Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Cinta yang Tak Luntur
Hari-hari berlalu di bawah bayang-bayang kekhawatiran yang senantiasa membayangi. Ancaman Aisyah tak terwujud dalam tindakan yang nyata, namun keberadaannya bagai duri yang tertanam di hati Argan. Setiap kali ia berangkat bekerja, setiap kali ia memandang Aruna dan Arka yang tertawa riang, rasa takut itu kembali menyelinap—takut kehilangan, takut terluka, takut kebahagiaan yang begitu susah payah dibangun itu hancur seketika.
Namun Aruna tetap berdiri teguh di sisinya, menjadi penenang yang tak pernah lelah. Setiap kali Argan tampak gelisah atau melamun menatap ke luar jendela, wanita itu akan mendekat, menggenggam tangannya erat, dan menatapnya dengan senyum yang begitu tenang dan meyakinkan.
“Lihatlah aku, Argan,” bisiknya lembut suatu malam saat Argan kembali terjaga dan menatap lekat-lekat wajah istrinya yang terlelap damai. “Lihatlah Arka yang tidur pulas di sebelah. Apakah kau tidak merasakannya? Bahwa kasih yang kita miliki ini jauh lebih kuat daripada kebencian siapa pun?”
Argan mengangguk pelan, namun kerut di dahinya belum hilang. “Aku takut, Aruna. Bukan untuk diriku. Tapi jika sesuatu terjadi padamu... atau padanya... aku tak akan sanggup melaluinya sekali lagi.”
Aruna mengusap wajah suaminya dengan lembut, menatap lurus ke dalam mata yang penuh kegelisahan itu. “Cinta kita tak akan pernah pudar oleh kebencian orang lain. Kasih yang tumbuh dari ketulusan, yang diuji oleh kesabaran, dan yang diperkuat oleh pengorbanan... itu tidak akan bisa dirusak oleh dendam siapa pun. Tetaplah percaya pada kasih kita, Argan. Itulah perisai terkuat yang kita miliki.”
Kata-kata itu perlahan menenangkan kegelisahan di dada Argan. Ia menyadari satu hal: jika ia hidup dalam ketakutan terus-menerus, ia justru membiarkan masa lalu kembali menguasai hari ini. Ia membiarkan kebencian orang lain merampas kedamaian yang begitu berharga.
Suatu sore, saat mereka berdua berjalan beriringan menyusuri taman sambil menunggu Arka pulang dari sekolah, Argan berhenti sejenak dan menatap wajah istrinya yang diselimuti cahaya senja keemasan. Ia merasakan kehangatan yang menjalar dari jemari yang saling bertautan, merasakan detak jantung yang berirama tenang di dalam dada.
“Kau tahu, Aruna?” ucapnya pelan namun penuh kesungguhan. “Dulu aku berpikir cinta itu adalah perasaan yang membara, penuh gairah dan janji-janji manis. Tapi bersamamu, aku belajar sesuatu yang jauh lebih berharga. Bahwa cinta yang sejati adalah keteguhan hati yang tak pernah berubah, walau keadaan sedang tidak baik. Bahwa cinta itu tetap menyala meski diterpa angin kencang, dan tak pernah luntur meski waktu terus berlalu.”
Aruna menatapnya lembut, mata indahnya berbinar penuh kasih sayang. “Dan aku belajar bahwa cinta sejati adalah saling menjadi kekuatan saat salah satu sedang lemah. Bahwa ia tak memandang rupa, harta, atau keadaan. Ia hanya tahu satu hal: ingin tetap bersama, apa pun yang terjadi.”
Argan menarik Aruna ke dalam pelukannya, mendekap erat seolah ingin menyatukan jiwa mereka menjadi satu. Di bawah langit yang perlahan berubah warna, di tengah udara sore yang sejuk berembus, ia menyadari satu kebenaran yang mendalam: cinta yang tak luntur bukanlah cinta yang tak pernah diuji. Ia adalah cinta yang tetap teguh berdiri, meski telah diuji berkali-kali oleh waktu, jarak, kesulitan, dan kebencian.
Kehadiran Aisyah dan dendam yang ia bawa ternyata justru menjadi pemantang nyata bagi kasih sayang mereka. Semakin besar badai yang datang, semakin erat mereka saling mendekap. Semakin gelap bayang-bayang masa lalu yang mencoba menutupi, semakin terang cahaya kasih yang menyinari hati mereka. Karena kebencian hanya mampu melukai jika hati kita membiarkannya. Namun jika hati itu telah penuh dengan kasih yang tulus dan tak tergoyahkan, tak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu melunturkannya.
Sore itu, saat mereka melihat Arka berlari menyambut dengan wajah ceria dan tangan melambai riang, Argan tersenyum lega. Ia menggandeng tangan istrinya berjalan menyambut putra tercinta itu. Ancaman belum sepenuhnya hilang, namun hatinya tak lagi dihantui rasa takut. Karena ia tahu: selama kasih mereka tetap utuh dan teguh, selama cinta itu tak pernah luntur oleh apa pun, mereka akan selalu mampu berdiri tegak—bersama, selamanya.
Lanjut ke Bab 32: Belajar Melangkah Bersama Arka? 📖,