permintaan maaf itu masih dipenuhi pembelaan, tetapi Amaya tidak mempersoalkannya.

Ia mendekati sisi ranjang dengan langkah pincang.

"Aku terima, Ci."

Selena mengangkat wajah, sedikit terkejut oleh kemudahan itu.

Amaya membungkuk seolah hendak memeluknya. Bibirnya berhenti dekat telinga Selena, cukup jauh agar orang lain hanya melihat dua saudari sedang berdamai.

"Mulai sekarang giliranku, Ci," bisiknya. "Aku, adikmu ini, yang menata ulang permainan si teh manis."

Napas Selena tersangkut.

Amaya sudah menjauh sebelum ia sempat bereaksi. Wajahnya kembali lembut saat menghadap Robert dan Karina.

"Sebenarnya Ci Selena nggak mendorongku."

Seluruh kamar membeku untuk kedua kalinya.

Nathan mengerutkan kening. "Apa?"

"Aku sendiri yang terpeleset." Amaya melipat tangan di depan perut. "Tangan Ci Selena mungkin memang menyentuh punggungku, tapi aku nggak punya bukti dia memberi dorongan. Sama seperti dia nggak punya bukti aku menaruh kacang di jusnya."

Wajah Robert memerah. "Jadi kamu memaksa Selena minta maaf atas sesuatu yang belum tentu dia lakukan?"

"Iya, Pa."

Tidak ada penyangkalan. Tidak ada tangisan.

Pengakuan lugas itu justru membuat semua orang kehilangan kalimat yang sudah disiapkan.

Amaya menatap Selena. "Aku cuma melakukan kepada Ci Selena apa yang selama ini dia lakukan kepadaku. Tinggal tukar peran."

"Aku nggak pernah melakukan itu," Selena menyahut.

"Waktu vas kristal pecah, Ci bilang terakhir melihatku di ruang tamu. Semua orang menyuruhku minta maaf walau nggak ada yang melihat aku menyentuhnya. Waktu berkas tender Papa hilang, Ci bilang aku sempat masuk ruang kerja. Aku dimarahi sampai berkasnya ditemukan di mobil Papa sendiri. Waktu gelang Ci hilang, kamarku yang pertama digeledah."

Satu per satu kenangan pemilik tubuh ini keluar tanpa perlu dicari.

"Setiap kali Ci bicara sambil menangis, dugaannya berubah jadi fakta. Pembelaanku berubah jadi kecemburuan. Jadi malam ini aku mencoba caranya." Amaya tersenyum kecil, tetapi matanya tidak ikut melengkung. "Ternyata mudah sekali."

Karina menutup mata sesaat. Ia mengingat ketiga kejadian itu.

Robert juga ingat. Yang tak ia ingat adalah pernah meminta maaf setelah tuduhan-tuduhan tersebut terbukti salah.

"Maya," Nathan berkata pelan, "kamu bisa bicara tanpa menjebak semua orang."

Amaya menoleh kepadanya. "Aku sudah bicara delapan tahun. Koh baru mendengar malam ini karena caraku akhirnya sama dengan cara orang yang selalu Koh dengarkan."

Nathan terdiam.

Sebastian berdiri di dekat pintu dengan ekspresi tak terbaca. Namun di balik lensa kacamatanya, ada ketertarikan yang semakin tajam.

Perempuan di depannya seperti mengganti seluruh isi kepala dalam semalam. Bukan hanya berani. Ia tahu kapan menyerang, kapan mundur, dan kapan mengaku salah agar orang lain tak sempat merebut posisi moral darinya.

Manis di luar. Isinya pisau.

Aneh sekali, Sebastian justru menyukainya.

Robert menarik napas panjang. "Mulai sekarang, siapa yang menuduh, dia yang membuktikan. Tanpa bukti, tidak boleh ada tuduhan sembarangan di rumah. Berlaku untuk kalian berdua."

"Baik, Pa," jawab Amaya.

Selena tidak segera menjawab.

"Selena?"

"Iya, Pa."

"Dan kamu kakaknya. Harus tahu diri. Jangan terus memakai alasan sakit atau panik untuk membuat masalah selesai tanpa penjelasan."

Wajah Selena semakin pucat. Seumur hidup tinggal di rumah Halim, baru kali ini Robert menegurnya di depan Amaya.

Amaya belum selesai.

Ia berdiri di tengah kamar, baju pasien longgar menutupi tubuhnya, satu kaki menahan nyeri, tetapi suaranya tidak goyah.

"Papa, Mama, aku nggak minta kalian berhenti menyayangi Ci Selena. Aku juga nggak minta semua orang memilih aku setiap saat." Ia memandang keduanya bergantian. "Aku cuma capek selalu disuruh mengalah. Setiap ada masalah, aku yang pertama dicurigai. Setiap aku terluka, jawabannya selalu `Selena juga menderita`."

Karina menunduk.

"Lain kali, bisa nggak jangan buru-buru memihak dia? Tanya aku dulu. Lihat aku dulu." Amaya menyentuh perban di balik baju pasien. "Luka di paha bisa dijahit. Luka orang yang terus difitnah nggak bisa ditutup pakai benang."

Mata Karina memerah. Robert memalingkan wajah ke jendela, rahangnya bergerak menahan sesuatu.

Selena terbaring di antara bunga dan peralatan medis, tetapi malam itu perhatian di kamar tidak lagi berpusat kepadanya.

Sebastian melihat jam tangannya. "Pasien hanya perlu observasi sampai besok pagi. Satu orang boleh menemani, bergantian kalau perlu. Tidak ada alasan medis untuk seluruh keluarga berjaga."

Kalimat itu resmi mengakhiri pertunjukan Selena.

Robert mengangguk. "Nathan, kamu temani Selena dulu. Karina ikut saya urus Amaya."

"Aku bisa menemani Maya," Nathan menawarkan cepat.

Robert menoleh kepada Sebastian. "Sebas, tolong siapkan kamar untuk Amaya malam ini. Lukanya perlu diawasi."

"Sudah saya minta perawat siapkan."

Mereka keluar dari kamar beberapa menit kemudian. Amaya menolak kursi roda karena jarak menuju kamar observasi tidak jauh. Karina berjalan di satu sisi, Robert sedikit di depan sambil menelepon kepala keamanan rumah.

Di depan lift, telapak kaki Amaya menginjak bagian lantai yang masih lembap. Tubuhnya oleng.

Nathan, yang baru menyusul keluar setelah memastikan infus Selena, mengulurkan tangan. Pada saat yang sama, Sebastian juga bergerak.

Dua tangan terbuka di hadapan Amaya.

Ia bahkan tidak melirik Nathan.

Jemarinya langsung menyusup ke telapak tangan Sebastian, lalu menggenggamnya seolah itu pilihan paling alami di dunia.

"Boleh Koh papah aku jalan?"

Ujung telinga Sebastian memerah.

Jari-jarinya menutup refleks, mengurung tangan Amaya. Hangat yang tadi ia rasakan di ruang tindakan kembali merambat sampai lengan.

Nathan menurunkan tangannya perlahan.

Pemandangan sederhana itu menusuk bagian yang selama ini ia abaikan. Secara resmi, Amaya adalah calon istrinya. Namun sejarah perjodohan mereka tidak pernah berjalan lurus.

Kesepakatan awal dibuat saat Amaya masih kecil. Setelah ia hilang, keluarga menganggap perjodohan tidak mungkin diteruskan dan perlahan menempatkan Selena sebagai calon pasangan Nathan. Ketika Amaya ditemukan pada usia lima belas tahun, Engkong Hartono pernah mengusulkan agar perjodohan dikembalikan kepada cucu perempuan kandung Halim, kali ini dengan Sebastian sebagai cucu sulung Wijaya.

Sebastian menolak sebelum melihat wajah Amaya.

Ia sedang menuntaskan pendidikan medis dan tidak tertarik menikah dengan siapa pun. Karena penolakan itu, pembicaraan berputar kembali kepada Nathan. Selena tetap berada di tengah sebagai anak yang telanjur dibesarkan untuk menempati posisi tersebut, sementara Amaya memegang status calon istri tanpa pernah benar-benar dipilih.

Selama bertahun-tahun, Nathan justru sering bercanda bahwa Sebastian lebih cocok untuk Amaya. Ia mempertemukan keduanya dalam jamuan, meninggalkan mereka duduk berdekatan, bahkan beberapa kali menyuruh Amaya meminta bantuan sang kakak. Semua dilakukan agar ia sendiri punya alasan mendekati Selena.

Dulu Nathan mengira kakaknya tidak akan pernah tertarik.

Malam ini, untuk pertama kali, ia melihat tangan Sebastian menutup erat di sekitar jemari Amaya.

Dan untuk pertama kali pula, Nathan tidak menyukai hasil dari dorongannya sendiri.

Status yang selama ini ia anggap aman mendadak terasa seperti pintu yang bisa ditutup orang lain dari dalam.

"Koh?" Amaya mengayun kecil tangan mereka. "Boleh, kan?"

Sebastian memandang wajah manis yang baru saja membalik satu kamar penuh manusia seperti membalik kartu.

"Ada urusan," katanya tiba-tiba.

Ia melepaskan tangan Amaya, melangkah masuk ke lift yang baru terbuka, lalu menoleh kepada Nathan.

"Antar dia ke kamar observasi. Jangan biarkan perbannya basah."

Pintu lift menutup sebelum siapa pun menjawab.

Sendirian di dalam, Sebastian menatap pantulan wajahnya pada dinding logam. Ia membuka telapak tangan yang baru menggenggam Amaya. Seolah kehangatan perempuan itu masih tertinggal di garis-garis kulitnya.

Seharusnya ia lega karena berhasil pergi.

Sebastian justru mengepalkan tangan itu perlahan.

Ia masih ingin sekali lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!