Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — SEBUAH PILIHAN KECIL
Hari Minggu pagi menyapa kawasan Pesantren Al-Faruqi dengan hamparan langit biru yang cerah dan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma tanah segar. Sejak pukul tujuh pagi, derap langkah kaki kecil dan riuh rendah tawa anak-anak santri cilik sudah memadati aula terbuka di samping masjid utama.
Di kamar lantai dua, Aurel berdiri di depan cermin rias. Ia mengenakan blouse katun longgar berwarna lavender dipadu dengan celana kulot kain warna krem yang anggun dan kerudung pasmina polos yang dililit simpel.
Ponsel di meja nakas berdering pelan. Nama Maya tertera di layarnya.
Aurel menggeser tombol hijau, menempelkan benda itu ke telinganya. "Halo, May?"
"Rel! Jadi kan hari ini?" suara Maya mengalun antusias dari seberang telepon. "Dito sama anak-anak pameran udah janjian kumpul di kafe baru yang di Arunika Selatan jam sepuluh. Kita mau lanjut jalan ke festival kuliner sekalian. Aku jemput kamu ke pesantren jam sembilan setengah ya?"
Aurel memandangi pantulan dirinya di cermin. Jari-jemarinya mengusap ujung pasminanya pelan.
Seharusnya ia langsung mengiyakan. Hari Minggu adalah jadwal biasanya untuk melepas pening, berkumpul dengan teman-teman, dan menikmati hiruk-pikuk kota. Namun, tatapan matanya tak sengaja terlempar ke arah luar jendela kamar yang terbuka.
Di bawah sana, di pelataran aula samping madrasah, Rasyid sedang berdiri bersama beberapa pengurus pesantren. Pria itu mengenakan baju koko katun putih bersih, sarung tenun bernuansa hijau gelap, dan peci hitam. Rasyid tampak sibuk mengangkat beberapa tumpukan meja lipat kayu bersama anak-anak santri remaja, mempersiapkan acara santunan dan kelas mewarnai untuk anak-anak yatim serta santri cilik lingkungan sekitar.
Di samping Rasyid, Salma tampak sedikit kerepotan mengatur barisan puluhan anak-anak cilik yang berlarian ke sana kemari sambil membawa pensil warna. Salma beberapa kali mengusap keringat di dahinya, mencoba mengarahkan anak-anak yang terlampau aktif itu.
Aurel memperhatikan Rasyid dari balik jendela. Tidak ada guratan kesal di wajah suaminya meski bajunya mulai dibasahi keringat. Rasyid justru tersenyum sangat tulus, berjongkok menyamai tinggi seorang anak laki-laki cilik yang sedang menangis karena pensil warnanya patah, merapikannya dengan sabar hingga anak itu kembali tertawa.
Wajah Rasyid saat itu memancarkan kebahagiaan yang begitu murni dan sederhana—sebuah kebahagiaan yang lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari keberadaannya untuk orang lain.
Aurel menahan napasnya sejenak. Ada desiran hangat yang aneh namun menenangkan merayap masuk memenuhi dadanya.
"Rel? Aurel? Kamu masih di situ kan?" panggil Maya di seberang telepon karena tidak mendapat sahutan.
Aurel mengembuskan napas pelan. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
"May..." panggil Aurel halus. "Maaf banget ya, kayaknya hari ini aku nggak bisa ikut kumpul."
Saluran telepon hening sejenak. "Eh? Kenapa, Rel? Kamu sakit? Atau... diajarin ngaji sama Ustadz Rasyid?" goda Maya.
"Nggak, aku sehat kok," Aurel terkekeh pelan. "Lagi ada acara anak-anak di pesantren hari ini. Kasihan Salma sama Rasyid kerepotan kalau cuma berdua. Aku mau bantu di sini aja."
Maya menghela napas pasrah, walau ada pendar lega dan godaan di suaranya. "Duh, Bu Ustadz kita beneran udah mulai kerasan nih di pesantren! Ya udah deh, nggak apa-apa. Nanti fotonya tak kirim di grup ya. Salam buat Ustadz ganteng!"
"Sip. Thanks ya, May. Hati-hati di jalan!"
Aurel menutup sambungan teleponnya, meletakkan ponsel itu di atas meja. Ia menatap pantulan dirinya sekali lagi di cermin, merapikan letak kerudungnya, lalu mengangguk mantap pada dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Aurel mengambil sebuah keputusan untuk mengalah dari acara kumpul temannya bukan karena diperintah oleh ayahnya, bukan karena dipaksa oleh aturan pernikahan, dan bukan pula karena ceramah agama.
Ia memilihnya sendiri. Karena ia ingin.
Suasana di aula terbuka semakin ramai saat jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Puluhan anak-anak cilik berusia lima hingga sembilan tahun sudah duduk bersila rapi di atas karpet hijau, memegang kertas gambar masing-masing.
Salma sedang sibuk membagikan kotak krayon ketika ia merasakan seseorang menepuk bahunya pelan dari belakang.
Salma menoleh dan matanya seketika membelalak kaget. "Kak Aurel?!"
Aurel berdiri anggun dengan pasmina lavender-nya, memegang dua kotak besar berisi kue bolu dan minuman kotak yang baru saja ia ambil dari dapur utama.
"Kenapa? Muka kamu kayak ngeliat hantu gitu," goda Aurel seraya terkekeh.
"N-nggak... Salma cuma kaget," Salma mengerjap-erjap tak percaya, melirik jam tangannya. "Bukannya hari ini Kak Aurel ada acara jalan-jalan sama Kak Maya dan Kak Dito di kota? Tadi malam Kak Aurel bilang mau berangkat jam sembilan."
Aurel menggidikkan bahunya santai, meletakkan kotak kue di atas meja panitia. "Batal. Aku lagi males ke kota. Macet."
Salma menaikkan alisnya, menyenggol lengan Aurel dengan sengatan nakal. "Masa males ke kota? Atau jangan-jangan Kak Aurel nggak tega ninggalin Mas Rasyid?"
"Salma, mau aku aduin ke Ummi kalau kamu suka ngacau?" ancam Aurel dengan wajah berpura-pura galak, yang justru dibalas Salma dengan tawa renyah.
"Ampun, Kak! Ya udah, nih Kak Aurel bagian bantuin adik-adik yang di barisan kanan ya, mereka pada rebutan krayon warna merah dari tadi!" seru Salma girang seraya menyerahkan beberapa pax krayon ke tangan Aurel.
Aurel melangkah mendekati karpet barisan kanan. Ia berjongkok, lalu duduk bersila di atas karpet bersama lima orang anak kecil.
Awalnya, Aurel merasa agak canggung. Ia tidak terbiasa berurusan dengan anak kecil. Namun, polosnya sapaan dari seorang anak perempuan berkuncir dua bernama Aisyah yang langsung menarik ujung lengan blouse-nya mencairkan seluruh kebekuan itu.
"Mbak cantik, ini mewarnai daunnya pakai warna hijau muda atau hijau tua?" tanya anak itu polos.
Aurel tersenyum tulus, berlutut di samping anak itu dan mengambilkan krayon hijau muda. "Pakai yang muda dulu di tengahnya, nanti pinggirnya ditimpa hijau tua biar gambarnya kelihatan lebih hidup. Sini, Mbak contohin..."
Di sudut aula yang lain, Rasyid yang sedang merapikan pengeras suara mendadak menghentikan gerakannya.
Pandangan mata Rasyid tertambat pada sosok istrinya.
Dari jarak beberapa meter, Rasyid memperhatikan bagaimana Aurel tertawa lepas saat seorang anak cilik tanpa sengaja mencoret jarinya dengan krayon cokelat. Ia melihat bagaimana Aurel dengan telaten mengusap sudut bibir seorang anak yatim yang tersedak saat minum teh kotak, serta bagaimana jemari Aurel yang biasa memegang stylus tablet desain kini begitu lembut membimbing jemari anak-anak cilik itu di atas kertas gambar.
Sinar matahari pagi yang menerobos sela-sela atap aula membiaskan pendar keemasan di sekeliling tubuh Aurel.
Rasyid terpaku. Binar mata cokelat gelap milik Rasyid memancarkan rasa takjub, haru, dan kedalaman kasih sayang yang teramat sangat mendalam. Pria itu tidak pernah meminta Aurel untuk terlibat dalam kegiatan pesantren. Ia tidak pernah menuntut Aurel untuk membaur dengan lingkungan ini.
Namun pagi ini, perempuan yang dulu datang dengan jaket denim robek dan wajah penuh pemberontakan itu berada di sini—hadir secara utuh karena kesadaran hatinya sendiri.
Mata mereka berdua tanpa sengaja bertabrakan di udara.
Aurel yang sedang menguncir rambut seorang anak perempuan mendongak, menangkap Rasyid yang sedang menatapnya lurus dari balik meja pengeras suara.
Aurel sempat tertahan sejenak, merona merah tipis di pipinya karena tertangkap basah sedang sibuk. Namun bukannya membuang muka seperti biasanya, Aurel mengulas sebuah senyum tipis—sangat manis dan jujur—ke arah Rasyid.
Rasyid membalas senyuman itu. Sebuah senyuman paling hangat yang pernah mengukir bibirnya.
Pria itu tidak melangkah mendekat untuk memberikan pujian yang berlebihan. Ia tidak mengucapkan kalimat bahwa Aurel akhirnya telah 'berubah'. Rasyid hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tatapan penuh rasa hormat yang amat dalam.
Dan bagi Aurel, tatapan menghargai dari Rasyid itu terasa seribu kali lebih berharga daripada ratusan pujian di dunia.
Pukul sembilan malam.
Acara santunan telah usai beberapa jam lalu, dan rumah keluarga Faruqi telah kembali diliputi keheningan malam yang tenang.
Aurel duduk bersandar di kepala tempat tidur kamar lantai dua usai membersihkan diri. Tubuhnya terasa cukup lelah setelah seharian membungkuk dan bermain bersama puluhan anak kecil, namun di dalam dadanya, ada rasa puas dan damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Pintu kamar terbuka pelan. Rasyid melangkah masuk.
Pria itu telah berganti pakaian dengan baju koko katun warna biru gelap dan celana santai. Peci hitamnya sudah dilepas. Pria itu berjalan mendekati meja rias, meletakkan cangkir teh hangat miliknya, lalu berbalik menatap Aurel yang sedang memangku buku bacaan.
"Aurel," panggil Rasyid halus.
Aurel menurunkan bukunya sedikit, menatap Rasyid. "Ya?"
Rasyid melangkah mendekat, berdiri di samping tempat tidur seraya menatap istrinya dengan pendar mata yang begitu teduh.
"Terima kasih untuk hari ini," ujar Rasyid tulus. Suaranya rendah dan mengalun hangat.
Aurel berdehem pelan, mengusap leher belakangnya seraya mencoba bersikap biasa untuk menutupi rasa canggungnya. "Terima kasih buat apa? Aku cuma kasihan sama Salma yang keteteran sendirian."
Rasyid terkekeh pelan—suara tawa renyah yang amat lega meluncur dari tenggorokannya. Pria itu menarik kursi kerja di dekat meja, lalu duduk di atasnya, berhadapan lurus dengan Aurel.
"Terima kasih karena sudah memilih untuk ada di sana hari ini," lanjut Rasyid, tidak terpengaruh oleh alasan gengsi istrinya. "Anak-anak sangat senang bersamamu. Dan Salma... dia sampai memuji-muji kamu sepanjang sore tadi di depan Ummi."
Aurel menyembunyikan senyumnya di balik jilid buku yang ia pegang. "Aku cuma mengajari mereka mewarnai kok."
"Bukan cuma mewarnai, Aurel," Rasyid menatap mata cokelat terang milik istrinya dengan keteguhan yang jujur. "Kamu memberikan kebahagiaan yang murni buat mereka."
Aurel menaruh bukunya di atas pangkuan, menatap Rasyid dalam-dalam. ada keberanian baru yang muncul di dalam hatinya.
"Rasyid..." panggil Aurel pelan.
"Iya?"
"Jangan salah paham ya," bisik Aurel, matanya menatap Rasyid dengan binar jenaka yang jujur. "Aku ikut bantuin tadi bukan karena aku mendadak berubah jadi cewek pesantren yang alim. Aku juga belum hafal kitab atau pinter masak soto kayak Ummi."
Rasyid menatap Aurel sejenak, lalu bibirnya mengukir senyum paling hangat yang pernah Aurel lihat dari pria itu.
"Aku tahu," jawab Rasyid singkat dan mantap.
Aurel mengerutkan dahi pelan, agak heran. "Terus kenapa kamu dari tadi senyum-senyum terus liat aku?"
Rasyid menyandarkan punggungnya pada kursi, mengatupkan jemarinya di pangkuan.
"Karena kamu tidak perlu berubah menjadi orang lain untuk melakukan kebaikan, Aurel," kata Rasyid dengan intonasi rendah yang begitu dalam menembus dada. "Dan karena perubahan yang datang dari kesadaran hatimu sendiri... jauh lebih indah daripada jutaan paksaan di dunia."
Aurel terpaku di tempatnya.
Kalimat sederhana itu merayap masuk ke dalam benaknya, meruntuhkan sisa-sisa pertahanan dan rasa takut yang selama 21 tahun ini membelenggu hidupnya.
Di depan pria berpeci hitam ini, Aurel akhirnya menyadari sebuah kebenaran yang teramat indah: Pernikahan ini bukan tentang ayahnya yang membuangnya ke tempat asing. Pernikahan ini bukan pula tentang Rasyid yang bertugas 'menjinakkan' atau mengubah dirinya.
Pernikahan ini adalah tentang dirinya yang perlahan menemukan alasan untuk tumbuh—bukan demi menyenangkan orang lain, melainkan demi dirinya sendiri.
Dan di dalam kamar yang hening di bawah pendar lampu temaram malam itu, saat mata mereka saling terkunci dalam kehangatan yang jujur, Aurel dan Rasyid sama-sama menyadari satu hal yang tak lagi sanggup mereka sangkal:
Di balik perjodohan yang dipaksa dan sorban yang semula terasa asing... benih-benih cinta yang paling tulus telah tumbuh dan berakar kuat di antara kedua hati mereka.