WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Untuk Pembangkang! (Revisi)
Beberapa detik sebelumnya, Douglas menghujamkan ciuman di bibir Cecilia dengan begitu kasar, seolah ingin menghapus seluruh jejak pembangkangan yang coba wanita itu bangun. Napas Cecilia nampak tidak beraturan, tersengal-sengal di bawah kukungan tubuh Douglas yang kukuh bagaikan dinding karang. Ia sudah bersusah payah merencanakan kehidupan tanpa Douglas, menjadi wanita mandiri dan hidup sederhana sambil mengumpulkan setiap sen uang dengan cara halal, dan pergi sejauh mungkin demi melepaskan diri dari bayang-bayang pria tersebut. Namun, Douglas seolah memiliki cakar tak kasat mata yang mampu menyeretnya kembali ke dalam sangkar emas penuh noda.
"Kau pikir kau bisa lari dariku, Cecilia?" suara bariton Douglas terdengar rendah, dingin, dan menggetarkan gendang telinga.
Dengan sisa-sisa keberanian yang bergetar hebat, Cecilia memaksakan bibirnya yang pucat untuk bergetar, menyuarakan penolakan mutlak yang selama ini ia pendam. Sifat cerewet dan blak-blakannya mengambil alih ketakutan yang mencekik tenggorokannya.
"Aku... aku sudah tidak mau jadi simpananmu lagi, Douglas!" teriak Cecilia dengan napas memburu, air matanya tumpah membasahi pipi.
"Aku muak! Aku jijik menjadi simpananmu! Lepaskan aku!"
Kalimat terakhir itu meluncur begitu saja tanpa filter. Kata jijik yang diucapkan Cecilia bagaikan pemicu peledak yang langsung menyulut sumbu amarah di dalam diri Douglas. Pria itu terdiam sesaat, namun perubahan ekspresi di wajahnya sangat mengerikan. Rahangnya mengeras, otot-otot di lehernya menegang, dan tatapan matanya berubah menjadi sorotan predator yang siap mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun.
Bagi seorang Douglas Michael Essen yang terbiasa dipuja dan ditakuti, kata-kata itu adalah bentuk penghinaan paling telak yang pernah ia terima.
"Jijik?" gumam Douglas dengan suara yang teramat pelan namun penuh dengan tekanan psikologis yang mematikan.
"Kata-kata yang sangat berani dari seorang wanita yang hidupnya bergantung sepenuhnya padaku."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Cecilia untuk meralat ucapannya atau sekadar menarik napas, Douglas langsung membungkam protes berikutnya dengan tindakan yang jauh lebih beringas. Pria itu memperlakukan Cecilia tanpa sisa kelembutan. Cengkeramannya pada kedua pergelangan tangan wanita itu begitu kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan yang mencolok.
Tubuh mungil Cecilia terguncang-guncang hebat di atas ranjang kecilnya yang berderit nyaring menahan beban. Kedua kaki jenjangnya terbuka lebar di tepian ranjang, sementara Douglas berdiri di antara kedua belah kakinya, terus menghujani dan menghantam milik Cecilia tanpa ampun.
Entah sudah berapa lama siksaan fisik dan batin ini berlangsung. Yang jelas, Cecilia merasa seluruh tulangnya seperti remuk redam. Tenaganya sudah terkuras habis hingga ke titik nol. Matanya terpejam erat, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang sudah memerah dan lebam.
Namun, di puncak amarahnya, Douglas sama sekali tidak menunjukkan niat sedikit pun untuk mengakhiri kegiatan panas sekaligus menyiksa itu. Pria bermata biru tersebut mendengus berat, melepaskan erangan tertahan setiap kali ia menghujamkan miliknya dan memuntahkan pelepasannya jauh di dalam rahim Cecilia.
Cecilia menggelengkan kepalanya lemah di atas bantal, bibirnya yang pecah dan berdarah bergetar hebat saat ia mengeluarkan suara parau memohon.
"C-cukup... kumohon, Douglas... hentikan... aku sudah tidak sanggup... sakit..." rintihnya lirih, nyaris tak terdengar.
Douglas mendengus kasar, dadanya naik turun dengan keringat yang bercucuran di pelipisnya. Ia melirik sekilas ke arah Cecilia. Meskipun wanita itu tidak bergerak sama sekali dan terbaring lemas, Douglas tahu betul bahwa Cecilia belum pingsan sepenuhnya, kesadaran wanita itu masih ada di sana, merasakan setiap inci rasa sakit yang ia berikan.
"Belum selesai, Cecilia," ucap Douglas dingin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang mengerikan.
"Ini baru permulaan dari hukumanmu."
"Mmmph—!"
"Nikmati hukuman ini! Kamu pikir kamu bisa hidup bahagia tanpaku, hah?! Sialan kamu, Cecilia! Kamu tidak pantas bahagia!"
Entah sudah berapa kali mereka mengulangi pergulatan brutal dan kasar itu di dalam kamar tersebut. Bagi Cecilia, waktu seolah berhenti. Tubuhnya sudah mati rasa, rasa sakit yang teramat sangat mengalahkan segalanya, membuatnya hanya bisa menutup rapat-rapat matanya, pasrah menahan siksaan luar biasa yang seolah-olah memang berniat untuk membunuhnya perlahan-lahan.
Douglas benar-benar berniat membuatnya mati malam ini.
Di dalam kamar berukuran sedang itu, suara erangan kenikmatan bercampur amarah dari mulut Douglas menggema nyaring, berpadu dengan rintihan kesakitan Cecilia yang melemah. Suara pergulatan itu bahkan menembus dinding dan terdengar hingga ke luar koridor kos yang sepi. Namun, anehnya, tidak seorang pun tetangga atau penjaga kos yang keluar atau berani mendekati kamar nomor empat tersebut seolah-olah seluruh gedung telah dikondisikan atau diintimidasi secara mutlak oleh kekuasaan orang-orang suruhan Douglas di luar sana.
"Argh... rasakan akibatnya karena sudah berani menentangku!"
Untuk kesekian kalinya, Douglas menghentakkan pinggulnya dengan kuat, mencapai puncak pelepasan yang dahsyat di dalam diri wanita itu. Pria tersebut mendongakkan kepalanya ke belakang, mengerang keras menikmati kepuasan yang merusak kewarasannya sendiri.
Setelah detik-detik pelepasan yang panjang itu mereda. Ia menundukkan kepalanya, menatap ke arah Cecilia.
Bukan lagi rintihan atau perlawanan yang ia temukan, melainkan tubuh Cecilia yang terkulai lemas total di atas ranjang dengan kepala terantuk ke samping. Wanita itu akhirnya benar-benar kehilangan kesadarannya, jatuh pingsan akibat tidak mampu lagi menahan rasa sakit dan kelelahan yang teramat sangat.
Melihat Cecilia yang sudah tak sadarkan diri, Douglas justru tersenyum lebar. Kepuasan yang bengis terpancar jelas dari sepasang netra birunya.
"Bagaimana rasanya, Cecilia?" bisik Douglas tepat di telinga wanita yang pingsan itu dengan nada suara mengejek yang dingin.
"Nikmati panasnya hukuman ini... karena ini baru awal dari neraka yang kubangun untukmu."
Douglas membaringkan tubuh Cecilia ke ranjang, memandangi tubuh Cecilia yang sudah tidak bergerak, pria itu benar-benar marah karena merasa dibuang oleh Cecilia, dia merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Cecilia.
Douglas merendahkan tubuhnya dan mengecup bibir Cecilia penuh kekuasaan, untuk malam ini sampai disini saja, ini hanya permulaan, jika Cecilia main-main dengannya lagi maka siksaannya akan lebih kejam dari ini.
Bersambung...
Halo guyss... Untuk kenyamanan bersama author sudah melakukan revisi besar-besaran ya karena sebelumnya part ini terlalu brutal dan vulgar banget, Namum... Jika ada pembaca baru dan penasaran dengan part sebelumnya silahkan komentar di grup ya, nanti author kasih kok. Selamat membaca.🥰
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas