Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan yang Tidak Ditanya
Undangan gala tahunan Kane Group masuk ke kotak email seluruh manajemen pukul sepuluh pagi, dan di baris paling bawah, tertulis satu kalimat yang membuat Madoc berhenti membaca selama lebih lama dari yang seharusnya perlu untuk sebuah undangan formal.
Dress code: formal. Peserta dipersilakan membawa pasangan.
Dia membaca kalimat itu tiga kali, lalu menutup emailnya dengan gerakan yang lebih kasar dari biasanya, seolah tindakan itu bisa menghapus pertanyaan yang sudah mulai berputar di kepalanya.
Gwen bakal bawa siapa?
Pertanyaan itu muncul begitu saja, tidak diundang, dan dia tidak punya jawaban untuknya—karena sejauh yang dia tahu, Gwen tidak pernah menyebut siapa pun dalam konteks personal sepanjang enam bulan terakhir mereka bekerja bersama. Tidak ada nama pacar, tidak ada cerita soal seseorang yang spesial, tidak ada apa pun yang bisa dia jadikan patokan.
Tapi ketidaktahuan itu sendiri terasa seperti masalah baru—karena kalau memang tidak ada siapa-siapa, berarti dia akan datang sendirian, dan kemungkinan besar akan berdiri di antara kerumunan tamu yang datang berpasangan, sementara pria-pria lain di lingkaran bisnis yang sama, yang selama ini dia lihat sesekali melempar tatapan tertarik ke arah Gwen di berbagai acara internal, mungkin akan mengambil kesempatan itu untuk mendekat.
Dia menggeleng, mencoba mengusir pikiran itu, tapi tetap saja tidak berhasil sepenuhnya hilang.
---
Persiapan gala itu jatuh di pundak Gwen sebagai bagian dari tanggung jawab operasional—dia yang mengatur logistik acara, mulai dari koordinasi vendor katering, tata letak ruangan, sampai daftar tamu undangan yang harus disesuaikan dengan kapasitas venue.
"Ini bakal jadi acara paling gede tahun ini," katanya ke Bas, sore itu, sambil membuka spreadsheet yang berisi daftar tugas yang harus diselesaikan dalam tiga minggu ke depan. "Tiga ratus tamu, termasuk investor sama mitra bisnis penting."
"Gede juga," kata Bas, ikut membuka daftar itu. "Lo yang atur semua?"
"Sama tim event organizer eksternal, tapi koordinasi utamanya tetap dari kita. Venue-nya di ballroom hotel bintang lima, harus mastiin semua detail sempurna."
Dia menghabiskan minggu-minggu berikutnya sibuk dengan detail teknis—memastikan tema dekorasi sesuai dengan citra perusahaan, mengecek ulang menu katering supaya cocok untuk berbagai preferensi diet tamu, menyusun jadwal acara dari sesi networking sampai lelang amal yang jadi highlight utama gala tersebut.
Dia tidak pernah berpikir dua kali soal siapa yang akan dia ajak sebagai pasangan—baginya, gala ini murni acara kerja, dan dia akan datang sebagai bagian dari tim penyelenggara, bukan sebagai tamu yang perlu memikirkan urusan personal semacam itu.
---
Madoc, di sisi lain, menemukan dirinya sendiri mencari cara untuk mengetahui rencana Gwen tanpa harus bertanya langsung dengan cara yang mencurigakan.
"Kamu udah siapin apa aja buat gala nanti?" tanyanya, di sela rapat progress Meridian sore itu, mencoba terdengar sekadar peduli soal persiapan kerja.
"Udah, Pak. Venue udah fix, vendor katering udah konfirmasi, sekarang lagi finalisasi daftar tamu."
"Bagus." Dia berhenti sebentar, mencoba menemukan cara untuk menyelipkan pertanyaan yang sebenarnya ingin dia tanyakan. "Kamu... sendiri persiapan apa?"
Gwen mengangkat alis, tidak sepenuhnya mengerti maksud pertanyaan itu. "Persiapan apa, Pak?"
"Buat acaranya. Pakaiannya, apa aja."
"Oh, saya udah punya gaun yang cocok. Simpel aja, gak yang terlalu mencolok, biar tetap keliatan profesional."
Itu bukan jawaban yang dia cari, tapi juga bukan pertanyaan yang bisa dia lanjutkan lebih jauh tanpa terdengar aneh. Madoc mengangguk, mengalihkan topik kembali ke laporan progress, mencoba menekan rasa penasaran yang masih tersisa di kepalanya.
Kenapa saya harus tau siapa yang dia bawa, pikirnya, mencoba menenangkan diri sendiri, tapi pertanyaan itu terus muncul kembali setiap kali dia membuka email undangan gala yang masih tersimpan di inbox-nya.
---
Malam itu, di apartemen Gwen, Nadya datang membawa dua kotak makanan seperti biasa, dan percakapan mereka berputar ke topik gala yang sedang jadi fokus kerja Gwen minggu-minggu ini.
"Jadi gala itu bakal gede banget?" tanya Nadya, sambil membuka kotak makanannya.
"Iya, tiga ratus tamu. Gue udah mumet ngatur semuanya."
"Lo bakal dateng sendiri, atau ada yang lo ajak?"
"Sendiri aja," kata Gwen, mengangkat bahu. "Gue kan bagian dari panitia, bukan tamu biasa."
"Panitia juga boleh bawa pasangan kali."
"Buat apa? Gue bakal sibuk ngurusin logistik sepanjang acara, gak ada waktu buat ngobrol sama pasangan."
Nadya mengangguk, tidak mendorong topik itu lebih jauh, tapi kemudian dia teringat sesuatu—cerita kecil yang Gwen sebutkan tadi sore, waktu mereka baru sampai apartemen.
"Eh, tadi lo bilang Pak Kane nanya soal persiapan lo buat gala?"
"Iya, nanya udah siap apa belum. Standar aja kayaknya, kan dia yang mimpin acaranya."
"Dia nanya spesifik soal apa?"
Gwen berpikir sebentar, mencoba mengingat detail percakapan itu. "Nanya soal pakaian, katanya. Terus keliatan kayak agak... bingung pas gue jawab, gatau kenapa."
Nadya menaikkan alis, menyimpan detail itu di kepalanya. "Bingung gimana?"
"Kayak dia mau nanya sesuatu tapi gak jadi. Terus langsung ganti topik ke laporan kerjaan lagi."
---
Nadya diam sejenak, memikirkan cerita itu bersama dengan potongan-potongan informasi lain yang sudah dia kumpulkan sejak beberapa bulan terakhir—kopi pagi yang spesifik, rapat progress yang terlalu sering, tawaran anter pulang dengan alasan yang tidak masuk akal, kursi yang selalu dipilih di sebelah Gwen selama retreat, dan sekarang, pertanyaan aneh soal persiapan gala yang berakhir dengan kebingungan yang tidak dijelaskan.
"Gwen," katanya, akhirnya, meletakkan sendoknya. "Menurut lo, kenapa dia nanya soal itu?"
"Karena dia mimpin acaranya, mungkin mau mastiin semua orang siap."
"Tapi kenapa nanya spesifik soal pakaian lo? Bukan soal logistik acaranya?"
Gwen berhenti sejenak, mencoba memikirkan ulang pertanyaan itu dari sudut yang berbeda, tapi tidak menemukan penjelasan lain selain yang sudah dia simpulkan sebelumnya. "Mungkin emang standar dia buat mastiin semua orang di tim keliatan rapi pas acara resmi."
"Gwen." Nadya menatapnya lama, mencoba mencari cara untuk menjelaskan tanpa terdengar terlalu memaksa lagi seperti sebelumnya. "Coba deh, lo pikirin ulang semua yang udah kejadian selama beberapa bulan ini. Kopi pagi, rapat yang kebanyakan, tawaran anter pulang, kursi yang selalu di sebelah lo pas retreat, sekarang nanya soal gala. Itu semua kayak... pola, gak sih?"
"Pola apaan?"
"Pola orang yang lagi berusaha deket sama lo, tapi belum berani ngomong langsung."
Gwen tertawa, tulus, tidak menganggap kemungkinan itu serius. "Nad, dia CEO. Punya kerjaan lebih penting dari sekadar mikirin hal-hal kayak gitu."
"Justru itu yang aneh," kata Nadya, nadanya lebih serius dari biasanya. "CEO sesibuk itu, tapi masih sempet mikirin kopi pagi buat satu orang doang, masih sempet nanya soal pakaian buat gala. Itu bukan sesuatu yang orang sibuk lakuin kalau gak ada alasan personal di baliknya."
Gwen diam sebentar, mencerna argumen itu, tapi tetap tidak menemukan cara untuk menghubungkannya dengan kemungkinan yang Nadya maksud. "Kayaknya lo kebanyakan mikir, Nad."
"Atau lo yang kurang merhatiin," balas Nadya, tersenyum kecil, memilih untuk tidak mendorong lebih jauh malam itu.
Tapi begitu Gwen berdiri untuk mengambil minuman dari dapur, Nadya diam-diam membuka catatan di ponselnya, menambahkan satu baris baru ke daftar yang sudah semakin panjang.
Gala tahunan: nanya soal pakaian Gwen, kebingungan gak dijelasin. Kemungkinan besar mikirin partner Gwen buat acara itu tanpa berani nanya langsung. Update: masih nol kesadaran dari pihak Gwen.
Dia menutup ponselnya, tersenyum sendiri, dan mulai berpikir—mungkin sudah waktunya dia berhenti cuma mengumpulkan bukti, dan mulai memikirkan cara untuk membuat kedua orang itu sadar sendiri, sebelum pola yang sudah terlalu jelas ini terus berjalan tanpa arah yang pasti.