NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:48.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memberikan warna merah darah pada fasad rumah mewah milik Adila. Saat mobilnya memasuki halaman, hal pertama yang ditangkap oleh indra penglihatan Adila adalah tumpukan tas belanja dari brand bayi ternama yang berserakan di teras.

Di sana, Mama Revan dan Meisya sedang tertawa riang sambil mengeluarkan baju-baju bayi mungil yang sangat mahal. Pemandangan itu nampak sangat harmonis, seolah-olah Adila-lah yang menjadi orang asing di rumahnya sendiri.

Adila turun dari mobil, membanting pintunya dengan keras untuk menarik perhatian mereka. Langkah kakinya yang masih mengenakan sepatu kerja terdengar angkuh di atas lantai granit.

"Dila, kamu sudah pulang?" sapa Mama Revan tanpa rasa bersalah. "Lihat, Mama baru saja membelikan cucu Mama baju-baju baru. Oh ya, soal permintaan konyolmu di rumah sakit tadi, Mama sudah memutuskan. Meisya tetap tidur di kamar tamu lantai atas. Kamar belakang itu pengap, tidak manusiawi untuk calon cucu Mama."

Adila berhenti tepat di depan tumpukan tas belanja itu. Ia menatap Meisya yang kini tersenyum tipis, sebuah senyuman yang berkata: "Lihat, aku punya pelindung yang lebih kuat darimu."

"Mah," suara Adila rendah namun tajam. "Saya sudah bilang, peraturan di rumah ini adalah keputusan saya. Meisya harus pindah ke kamar belakang sekarang juga atau dia keluar dari gerbang itu."

"Jangan lancang, Adila!" bentak Mama Revan sambil berdiri. "Kamu pikir kamu siapa? Memang kamu yang membayar cicilan rumah ini sendirian? Ini juga rumah Revan! Anakku punya hak atas setiap jengkal tanah di sini, dan haknya adalah hak Mama juga!"

Revan keluar dari pintu utama, tampak ragu melihat konfrontasi itu. "Dila, sudah... Mama benar, jangan terlalu ekstrem. Kasihan Meisya, dia baru saja dari rumah sakit."

Adila menoleh ke arah Revan, matanya berkilat penuh amarah yang kini bercampur dengan rasa rendah hati yang mematikan. "Rumah Revan? Kamu yakin, Ma? Kamu yakin Revan punya hak untuk memberikan izin pada wanita lain tinggal di sini tanpa persetujuanku?"

"Tentu saja! Revan laki-laki, dia kepala keluarga!" Tiara ikut muncul dari balik pintu, menambah suasana semakin bising.

Adila tidak membalas lagi dengan teriakan. Ia justru tersenyum, senyuman yang membuat Revan mendadak merasa menggigil. Tanpa sepatah kata pun, Adila melewati mereka semua dan masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju ke ruang kerjanya yang terkunci rapat.

Di dalam ruangan yang tenang itu, Adila membuka brankas pribadinya. Ia menarik sebuah map berwarna biru tua yang sudah tersimpan selama sepuluh tahun. Sebuah dokumen yang dulu dibuat bukan karena kurang percaya, melainkan karena Adila adalah putri dari seorang pengacara yang selalu mengajarinya untuk waspada.

"Perjanjian Pra-Nikah: Adila & Revan"

Adila mengusap kertas itu. Ia membaca poin demi poin yang dulu disetujui Revan dengan penuh janji manis sebelum mereka menikah. Ia kemudian keluar kembali ke ruang tamu, di mana Revan, Mama, Tiara, dan Meisya masih berkumpul, siap untuk melanjutkan perdebatan.

"Revan," panggil Adila, suaranya kini begitu tenang hingga terasa mencekam. "Sepertinya kamu, ibumu, dan adikmu perlu diingatkan tentang status kepemilikan aset di rumah ini."

Adila melemparkan map biru itu ke atas meja kopi, tepat di tengah-tengah tas belanja bayi Meisya.

"Apa ini?" tanya Revan dengan suara bergetar.

"Ingat poin nomor empat, Revan?" Adila menunjuk ke arah baris tulisan yang sudah ia stabilo kuning. "Disebutkan secara hukum dan sah di hadapan notaris: Jika salah satu pihak melakukan pengkhianatan emosional atau fisik, atau mengambil keputusan besar terkait rumah tangga secara sepihak tanpa diskusi dan persetujuan pihak lain, maka pihak yang tersakiti berhak melayangkan gugatan cerai seketika.

Revan mulai membaca dengan mata terbelalak, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Adila melanjutkan dengan nada bicara yang sangat lambat, memastikan setiap kata meresap ke telinga Mama mertuanya. "Dan poin tambahannya, Revan... Dalam hal terjadi pelanggaran poin di atas, seluruh harta bersama yang berupa aset tetap termasuk rumah ini akan jatuh sepenuhnya secara mutlak ke tangan pihak yang tersakiti sebagai ganti rugi imateriil."

"Apa?! Tidak mungkin!" Mama Revan menyambar kertas itu. Wajahnya yang tadi angkuh mendadak pucat pasi. "Ini pasti palsu! Mana mungkin Revan menandatangani perjanjian gila seperti ini!"

"Tanya anak kesayangan Mama," sindir Adila. "Sepuluh tahun lalu, dia begitu yakin tidak akan pernah mengecewakanku sehingga dia berani menandatangani ini. Dan hari ini, dengan membawa Meisya masuk tanpa izin saya, dengan membela kebohongannya di depanku, Revan sudah melanggar poin itu berkali-kali."

Adila menatap Revan yang kini terduduk lemas. "Kamu melupakan poin ini, kan? Kamu pikir aku wanita bodoh yang hanya tahu cara mengobati orang? Aku juga tahu cara menyelamatkan diriku sendiri dari parasit seperti kalian."

Meisya yang tadinya merasa di atas angin, kini nampak gemetar. Ia menyadari bahwa jika Revan kehilangan rumah ini, maka "tempat berteduh" mewahnya akan hilang.

"Jadi, Mah," Adila menoleh ke mertuanya. "Rumah ini secara hukum adalah milik SAYA sejak Revan melanggar perjanjian itu. Jadi, siapa yang lancang sekarang? Siapa yang menumpang di sini? Meisya, angkut semua barang-barang ini ke kamar belakang atau saya akan memanggil truk sampah untuk mengambilnya."

Mama Revan mencoba bicara, tapi suaranya tercekat. Ia melihat wajah Adila yang tidak lagi memiliki sisa-sisa rasa hormat.

"Revan, bicaralah! Katakan kalau ini tidak benar!" Tiara merengek, namun Revan hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Adila tidak memedulikan mereka lagi. Ia kembali ke atas, memanggil Bi Ijah. "Bi, bantu saya mengemasi semua surat-surat aset, sertifikat tanah dan dokumen investasi di brankas. Kita pindahkan ke deposit box di bank besok pagi. Dan satu lagi, mulai malam ini, kunci semua pintu akses dari belakang ke area utama setelah jam sembilan malam."

Adila mulai memasukkan laptopnya, koleksi perhiasan yang ia beli dari hasil menulisnya, dan dokumen-dokumen penting ke dalam koper kecil. Ia tidak akan meninggalkan rumah ini karena rumah ini miliknya tapi ia akan mengamankan semua hartanya agar tidak ada satu rupiah pun yang digunakan Revan untuk membiayai wanita lain.

Ia berdiri di balkon, menatap ke bawah di mana petugas makam tadi sore meneleponnya dan mengonfirmasi bahwa mereka tetap melaksanakan tugas mereka meski sempat tertunda. Jenazah suami Meisya sudah dalam perjalanan ke kampung.

"Operasi pengangkatan tumor memang menyakitkan, tapi itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup," bisik Adila pada dirinya sendiri.

Ia melihat ke arah meja riasnya, di mana terdapat foto pernikahannya dengan Revan. Adila mengambil foto itu, lalu dengan tenang menjatuhkannya ke lantai.

Prang.

Kaca bingkainya hancur, sama seperti hatinya yang kini sudah tidak bersisa untuk pria itu.

Malam itu, Adila tidur dengan nyenyak di kamarnya yang terkunci rapat, sementara di lantai bawah, ia bisa mendengar sayup-sayup perdebatan hebat antara Revan dan ibunya. Revan sedang merasakan akibat dari meremehkan seorang wanita yang memiliki otak setajam pisau bedah.

Adila tersenyum sebelum memejamkan mata. "Selamat datang di neraka yang kamu bangun sendiri, Revan."

1
gaby
Tapi Tiara blm jatuh, dia lg enak2 dgn uang 5milyarnya. Gimana kabar Revan & padanya, apa mereka tau skandal yg dibuat anggota kluarga mereka?? Apa Tiara dah tau mamanya dah meninggal??
blcak areng: sabar kak semuanya ada alurnya yang udah aku tulis 🙏
total 1 replies
Suanti
suruh polisi ikut dampingin asisten nya bawa uang buat tiara papa aris hrs bikin jebakkan jg buat tiara yg penipu ulung pemerasan sekalian jeblos kan ke penjara 🤭
Komsindra
suka
gaby
Biar masuk penjara bareng2 dah. Tiara kena pasal UU ITE & Aris kena pasal Pornografi😄😄
gaby
Pintar Tiara, kalo kamu dihancurkan, jgn mau hancur sendiri. Abis ini tobatlah & minta maaf ke Adila, biar kutukanmu ga berlarut2.
gaby
Mudah2an smua tokoh Jahat dpt karma smua termasuk Tiara & Aris.
Ade Chubi
sadis banget ,real nya sih gak mungkin mayat di biarkan walopun keluarga nya tidak punya uang
ini tuh berlebihan
Tamirah
Memalukan begitu aset aset disita suami merengek berlutut pada sang istri untuk dimasukan ,gak ada guna penyesalan yang terlambat.
Tamirah
Keluar dari rumah itu tindakan yg tepat toh suami dan mertua sdh gak resfek padamu.pikirkan masa depan' mu, perkataan bibik dirumah mu itu benar masa depan mua akan bersinar.
Ade Chubi: kalo keluar dari rumah itu keenakan suami nya lah
mendingan tetap di rumah itu dan abaikan suami nya
total 1 replies
Tamirah
kok bisa anggaran belanja dikurangin demi teman masa kecil yg suaminya meninggal hamil lagi . Menolong ya Menolong tapi prioritas tetap istri sah.
Gak nyesel kalau nnt terbongkar bermain dibelakang istri lalu ditinggal,apalagi istri mu calon dokter.
Banyak lo diluar sana laki laki yg pingin punya istri Dokter.
Sartika tika
iya ya bnyk bnyk bngt kata didera duka dn kata daster....gk mngkn slh pencet kn ..
Lina Ariani
daster kata baru apa gi mn
Lee Mba Young
kasian siska dpt aris. playboy banget gk Ada Aura kelas atas nya.
Suanti
siska jgn mau sama aris segera batal kan jodoh nya klu jdi nikah sm aris. aris pasti tetap selingkuh sm tiara / pelakor 🤭🤣🤣🤣
YuWie
aneh revan kie..wis ditampar berkali2 dg kenyataan dan kata2 adila kok ya maßih ngopeni si mes2..
YuWie
masih mbok bela2 juga lho si mes2 ini Rev...
Kekayaan macam apa itu adila..kamarmu seluas rumah mewahmu dan revan..
YuWie
cleguk.. 10th blm cukup u adila membuka identitas dirinya re..kasihan kan dirimu 😁
YuWie
ujianeee..marake pecahhh ... kak thor dr obyg kah
YuWie
katanya jabatan tinggi..fokus aja lah sama pekerjaanmu Rev, sambil ngopeni benalumu
stela aza
aduh Thor tulisan nya tlng di teliti lagi sebelum di rilis ,,, kata daster ,, daster , daster apaan coba jadi g jelas ceritanya Thor tlng di perbaiki ,,, pembaca bingung memahami maknanya 🙏
blcak areng: maaf ya kak hp aku ngelag jadi keluar kata" yg tdk perlu,,, masih aku perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!