NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 — “AKU TIDAK MAU MENIKAH”

Dentum bass dari speaker mobil Hatchback merah milik Maya masih menyisakan getaran halus di daun telinga Aurel, bahkan setelah mesin kendaraan itu akhirnya dimatikan di bahu jalan. Jarum jam digital di dasbor menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit malam.

Jalanan komplek perumahan Arunika Barat sudah sepi. Hanya ada pendar kuning lampu jalan yang memantulkan bayangan dedaunan kering di atas kap mobil.

Aurel menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran jok berlapis kulit sintesis. Gaun santai tanpa lengan warna sage green yang ia kenakan sedikit kusut di bagian pinggang. Rambut bergelombang sebahu milik wanita itu sedikit berantakan setelah tiga jam menghabiskan waktu di gelaran indie music festival kampus, tapi matanya masih menyalakan sisa-sisa energi malam minggu.

"Asli,Rel, vokalisnya pas high note tadi agak maksa," celoteh Maya sembari mematikan audio player. Ia menoleh pada sahabatnya, mencopot kaca mata hitam yang sejak tadi hanya bertengger di atas kepalanya. "Tapi vibes-nya dapet sih. Kamu beneran nggak mau mampir makan ceker setan dulu tadi?"

Aurel terkekeh pelan. Tangannya meraih tas bahu bahan rajut yang tergeletak di bawah. "Bisa ngamuk Pak Hamdan kalau aku pulang lewat jam satu pagi, May. Ini aja HP-ku udah tiga kali getar pas di venue tadi, tapi sengaja nggak tak angkat."

"Ya elah, kamu kan udah 21 tahun, Rel. Tinggal nunggu sidang skripsi dua bulan lagi. Masa jam pulang masih di-track kayak anak SMA?"

Aurel tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak sampai ke mata—sambil membuka pintu mobil.

"Thanks ya udah dianterin. Besok bimbingan jam sepuluh, jangan lupa bikin bab empatmu yang revisi."

"Duh, jangan ngingetin skripsi malam-malam begini, napa!" seru Maya dengan nada dramatis. "Ya udah, masuk sana. Kalau ada lampu melayang dari arah balkon, langsung lari ke rumahku."

Aurel tertawa singkat, mengibaskan tangan melambai sebelum menutup pintu mobil. Ia berdiri di pinggir trotoar, membiarkan angin malam Kota Arunika menyapu lehernya yang terbuka saat mobil Maya perlahan meluncur menjauh.

Saat berbalik menghadap pagar besi hitam menjulang tinggi di depannya, senyum di bibir Aurel perlahan pudar.

Rumah itu berdiri megah dengan arsitektur modern minimalis. Pilar-pilar betonnya kokoh, lampunya terang, tapi bagi Aurel, tempat itu selalu terasa seperti lemari es berukuran raksasa. Dingin. Sepi. Sejak ibunya meninggal empat tahun lalu, tidak ada lagi aroma masakan rumahan atau suara tawa yang menyambutnya di lorong depan. Yang ada hanya hamparan marmer mahal dan bayangan seorang pria yang selalu memandang dunia lewat kacamata efisiensi dan kontrol.

Aurel menempelkan sidik jarinya pada smart lock di pintu utama. Sinyal bip berbunyi pelan, menyisakan suara kait besi yang terbuka.

Ia melangkah masuk sejinjit mungkin, berniat melintasi ruang tamu tanpa menarik perhatian. Sepatu hak rendah tiga sentinya sudah ia lepas dan dipegang di tangan kiri.

Namun, langkahnya terhenti tepat di batas ruang keluarga.

Lampu gantung kristal di tengah ruangan menyala terang benderang—hal yang tak biasa untuk jam hampir tengah malam. Dan di atas sofa kulit berwarna cokelat tua, seorang pria paruh baya berkemeja putih yang lengan bajunya tergulung rapi hingga siku sedang duduk tenang.

Hamdan Nathan.

Di atas meja kaca di depannya, cangkir keramik putih menyisakan uap tipis yang hampir habis. Tak ada berkas pekerjaan, tak ada laptop yang terbuka. Pria itu hanya duduk menatap lurus ke arah pintu masuk.

Aurel menarik napas dalam-dalam, menyiapkan mental untuk amunisi teguran yang sudah sangat ia hafal luar kepala: Jam berapa ini? Kamu ini perempuan. Mau jadi apa kalau kelayapan terus?

Aurel memberanikan diri melangkah mendekat, memasang raut wajah sesantai mungkin. "Ayah belum tidur? Biasanya jam sepuluh udah di kamar."

Hamdan tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis menatap wajah putrinya beberapa detik. Tak ada amarah yang meledak di matanya. Tidak ada nada suara tinggi. Justru ketenangan itu yang membuat bulu kuduk Aurel mendadak merinding.

"Duduk sebentar, Aurel," suara Hamdan terdengar berat, datar, dan jernih.

Aurel mengerutkan kening. Tangannya meremas tali tas rajutnya sedikit lebih kencang. "Aku capek banget, Yah. Mau mandi terus tidur. Kalau soal skripsi atau rencana magang, besok pagi aja dibahasnya."

"Ini bukan soal skripsi."

Hamdan membetulkan posisi duduknya, menyilangkan tangan di atas paha. Isyarat bahwa pembicaraan ini bukan sesuatu yang bisa ditawar atau ditunda.

Aurel menahan napas, lalu memutar bola matanya pelan sebelum akhirnya menarik kursi kayu di dekat meja makan dan duduk berhadapan dengan ayahnya—menjaga jarak aman tiga meter di antara mereka.

"Ada apa sih?" tanya Aurel, berusaha menyembunyikan getaran gelisah di suaranya dengan nada ketus.

Hamdan memandangi jemari tangannya sendiri sejenak sebelum menatap lurus ke netra cokelat terang milik putrinya. Netra yang sangat mirip dengan almarhumah istrinya.

"Acara lamaran dan akad nikahmu akan dilaksanakan bulan depan. Setelah sidang skripsimu selesai."

Kalimat itu meluncur begitu saja. Tanpa pembukaan, tanpa nada ragu, tanpa jeda.

Ruangan itu seketika hening. Suara denting jam dinding di lorong terdengar berkali-kali lipat lebih keras.

Aurel terkekeh. Sebuah tawa renyah yang sedikit dipaksakan keluar dari tenggorokannya. "Lucu banget, Yah. Becandaannya dapet sepuluh dari sepuluh. Aku bahkan nggak lagi dekat sama siapa-siapa sekarang. Dito cuma temen kampus, dan aku—"

"Ayah tidak sedang bercanda, Aurel Nathania."

Tawa Aurel terhenti seketika.

Raut wajah Hamdan sama sekali tidak menunjukkan jejak kelakar. Tatapannya dingin, padat, dan penuh kepastian yang tak tergoyahkan.

Darah Aurel mendadak terasa mendidih. Rasa lelah akibat berdiri berjam-jam di acara musik menguap begitu saja, berganti dengan gelombang kekesalan yang membakar dadanya.

"Maksud Ayah apa sih?!" suara Aurel naik satu oktav. Ia berdiri dari kursinya, membuat kaki kursi berdecit keras bergesekan dengan marmer. "Menikah? Sama siapa?! Ayah bahkan nggak pernah nanya aku mau nikah kapan atau mau hidup kayak gimana! Tiba-tiba pulang malam begini Ayah bilang aku mau dinikahin bulan depan?!"

"Duduk, Aurel."

"Nggak mau!" Aurel bersedekap, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap. "Ini hidupku, Yah! Aku baru 21 tahun! Aku baru mau lulus! Aku punya rencana jalan-jalan ke Bali sama Maya, aku mau cari kerja di Jakarta, aku mau—"

"Laki-laki itu bernama Muhammad Rasyid Al-Faruqi."

Nama itu terlempar ke udara, menghentikan kalimat Aurel di tengah jalan.

Aurel mengerutkan dahi, kepalanya mencoba memproses deretan kata asing tersebut. "Siapa?"

"Putra dari Kiai Abdul Faruqi," lanjut Hamdan tanpa mengubah intonasi suaranya. "Dia seorang pengajar di Pesantren Al-Faruqi. Keluarga mereka sudah setuju. Kesepakatan ini sudah kami buat sejak bulan lalu."

Aurel menatap ayahnya seolah pria di depannya telah berubah menjadi alien.

Pesantren? Kiai? Ustadz?

Dunia yang baru saja disebutkan ayahnya terasa ribuan kilometer jauhnya dari kehidupan Aurel. Kehidupan Aurel adalah tentang musik indie, kafe bernuansa industrial, tenggat waktu desain grafis, celana jins robek di lutut, dan nongkrong hingga larut malam bersama teman-temannya.

Dan ayahnya baru saja mengatakan bahwa ia diserahkan kepada seorang pria dari balik tembok pesantren?

"Ayah udah gila ya?" bisik Aurel. Matanya mulai memanas, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang tak tertampung. "Ayah mau numbalin aku ke anak kiai cuma demi bisnis Ayah? Atau demi koneksi? Atau karena Ayah udah capek ngeliat aku di rumah ini dan mau buang aku ke tempat yang penuh aturan?!"

"Jaga bicaramu, Aurel!"

Untuk pertama kalinya malam itu, suara Hamdan meninggi. Pria itu berdiri dari sofanya, menatap putrinya dengan pandangan menajam.

"Ayah melakukan ini untuk kebaikanmu! Kamu makin hari makin tidak terkontrol. Pulang malam setiap hari, bergaul tanpa batas, tidak punya arah hidup yang jelas! Kamu pikir Ayah tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana?"

"Aku nggak pernah bikin kriminal!" teriak Aurel, air mata kemarahan akhirnya menetes melintasi pipinya. "Aku cuma menikmati hidupku! Aku bukan anak kecil yang harus Ayah kurung atau Ayah serahin ke orang lain buat 'dijinakkan'!"

"Rasyid adalah pria yang baik. Dia berpendidikan, punya kepribadian yang matang, dan keluarga mereka adalah keluarga yang dihormati. Dia bisa membimbingmu!"

"Aku nggak butuh dibimbing!" Aurel menyapu air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia menatap ayahnya dengan tatapan paling menantang yang bisa ia berikan. "Kalau Ayah sebegitu kebeletnya pengin ada pernikahan di rumah ini, kenapa nggak Ayah aja yang nikah lagi?! Lagian Ayah kan yang kesepian sejak Ibu meninggal, bukan aku!"

PLAK!

Suara hantaman telapak tangan Hamdan pada meja kaca bergema keras di ruangan itu. Cangkir keramik bergetar hebat, menyisakan cipratan teh di atas permukaan kaca.

Hamdan berdiri kaku. Wajahnya memerah, dadanya kempas-kempis. Tangannya yang melayang di udara gemetar pelan.

Aurel terdiam. Tubuhnya membeku.

Ini pertama kalinya dalam 21 tahun hidupnya, ayahnya meluapkan emosi sefisik itu di depannya, meski telapak tangan itu tidak mendarat di pipinya.

Suasana ruangan mendadak menjadi sangat pekat.

Hamdan memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk menguasai dirinya kembali. Ketika ia membuka mata, dingin yang kaku telah kembali menyelimuti wajahnya.

"Keputusan Ayah sudah bulat, Aurel," kata Hamdan dengan suara rendah yang berbahaya. "Tanggal sudah ditentukan. Keluarga Faruqi akan datang pekan depan untuk silaturahmi resmi. Kamu mau kooperatif atau tidak, pernikahan ini akan tetap berlangsung."

Hamdan membalikkan badan, berjalan melintasi ruang tamu menuju arah kamarnya di lantai bawah tanpa memandang putrinya lagi.

"Selamat malam."

Pintu kamar utama tertutup dengan bunyi berdentang pelan.

Aurel berdiri sendirian di tengah ruang keluarga yang luas dan dingin. Tangannya yang memegang sepatu terasa sangat dingin. Tangisannya tidak pecah dalam raungan, melainkan tertahan di tenggorokan, menjadi rasa sesak yang menghimpit dada.

Ia menatap pintu kamar ayahnya dengan tatapan penuh kebencian dan kekecewaan yang mendalam.

"Aku nggak akan pernah mau," bisik Aurel pada kegelapan ruangan. "Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah sudi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!