NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Lima Keluarga Besar

Puri Nusantara selalu terlihat sunyi dari luar: gerbang tinggi, pohon tua, dan jalan batu yang terlalu bersih.

Namun pagi itu, Hendry Pratama merasakan tekanan berbeda. Tekanan itu datang dari ketenangan rumah besar itu, seperti ada rahasia tua yang menunggu pintunya dibuka.

Rizal Suryadi berhenti di depan koridor kayu.

"Saya tunggu di luar, Pak Hendry."

Hendry menatapnya.

"Kamu tidak ikut?"

Rizal menggeleng.

"Eyang Karyo hanya mengundang Anda."

Di ujung koridor, seorang pelayan tua membuka pintu geser.

Aroma teh keluar pelan, pahit dan hangat.

Hendry masuk.

Ruangan itu kecil dibandingkan aula utama Puri Nusantara, tetapi tekanannya lebih berat.

Dindingnya penuh rak kayu gelap. Di tengah ruangan ada meja teh rendah dan teko tanah liat kecil.

Eyang Karyo duduk di sisi lain.

Hari ini ia tidak membawa tongkat.

Tangan tuanya memegang cangkir teh, tenang seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak darah dan uang.

"Duduk, anak muda."

Hendry duduk.

Ia tidak bicara lebih dulu.

Eyang Karyo menuangkan teh ke cangkir kecil di depannya.

"Teh pertama untuk membersihkan lidah."

Hendry mengangkat cangkir, mencium aromanya, lalu meminum seteguk.

Pahitnya langsung naik.

Tapi setelah lewat tenggorokan, ada rasa manis samar yang tertinggal.

Eyang Karyo memperhatikan wajahnya.

"Tidak bertanya?"

"Kalau Sembilan Eyang memanggil saya ke sini, pasti ada urusan lebih penting daripada cara saya minum teh."

Mata tua itu bergerak sedikit.

Ada bayangan senyum.

"Budiman benar. Kamu belajar cepat."

Nama Budiman membuat Hendry menaruh cangkir.

"Pak Budiman tahu pertemuan ini?"

"Dia yang mengatakan sudah waktunya."

Hendry diam.

Kalimat itu lebih berat daripada suara keras.

Sudah waktunya.

Artinya selama ini memang ada sesuatu yang sengaja ditahan.

Eyang Karyo melambaikan tangan.

Pelayan tua masuk membawa sebuah kotak kayu panjang. Kotak itu diletakkan di meja, lalu ia mundur tanpa suara.

Eyang Karyo membuka kotak tersebut.

Di dalamnya ada gulungan kain tua, lima foto hitam putih, dan sebuah kotak Pusaka kecil.

Hendry melihat gulungan itu.

Kertasnya kekuningan, pinggirnya rapuh, tetapi garis-garis di atasnya masih jelas: peta laut, pulau-pulau, jalur kapal, dan tanda merah di pesisir Nusantara.

"Enam ratus tahun lalu," kata Eyang Karyo, "armada kerajaan kuno datang ke selatan. Yang tertulis di buku sejarah hanya perdagangan, diplomasi, dan perjalanan. Yang tidak tertulis jauh lebih berat."

Hendry menatap peta itu.

"Harta?"

"Warisan Armada Nusantara."

Uap teh di antara mereka seperti berhenti.

Eyang Karyo menunjuk lima tanda pada peta.

"Di dalamnya ada emas, catatan jalur dagang, surat kuasa lama, batu Pusaka, dan dokumen yang bisa mengubah peta kekuasaan."

"Kenapa ditinggalkan di sini?"

"Karena laut berubah, kekuasaan berubah, dan manusia yang terlalu serakah selalu membuat perjalanan panjang menjadi pendek."

Eyang Karyo mengambil lima foto dari kotak.

Setiap foto menampilkan cap Pusaka berbeda: matahari, ombak, akar pohon, gunung, dan sayap.

"Lima keluarga diberi tugas menjaga lima pintu," katanya.

Hendry melihat foto itu satu per satu.

"Lima keluarga?"

"Lima Keluarga Besar."

Eyang Karyo menyebutnya pelan.

Nama itu membawa beban yang lebih tua dari dirinya.

Seperti sumpah.

"Pratama. Pratiwi. Mahendra. Nugroho. Pradana."

Jari Hendry berhenti di atas meja.

Pratama.

Pratiwi.

Mahendra.

Pradana.

Nama-nama itu tidak asing di telinganya.

Sebagian ia kenal sebagai keluarga besar, sebagian sebagai pengusaha, sebagian baru kemarin masuk laporan dengan bau bahaya.

Hendry menatap Eyang Karyo.

"Keluarga ayah saya adalah Pratama."

"Benar."

"Ibu saya Wulan Pratiwi."

"Benar."

Eyang Karyo membuka kotak Pusaka kecil.

Di dalamnya ada kain merah tua.

Di atas kain itu, sebuah Cincin Pusaka Garuda diletakkan dengan sangat hati-hati.

Hendry tanpa sadar menyentuh cincin yang selama ini ia simpan dekat tubuhnya.

Cincin peninggalan ayahnya.

Cincin yang sejak awal terasa terlalu berat untuk disebut sekadar perhiasan.

Eyang Karyo memperhatikan gerakan itu.

"Yang kamu bawa adalah kunci Pratama."

Hendry mengeluarkan cincin dari balik bajunya.

Cahaya pagi jatuh ke permukaan Pusaka.

Garis emas di dalamnya seperti menyala.

Eyang Karyo mendorong kotak kecil di meja.

"Yang ini milik Pratiwi."

Hendry tidak langsung menyentuhnya.

Dadanya terasa sempit.

"Milik ibu saya?"

Untuk pertama kalinya, suara Eyang Karyo melunak.

"Wulan menyimpannya sampai hari terakhir."

Ruangan menjadi terlalu sunyi.

Hendry melihat cincin kedua itu.

Ia seperti melihat tangan seorang perempuan yang sudah lama hanya hidup dalam ingatan.

Ibunya.

Wulan Pratiwi.

Perempuan yang meninggalkan nama, luka, dan rahasia terlalu besar.

"Kenapa tidak diberikan kepada saya sejak dulu?"

"Karena anak kecil dengan dua kunci tidak akan dianggap anak kecil oleh para serigala."

Jawaban itu sederhana.

Dan benar.

Hendry menarik napas pelan.

"Dua kunci."

"Dua dari lima."

Eyang Karyo menatapnya dalam.

"Dalam enam ratus tahun, tidak pernah ada satu orang yang memegang darah dua keluarga dan dua Cincin Pusaka Garuda secara sah."

Hendry tertawa pendek tanpa kegembiraan.

"Jadi selama ini saya memegang lebih banyak beban daripada yang saya kira."

"Bagi orang bodoh, kamu tetap menantu miskin."

Eyang Karyo mengangkat cangkir teh.

"Bagi orang yang tahu sejarah, kamu adalah pintu yang tidak seharusnya muncul."

Kalimat itu masuk lebih dalam daripada pujian.

Pintu yang tidak seharusnya muncul.

Hendry menatap lima foto di meja.

"Kalau lima cincin harus bersatu, berarti harta itu belum pernah dibuka."

"Belum secara penuh."

"Ada yang mencoba?"

Eyang Karyo diam cukup lama.

Di luar, angin menyentuh lonceng kecil di teras.

Ting.

Satu bunyi tipis.

"Selalu ada yang mencoba."

"Dan sekarang?"

Eyang Karyo meletakkan cangkir.

"Sekarang lebih berbahaya."

Pintu di belakang Hendry terbuka.

Langkah kaki masuk.

Hendry tidak menoleh terlalu cepat, tetapi ia sudah tahu siapa orang itu dari cara udara ruangan berubah.

Budiman Suryadi.

Pria itu berdiri di ambang pintu dengan setelan gelap sederhana.

"Pak Hendry."

Hendry menoleh.

"Pak Budiman."

Budiman menunduk sedikit kepada Eyang Karyo, lalu kepada Hendry.

"Saya minta maaf karena menyimpan ini terlalu lama."

Hendry menatapnya.

"Atas perintah ayah saya?"

"Atas perintah Tuan Hartanto. Dan atas permintaan mendiang Nyonya Wulan."

Nama itu kembali menghantam dada Hendry.

Budiman melanjutkan, "Mereka ingin Anda hidup sebagai orang biasa selama mungkin. Begitu dunia tahu Anda memegang darah Pratama dan Pratiwi, hidup sederhana tidak akan pernah kembali."

Hendry melihat dua cincin di meja.

Satu sudah lama bersamanya. Satu baru muncul seperti jawaban yang terlambat.

"Kenapa sekarang?"

Budiman tidak menjawab langsung.

Eyang Karyo yang bicara.

"Karena kamu sudah membuat Hadiprana jatuh tanpa menyebut namamu."

Hendry menoleh padanya.

"Itu cukup?"

"Tidak."

Eyang Karyo menatap tajam.

"Tapi itu membuktikan kamu tidak mabuk ketika memegang kuasa. Kamu bisa membalas tanpa membakar orang kecil. Itu penting."

Budiman mengangguk.

"Dan musuh mulai bergerak. Kalau kami terus menahan informasi, Anda akan berjalan di tengah perang dengan mata setengah tertutup."

Hendry menyentuh cincin Pratama di telapak tangannya.

Lalu ia melihat cincin Pratiwi di kotak.

"Jessica berkeluarga Mahendra."

Eyang Karyo tidak tampak terkejut.

Budiman juga tidak.

Itu saja sudah cukup menjawab satu hal.

Mereka pernah memikirkan hal yang sama.

"Jangan mengejar setiap nama terlalu cepat," kata Eyang Karyo. "Di Nusantara, satu marga bisa punya banyak cabang. Ada yang dekat dengan akar, ada yang hanya membawa bunyi."

"Tapi mungkin?"

"Mungkin."

Satu kata itu membuat bayangan Jessica muncul di pikiran Hendry.

Jessica yang sedang belajar percaya lagi.

Daun yang tertawa sambil memegang tangan mereka.

Rumah yang baru terasa hangat.

Dan sekarang, ada peta enam ratus tahun, dua cincin, dan musuh yang mungkin bahkan belum menunjukkan wajahnya.

Hendry menutup mata sebentar.

Ketika membukanya, tatapannya sudah tenang.

"Apa yang harus saya lakukan?"

Eyang Karyo tidak langsung menjawab.

Ia mengambil satu lembar kertas tipis dari bawah peta.

Di atasnya ada silsilah lama keluarga Pratiwi.

Nama Wulan Pratiwi tertulis di salah satu cabang.

Di atas nama itu, garis menuju saudara ayahnya.

Karyo Wicaksono.

Eyang Karyo mengetuk nama itu dengan jari.

"Aku adalah adik kakek ibumu. Dalam darah, aku paman tua dari ibumu. Orang luar memanggilku Sembilan Eyang karena hormat, tetapi hubungan kita lebih dekat dari itu."

Suara lelaki tua itu sedikit bergetar.

"Aku memang Eyangmu."

Hendry menatap tulisan itu.

Semua suara di ruangan seolah mundur.

Ia pernah datang ke Puri Nusantara dengan amarah, menuntut keadilan untuk Jessica, dan bertanya-tanya kenapa Budiman begitu hati-hati setiap kali nama Wulan Pratiwi muncul.

Sekarang, jawabannya ada di meja.

Darah.

Hendry berdiri.

Budiman sedikit bergerak, seolah hendak menahan.

Namun Eyang Karyo mengangkat tangan.

Hendry berjalan ke sisi meja, lalu berlutut di depan lelaki tua itu.

Ia menundukkan kepala.

Tiga kali.

Tidak ada suara keras. Tidak ada penonton. Hanya seorang cucu yang akhirnya menemukan satu potong keluarga dari ibunya.

"Eyang," kata Hendry pelan.

Cangkir di tangan Eyang Karyo bergetar.

Ia cepat menaruhnya, tetapi sudah terlambat.

Setetes teh jatuh ke meja.

Lelaki tua yang biasa membuat puluhan orang menunduk hanya dengan satu tatapan itu kini memerah matanya.

"Bangun."

Hendry tidak bergerak.

Eyang Karyo mengulurkan kedua tangan.

"Bangun, anak Wulan."

Baru setelah itu Hendry berdiri.

Eyang Karyo memegang lengannya kuat-kuat.

Untuk usia setua itu, genggamannya masih keras. Di balik kerasnya, ada sesuatu yang hampir pecah.

"Aku terlambat melindungi ibumu," bisiknya. "Aku tidak akan terlambat dua kali."

Hendry menatapnya.

"Saya tidak butuh dilindungi seperti anak kecil."

"Aku tahu."

Eyang Karyo melepaskan tangannya.

"Karena itu aku memberi tahu kamu hal yang paling buruk."

Budiman menutup pintu dari dalam.

Klik.

Suara kecil itu membuat ruangan berubah menjadi ruang rahasia lagi.

Eyang Karyo menatap lima foto cap Pusaka.

"Salah satu dari Lima Keluarga Besar sudah mengkhianati sumpah."

Hendry tidak berkedip.

"Siapa?"

"Belum pasti."

"Tapi Eyang punya dugaan."

Eyang Karyo diam.

Budiman juga diam.

Diam dua orang tua itu lebih jelas daripada jawaban.

Hendry mengerti.

Mereka punya kecurigaan.

Tapi nama yang salah bisa memulai perang keluarga yang tidak bisa ditutup lagi.

Eyang Karyo berkata pelan, "Pengkhianat itu bekerja dengan kekuatan luar. Mereka ingin lima cincin berkumpul agar seluruh warisan bisa mereka telan."

Hendry melihat cincin Pratiwi di dalam kotak.

"Kalau saya memegang dua cincin, mereka akan datang kepada saya."

"Mereka sudah berjalan ke arahmu."

Kalimat itu membuat udara teh menjadi dingin.

Budiman maju satu langkah.

"Mulai hari ini, setiap pertemuan bisnis, setiap orang baru, setiap keluarga yang tiba-tiba menawarkan kerja sama harus dianggap sebagai ujian."

Hendry teringat Maya Devi.

Tetangga baru.

Senyum hangat.

Bagus yang berkata tidak nyaman.

Sebuah titik kecil di pikirannya menyala, tetapi belum cukup terang menjadi bukti.

"Termasuk orang yang terlihat baik," katanya.

Eyang Karyo mengangguk.

"Terutama yang terlihat terlalu baik."

Di luar ruangan, Rizal masih berdiri di koridor.

Matanya bergerak ke arah halaman.

Sebuah mobil hitam baru saja melewati gerbang luar Puri Nusantara tanpa berhenti. Jauh. Terlalu jauh untuk disebut ancaman.

Namun Rizal mengingat plat nomornya.

Di dalam ruang teh, Hendry mengambil cincin Pratiwi dari kotak.

Ia tidak memakainya.

Ia menggenggamnya bersama cincin Pratama.

Dua cincin dingin di satu telapak tangan. Dua keluarga, dua warisan, dua pintu menuju perang yang lebih besar.

Eyang Karyo menatapnya.

"Mulai sekarang, jangan percaya sejarah yang tertulis rapi. Yang membunuh keluarga biasanya bukan musuh di luar gerbang."

Hendry mengangkat mata.

Suara Eyang Karyo menjadi berat.

"Salah satu dari lima keluarga sudah membuka pintu untuk orang luar."

Ia berhenti.

Setiap kata berikutnya turun seperti batu.

"Dan pengkhianat itu mungkin sudah sangat dekat denganmu."

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!