Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANGGARAN YANG SELALU HABIS
Kalimat Pak Bramantya menggantung di dalam balai desa. Dari luar terdengar bunyi palu. Dua orang sedang memperbaiki papan nama kantor yang catnya mengelupas. Aku melihat daftar pembangunan di dinding sekali lagi dan bertanya-tanya bagaimana cat, gapura, serta lapangan dapat mendapat tempat lebih dahulu daripada jembatan yang dilewati anak-anak.
Ayah tidak langsung marah. Ia menarik kursi dan duduk di depan meja kepala desa.
“Kapan anggaran berikutnya?” tanyanya.
“Rapat perencanaan biasanya akhir tahun.”
“Berarti pembangunan paling cepat tahun depan?”
“Kalau disetujui.”
Kata kalau terasa seperti batu yang diletakkan di atas dada. Aku berdiri dekat pintu, tetapi Pak Bramantya mungkin mengira aku sudah keluar. Seorang pegawai menyuruhku menunggu di teras. Aku menuruti, lalu berdiri di balik pintu yang terbuka sedikit. Dari sana, percakapan mereka terdengar jelas.
Pak Bramantya menjelaskan bahwa desa memiliki banyak kebutuhan. Jalan dekat pasar rusak dan dilalui pedagang setiap hari. Saluran air di kampung bawah sering meluap. Atap balai kesehatan bocor. Dana tidak cukup untuk semua tempat.
“Jalan dusun Bapak hanya dilalui sedikit orang,” katanya. “Pembangunan harus mendahulukan yang manfaatnya dirasakan lebih banyak warga.”
“Ada sembilan anak sekolah,” jawab Ayah.
“Saya tidak mengatakan mereka tidak penting.”
“Tapi mereka selalu menunggu karena jumlahnya sedikit.”
Suara Ayah tetap tenang. Justru ketenangan itu membuatku takut. Aku dapat membayangkan tangannya mengepal di atas lutut. Ketika marah, Ayah jarang meninggikan suara. Ia menahan kemarahan sampai urat di punggung tangannya terlihat.
Pak Bramantya menghela napas. “Pak Waskita, saya juga punya anak. Saya paham kekhawatiran Bapak. Namun, pemerintahan berjalan dengan aturan.”
“Anak-anak kami juga berjalan dengan aturan,” kata Ayah. “Harus tiba sebelum bel, harus memakai sepatu, harus hadir agar tidak tinggal kelas. Hanya jalannya yang tidak pernah mengikuti aturan keselamatan.”
Aku belum pernah mendengar Ayah berbicara sepanjang itu di depan orang yang memiliki jabatan. Di rumah, ia biasanya mengucapkan kalimat pendek. Namun, hari itu setiap kata seperti telah disimpan bertahun-tahun.
“Kami tidak meminta jalan lebar,” lanjutnya. “Beri kami jembatan kecil dan perbaiki bagian yang longsor. Warga bisa membantu tenaga.”
“Bambu dapat diusahakan secara swadaya.”
“Bambu akan hanyut saat arus besar.”
“Kalau menunggu jembatan permanen, prosesnya panjang.”
“Berapa panjang?”
Pak Bramantya tidak menjawab dengan angka. Ia hanya mengatakan surat akan dicatat dan dibawa ke rapat. Jawaban itu sopan, tetapi tidak memberi tempat bagi harapan untuk berdiri.
Pada usia sebelas tahun, aku baru memahami bahwa orang dewasa dapat saling melukai tanpa berteriak. Mereka memakai kata prosedur, prioritas, dan keterbatasan. Kata-kata itu terdengar rapi, tetapi di dalamnya ada kaki anak-anak yang basah, luka yang tidak terlihat, dan hari sekolah yang hilang.
Percakapan di dalam belum selesai. Pak Bramantya menawarkan karung semen sisa untuk memperkuat pijakan di tepi sungai, tetapi Ayah mengatakan semen tanpa rancangan dapat pecah dan hanyut. Ia meminta petugas desa setidaknya datang melihat lokasi, seperti yang dilakukan Bu Satya. Kepala desa berjanji akan mengirim seseorang setelah pekerjaan di pasar selesai. Ayah menanyakan tanggal. Pak Bramantya menjawab, “Nanti saya kabari.” Aku menulis kalimat itu di halaman kecil dalam ingatanku. Orang miskin sering diminta menunggu tanpa diberi hari yang pasti.
Pintu terbuka. Aku buru-buru mundur. Ayah keluar membawa map yang sama. Tali merah masih mengikatnya, tetapi kini ada cap penerimaan di sudut surat. Pak Bramantya mengikuti sampai teras.
“Saya akan usahakan dibahas,” katanya.
Ayah mengangguk. “Terima kasih.”
Mereka berjabat tangan seperti tidak terjadi perdebatan. Namun, ketika kami mulai berjalan, aku melihat kuku Ayah meninggalkan bekas merah di telapak tangannya sendiri.
Di jalan pulang, kami melewati lapangan desa. Beberapa pekerja sedang mendirikan kerangka gapura baru. Kayunya dicat merah putih meskipun bulan kemerdekaan masih lama. Seorang anak mengendarai sepeda di jalan yang baru ditimbun batu. Rodanya berputar mudah, dan sepatunya tidak menyentuh lumpur.
“Kenapa gapura bisa dibangun?” tanyaku.
Ayah tetap berjalan. “Mungkin anggarannya berbeda.”
“Lebih penting daripada sungai?”
Ayah berhenti. Ia memandangku, lalu memandang map di tangannya.
“Tidak semua yang dibangun lebih dulu berarti lebih penting,” katanya. “Kadang yang terlihat lebih mudah mendapat perhatian.”
Aku memikirkan dusun kami yang tidak ada di peta. Jalan setapak tertutup pohon, rumah-rumah berada di balik bukit, dan suara sungai hanya terdengar oleh orang yang tinggal dekat sana. Mungkin kesulitan kami terlalu tersembunyi.
“Kalau begitu kita harus membuatnya terlihat,” kataku.
Ayah tersenyum tipis. “Itulah gunanya surat.”
Kami sampai di bengkel Mbah Wreda menjelang siang. Di depan bengkelnya, dua anak sedang menunggu sandal mereka dilem. Keduanya bertanya apakah surat kami akan membuat jalan menjadi aspal. Aku menjawab belum tahu. Salah satu dari mereka berkata ia akan ikut menandatangani jika anak-anak diperbolehkan. Mbah Wreda mendengar dan mengatakan suara anak memang belum memiliki tanda tangan resmi, tetapi pengalaman mereka harus tetap dicatat.
Ayah berhenti untuk menunjukkan cap penerimaan. Mbah Wreda membaca tulisan kecil itu, lalu mengembalikan map.
“Cap hanya tanda kertas sudah sampai,” katanya. “Bukan tanda hati mereka sudah terbuka.”
“Apa yang harus kami lakukan?” tanyaku.
“Terus simpan bukti. Catat kapan sungai tidak bisa dilewati. Catat siapa yang terlambat, siapa yang jatuh, dan berapa kali sepatu rusak.”
Aku merasa aneh mendengar sepatu disebut sebagai bukti. Selama ini aku ingin menyembunyikannya agar tidak ditertawakan. Mbah Wreda justru mengatakan kerusakan pada sepatu dapat berbicara tentang kerusakan jalan.
Ia memberiku buku tulis bekas. Hanya separuh halaman yang masih kosong. Di sampulnya tertulis daftar pesanan reparasi sepatu. “Pakai bagian belakang,” katanya. “Tulislah perjalananmu.”
Malam itu, aku membuat catatan pertama: Senin, terlambat karena babi hutan dan jalur memutar. Selasa, air sungai sampai mata kaki. Rabu, jahitan sepatu kiri longgar. Aku menambahkan nama sembilan anak dan menggambar garis sederhana dari dusun ke sekolah. Nira memberi tanda silang pada sungai, lalu melingkarinya berkali-kali dengan pensil. Aku tidak tahu catatan itu akan berguna atau tidak, tetapi menulis membuat kemarahan di dadaku memiliki tempat.
Ibu membaca cap pada surat ketika kami tiba. Ia menyuruhku menyalin isi percakapan di balai desa ke buku catatan, termasuk janji bahwa petugas akan datang. “Janji orang mudah berubah kalau tidak ditulis,” katanya. Ayah hanya mengangguk. Ia kemudian memeriksa bambu yang telah dikumpulkan warga, menghitung tali, dan mencoba memperkirakan apakah jembatan sementara dapat dibuat tanpa menunggu pemerintah. Namun, jumlah bambu belum cukup untuk membentang dari satu tebing ke tebing lain.
Ibu tidak menyalahkan Pak Bramantya. Ia hanya menyimpan salinan surat di dalam kaleng beras agar tidak dimakan rayap. Nira kecewa karena mengira kepala desa akan langsung mengirim pekerja.
“Jembatannya kapan?” tanyanya.
Ayah duduk di dekat tungku. Cahaya api membuat wajahnya terlihat lebih tua. Ia memandang gambar jembatan Nira yang ditempel pada dinding bambu.
“Kita mungkin harus menunggu lebih lama daripada yang Ayah janjikan,” katanya.