NovelToon NovelToon
Arsitek Memori

Arsitek Memori

Status: tamat
Genre:Misteri / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Wildyan NA

Di kota Neo-Veridia, ingatan bisa diperjualbelikan. Rian, seorang penata memori, menemukan kristal ingatan terlarang yang memperlihatkan dirinya di masa depan—atau masa lalu yang telah dihapus dari otaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wildyan NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

fajar di atas debu kota

Tiga bulan telah berlalu sejak malam ketika pilar pemancar Archivia Pusat meledak.

Kota Neo-Veridia tak lagi sama. Papan iklan holografis yang dahulu memborbardir warga dengan propaganda ketenangan buatan kini berganti menjadi ruang seni dan pesan-pesan harapan. Penjaga Kategori dibubarkan, digantikan oleh dewan pemulihan sipil. Kota itu memang belum sepenuhnya pulih dari luka-lukanya—tangis kehilangan dan duka masa lalu kini hadir secara nyata—tetapi untuk pertama kalinya dalam satu dekade, tawa dan senyuman yang terbit di Distrik Bawah adalah sesuatu yang murni.

Di lantai tiga sebuah bangunan tua berarsitektur klasik di pinggiran Distrik 4, sinar matahari pagi menembus celah jendela kaca. Udara di dalam ruangan itu hangat, beraroma kertas tua dan kopi seduh segar.

Seorang pria berpakaian kemeja katun sederhana tengah menyusun silinder-silinder kaca bening ke atas rak baja. Gerakan tangannya tenang dan teratur. Ia mengusap debu tipis di permukaan kaca dengan kain lembut sebelum menatanya berdasarkan warna pendaran redupnya.

Pria itu adalah Rian.

Pipi kirinya kini memiliki bekas luka tipis yang halus, tetapi tidak ada lagi pancaran dingin atau bayangan kelam di matanya. Ia tidak ingat siapa Dr. Vance, tidak ingat Proyek Oblivion, dan tidak tahu bahwa jemarinya dahulu pernah merancang senjata pemusnah kesadaran paling berbahaya di dunia. Bagi dirinya yang sekarang, ia hanyalah seorang penjaga kedai memori kecil yang menikmati ketenangan pagi.

Dentang lonceng pintu depan berbunyi nyaring.

Rian memutar tubuhnya dan menyunggingkan senyum ramah. "Selamat pagi. Selamat datang di—"

Kalimatnya terhenti sejenak ketika melihat wanita bergaun hitam sederhana melangkah masuk. Wanita itu membawa sebuah koper kecil, rambut cokelatnya terurai bebas dihiasi angin pagi. Wajahnya cantik, namun memancarkan kelelahan yang menyimpan cerita begitu dalam.

Itu Maya.

Maya membeku di ambang pintu, menatap Rian. Dada wanita itu bergemuruh setiap kali melihat Rian yang sekarang—seorang pria yang sepenuhnya bebas dari beban masa lalunya.

"Selamat pagi," ujar Maya lembut, melangkah mendekati meja kayu utama. "Apa tempat ini menerima seseorang yang hanya ingin minum kopi dan berbagi cerita?"

Rian terkekeh pelan, menyapu meja kerja dengan kain bersih. "Tentu saja. Di sini kita tidak menjual atau membeli ingatan orang lain lagi. Kita hanya mendengarkannya."

Rian menuangkan secangkir kopi panas ke atas meja, lalu duduk di kursi berhadapan dengan Maya. Ia menatap wajah wanita itu dengan rasa penasaran yang hangat, seolah merasakan keakraban misterius yang tak bisa dijelaskan oleh logikanya.

"Kau terlihat seperti seseorang yang telah menempuh perjalanan yang sangat jauh," kata Rian tulus.

Maya tersenyum, menyentuh cangkir kopi yang hangat dengan kedua tangannya. Matanya sedikit berkaca-kaca, namun ada kedamaian mendalam di sana.

"Ya, perjalanannya sangat panjang dan berbahaya," bisik Maya, menatap lurus ke dalam mata hitam Rian yang jernih. "Aku kehilangan banyak hal di sepanjang jalan... tapi aku juga menemukan kembali apa yang paling berharga."

"Apa itu?" tanya Rian penasaran.

Maya menatap keluar jendela, melihat sinar fajar keemasan yang perlahan menerangi debu-debu kota Neo-Veridia yang mulai bangkit.

"Kebebasan untuk memilih," jawab Maya pelan. Ia lalu kembali menatap Rian, menyunggingkan senyum paling tulus yang pernah ia miliki. "Dan kesempatan untuk memulai sebuah cerita baru dari halaman pertama."

Rian tersenyum mengangguk, merasa dadanya dihangatkan oleh perasaan yang sangat familiar. Ia mengulurkan tangannya di atas meja.

"Aku Rian," katanya memperkenalkan diri dengan polos.

Maya menggenggam tangan Rian erat-erat, merasakan kehangatan yang akhirnya kembali secara utuh.

"Aku Maya," jawabnya. "Senang berkenalan dengarmu kembali, Rian."

Di luar jendela, fajar menyingsing sempurna di atas langit Neo-Veridia. Di atas debu dan reruntuhan masa lalu yang kelam, sebuah awal yang baru kini resmi dimulai.

1
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!