Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Udara malam berhembus sangat dingin melewati celah-celah pilar raksasa di Arena Puncak Awan.
Kawasan yang biasanya ditutup untuk umum ini kini dipenuhi oleh ribuan pekerja yang sibuk berlalu lalang menyiapkan dekorasi turnamen.
Lampu-lampu lampion kristal melayang di udara, menerangi setiap sudut arena yang luasnya setara dengan sebuah kota kecil tersebut.
Di sudut utara panggung utama, tiga orang pekerja kasar sedang memanggul sebuah pot bunga giok berukuran raksasa.
"Angkat sedikit lebih tinggi di bagian belakangmu, raksasa bodoh." bisik seorang pekerja yang mengenakan topi jerami kusam.
"Saya sudah mengangkatnya setinggi mungkin, Tuan, tapi bunga sialan ini beratnya seperti gunung besi." balas pekerja berbadan besar itu dengan suara tertahan.
"Berhentilah mengeluh dan cepat letakkan pot itu di dekat pilar penyangga nomor tiga." sahut seorang pekerja wanita yang wajahnya tertutup kain lusuh.
Tiga pekerja itu adalah Lin Xiao, Meng Shan, dan Xue Mingyue yang telah menyusup masuk menggunakan identitas palsu dari serikat kuli angkut.
Bruk.
Meng Shan meletakkan pot giok raksasa itu ke lantai pualam dengan sangat hati-hati agar tidak memancing perhatian pengawas.
Pemuda raksasa itu mengusap keringat di dahi botaknya yang kotor oleh debu arang buatan.
"Menjadi kuli panggul ternyata jauh lebih melelahkan daripada memenggal kepala orang di pasar gelap." keluh Meng Shan mengatur napasnya.
"Itu karena otakmu hanya dirancang untuk membunuh, bukan untuk bekerja membangun sesuatu." sindir Xue Mingyue menata daun-daun dari bunga giok tersebut.
Lin Xiao yang berdiri di antara mereka hanya tersenyum tipis dan menyandarkan tubuhnya ke pilar batu penyangga arena.
Pemuda itu mengalirkan sedikit energi spiritual dari telapak tangannya, menembus lapisan batu pilar untuk memeriksa bagian dalamnya.
Sring.
Sebuah suara mekanis yang sangat akrab langsung bergema di dalam ruang kesadaran Lin Xiao.
Mendeteksi formasi peledak spiritual tingkat tinggi di dalam pilar batu. Status: Aktif dan tersembunyi dengan sempurna.
"Berapa banyak pilar yang sudah dipasangi mainan ini oleh anak buahmu, Xue'er?" tanya Lin Xiao melepaskan tangannya dari batu tersebut.
"Tiga ratus enam puluh pilar utama penyangga arena sudah terisi penuh dengan formasi peledak buatan divisi sabotase kita." jawab gadis pewaris es itu dengan pelan.
"Bahkan gerbang keluar para tamu VIP juga sudah ditanami ranjau jiwa yang akan meledak jika disentuh oleh aura Transformasi Jiwa." tambah Xue Mingyue melaporkan hasil kerjanya.
Lin Xiao mengangguk sangat puas, matanya memindai kemegahan arena tersebut dengan tatapan seorang seniman yang sedang melihat kanvas kosong.
"Sebuah mahakarya kehancuran yang sangat indah menanti kita besok malam." puji sang Kaisar Bayangan dengan nada psikopat.
"Ledakan dari tiga ratus pilar ini cukup untuk membuat separuh dari tetua sekte suci itu terkubur hidup-hidup di bawah puing pualam."
"Kalian bertiga yang di sana! Jangan membolos dan cepat kembali ke gudang logistik!" teriak seorang mandor pengawas dari kejauhan.
"Baik, Tuan Mandor! Kami akan segera ke sana!" balas Meng Shan dengan suara yang dibuat serak dan ketakutan.
Namun sebelum mereka bertiga melangkah pergi, pintu gerbang utama arena mendadak terbuka lebar.
Rombongan ratusan penjaga berseragam emas dan perak berbaris masuk dengan langkah tegap yang mengguncang lantai.
Tap. Tap. Tap.
"Semua pekerja menunduk dan berlutut! Para tetua sekte sedang lewat untuk melakukan inspeksi!" raung komandan penjaga memberikan aba-aba mutlak.
Ribuan kuli angkut dan pekerja dekorasi di arena itu langsung menjatuhkan diri ke lantai, tidak berani menatap langsung ke arah rombongan elit tersebut.
Lin Xiao, Xue Mingyue, dan Meng Shan ikut berlutut di balik pot giok raksasa yang baru saja mereka pindahkan.
Dari sudut matanya, Lin Xiao melihat barisan tetua tingkat Jiwa Murni akhir berjalan mengelilingi panggung utama dengan wajah arogan.
Di tengah-tengah rombongan tetua tersebut, berdirilah dua orang pria tua yang memancarkan aura tekanan dimensi yang luar biasa mengerikan.
"Itu pasti Ketua Istana Bayangan Bulan dan Ketua Sekte Api Nirwana yang baru saja tiba." bisik Xue Mingyue menahan napasnya agar auranya tidak bocor.
"Hukum ruang di sekitar tubuh mereka terlihat sangat aneh dan tidak stabil, persis seperti yang dijelaskan di dalam gulungan emas itu." analisis Lin Xiao dengan tajam.
"Mereka adalah monster di tahap Transformasi Jiwa, jangan sampai kau memancing perhatian mereka sekarang, Lin Xiao." peringat Xue Mingyue dengan cemas.
Namun perhatian Lin Xiao sama sekali tidak tertuju pada kedua dewa palsu dari pusat benua tersebut.
Mata cokelat pemuda itu terkunci pada sesosok gadis yang berjalan di belakang para ketua sekte dengan langkah yang sangat gontai.
Gadis itu mengenakan gaun pengantin berwarna merah darah yang disulam dengan benang emas murni.
Wajah cantiknya yang sehalus pualam kini tidak lagi tertutup cadar, membiarkan tanda bulan sabit di keningnya memancarkan keagungan yang menyedihkan.
"Itu Nona Yue." bisik Meng Shan nyaris tidak bisa menahan suaranya melihat kondisi gadis yang pernah mereka lindungi tersebut.
"Wajahnya terlihat pucat seperti mayat hidup, dia sama sekali tidak memancarkan aura kehidupan." komentar Xue Mingyue dengan nada yang sedikit bersimpati.
Yue Xin berjalan layaknya sebuah boneka kayu yang talinya dikendalikan oleh para tetua istananya.
Mata amethyst gadis itu menatap kosong ke arah altar pernikahan di tengah arena, seolah dia sedang berjalan menuju tiang gantungan eksekusi.
Lin Xiao menggertakkan giginya perlahan, sebuah rasa amarah yang aneh mendidih di dalam dadanya melihat barang miliknya diperlakukan seperti itu.
"Kaisar Bayangan, pinjamkan aku kemampuan telepati bayanganmu sekarang juga." perintah Lin Xiao di dalam ruang batinnya.
"Kau benar-benar ingin mencari mati dengan mengirimkan telepati di depan dua ahli Transformasi Jiwa, bocah?" protes roh Kaisar Bayangan Pemakan Bulan.
"Lakukan saja apa yang kuperintahkan, atau aku akan menggunakan Rantai Kutukan untuk mengikat lehermu lagi!" ancam Lin Xiao tanpa toleransi.
Roh kuno itu mendengus kesal, namun dia segera mengalirkan energi kegelapan murni ke telapak tangan Lin Xiao yang menempel di lantai.
Sebuah bayangan hitam yang luar biasa tipis merayap layaknya ular transparan melintasi lantai pualam arena.
Wush.
Bayangan itu menempel pada ujung gaun merah Yue Xin dan langsung menyatu dengan bayangan tubuh gadis tersebut.
Tepat saat Yue Xin menaiki anak tangga altar, sebuah suara bariton yang sangat arogan dan familier bergema di dalam kepalanya.
'Apakah gaun merah yang mahal itu terlalu berat untuk lehermu yang jenjang, Putri Suci?'
Yue Xin tersentak hebat, langkah kakinya terhenti seketika hingga membuat tetua di belakangnya hampir menabraknya.
"Ada apa, Putri Suci? Mengapa kau berhenti melangkah?" tegur salah satu tetua wanita dengan nada dingin.
"T-tidak apa-apa, Tetua, aku hanya sedikit pusing karena kelelahan." bohong Yue Xin buru-buru melangkah maju kembali sambil mencoba menenangkan detak jantungnya.
Gadis itu menundukkan wajahnya, air mata mulai menggenang di pelupuk mata amethystnya saat dia membalas telepati tersebut.
'Lin Xiao?! Apakah itu benar-benar kau yang berbicara di dalam kepalaku?'
'Siapa lagi orang yang cukup gila untuk menyusup ke kandang harimau ini hanya untuk menyapamu.' jawab Lin Xiao dengan nada yang penuh ejekan.
'Kau benar-benar orang gila yang tidak tahu arti kata takut!' rutuk Yue Xin melalui pikirannya, meskipun hatinya merasakan kelegaan yang luar biasa.
'Aku sudah menyuruhmu untuk pergi sejauh mungkin dan melupakanku, Lin Xiao!' lanjut gadis itu setengah menangis.
'Aku memiliki ingatan yang sangat buruk saat seseorang menyuruhku untuk melupakan orang yang aku kenal.' balas pemuda itu dengan santai.
Yue Xin melirik ke arah dua ketua sekte yang sedang berdiskusi di dekat panggung utama.
'Ketua sekteku dan ketua Sekte Api Nirwana ada di sini, kultivasi mereka berdua berada di tahap Transformasi Jiwa.' lapor gadis itu dengan nada putus asa.
'Mereka sudah mengatur formasi penyergapan di seluruh arena karena mereka curiga akan ada serangan balasan darimu.'
'Bagus sekali, itu artinya aku tidak perlu repot-repot mencari mereka satu per satu ke markas mereka besok.' jawab Lin Xiao tertawa pelan di dalam kepalanya.