NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

"Ngapain gue harus ikut ke tongkrongan lu?"

​Regina mundur setengah langkah, menjauh dari meja kayu perpustakaan. 

​Helga tidak menggeser dompet kain hitam di meja. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.

"Karena Varen gak bakal dengerin gua kalau cuma gua yang ngomong sendiri. Dia mikirnya gua cuma gengsi."

Tenggorokan Regina terasa kering. 

​"Gue gak ada urusan sama gengsi lu," balas Regina dingin.

​"Lu yang naruh uang dua puluh ribu itu di meja gazebo tadi," sela Helga, intonasinya tetap datar tanpa tekanan. 

"Semua anak-anak liat. Sekarang Varen mikir lu ngajak perang anak IPS."

​"Gue cuma balikin uang bensin," sahut Regina, mengalihkan pandangannya kembali ke wajah Helga. "Dan malam ini gue gak bisa. Gue udah ada janji sama Shinta jam tujuh."

​"Janji ke mana?" tanya Helga pendek.

​"Ke kafe baru di deket rel," jawab Regina. "Gue sama Shinta mau ke sana.”

Helga berkedip sekali. Tangannya bergerak mengambil korek api gas hijau dari meja, memutarnya di sela-sela jari sebelum dimasukkan kembali ke saku celana abu-abunya.

​"Ya udah," kata Helga santai. "Selesai dari kafe jam berapa?"

​"Jam delapan. Paling lambat jam sembilan gue harus udah di rumah."

​"Gua jemput lu di kafe itu jam delapan pas," potong Helga tanpa ragu. "Lu nongkrong dulu sama Shinta. Selesai dari sana, lu ikut gua sebentar ke tempat anak-anak kumpul. Cuma sepuluh menit. Abis itu gua anter lu pulang."

Regina membisu. Jemari tangan kanannya meremas tali ranselnya lebih kencang hingga kainnya berkerut.

Suara Mamanya—Ratna—mendadak bergema pelan di kepalanya: 'Regina, kamu itu anak perempuan kelas 12 IPA. Jaga sikap. Jangan pernah kelihatan keluyuran sama anak-anak cowok yang suka bikin onar dan ugal-ugalan di jalan. Papa sama Mama gak pernah ngajarin kamu bergaul sama orang kayak gitu.'

​Regina menarik napas pelan melalui hidungnya. "Gue gak mau naik motor ugal-ugalan. Dan gue gak mau Mama gue tahu."

​"Gua gak pernah bawa motor ugal-ugalan kalau bonceng orang," balas Helga pelan. "Kemarin pas hujan gua bawa motor berapa km/jam? Lu tahu sendiri."

​Regina tidak menjawab. Gerakan bibirnya tertahan.

Pintu kaca perpustakaan mendadak berderit—Kreeek—saat Pak Toto, petugas perpustakaan, mengintip dari balik celah pintu sambil memegang seikat kunci ironis.

​"Mbak Regina, Mas, perpustakaan mau dikunci ya. Udah lewat jam empat seperempat," tegur Pak Toto pelan dari kejauhan.

​"Iya, Pak, sebentar lagi," sahut Regina tanpa menoleh.

Helga meraih dompet kain hitam di atas meja, lalu memasukannya ke saku jaket jinsnya. 

Ia menyampirkan tas kusamnya ke bahu kiri, lalu melangkah melewati Regina menuju pintu keluar.

​Saat posisi mereka sejajar, Helga berhenti sebentar tanpa membalikkan badan.

​"Jam delapan malam gua udah di depan kafe deket rel," ujar Helga datar, menentukan keputusan tanpa menunggu persetujuan Regina lagi. 

"Gua gak bakal ngetok atau nelfon. Gua tunggu di atas motor."

Regina berdiri mematung di tengah lorong rak buku sejarah. 

Ia menatap punggung Helga yang mendorong pintu kaca hingga bel kecil berdenting—Kring...

​Regina memejamkan matanya sejenak, lalu membuka tasnya untuk memastikan ponselnya tidak bergetar. 

Layar ponselnya gelap.

Pukul setengah tujuh malam, langit di atas kawasan permukiman terasa lembap setelah sisa gerimis sore tadi. 

Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan bayangan basah di atas aspal hitam.

​Regina berdiri di depan cermin kamar mewahnya. 

Ia mengenakan kaus polos warna krem dan celana kulot hitam yang simpel, dipadu dengan cardigan rajut tipis warna abu-abu. 

Tangannya menyisir rambut panjangnya dengan jemari, membiarkannya terurai rapi.

​Tok, tok, tok.

​Pintu kamarnya diketuk dari luar.

​"Regina, ayo turun dulu. Makan malam udah siap," suara Ratna terdengar dari balik pintu kayu tebal.

​Regina membuka pintu kamarnya. Ratna berdiri di sana memakai daster batik rapi, memegang serbet dapur.

​"Ma, Regina izin keluar sebentar ya," kata Regina pelan. 

"Mau ketemu Shinta di kafe dekat rel. Cuma sebentar kok, jam sembilan udah pulang."

​Ratna memicingkan matanya sedikit, meneliti penampilan putrinya. "Sama Shinta aja? Naik apa?"

​"Iya, sama Shinta. Nanti Shinta dijemput abangnya, Regina bisa bareng atau naik taksi online."

Ratna mengangguk pelan, merapikan kerah cardigan Regina dengan gerakan ibu yang terbiasa teratur. 

"Jangan malam-malam ya, Gin. Papamu sebentar lagi jalan pulang dari kantor. Kalau kamu belum di rumah jam sembilan, Papa pasti nanya."

​"Iya, Ma. Regina pamit ya."

Pukul sembilan belas lewat lima belas menit, aroma biji kopi sangrai dan wangi mentega dari dapur terbuka menyeruak di dalam kafe Kopi Bawah Lampu. 

Lampu-lampu bohlam gantung berwarna kuning hangat membiaskan cahaya di atas meja-meja kayu segi empat.

​Shinta duduk menyilangkan kaki di kursi kayu padat, sibuk memotret piring berisi dua potong waffle dengan topping es krim vanila memakai ponselnya.

​Cklik! Cklik!

​"Aduh, pencahayaannya bagus banget kan, Gin!" seru Shinta antusias sambil menggeser piring waffle ke tengah meja. 

"Untung kita dateng jam tujuh pas. Liat deh, meja belakang udah penuh semua tuh."

​Regina duduk di seberang Shinta, memegang cangkir keramik putih berisi teh chamomile hangat. 

Busa tipis di permukaan teh bergetar pelan saat ia meletakkannya kembali ke tatakan.

​"Enak tehnya?" tanya Shinta, menyendok es krim vanila.

​"Lumayan. Gak terlalu manis," jawab Regina pendek.

Regina merogoh saku cardigannya, mengeluarkan ponselnya. 

Ia menyalakan layar, memperhatikan jarum jam digital yang menunjukkan angka 19.42 WIB. 

Tinggal delapan belas menit menuju jam delapan malam.

​Ia membalikkan layar ponselnya lurus menempel ke permukaan meja kayu.

​"Kenapa lu? Dari tadi ngeliatin jam mulu," goda Shinta sambil mengunyah waffle. "Takut dicariin Tante Ratna ya? Santai aja kali, ini baru jam delapan kurang."

​"Bukan," balas Regina lambat. "Gue cuma takut kemalaman."

​"Tenang aja, ntar abang gue yang jemput jam delapan lewat dikit kok. Gua anterin lu sampe depan pagar rumah lu dengan selamat," Shinta tertawa kecil, melambaikan sendok plastiknya.

Regina menatap ke arah jendela kaca tebal yang menghadap ke jalan raya luar kafe. 

Di seberang jalan, di bawah naungan pohon rindang dekat tiang listrik yang redup, sebuah sepeda motor matic hitam berhenti dengan mesin dimatikan.

​Pengendaranya tidak turun. Ia tetap duduk di atas jok, mengenakan jaket jins kusam dan helm hitam dengan kaca terangkat separuh.

Lampu sorot mobil yang melintas sesekali menerangi wajah cowok di atas motor itu. Helga.

​Helga menyandarkan kedua tangannya di setang motor, matanya menatap lurus ke arah jendela kaca kafe—tepat ke posisi meja Regina.

​Regina menurunkan cangkir tehnya hingga beradu dengan piring alas—Tuk!

​"Gin? Lu liat apaan sih di luar?" Shinta memutar badannya, ikut menatap ke arah jalan raya yang ramai oleh lalu lalang kendaraan.

Sebelum Shinta sempat mengenali sosok cowok di seberang jalan, ponsel Regina di atas meja bergetar sekali di atas kayu.

​Bzzzt.

​Satu pesan singkat muncul di layar yang menyala:

​'Gua udah di depan. Shinta biar pulang sama abangnya. Lu keluar sekarang.'

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!