NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Jatuh Cinta Pada Brondong SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: yuni93

Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keterpaksaan

Suasana restoran perlahan ditinggalkan di belakang mereka. Angin malam yang sejuk menyapa kulit Yena, namun tak mampu mendinginkan dada yang terasa sesak. Langkah keduanya melintasi area parkir yang remang-remang, menuju mobil hitam mengkilap yang terparkir tak jauh dari sana. Hening menyelimuti mereka, hanya terdengar suara langkah kaki dan deru kendaraan yang jauh.

Tepat sebelum Yena sempat membuka pintu mobil, tangan Arga tiba-tiba menahan bahunya. Lembut namun tegas, memutar tubuh Yena hingga berhadapan sepenuhnya dengannya. Belum sempat Yena bersuara, punggungnya sudah disandarkan perlahan ke pintu mobil yang dingin, sementara tubuh Arga menutupinya dari depan—membuatnya terperangkap di antara bodi mobil dan dada bidang pria itu.

Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Napas hangat Arga menyentuh pelan dahi Yena, dan saat itu Yena tanpa sadar menatap lekat wajah pria itu. Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, garis wajah Arga terlihat begitu tajam dan sempurna—ketampanan yang dulu membuatnya jatuh cinta, namun kini justru terasa mengintimidasi dan menyesakkan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena rindu, melainkan karena takut dan gugup yang melanda seketika.

Arga menatap bibir Yena sekilas, lalu kembali menatap matanya, dan berbisik dengan suara serak yang rendah, lembut namun penuh tuntutan:

"Sayang....Kamu sudah benar-benar menjauhi laki-laki asing itu, kan?"

Tubuh Yena menegang seketika. Ia menelan ludah dengan susah payah, matanya tak berani berkedip menatap manik mata Arga yang gelap dan tak terbaca. Gugup melanda setiap inci tubuhnya, namun ia tahu ia tak boleh berbohong—terutama kepada pria yang sedemikian menguasai segalanya.

"Aku... aku sudah menjauhinya," jawab Yena dengan suara yang sedikit bergetar, matanya tak berani lepas dari tatapan Arga.

"Dan tolong... kau harus menepati janjimu untuk tidak mengganggunya lagi. Biarkan dia tenang."

Seketika, senyum tipis melengkung di sudut bibir Arga—senyum penuh kepuasan dan kemenangan yang membuat bulu kuduk Yena meremang. Ia tak menjawab dengan kata-kata, hanya mengangguk pelan, lalu perlahan mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir Yena dengan lembut namun mendesak.

Yena membeku di tempat. Ia tak bisa mengelak, tak bisa menolak. Dulu, ciuman seperti ini selalu terasa penuh kasih sayang dan kehangatan. Namun malam ini... terasa begitu berbeda. Dingin, penuh kepemilikan, dan seolah-olah sedang menandai sebuah benda yang telah menjadi miliknya sepenuhnya. Tak ada rasa cinta, hanya tuntutan dan pernyataan kekuasaan yang mutlak.

Bibir Arga bergerak lembut di bibirnya, memanjang, mendesak, hingga Yena tanpa sadar memejamkan matanya rapat-rapat. Tangannya yang sedari tadi tergantung di sisi tubuh akhirnya terangkat dan mencengkram erat punggung jas Arga—bukan karena merindukannya, melainkan karena rasa takut dan tak berdaya yang mendesak keluar.

Belum sempat Yena bernapas, bibir Arga bergerak turun, menyusuri garis rahangnya, lalu mendarat di bagian leher samping yang sensitif—menciumi kulitnya dengan sengaja, menandai wilayah itu sebagai miliknya. Sebuah tanda kepemilikan yang tak bisa disembunyikan, yang akan terlihat jelas saat Yena menunduk atau rambutnya sedikit terurai.

Yena hanya diam, tubuhnya kaku, matanya masih terpejam rapat. Ia tak mendorong, tak membalas, tak berbicara. Hanya membiarkan hal itu terjadi, seolah jiwanya telah meninggalkan tubuhnya sendiri sementara rasa jijik dan takut merayap naik dari ulu hati. Ciuman itu terasa seperti rantai yang mengikatnya semakin erat, menjauhkannya dari segala hal yang pernah membuatnya merasa hidup—termasuk Juvan.

Saat Arga akhirnya menarik wajahnya kembali, napasnya sedikit memburu namun matanya berkilat penuh kepuasan. Ia menatap bekas kemerahan yang mulai terlihat di leher Yena dengan senyum puas, lalu menatap gadis itu kembali.

"Bagus," bisiknya serak, sambil mengusap lembut pipi Yena dengan ibu jarinya.

"Ingat baik-baik, Yena. Kamu milikku. Hanya aku. Dan tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku. Termasuk anak kecil itu."

Yena tetap diam, menunduk sedikit agar tak perlu menatapnya. Ia menggigit bibirnya dalam-dalam, menelan rasa pahit yang membludak di tenggorokan. Tak ada yang bisa ia lakukan. Tak ada yang bisa ia katakan. Malam itu, di parkiran yang sepi, ia merasa telah kehilangan sisa kebebasan yang ia miliki—dan tak ada seorang pun yang bisa menolongnya.

Arga tersenyum puas melihat kepasrahan itu, lalu membukakan pintu mobil untuknya.

"Naiklah, sayang. Aku antar kamu pulang."

Yena masuk ke dalam mobil dengan langkah yang terasa berat, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menatap langit malam yang gelap di luar jendela. Di tempat yang tak terlihat oleh Arga, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya—bukan karena sakit, tapi karena rasa bersalah yang luar biasa kepada seseorang yang tak pantas terseret ke dalam neraka ini: Juvan.

Sepanjang perjalanan pulang, keheningan mencekam menyelimuti dalam mobil. Tak ada satu pun kata yang terucap. Yena menatap lurus ke luar jendela, membiarkan cahaya lampu jalan yang berkedip-kedip menyinari wajahnya yang pucat dan lesu. Pikirannya kacau balau, hatinya terasa berat bagai terisi batu—rasa bersalah, muak, dan takut bercampur aduk menjadi satu. Di sampingnya, Arga menyetir dengan tenang, seolah tak ada apa-apa yang terjadi, seolah ia belum saja menandai tubuh gadis itu sebagai miliknya.

Mobil akhirnya melaju pelan dan berhenti tepat di depan pagar rumah Yena. Arga mematikan mesin, lalu segera turun dan berjalan memutar ke sisi penumpang untuk membukakan pintu—lagi-lagi dengan sikap yang tampak sempurna, seolah mereka adalah pasangan yang paling bahagia di dunia. Yena melangkah keluar dengan gontai, menatap lurus ke arah pintu depan rumahnya, tak berani menatap pria di hadapannya.

"Terima kasih..." hanya dua kata itu yang berhasil keluar dari mulutnya—dingin, datar, dan penuh jarak. Ia berniat langsung beranjak pergi, namun belum sempat kakinya melangkah, tangan Arga sudah melingkar di pinggangnya dan menariknya mendekat dengan cepat.

"Sebaiknya tunggu sebentar, sayang," bisik Arga rendah.

Seketika tubuh Yena menempel pada tubuh Arga. Wajah mereka berhadapan lagi, jaraknya begitu dekat hingga napas mereka saling bersentuhan. Arga menatap matanya lekat-lekat, dengan tatapan yang sengaja dibuat sedalam dan sehangat mungkin—seolah berusaha menembus masuk ke dalam hati Yena, seolah berusaha membiusnya kembali, membuatnya jatuh cinta padanya seperti dulu. Ia sengaja melakukan ini berulang kali, berharap pesona dan ketampanannya mampu meluluhkan pertahanan Yena yang tersisa.

Tanpa menunggu persetujuan, wajahnya perlahan mendekat dan bibirnya kembali menyentuh bibir Yena—satu kali lagi, lembut, lambat, dan penuh kepemilikan. Ciuman yang seolah berkata: Kau milikku, dan tak ada yang bisa mengubah itu.

Yena memejamkan matanya rapat-rapat, tubuhnya menegang. Saat bibir Arga akhirnya terlepas, ia langsung berbisik dengan suara yang bergetar dan penuh kepedihan.

"Tolong... berhenti melakukan ini, Arga."

Arga justru tersenyum tipis, jemarinya menyentuh pipi Yena dengan lembut.

"Kenapa harus berhenti? Kau pacarku. Kau milikku. Tak ada salahnya aku melakukan ini padamu, kan?" suaranya tenang, penuh keyakinan yang tak bisa digoyahkan. Ia merasa berhak atas segalanya—termasuk tubuh dan hati Yena.

Arga menarik tangannya perlahan, lalu mengelus pucuk kepala Yena dengan gerakan yang sengaja dibuat manja dan penuh kasih sayang.

"Sudah, masuklah ke rumah dan istirahatlah. Malam ini kau sudah lelah."

Yena hanya mengangguk pelan, tak sanggup lagi mengeluarkan suara. Ia berbalik perlahan, melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikit pun. Pintu depan tertutup di belakangnya, memisahkan dirinya dari sosok Arga yang masih berdiri di sana dengan senyum puas di wajahnya.

Begitu berada di dalam lorong rumah yang sepi, Yena langsung bersandar pada pintu tertutup itu, lututnya lemas hingga ia nyaris terjatuh. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh bibirnya—seolah bekas sentuhan Arga masih menempel di sana, terasa kotor dan menyesakkan. Kemudian jemarinya bergerak perlahan menyentuh leher sampingnya, tepat di tempat Arga menciumi dan menandainya tadi. Kulit di sana terasa hangat, kemerahan, dan tak akan hilang dalam waktu singkat.

Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia merosot turun hingga duduk di lantai dingin, memeluk lututnya erat-erat, menahan isak tangis agar tak terdengar.

Dengan langkah gontai, Yena menaiki tangga satu per satu. Rasanya seolah ada beban berat yang mengikat kakinya, menariknya ke bawah setiap kali ia melangkah. Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia berhenti sejenak, menarik napas panjang berusaha menenangkan dada yang sesak, lalu memutar kenop pintu dan masuk sambil menutupnya perlahan hingga terkunci rapat.

Begitu pintu tertutup, kekuatan yang ia tahan sekuat tenaga sepanjang malam seketika lenyap. Punggungnya tersandar lemah pada permukaan kayu pintu, bahunya merosot, dan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluncur deras membasahi pipi. Ia tidak menangis tersedu-sedu, hanya air mata yang jatuh tanpa suara, menyiratkan kepedihan yang begitu dalam.

Perlahan ia melangkah mendekati cermin besar di sudut kamar. Saat pantulan dirinya tertangkap mata, Yena terpaku. Gaun yang ia kenakan masih rapi, namun wajahnya pucat pasi, matanya sembab dan merah. Tangan gemetar perlahan terangkat menyentuh bibirnya—rasa sentuhan Arga masih terasa di sana, dingin dan penuh paksaan.

Namun yang membuatnya tersentak hebat adalah saat jemarinya menyentuh sisi lehernya. Di sana terlihat jelas bekas kemerahan—bekas ciuman yang ditinggalkan Arga dengan sengaja. Sebuah tanda yang tak bisa disembunyikan, tanda yang seolah berteriak pada dunia bahwa ia telah dimiliki sepenuhnya.

"Kenapa..." bisiknya parau, air mata semakin deras mengalir. "Kenapa harus begini? Kenapa semuanya terasa begitu sulit?"

Ia merasakan tubuhnya seolah kotor, meski tak ada hal yang melanggar batas kesopanan yang terjadi. Namun sentuhan Arga, kata-katanya, ancamannya, dan kepasrahan yang harus ia pilih... semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai.

Yena menjatuhkan dirinya ke tepi ranjang, menekuk lutut dan memeluknya erat, menyembunyikan wajah di antara lutut. Di tengah kekacauan perasaannya, bayangan wajah Juvan muncul begitu saja di benaknya—wajah yang tulus, tatapan yang penuh kekhawatiran, dan senyum yang selalu bisa menenangkannya. Hati Yena semakin perih. Rasa bersalah menyayat ulu hatinya. Ia sudah berjanji menjauh demi keselamatan remaja itu, namun setiap detik yang berlalu justru membuatnya semakin merindukan kehadiran Juvan.

"Maafkan aku, Juvan..." isaknya pelan, suaranya pecah. "Maafkan aku karena harus pergi"

Malam itu, Yena terbaring di atas kasurnya yang empuk namun terasa dingin, menatap langit-langit kamar dengan mata yang tak kunjung terpejam. Di luar sana, Arga mungkin sudah pulang dengan hati puas, sementara di dalam sini, Yena merasa seperti hancur berkeping-keping tanpa ada yang peduli.

1
Visitor3579
Kagak perlu didengerin, klo udah ketahuan selingkuh ya ketahuan ajah. ga usah pake sok nyesal
Visitor3579
Cowok bloooon
Visitor3579
Gilak, dari sini Yena trauma sih buat jatuh cinta lagi. Plisss Yena kuat kan gak menye2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!