Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Pagi datang dengan langit yang mendung. Udara terasa lebih dingin dari biasanya ketika Haris bersiap meninggalkan rumah. Ia mengenakan kemeja hitam dan celana panjang berwarna gelap. Wajahnya terlihat serius sejak turun dari kamar.
Indri sudah menunggu di ruang keluarga. Sejak semalam, matanya masih terasa berat akibat menangis. Namun ia berusaha menyembunyikan semuanya dengan riasan tipis.
Vano datang beberapa menit kemudian. "Kita berangkat sekarang?" tanyanya.
Haris mengangguk. "Iya. Pemakaman akan dimulai tidak lama lagi."
Indri berdiri ikut berdiri.
Haris menatap putrinya sebentar.
"Kamu yakin mau ikut? Kamu kelihatan sedang tidak enak badan."
Indri hanya mengangguk mengangguk.
Haris tidak lagi bertanya. Mereka bertiga kemudian berangkat menuju pemakaman. Sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan.
Haris sesekali melihat ke luar jendela. Vano sibuk menatap ponselnya. Sementara Indri hanya diam. Ia berusaha menguatkan dirinya. Namun semakin dekat kendaraan mereka menuju lokasi, semakin berat napasnya.
Pemakaman itu ramai. Beberapa rekan bisnis, kerabat, dan orang-orang yang mengenal Evan telah berkumpul.
Begitu turun dari mobil, Indri langsung merasakan suasana duka yang begitu kuat. Tidak ada yang tahu rahasia yang ia bawa. Semua orang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Dan di antara kerumunan itu, Indri melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
Rio. Asisten pribadi Evan. Pria itu berdiri beberapa meter dari pusara, mengenakan pakaian hitam. Wajahnya tampak tenang, tetapi matanya menyimpan kesedihan. Ia berdiri sendirian.
Menatap peti jenazah yang perlahan diturunkan ke liang lahat.
Indri berhenti sejenak. Tatapannya bertemu dengan Rio.
Rio hanya mengangguk kecil sebagai tanda menyapa. Indri membalas dengan anggukan.
Tidak ada percakapan. Beberapa saat kemudian, prosesi pemakaman dimulai. Haris berdiri bersama Vano dan Indri.
Doa dibacakan. Suasana semakin hening. Indri menundukkan kepala. Tangannya saling menggenggam erat. Ia tidak berani menatap pusara terlalu lama. Namun ketika tanah mulai menutupi tempat peristirahatan terakhir Evan, dadanya terasa sesak.
Benar-benar sudah berakhir. Tidak akan ada lagi Evan yang datang mencarinya. Tidak akan ada lagi suara pria itu. Tidak akan ada lagi tatapan penuh dendam. Namun anehnya, semua itu justru membuat Indri merasa semakin kehilangan.
Ia menutup mata. "Maaf." Hanya satu kata yang keluar di dalam hatinya. Tidak ada seorang pun yang mendengarnya.
Setelah prosesi selesai, para pelayat mulai meninggalkan area pemakaman.
Haris mendekati Rio. "Pak Rio."
Rio menoleh. "Pak Haris."
Haris menjabat tangannya. "Saya turut berduka cita."
"Terima kasih, Pak." Rio menarik napas panjang. "Semua ini masih terasa sulit dipercaya."
Haris mengangguk. "Saya juga tidak menyangka Pak Evan akan secepat ini meninggalkan kita semua."
Rio kemudian melirik Indri dan Vano. "Terima kasih sudah datang."
"Kami datang sebagai penghormatan terakhir untuk Evan," jawab Vano, sementara Indri hanya diam.
Rio kembali menatap pusara. "Beliau memang keras." Senyum tipis muncul di wajahnya. "Tapi selama saya bekerja dengannya, saya tahu dia sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya."
Haris mengangguk. "Itu yang saya kenal darinya."
Beberapa saat mereka terdiam.
Kemudian Rio berkata, "Pak Haris, mengenai kerja sama proyek antara perusahaan Bapak dan Evara Capital..."
Haris menatapnya. "Bagaimana kelanjutannya?"
"Jangan khawatir." Rio menjawab tenang. "Saya akan melanjutkan pengurusan kerja sama tersebut."
Haris sedikit terkejut. "Anda?"
Rio mengangguk. "Selama ini saya yang mendampingi Pak Evan dalam sebagian besar urusan proyek. Semua dokumen dan perkembangan kerja sama ada dalam penanganan saya. Atas arahan dewan direksi, saya akan menjadi orang yang mengurus kelanjutan proyek tersebut sampai ada keputusan berikutnya."
Haris mengangguk. "Kalau begitu, kita tetap bisa melanjutkan kerja sama."
"Tentu, Pak." Rio tersenyum tipis. "Saya akan memastikan semua berjalan sesuai kesepakatan yang sudah dibuat."
Indri yang sejak tadi diam, tiba-tiba menatap Rio. Ada sesuatu dalam ketenangan pria itu yang membuatnya merasa aneh. Rio sama sekali tidak terlihat berduka. Padahal baru saja kehilangan atasannya.
Pria itu tampak sangat terkendali. Namun mungkin itu hanya karena Rio telah terbiasa menjadi orang yang selalu berdiri di belakang Evan.
Indri segera mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin terlalu banyak berpikir.
Haris kemudian berkata, "Kalau begitu, kita akan menunggu kabar darimu."
"Baik, Pak." Rio kembali menatap pusara Evan. "Beliau memang sudah tidak ada, tapi tanggung jawab yang ditinggalkannya tetap harus diselesaikan."
Kalimat itu membuat Indri kembali terdiam. Tanggung jawab. Kata itu terus terngiang di kepalanya. Evan telah pergi.
Tetapi segala sesuatu yang ditinggalkannya masih ada.
Perusahaan, rekan bisnis. Dan tentu saja... masa lalu.
Indri menundukkan kepala. Ia sempat berpikir bahwa dengan kematian Evan, semuanya akan selesai. Ternyata tidak. Kematian seseorang tidak pernah menghapus akibat dari kehidupan yang ditinggalkannya.
Haris menyentuh bahu Indri yang tampak melamun. "Indri, kita pulang."
Indri mengangguk. "Iya, Pa."
Ia berjalan mengikuti Haris dan Vano. Namun sebelum meninggalkan pemakaman, Indri menoleh sekali lagi.
Pusara Evan terlihat sama di antara makam-makam lain. Tidak ada lagi sosok pria yang selama ini menjadi sumber ketakutannya.
Indri menarik napas panjang.
"Selamat jalan, Evan." Suaranya begitu lirih. Kemudian ia berbalik.
Ia tidak menyadari bahwa dari kejauhan, Rio masih berdiri di dekat pusara.
Pria itu menatap kepergian Indri dengan ekspresi yang sulit dibaca.
...
Sepulang dari pemakaman, Indri hampir tidak berbicara. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi wajah Evan yang untuk terakhir kalinya ia lihat dalam sebuah foto yang terpajang di antara bunga-bunga duka.
Mereka tiba di rumah menjelang siang. Haris dan Vano masih berbincang di ruang keluarga mengenai pekerjaan yang sempat tertunda setelah kepergian Evan.
Indri tidak ingin mendengar apa pun, ia memilih untuk segera ke kamarnya. "Aku ke kamar dulu, Pa."
Haris menoleh. "Kamu istirahatlah. Wajahmu pucat."
Indri mengangguk. "Iya, Pa." Ia menaiki tangga dengan langkah perlahan.
Begitu sampai di kamar, Indri menutup pintu. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu dan memejamkan mata. Rasa lelah yang sejak beberapa hari terakhir menumpuk terasa begitu berat.
Ia berjalan menuju ranjang. Bahkan belum sempat mengganti pakaian, Indri sudah merebahkan tubuh.
Ia berharap bisa tidur. Melupakan semuanya. Melupakan Evan, melupakan pemakaman, melupakan keputusan yang telah ia ambil.
Namun baru beberapa menit memejamkan mata, tiba-tiba perutnya terasa tidak nyaman. Indri membuka mata. Rasa mual datang begitu mendadak.
Ia segera bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Tubuhnya membungkuk di depan wastafel. Mual itu semakin kuat hingga membuatnya muntah.
Indri terengah-engah. Ia membasuh wajah dengan air dingin.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke ranjang. Namun rasa mual itu kembali datang. Kali ini disertai pusing. Indri memegang kepalanya.
"Mungkin karena belum makan."
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, mengingat tadi pagi ia memang tidak ikut sarapan sebelum menghadiri pemakaman Evan.
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁