Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Aroma semur jengkol yang menguar dari bungkusan nasi milik Bu Haji Sayur ternyata menjadi strategi pemasaran terbaik bagi Arien. Begitu bungkusan dibuka di lapak sayur, wangi legit bumbu rempah langsung tersebar, memicu rasa lapar dari para pedagang di sekitar tempat itu.
Alah, Neng Arien! Eta meni seungit semur jengkolna dugi ka dieu, meni kabita!
"Aduh, Nak Arien! Itu wangi semur jengkolnya sampai ke sini, menggoda iman sekali!" seru Bu Haji Bumbu yang lapaknya tepat berada di sebelah Bu Haji Sayur.
Bu Haji Bumbu langsung meletakkan ulekan batunya dan menghampiri Arien yang baru saja menerima uang pembayaran dari Bu Haji Sayur.
Melihat peluang emas, Arien dengan cekatan langsung membuka kembali ponselnya.
Pas pisan, Ceu! Iyeu jengkolna nembe asak pisan tina panci. Sanes semur jengkol hungkul Ceu, cobi tingal video menu na, aya nu enggal oge,
"Pas sekali, Ceu! Ini jengkolnya baru matang banget dari panci. Selain semur jengkol, coba lihat video menu nya, ada yang baru juga," ujar Arien ramah sambil menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan video estetik masakan warung.
Bu Haji Bumbu dan seorang pembeli yang sedang memilah cabai di lapaknya langsung mendekat, ikut mengintip layar ponsel Arien. Video berdurasi singkat itu memperlihatkan kepulan asap dari telur pindang yang kecokelatan, besengek cabai hijau yang berminyak gurih, hingga perkedel kentang yang digoreng garing ke emas emasan.
Gusti, eta besengek cabe hejo na kot saleger kitu, Neng. Kot harerang,
"Ya ampun, itu besengek cabai hijaunya kelihatan segar sekali, Neng. Warnanya mengilap begitu," sahut Ibu pembeli sayur yang awalnya tidak berniat beli makan siang.
Abi pesen sa bungkus, Neng. Hoyong besengek cabe hejo, endog pindang, nganggo perkedel nya. Dipincuk pisahkeun kuah na, meh teu bayatak dugi ka bumi.
"Saya mau pesan satu bungkus, Nak. Pakai besengek cabai hijau, telur pindang, sama perkedel ya. Dibungkus dipisah kuahnya, biar tidak benyek sampai rumah," ucap Ibu Pembeli Sayur langsung memesan menu makan.
Abi ge kalah kah lapar, Neng! Samikeun sareng Bu Haji Sayur, semur jengkol di sanguan, kurupuk na hiji. Jeung nambihan endog pindang na hiji nya!
"Saya juga jadi lapar, Nak! Samakan saja seperti Bu Haji Sayur, semur jengkol pakai nasi dan kerupuk satu. Sama tambahkan telur pindangnya satu ya!" timpal Bu Haji Bumbu tidak mau kalah.
Arien tersenyum semringah sembari jemarinya dengan cepat mengetik daftar pesanan baru tersebut di aplikasi catatan ponselnya. Dompet digital dan kantong pesanannya siap terisi lebih banyak siang ini berkat modal video rekamannya sendiri.
Tapi, kejadian lucu bermula ketika Arien sedang mencatat pesanan di ponselnya. Saat memeriksa sisa takaran lauk melalui video yang baru dikirimkan oleh Selma lewat pesan singkat, wajah Arien langsung berubah ragu.
Alah siah, Ceu, Bu... Punten pisan, gening endog pindang na ge kantun hiji deui di warung! Sapalih deui na nembe asak ke sonten,
"Waduh, Ceu, Bu... Mohon maaf sekali, ternyata telur pindangnya tinggal satu butir lagi di warung! Sisanya baru matang sore nanti," ucap Arien jujur sambil memperlihatkan ruang obrolannya dengan Selma yang menampilkan foto panci telur yang sudah kosong habis terjual.
Sontak saja, pengumuman itu membuat Bu Haji Pedagang Bumbu dan Ibu Pembeli Sayur saling berpandangan. Naluri emak-emak mereka langsung keluar.
Eh, Ibu, abi tipayun nya nu nyebatkeun hoyong endog pindang! Abi kan nu gaduh lapak di dieu!
"Eh, Ibu, saya duluan ya yang sebut telur pindang tadi! Saya kan pedagang lokal di sini!" Seloroh Bu Haji Bumbu sambil pasang badan di depan lapak bumbunya.
Naha, teu tiasa kitu atuh, Ceu! Abi kan langganan cabe ka ceu ceu, kedah na di utamikeun meh teras nga langgan,
"Lho, tidak bisa begitu dong, Ceu! Saya ini pembeli yang sudah borong cabai di tempat Ceu Ceu, harusnya diutamakan sebagai bentuk pelayanan konsumen," balas Ibu Pembeli tidak mau kalah, sambil memeluk tas belanjaannya seolah-olah sedang mempertahankan harta karun.
Melihat kedua wanita paruh baya itu mulai beradu argumen dengan sengit namun jenaka, Bu Haji Sayur yang sedang asyik mengunyah jengkolnya ikut menyahut sambil tertawa.
Atos... Atos! Meh teu paributan mah, kumaha mun di bagi dua? Satengah satengah. Adil, pan?
"Sudah... sudah! Daripada rebutan begitu, bagaimana kalau telur pindangnya dibagi dua saja? Setengah setengah. Adil, kan?"
Wah, mana aya wareg, Bu Haji! Endog pindang di beulah dua nu aya endog beubeureum na amuradul ngahiji kana kuah semur.
"Wah, mana kenyang, Bu Haji! Telur pindang dibelah dua nanti kuning telurnya ambyar kena kuah semur," protes Bu Haji Bumbu yang langsung disambut tawa oleh para pedagang di sekitar koridor tersebut.
Arien yang dasarnya memang humoris langsung memanfaatkan momen itu untuk mencairkan suasana. Ia berdeham keras layaknya seorang wasit pertandingan tinju.
Kalem, Ibu Ibu, kalem! Daripada endog pindang nu hiji hiji na deui di beulah dua amuradul tos wen moal jadi endog deui, di alihkeun ku abi kana endog balado wios?
"Tenang, Ibu Ibu, tenang! Daripada telur pindang yang hanya satu satunya lagi di bagi dua ambyar gak bakal jadi telur lagi, bagaimana kalau saya alihkan ke telur balado ga papa?" Sambil memperlihatkan tampilan foto langsung.
Endog balado na ceu ocoh nuju beureum gincu, seksi, di dangdosan ku abi tadi meh ka goda ku ibu ibu pasar, seueur nu meser!
"Telur baladonya Ocoh hari ini merah merona, seksi, abis saya make up in biar ke cantol sama ibu ibu pasar, banyak yang beli!" lawak Arien sambil menaik-turunkan alisnya.
Lawakan kuliner dari Arien itu seketika pecah menjadi tawa riuh. Ibu Pembeli sampai menepuk bahu Arien karena gemas.
Puk...
Alah, Neng Arien bisa bisa wen nyarios na! Nya entos atuh abi ngelehan. Abi gentos ku endog balado wen, meh sami sareng acuk abi,
"Aduh, Nak Arien bisa saja jualan barangnya! Ya sudah, saya mengalah. Saya ganti pakai telur balado saja, biar saingan sama merahnya baju saya hari ini," ujar Ibu Pembeli sambil terkekeh geli.
Bu Haji Bumbu pun bernapas lega dan langsung mengacungkan jempolnya.
Tah, kitu atuh! Hidup endog pindang nu abi!
"Nah, begitu dong! Hidup telur pindang saya!" soraknya kegirangan, membuat Arien segera mencatat revisi pesanan tersebut dengan hati gembira sebelum suasana pasar makin ramai.
^^^Bersambung...^^^
liat gekagatnya arien yg sefrustrasi itu cincin hilang aku jadi ikutan ngeri, takut suaminya galak 😭
tapi ini konteks nya benda sakral .. seharusnya mending di jadiin kalung atau simpen di rumah .. jadi repot kan kalau ilang begini ... beda cerita kalau emng cincinnya yang bisa teleportasi 🤭