NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Minggu berganti, dan badai PTS akhirnya resmi berlalu. Suasana SMA Astra Nova kembali melonggar, meski para siswa kini mulai harap-harap cemas menunggu lembar hasil ujian dibagikan.

Di sudut lorong loker siswa yang agak sepi di lantai dua, Jasver sedang sibuk menjejalkan beberapa buku cetak tebal ke dalam lokernya. Angin sore yang berembus dari jendela ujung koridor membawa aroma hujan yang belum sepenuhnya reda.

Klek.

Jasver menutup pintu lokernya, lalu berbalik. Langkahnya terhenti saat melihat sosok Aery berdiri hanya beberapa meter darinya, sedang memasukkan kunci ke loker nomor 14. Loker yang tepat berada di sebelah loker miliknya.

"Eh, Aery," sapa Jasver refleks. Senyum ramahnya terbit secara alami. "Belum pulang?"

Aery menoleh singkat, merapikan beberapa helai rambut yang lolos dari kuncirannya. "Belum, Ver. Lagi beres-beres loker sebentar, sekalian nunggu gerimisnya reda."

"Ooh..." Jasver menyandarkan bahunya ke deretan loker besi, mengamati Aery yang sibuk menyusun novel-novel ber-cover tebal di dalam sana.

Melihat Aery yang tampak begitu tenang dan rapi seperti biasa, rasa penasaran yang sudah lama mengendap di kepala Jasver mendadak muncul. Jasver menyilangkan tangan di dada, lalu bertanya dengan nada santai yang kasual.

"Ry, gue penasaran deh," ucap Jasver, menyunggingkan cengiran tipis. "Lo tuh dari dulu–maksud gue pas masa-masa SMP emang udah sepinter dan sekalem ini ya? Apa dulu lo pernah ada fase konyol atau pecicilan gitu kayak si Ren?"

Jasver terkekeh pelan di akhir kalimatnya, membayangkan versi kecil Aery yang mungkin tidak sedingin sekarang.

Namun, bukannya tertawa atau membalas candaannya, jemari Aery yang sedang memegang buku mendadak membeku di udara.

Suara kekehan Jasver perlahan menghilang saat menyadari perubahan atmosfer di antara mereka. Suasana di koridor sepi itu mendadak terasa begitu pekat dan mencengkeram.

Aery tidak segera menjawab. Ia perlahan menutup pintu lokernya dengan gerakan yang sangat pelan.

Bunyi pintu besi yang tertutup itu terdengar begitu bergetar di telinga Jasver.

Saat Aery memutar tubuhnya menghadap Jasver, raut wajah manis yang biasanya dihiasi senyum tipis atau kehangatan sopan itu hilang tanpa sisa. Matanya menatap Jasver dengan sorot yang teramat dingin. Dingin, tajam, dan sama sekali tak tersentuh, seolah-olah ada tembok es raksasa yang mendadak berdiri di antara mereka.

"Masa SMP gue bukan sesuatu yang lucu buat dijadiin bahan candaan, Ver," ucap Aery. Suaranya terdengar datar, halus, tapi begitu menusuk hingga sanggup membekukan udara di sekitar mereka.

Jasver tertegun. Jantungnya berdegup kencang karena kaget. "E-eh... sori, Ry. Gue ngga maksud–"

"Ngga usah dibahas lagi," potong Aery cepat, suaranya sangat dingin tanpa ada sedikit pun celah untuk ditawar.

Aery mengunci lokernya dengan sekali putaran kunci yang tegas, lalu menarik tas punggungnya ke bahu. Tanpa memandang Jasver lagi, Aery melangkah pergi begitu saja melintasi lorong, meninggalkan Jasver yang masih berdiri mematung di depan deretan loker besi.

Jasver menatap punggung Aery yang perlahan menghilang di belokan tangga. Tangannya yang terkulai di samping tubuh mengepal pelan.

Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Aery, Jasver menyadari satu hal: di balik sosok cewek sempurna, pintar, dan anggun yang selama ini dikagumi semua orang, termasuk dirinya dan Bumi, ada sebuah rahasia dari masa lalu yang dijaga Aery rapat-rapat dengan dinding es yang teramat kokoh.

♧♧♧

Suara derit sepatu karet yang bergesekan dengan lantai lapangan indoor menggema riuh di gedung olahraga sekolah. Bola voli melayang keras melewati jaring sebelum akhirnya mendarat dengan dentuman nyaring di area lawan.

"BAGUS, VER! SERVIS KAMU MANCUR!" teriak pelatih ekskul dari pinggir lapangan.

Jasver mendarat dengan kedua kakinya, napasnya tersengal-sengal. Keringat membahasi dahi dan kaus latihan hitamnya. Sejak insiden di depan loker kemarin sore, Jasver melampiaskan seluruh rasa bingung dan penasarannya lewat bola voli.

Saat jeda istirahat, Jasver berjalan gontai ke pinggir lapangan, menyambar botol air mineral dan mendudukkan dirinya di tribun kayu. Dari kejauhan, anak-anak ekskul Musik, termasuk Bumi, sedang berjalan membawa case gitar menuju studio seni. Di lapangan basket luar, Ren juga sedang sibuk dengan kegiatannya.

Jasver menenggak air minumnya sampai habis, lalu menyandarkan kepala ke dinding gedung olahraga. Wajah dingin Aery kemarin sore masih terus membayangi pikirannya.

"Napa lo? Muka kayak abis digulung ombak gitu."

Suara Farah mendadak menyapa dari samping. Cewek itu baru saja selesai dari sesi latihan Karate di aula sebelah dan kebetulan lewat untuk mengambil tasnya di dekat tribun voli. Farah melemparkan handuk kecil ke pangkuan Jasver.

Jasver mengusap keringat di wajahnya dengan handuk itu, lalu mendesah panjang. "Far... lo kan satu SMP sama Aery. Lo tau ngga sih kenapa respon dia bisa sedingin itu kemarin?"

Langkah Farah yang hendak mengambil tasnya mendadak terhenti total. Tubuhnya membeku sebentar sebelum akhirnya ia menoleh, menatap Jasver dengan raut yang sulit diartikan.

"Maksud lo? Lo nanya apa ke Aery?" suara Farah memelan, ada nada waspada yang berusaha ia sembunyikan.

Jasver menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Kemarin di depan loker gue cuma iseng nanya... dulu pas SMP dia sepinter dan sekalem ini juga atau ngga. Eh, responnya langsung dingin banget, Far. Beneran kayak orang asing. Gue jadi ngerasa bersalah banget."

Farah diam. Jemarinya meremas tali tasnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapan matanya yang biasa tegas mendadak goyah, mengarah ke lantai tribun yang berdebu.

Ia ingat betul. Farah adalah satu-satunya orang diantara mereka berempat yang berada di sekolah yang sama dengan Aery waktu SMP. Dan Farah tau betul kenapa pertanyaan Jasver bisa menghantam Aery sedalam itu.

Bukan cuma karena Aery pernah dijauhi dan dijadikan bahan rumor di SMP dulu... tapi karena di masa lalu itu, Farah–secara sengaja maupun tidak, ikut terlibat di dalamnya. Farah yang dulu kurang dewasa, sempat ikut terpengaruh oleh lingkungan dan memilih diam tanpa membela Aery, bahkan pernah menyampaikan kata-kata yang akhirnya memicu kehancuran mental Aery saat itu.

Sebuah penyesalan seumur hidup yang akhirnya membuat Farah berusaha mati-matian menjadi pribadi yang lebih baik dan menjaga Aery di SMA ini sebagai bentuk "penebusan dosa".

"Far? Kok malah ngelamun?" tegur Jasver heran, memperhatikan perubahan raut muka Farah.

Farah tersentak pelan. Ia buru-buru menarik napas dalam-dalam untuk menguasai dirinya, menelan rapat-rapat pahitnya masa lalu yang hampir saja memuncak di wajahnya.

"Ngga usah kepo, Ver," potong Farah cepat. Suaranya terdengar kaku dan jauh lebih dingin dari biasanya. "Gue emang satu SMP sama Aery, tapi itu bukan ranah gue buat cerita. Dan bukan ranah lo juga buat korek-korek."

Jasver menaikkan alisnya, kaget melihat respon Farah yang mendadak defensif. "Loh, gue kan cuma nanya, Far..."

"Makanya jangan asal nanya!" tegur Farah agak keras, membuat beberapa anak voli melirik ke arah mereka. Farah sadar dirinya kelepasan, lalu menurunkan nadanya, walau matanya masih memancarkan luka dan rasa bersalah yang teramat dalam. "Masa SMP Aery itu bukan hal yang menyenangkan. Jangan pernah bahas itu lagi di depan dia... ataupun di depan gue."

Jasver mematung di tempatnya. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang sangat berat, kelam, dan tertutup rapat di balik kata-kata Farah tadi. Farah bukan cuma sekedar menyuruhnya berhenti, tapi Farah seperti sedang melindungi sebuah rahasia besar. Rahasia yang tampaknya juga menggerogoti rasa bersalah di dalam diri Farah sendiri.

"Far, lo... ngga apa-apa?" tanya Jasver pelan, menyadari keterkejutan dan getaran halus di tangan cewek itu.

Farah tidak menjawab. Ia menyampirkan tasnya ke bahu dengan terburu-buru, memalingkan wajahnya agar Jasver tak melihat sudut matanya yang mendadak memerah.

"Gue duluan. Mending lo minta maaf ke Aery tanpa perlu nanya-nanya sebabnya lagi," ucap Farah dingin sebelum akhirnya berbalik dan melangkah cepat meninggalkan gedung olahraga.

Jasver menatap punggung Farah yang melangkah menjauh dengan pikiran yang makin berkecamuk. Di tengah lapangan gedung olahraga yang riuh, Jasver perlahan menyadari bahwa luka di masa lalu Aery ternyata menyimpan bayangan yang jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.

♧♧♧

Malam setelah latihan voli yang menguras tenaga, Jasver memutuskan untuk mampir ke rumah Bumi. Sesuai janji di grup, Ren yang baru selesai latihan basket juga menyusul tak lama kemudian.

Awalnya, niat utama mereka bertiga murni satu: mabar Mobile Legends sampai tengah malam. Tapi begitu tiba di rumah Bumi, niat itu langsung menguap begitu Mbak Lis membisikkan bahwa keponakan Bumi yang masih bayi sedang menginap dan baru saja tertidur pulas di kamar atas.

Alhasil, daripada disemprot gara-gara teriak saat mabar, Trio Curut itu berakhir duduk melingkar di atas karpet tebal ruang tengah. Sebuah lampu meja bernuansa hangat menyala redup, menciptakan suasana malam yang tenang diiringi aroma martabak telur yang dibeli Ren di jalan tadi.

"Parah sih, gagal push rank malam Minggu ini," bisik Ren pelan sambil menyandar lesu ke sofa, mengunyah potongan martabaknya. "Tapi ngga apa-apa deng, demi dedek bayi yang lucu itu."

"Makasih ya, guys. Udah mau ngerti," jawab Bumi halus. Ia menuangkan teh hangat dari teko ke dalam tiga cangkir keramik. "Suara stik atau jeritan lo pas kalah kan lumayan menggelegar, Ren."

Jasver tertawa pelan tanpa suara. Namun, berbeda dengan Ren yang sibuk memikirkan game, kepala Jasver sedari tadi terus berputar. Kejadian di depan loker bersama Aery kemarin sore, ditambah reaksi defensif Farah di tribun voli tadi sore, membuat pikirannya benar-benar buntu.

Jasver menyeruput teh hangatnya pelan. Ia menatap Bumi, lalu bergantian melirik Ren. Rasa penasarannya sudah mencapai batas.

"Bum, Ren..." panggil Jasver dengan nada suara yang sengaja dipelan-pelankan. "Gue boleh nanya sesuatu? Tapi serius, jangan dipotong dulu."

Bumi memiringkan kepalanya sedikit, merespons perubahan nada bicara Jasver yang mendadak tidak sebercanda biasanya. "Nanya soal apa, Ver?"

Ren yang tadinya mau menyambar potongan martabak kedua mendadak menghentikan tangannya. "Wah, tumben amat mukanya serius. Kesambet setan lo?"

Jasver menghembuskan napas panjang, menatap karpet di bawah kakinya. "Soal Aery. Dan... Farah."

Nama kedua cewek itu seketika membuat keheningan di ruang tengah terasa makin pekat.

"Gue cerita jujur ya," lanjut Jasver pelan. "Kemarin sore di depan loker, gue ngga sengaja nanya ke Aery soal masa SMP-nya. Maksud gue murni cuma bercanda, pengen tau dia dulu sepinter dan sekalem ini juga apa engga. Tapi... respon Aery mendadak dingin banget. Beneran kayak tembok es. Gue langsung diusir secara halus."

Ren menaikkan alisnya, agak kaget. "Hah? Aery yang semanis itu bisa dingin?"

"Bisa, Ren. Dan serem banget," kata Jasver, lalu melirik Bumi. "Terus tadi sore abis voli, gue cerita ke Farah. Kan Farah satu SMP tuh sama Aery. Gue cuma nanya kenapa Aery bisa sebenci itu kalau masa SMP-nya dibahas. Tapi respon Farah... malah makin aneh."

Jasver memajukan badannya, menatap dua sahabatnya lekat-lekat.

"Farah yang biasanya ceplas-ceplos mendadak kaku. Dia ngebentak gue, nyuruh gue jangan pernah korek-korek masa SMP Aery lagi, bahkan di depan dia sekalipun. Muka Farah tadi sore tuh bukan cuma marah, tapi kayak... panik dan nahan rasa bersalah yang gede banget." Jasver meremas cangkir tehnya. "Gue ngerasa ada sesuatu yang kelam di masa lalu mereka berdua yang sengaja disembunyiin rapat-rapat."

Ren terdiam, menatap Jasver lalu beralih menatap Bumi dengan raut bingung. "Masa sih? Farah kan emang galak, Ver. Tapi kalau sampe panik gitu... aneh juga ya."

Bumi yang duduk di hadapan Jasver tetap mempertahankan posisi diamnya. Jemari Bumi mengusap pinggiran cangkir tehnya secara perlahan. Raut wajah Bumi tetap tenang, namun matanya yang teduh menyiratkan bahwa ia mengerti sesuatu yang tidak diketahui oleh Jasver dan Ren.

"Bum," panggil Jasver pelan, menyadari keterdiaman Bumi. "Lo anak band, pinter, dan lo udah kenal Aery cukup dekat belakangan ini. Lo... tau sesuatu ngga soal mereka berdua?"

Bumi menatap Jasver dalam-dalam. Di balik lampu remang ruang tengah itu, Bumi menghembuskan napas pelan, seolah sedang menimbang-nimbang sejauh mana ia boleh bicara tanpa merusak rahasia seseorang.

"Ver," ucap Bumi dengan suara teramat lembut namun penuh penekanan. "Kadang, ada luka di masa lalu yang ngga perlahan sembuh cuma gara-gara waktu berjalan. Ada orang yang memilih menguburnya rapat-rapat biar bisa bertahan hidup di hari ini."

Bumi menatap Jasver lurus ke dalam matanya. "Kalau Aery dan Farah sama-sama minta lo buat ngga bahas itu lagi... saran gue, mending lo turutin. Jangan paksa mereka buat buka luka yang mungkin belum kering."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!