Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Di rumah megah milik Adrian, suasana sore terasa hangat. Adrian sedang duduk di ruang keluarga bersama neneknya, Maharani. Di atas meja tergeletak beberapa dokumen, termasuk hasil pemeriksaan USG yang sejak tadi beberapa kali mereka lihat bersama.
"Dasar anak nakal," gerutu Maharani sambil menggelengkan kepala. Ekspresinya sulit dijelaskan, antara kesal karena cucunya menghamili seorang gadis di luar pernikahan, tetapi juga bahagia karena keluarga mereka akan segera memiliki generasi penerus. "Bisa-bisanya kamu menghamili perempuan sebelum menikah."
Adrian hanya tersenyum tipis. Di balik senyumnya tersimpan rasa bersalah sekaligus kebahagiaan yang sulit disembunyikan.
"Semua terjadi begitu saja, Nek," jawab Adrian pelan. "Dan aku yakin... itu juga pertama kalinya bagi kami berdua."
Ia lalu mengambil lembar hasil USG yang berada di atas meja. Tatapannya melembut ketika melihat gambar kecil yang masih samar itu.
"Yang jauh lebih penting," lanjut Adrian dengan penuh keyakinan, "Kayla sedang mengandung anak kembar. Aku yakin mereka adalah anakku."
Mata Maharani langsung berbinar. Tanpa sadar ia menepuk paha Adrian berkali-kali karena terlalu gembira. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil hasil USG itu, lalu menatapnya lama seolah sedang melihat benda paling berharga di dunia.
Di benak Maharani telah terbayang dua bayi mungil yang kelak akan memenuhi rumah besar keluarga Wijaya dengan tawa. Di usia senjanya, ia merasa Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menimang dua cicit sebelum menutup mata.
"Kamu harus memperlakukan Kayla dengan baik, Adrian," ucap Maharani penuh semangat. "Dia bukan hanya calon istrimu. Dia juga sedang menjaga masa depan keluarga Wijaya."
Adrian menganggukkan kepala pelan. Ia hendak menjawab, tetapi tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja berdering. Nama Kayla muncul di layar.
Senyum Adrian langsung mengembang. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengangkat panggilan itu.
"Pak Adrian... tolong saya... Pak Adrian..."
Suara Kayla terdengar lirih, bergetar, dan dipenuhi kepanikan. Di sela-sela ucapannya, Adrian mendengar suara bentakan, makian, lalu bunyi benturan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Wajah Adrian langsung berubah pucat. Napasnya memburu. Dadanya berdegup begitu keras hingga telinganya sendiri mampu mendengar detaknya.
"Kayla! Kayla, kamu di mana?" teriak Adrian panik.
Namun, tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya suara gaduh dari kejauhan, kemudian sebuah jeritan pelan yang membuat darah Adrian seolah membeku.
"Adrian... tolong aku... selamatkan anak kita..."
Setelah itu sambungan masih tetap terhubung, tetapi tidak ada lagi suara Kayla. Hanya suara-suara samar yang membuat firasat buruk semakin menguasai pikiran Adrian.
"Ada apa, Rian?" tanya Maharani yang sejak tadi memperhatikan perubahan wajah cucunya. Nada suaranya dipenuhi kegelisahan.
Adrian berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.
"Kayla dalam bahaya, Nek," ucapnya dengan napas memburu. "Aku harus menyelamatkannya sekarang juga."
"Aldo!" teriak Adrian dengan suara yang menggema memenuhi rumah.
Tak lama kemudian, Aldo berlari memasuki ruang keluarga.
"Lacak lokasi Kayla sekarang juga! Kerahkan semua orang yang kita punya. Aku ingin tahu dia berada di mana dalam hitungan menit!"
Aldo tertegun. Selama bertahun-tahun menjadi asisten pribadi Adrian, baru kali ini ia melihat atasannya benar-benar kehilangan ketenangan. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi seluruh tim keamanan dan membuka sistem pelacakan pada tabletnya.
Beberapa saat kemudian, tablet di tangan Aldo mengeluarkan bunyi notifikasi.
"Pak!" serunya cepat. "Lokasi Nona Kayla sudah ditemukan."
"Di mana?" tanya Adrian tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya.
Aldo segera menunjukkan titik lokasi pada layar tablet.
Adrian bahkan tidak sempat melihat lebih lama. Ia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar.
"Ayo! Kita berangkat sekarang!"
"Siapkan mobil! Hubungi tim keamanan! Jangan sampai terlambat!" perintah Adrian dengan suara tegas yang membuat seluruh penghuni rumah ikut bergerak.
Maharani ikut berdiri. Meski wajahnya dipenuhi kecemasan, sorot matanya tetap tajam.
"Rian," panggilnya.
Adrian menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh.
"Bawa Kayla pulang ke rumah ini. Apa pun yang terjadi, kamu harus menyelamatkan dia dan dua calon penerus keluarga Wijaya." Suara Maharani terdengar tenang, tetapi penuh wibawa. "Dan siapa pun yang berani menyakiti mereka... jangan biarkan lolos begitu saja."
Adrian mengepalkan kedua tangannya. Tatapannya berubah dingin, dipenuhi kemarahan yang selama ini jarang terlihat.
"Baik, Nek," jawabnya singkat.
Tanpa menunggu sedetik pun lagi, Adrian berlari keluar rumah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar takut kehilangan seseorang. Bukan hanya Kayla, tetapi juga dua kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam kandungan wanita yang telah merebut seluruh hatinya.
Sementara itu, di tempat Kayla berada, suasana semakin mencekam. Tubuh Kayla sudah dipenuhi luka dan memar. Meski kesakitan, kedua tangannya tetap memeluk erat perutnya, berusaha melindungi dua kehidupan kecil yang ada di dalam kandungannya dari balok kayu yang terus diangkat Saraswati.
"Kayla, menyerahlah," ujar Arif sambil terus berusaha menarik kedua tangan adiknya. "Tahan sebentar saja sakitnya. Setelah itu kamu bisa menikah dengan Kak Fendi."
Namun, Kayla menggeleng pelan. Napasnya tersengal, tetapi pelukannya pada perutnya tidak pernah mengendur sedikit pun. Sejak ia gagal menggugurkan kandungan beberapa waktu lalu, ia telah berjanji pada dirinya sendiri. Apa pun yang terjadi, ia akan menjaga anak-anaknya. Bahkan jika harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
"Buka tanganmu, Kayla!" bentak Arif.
Ia kembali berusaha membuka kedua tangan Kayla dengan paksa. Ketika Kayla tetap bertahan, emosinya meledak. Ia kembali menyerang tubuh Kayla tanpa sedikit pun menunjukkan rasa iba.
"Hei! Jangan terus menyakitinya! Bisa mati perempuan itu!" teriak seorang warga yang sudah sejak tadi menyaksikan kejadian tersebut.
"Dia yang membuat malu keluarga kami!" balas Saraswati dengan wajah penuh amarah. "Aku yang membesarkannya sejak kecil. Sebagai ibunya, aku berhak memberi pelajaran. Anak yang dikandungnya itu hanya akan membawa sial!"
Beberapa warga yang semula ingin mendekat kembali menghentikan langkah. Fendi mengacungkan benda tajam ke arah mereka sambil menatap tajam satu per satu.
"Jangan ada yang ikut campur!" bentaknya. "Ini urusan keluarga kami!"
Suasana kembali dipenuhi keheningan yang mencekam. Tak seorang pun berani bergerak, meski wajah mereka memperlihatkan rasa prihatin kepada Kayla.
"Kayla, menyerahlah," ucap Fendi dengan senyum dingin. "Sudah tidak ada lagi yang akan datang menolongmu."
Sudut bibir Kayla mengeluarkan darah. Kepalanya berdenyut hebat. Seluruh tubuhnya terasa nyeri hingga ia hampir tidak mampu lagi menggerakkan kedua tangannya. Namun, pandangannya tetap menatap lurus ke arah jalan raya di kejauhan.
Entah mengapa, di tengah rasa sakit itu, bayangan malam ketika Adrian memeluknya kembali memenuhi pikirannya. Senyum tipis tanpa sadar menghiasi bibir Kayla yang pucat.
Lalu, satu demi satu kenangan masa kecilnya bermunculan. Ia melihat dirinya yang masih kecil mencuci pakaian sendirian dengan tangan mungil, sementara kedua kakaknya dimanja tanpa harus mengerjakan apa pun. Ia mengingat setiap bentakan, setiap tamparan, dan setiap perlakuan tidak adil yang selama ini diterimanya dari orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya.
"Ya Tuhan..." gumam Kayla lirih. "Kenapa hidupku begitu getir? Sepertinya... hari ini aku benar-benar akan mati."
Air matanya mengalir perlahan. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia kembali mengusap perutnya penuh kasih sayang.
"Maafkan Ibu, Sayang," bisiknya kepada kedua bayi di dalam kandungannya. "Ibu manusia yang lemah. Ibu tidak mampu melindungi kalian."
Kayla kembali mengangkat pandangannya ke arah jalan yang semakin kabur.
"Adrian..." gumamnya pelan. "Kamu tidak datang...."
Saraswati menggenggam balok kayu itu semakin erat. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keraguan.
"Nak, semua ini demi kebaikanmu," katanya dingin. "Tahan sebentar saja."
Balok kayu itu kembali terangkat tinggi di udara.
Namun tepat ketika balok itu hendak diayunkan ke arah perut Kayla—
"Hei, hentikan!"
Suara lantang itu menggema di sepanjang jalan, disusul deru beberapa mobil yang berhenti mendadak di depan rumah. Bunyi pintu mobil dibanting hampir bersamaan, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti tempat itu.
Semua orang spontan menoleh ke arah sumber suara.
Seorang pria berjas hitam berlari sekuat tenaga menuju Kayla. Di belakangnya, beberapa pengawal bertubuh tegap turun dari kendaraan dan bergerak cepat mengikuti langkah pria itu.
"Adrian..." gumam Kayla hampir tak percaya.
Melihat sosok itu, dada Kayla yang sejak tadi dipenuhi ketakutan perlahan menghangat. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa dirinya tidak sendirian lagi.
Angin sore kembali berembus pelan, membawa debu yang beterbangan di sepanjang jalan. Suasana tetap terasa dingin, tetapi tidak dengan hati Saraswati, Arif, Niko, dan Fendi. Keempatnya mulai diliputi kecemasan ketika melihat rombongan yang datang bersama Adrian.
Adrian berlari tanpa memedulikan jas hitam yang dikenakannya. Tatapannya hanya tertuju kepada satu orang—Kayla.
Arif sempat melangkah maju, seolah ingin menghalangi Adrian. Namun ketika melihat beberapa pengawal berbadan besar berdiri tepat di belakang pria itu dengan sorot mata tajam, nyalinya langsung ciut. Kakinya berhenti melangkah.
"Kayla..." suara Adrian bergetar.
Saat melihat tubuh Kayla yang dipenuhi luka, wajahnya seketika memucat. Dadanya terasa diremas kuat oleh rasa bersalah. Ia merasa telah gagal menjaga wanita yang kini menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Pak Adrian..." gumam Kayla pelan “akhirnya kamu datang”