NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Ngarai Kematian dan Hujan Batu

​Reruntuhan Lembah Angin adalah dunia yang mati. Tidak ada kicauan burung, tidak ada gemercik air sungai. Yang ada hanyalah lolongan angin yang menembus celah-celah tebing batu merah yang menjulang tinggi bagaikan pilar-pilar penyangga langit yang telah retak.

​Awan bergerak tanpa suara di antara bayang-bayang tebing. Matanya yang tajam mengamati struktur geologi tempat tersebut.

​Sebagai anak seorang pandai besi, ia mengerti tentang titik tekan dan struktur material. Bebatuan di ngarai ini telah terkikis angin selama ribuan tahun, menjadikannya rapuh di bagian dasar namun sangat berat di bagian puncaknya.

​Setelah berlari sejauh tiga mil dari lokasi pembunuhan sebelumnya, Awan menemukan apa yang dicarinya: sebuah lorong ngarai yang sangat sempit. Lebarnya hanya sekitar empat meter, diapit oleh dua tebing batu vertikal setinggi hampir lima puluh meter. Di atas tebing itu, bongkahan-bongkahan batu raksasa menggantung goyah, seolah hanya menunggu satu sentuhan untuk runtuh.

​"Sempurna," gumam Awan.

​Ia tidak membuang waktu. Menggunakan kekuatan fisiknya yang setara dengan monster buas, Awan memanjat tebing vertikal itu hanya dengan menancapkan jari-jarinya ke dalam batu merah yang keras.

​Sesampainya di pertengahan tebing, ia mencari titik tumpu utama yang menahan bebatuan raksasa di atasnya. Ia menarik pedang Kayu Besi Hitam dari punggungnya dan mulai menghantam bagian dalam retakan batu tersebut dengan presisi yang mengerikan. Ia tidak menghancurkannya, melainkan hanya melemahkannya hingga titik kritis.

​Setelah memasang "jebakan" di kedua sisi tebing, Awan melompat turun.

​Ia membaluri seluruh tubuh dan jubah birunya dengan debu batu merah untuk menyamarkan warnanya. Kemudian, ia menyelipkan tubuhnya ke dalam sebuah ceruk dangkal di dasar tebing yang gelap.

​Awan memejamkan mata. Otot-otot organ dalamnya berkontraksi.

Seni Penyamaran Bayangan.

​Detak jantungnya melambat drastis menjadi hanya sepuluh detakan per menit. Suhu tubuhnya turun menyamai dinginnya batu di sekitarnya. Paru-parunya nyaris berhenti mengembang, hanya menghirup udara setipis helaian benang. Awan bukan lagi manusia; ia telah menjadi bagian dari ngarai mati tersebut.

​Satu jam kemudian.

​Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah kesunyian ngarai. Enam sosok berjubah biru dengan lambang Klan Wu di dada mereka berjalan beriringan. Aura Qi mereka memancar kuat, menandakan tidak ada satu pun dari mereka yang berada di bawah Alam Pengumpul Qi Tingkat Tujuh.

​Di barisan paling depan, Wu Kang memegang sebuah piringan kompas perak. Jarum kompas yang berlumuran setetes darah kering itu bergetar hebat, menunjuk lurus ke arah lorong ngarai sempit di depan mereka.

​"Dia ada di depan," suara Wu Kang terdengar berat dan dipenuhi niat membunuh yang pekat. "Berhenti sejauh tiga mil, dan kini dia diam di satu tempat. Dia pasti sedang kelelahan atau terluka karena menahan tekanan ruang saat masuk ke reruntuhan."

​Seorang kultivator berwajah lonjong di sebelah Wu Kang memandang lorong sempit itu dengan ragu. "Kakak Senior Wu Kang... Tempat ini terlihat seperti jebakan alam. Jika ada penyergapan dari atas, kita akan kesulitan bermanuver."

​Wu Kang mendengus meremehkan. "Penyergapan? Oleh siapa? Seekor semut fana yang tidak bisa memancarkan sehelai Qi pun? Jebakan hanya berlaku jika mangsanya sepadan. Di hadapan kekuatan mutlak, semua tipu muslihat adalah omong kosong."

​Wu Kang melangkah masuk ke dalam lorong ngarai tanpa ragu. Kelima bawahannya, meski merasa waswas, terpaksa mengikuti dari belakang dengan senjata terhunus dan perisai Qi yang diaktifkan.

​Tap. Tap. Tap.

​Suara langkah kaki mereka bergema di dinding tebing. Jarum di Kompas Pelacak Darah tiba-tiba berputar liar dan menunjuk tajam ke arah dinding tebing di sebelah kiri, tepat di mana ceruk gelap itu berada.

​Wu Kang berhenti melangkah. Senyum brutal terukir di wajahnya.

​"Aku menemukanmu, Tikus Kecil," Wu Kang mengangkat tangan kirinya, memusatkan energi Qi yang luar biasa padat. Udara di sekitarnya mendistorsi akibat hawa panas. "Tinju Penghancur Karang!"

​Sebuah proyeksil berbentuk kepalan tangan raksasa yang terbuat dari Qi murni melesat menghantam ceruk gelap tersebut.

​BOOOM!

​Ledakan keras menghancurkan dasar tebing, menciptakan awan debu merah yang pekat.

​"Hahaha! Sudah mati jadi daging giling!" salah satu bawahan Wu Kang tertawa.

​Namun, senyum Wu Kang memudar saat debu itu menipis. Ceruk itu hancur, namun tidak ada darah, tidak ada mayat, dan tidak ada potongan tubuh.

​Hanya ada sebuah jubah biru luar sekte yang robek, digantung pada sebatang ranting mati. Jubah itu masih menyimpan sisa darah Awan dari arena, yang menjadi pemicu bergeraknya jarum kompas!

​"Jubah?! Sialan, kita dipermainkan! Mundur!" teriak Wu Kang, menyadari bahaya yang sesungguhnya.

​Namun, dewa kematian tidak pernah menerima permintaan maaf.

​Tepat lima puluh meter di atas mereka, dari sebuah pijakan batu yang menonjol, sesosok bayangan yang bertelanjang dada dan dilumuri debu merah berdiri tegak. Itu adalah Awan. Ia telah meninggalkan jubahnya di bawah dan memanjat ke atas tebing jauh sebelum mereka tiba.

​Matanya sedingin es. Tidak ada kata-kata arogan, tidak ada teriakan tantangan.

​Awan menggenggam pedang Kayu Besi Hitamnya dengan kedua tangan, memusatkan seluruh daya ledak dari otot punggung, bahu, dan lengannya. Ia tidak mengayunkan pedangnya ke arah kelompok Wu Kang di bawah.

​Ia mengayunkannya sekuat tenaga ke arah titik tumpu tebing batu raksasa di sampingnya.

​Jurus Dasar: Menebas!

​BHOOM!

​Banturan fisik yang dilesatkan Awan menciptakan gelombang kejut yang meretakkan dinding tebing. Titik kritis penahan beban yang sudah ia lemahkan sebelumnya hancur seketika menjadi bubuk.

​Keheningan ngarai pecah oleh suara gemuruh yang mengingatkan pada hari kiamat.

​Tebing batu seberat ratusan ton di atas kelompok Wu Kang retak, patah, dan runtuh sepenuhnya. Bongkahan-bongkahan batu raksasa sebesar rumah meluncur jatuh dengan kecepatan mengerikan, diiringi oleh hujan kerikil dan debu tebal.

​Kelima bawahan Wu Kang mendongak, wajah mereka pucat pasi diwarnai teror absolut.

​"T-Tidaaaaak!"

​Mereka menyalurkan seluruh Qi mereka ke atas, membentuk perisai spiritual dan menembakkan berbagai teknik sihir untuk menghancurkan batu-batu tersebut.

​Namun, ini bukanlah serangan sihir yang bisa ditangkis dengan elemen. Ini adalah massa fisik absolut. Batu seberat puluhan ton yang jatuh dari ketinggian lima puluh meter membawa energi kinetik yang menghancurkan logika pertahanan tingkat rendah.

​KRAAASSSHK!

​Perisai Qi mereka hancur seperti gelembung sabun. Jeritan pilu mereka terputus seketika saat bongkahan-bongkahan batu raksasa itu menghantam dasar ngarai. Darah dan daging hancur berhamburan dari sela-sela bebatuan, mewarnai debu merah menjadi merah pekat. Empat kultivator Tingkat Tujuh dan Delapan tewas tergencet tanpa ampun.

​Hanya satu orang yang selamat dari hujan kematian tersebut.

​"AARRRGGHH!"

​Sebuah raungan marah yang menggetarkan udara meledak dari balik reruntuhan batu. Energi Qi berwarna emas gelap memancar keluar bagaikan letusan gunung berapi, meledakkan bongkahan batu raksasa yang menjepitnya.

​Wu Kang melompat keluar dari pusaran debu. Kondisinya sangat kacau. Rambutnya berantakan, pelindung bahunya hancur, dan darah segar mengalir dari dahinya. Namun, auranya tidak melemah, melainkan semakin liar dan ganas.

​Sebagai kultivator Puncak Tingkat Sembilan, kapasitas Qi-nya cukup padat untuk membentuk Zirah Qi sejati sesaat sebelum batu raksasa itu menimpanya.

​Wu Kang mendarat di atas tumpukan batu, matanya yang memerah penuh amarah menatap ke atas tebing, mencari keberadaan Awan.

​"KELUAR KAU, KEPARAT FANA! AKU AKAN MENARIK URAT NADIMU HIDUP-HIDUP!" auman Wu Kang bergema di seluruh ngarai.

​Jawaban yang ia terima bukanlah kata-kata.

​Dari balik tabir debu yang menutupi bagian atas tebing, sesosok tubuh melesat jatuh lurus ke arahnya bagaikan meteor hitam. Awan tidak mencari jalan turun yang aman. Ia melompat langsung dari ketinggian lima puluh meter!

​Angin menderu kencang menyapu tubuh Awan yang melayang turun. Ia membalikkan badannya di udara, mengarahkan kakinya ke tanah, dan menyiapkan lututnya untuk menyerap pendaratan.

​BAM!

​Awan mendarat di atas batu raksasa yang berjarak hanya lima meter dari posisi Wu Kang. Batu di bawah kakinya retak karena gaya gravitasi ekstrem, namun tulang kaki Awan yang telah melalui Penyucian Tulang tingkat kedua sama sekali tidak patah. Ia hanya menekuk lututnya sedikit, lalu berdiri perlahan.

​Tubuhnya yang setengah telanjang dipenuhi lapisan debu merah dan keringat, otot-ototnya meliuk seperti naga hidup yang terbuat dari perunggu. Pedang kayu hitam nan tebal tergenggam erat di tangan kanannya.

​Awan menatap Wu Kang, mengibaskan debu dari pedang kayunya.

​"Kau mencariku. Aku di sini," ucap Awan, suaranya tenang, sangat kontras dengan amarah Wu Kang yang mendidih.

​Melihat bawahan klannya hancur menjadi daging giling oleh jebakan seorang manusia fana, kewarasan Wu Kang nyaris putus. Ia mencabut sepasang kapak pendek beraura emas dari pinggangnya. Fluktuasi Qi Tingkat Sembilan yang mematikan menekan udara di sekitar mereka hingga sulit bernapas.

​"Kau pikir meruntuhkan batu bisa membunuhku?!" Wu Kang menggeram, otot-ototnya mengembang dipenuhi energi spiritual. "Di arena, adikku terlalu fokus pada kecepatan dan menahan Qi-nya. Aku berbeda! Aku akan menghancurkan tulang-tulang fanamu hingga menjadi debu!"

​Wu Kang menghentakkan kakinya. Batu di bawahnya hancur, dan ia melesat maju bagaikan tank tempur berlapis emas. Kedua kapak pendeknya menyilang, memotong udara dengan dentuman sonik yang memekakkan telinga.

​Awan tidak menggunakan Seni Penyamaran Bayangan lagi. Ia tidak berniat bersembunyi.

​Mata fana itu memancarkan tekad yang siap merobek langit. Ia menggeser kuda-kudanya, menyalurkan titik berat tubuhnya ke inti bumi.

​Langkah Besi Jatuh!

​Menyambut terjangan Wu Kang, Awan melesat ke depan, mengayunkan Kayu Besi Hitam seberat lima puluh kilogram itu lurus ke arah kapak berlapis Qi emas tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!