NovelToon NovelToon
Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEBAKAN

Malam itu, hujan turun deras membasahi jalanan Jakarta. Aku dan Arya duduk di sudut restoran Le Jardin yang sepi. Lilin-lilin kecil di atas meja menciptakan cahaya redup yang romantis, tapi suasana di antara kami tegang karena satu pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselku.

"Dia benar-benar nekat," gumamku, meletakkan ponsel di atas taplak meja putih dengan suara tak yang tajam.

Arya menatap layar ponsel itu, alisnya berkerut.

"Fadli mengundangmu makan malam? Sendirian? Di tempat umum?"

"Ya," jawabku, menatap mata Arya yang kini menyipit waspada.

"Dia bilang ada 'hal penting' yang harus disampaikan. Hal yang bisa mengubah segalanya. Dia bahkan mengirim foto tiket pesawat ke Singapura untuk dua orang."

Arya tertawa dingin, tawa yang renyah namun penuh sinisme.

"Tiket pesawat? Dia pikir kamu masih gadis SMA yang bisa dibodohi oleh janji liburan murah? Siren, ini jelas jebakan. Atau setidaknya, upaya putus asa terakhirnya untuk memanipulasi emosimu."

"Aku tahu itu jebakan," kataku tenang, mengambil garpu dan mulai memainkan makanan di piring.

"Tapi aku ingin pergi."

Arya terdiam. Matanya menatapku intens, mencari alasan logis di balik keputusan yang terlihat tidak masuk akal itu.

"Kenapa kamu mau menghadapi pria yang sudah menghancurkan hidupmu, hanya untuk mendengar kebohongan lainnya?"

"Karena aku butuh penutup," jawabku jujur.

"Selama ini, kita menyerang mereka dari jarak jauh. Melalui hukum, melalui media, melalui aset. Tapi Fadli... dia belum pernah benar-benar melihat wajahku saat aku menang. Dia belum pernah mendengar langsung dariku bahwa dia telah kalah total. Dan aku ingin memberikannya hadiah perpisahan itu."

Arya menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.

"Baiklah. Jika itu yang kamu inginkan, saya akan ikut."

"Tidak," potongku tegas.

"Kamu tidak boleh ikut. Ini harus antara aku dan dia. Jika kamu ada di sana, dia akan merasa terintimidasi dan tidak akan mengeluarkan semua kartunya. Aku ingin dia bicara bebas. Aku ingin dia menunjukkan betapa rendahnya dia sekarang."

"Siren, itu berbahaya," protes Arya, suaranya rendah namun mengandung kekhawatiran nyata.

"Dia mungkin membawa senjata. Atau orang-orang bayaran."

"Dia tidak berani," jawabku yakin.

"Fadli adalah pecundang. Pecundang tidak berani melakukan kekerasan fisik di tempat umum yang dipenuhi kamera CCTV dan saksi mata. Dia hanya berani bermain kotor di belakang layar. Dan di depan umum, topengnya akan tetap rapi."

Arya menatapku lama. Lalu, perlahan, ia mengulurkan tangannya, menutupi tanganku yang sedang memegang garpu. Sentuhannya hangat, menenangkan.

"Kalau begitu," ucapnya serius,

"kita buat aturan. Kamu akan memakai alat pendengar mini. Saya akan berada di meja sebelah, berpura-pura bekerja dengan laptop. Jika dia mengangkat tangan, atau jika suasananya memanas, saya akan intervenir dalam tiga detik. Deal?"

Aku tersenyum, merasakan kekaguman pada proteksinya yang berlebihan namun manis.

"Deal. Tapi jangan terlalu dekat. Biarkan dia merasa sendirian denganku. Itu akan membuatnya lebih ceroboh."

Satu jam kemudian, aku duduk di meja nomor 12. Fadli datang sepuluh menit terlambat. Ia mengenakan jas yang sedikit kusut, wajahnya tampak lelah, dan matanya berkantung hitam tebal. Ia tidak lagi terlihat seperti pria sukses yang arogan. Ia terlihat seperti pria yang dikejar hantu.

"Siren," sapanya, suaranya serak. Ia duduk tanpa menunggu undangan, tangannya gemetar saat menuangkan air ke gelasnya.

"Terima kasih sudah datang. Aku... aku tidak menyangka kamu mau menemuiku."

"Aku penasaran, Fadli," jawabku datar, menatap matanya tanpa kedip.

"Apa 'hal penting' yang bisa mengubah segalanya? Apakah kamu menemukan harta karun tersembunyi? Atau mungkin Nia keluar dari penjara?"

Fadli menelan ludah keras. Ia menunduk, memainkan gelas airnya.

"Bukan itu. Siren... aku Benar-benar menyesal. Selama seminggu ini, sejak Nia ditahan, sejak ibuku dihina di depan umum, sejak perusahaan bangkrut... aku sadar satu hal."

"Apa?" tanyaku, nada suaraku tetap dingin.

"Aku mencintaimu," ucap Fadli tiba-tiba, mendongak. Matanya berkaca-kaca, penuh dengan kepalsuan yang transparan.

"Semua yang kulakukan dengan Nia... itu hanya kesalahan sesaat. Aku bingung. Aku stres. Tapi hatiku selalu milikmu. Kamu istri terbaik yang pernah kumiliki. Tolong, Siren. Beri aku kesempatan kedua. Kita bisa mulai dari nol. Aku akan kerja keras. Aku akan buktikan cintaku."

Aku menatapnya. Tidak ada rasa sedih. Tidak ada rasa iba. Hanya rasa jijik yang mendalam.

"Kesempatan kedua?" ulangku pelan.

"Fadli, kamu pikir cinta itu seperti aplikasi yang bisa di-uninstall lalu di-install ulang kapan saja? Kamu menghancurkanku. Kamu membiarkanku mati di lantai kamar mandi. Dan sekarang, setelah semua asetku kau ambil, setelah namamu hancur, kamu tiba-tiba 'mencintaiku' lagi?"

"Bukan karena aset!" bantah Fadli cepat, suaranya naik sedikit.

"Aku tahu aku salah! Tapi lihat dirimu sekarang, Siren! Kamu cantik, kuat, sukses! Aku bangga padamu! Aku ingin kembali menjadi bagian dari kesuksesanmu!"

Aku tertawa. Tawa yang keras, renyah, dan penuh ejekan. Beberapa kepala di restoran menoleh, tapi aku tidak peduli.

"Kamu tidak mencintaiku, Fadli," ucapku, suaraku kini tajam seperti pisau.

"Kamu mencintai gaya hidup yang kuberikan. Kamu mencintai kenyamanan yang kuciptakan. Dan sekarang, karena kamu kehilangan semuanya, kamu mencoba mencuri kembali sisa-sisa itu dengan label 'cinta'. Itu bukan cinta. Itu parasitisme."

Wajah Fadli memerah. Kemarahan mulai menggantikan kesedihan palsunya.

"Kamu jahat, Siren! Kamu sudah berubah! Dulu kamu lembut dan penurut!"

"Dulu aku bodoh," potongku. "Dan kebodohan itu sudah mati bersamaku di lantai kamar mandi itu. Wanita yang duduk di hadapanmu sekarang adalah Siren yang lahir dari abu pengkhianatanmu. Dan Siren ini tidak punya tempat untuk pria lemah seperti kamu."

Fadli mengepalkan tinjunya di atas meja. Matanya menyala marah.

"Kamu pikir kamu menang? Dengan uang Arya itu? Kamu hanya bonekanya! Dia menggunakanmu untuk menjatuhkanku! Begitu kamu tidak berguna, dia akan membuangmu sama seperti aku!"

Itu adalah kartu terakhirnya. Serangan pribadi yang bertujuan meragukan hubunganku dengan Arya.

Aku tersenyum tipis. Senyum kemenangan mutlak.

"Justru di situlah bedanya, Fadli," jawabku lembut.

"Arya tidak menggunakan aku. Dia menghargai aku. Dia tidak memaksaku tanda tangan di bawah ancaman. Dia tidak menyembunyikan utang. Dia tidak berselingkuh. Dan yang paling penting... dia tidak pernah membuatku merasa kecil."

Fadli terpaku. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia menyadari bahwa argumennya hancur lebur.

"Permainan selesai, Fadli," ucapku, berdiri dari kursi.

"Jangan pernah hubungi aku lagi. Jangan pernah cari aku. Karena jika kamu melakukannya, langkah selanjutnya bukan lagi gugatan perdata. Tapi tuntutan pidana atas percobaan pemerasan yang baru saja kamu lakukan di depan saksi mata."

Aku berbalik, meninggalkan Fadli yang duduk terpaku, wajahnya pucat pasi, dikelilingi oleh keheningan restoran yang menghakimi.

Saat aku berjalan menuju meja Arya, ia sudah menutup laptopnya. Matanya menatapku, bertanya tanpa suara.

"Dia sudah hancur," bisikku saat mencapai sisinya. "Secara mental dan emosional. Dia tidak akan pernah bangkit lagi."

Arya tersenyum, senyum yang hangat dan bangga. Ia berdiri, menawarkan lengannya.

"Mari pulang, Siren. Malam ini, kita rayakan kematian terakhir dari masa lalumu."

Aku menggandeng lengannya, merasa ringan. Beban lima tahun akhirnya hilang sepenuhnya. Dan di sampingku, ada pria yang tidak hanya menyaksikan kejatuhanku, tapi juga kebangkitanku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!