NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Musuh dari Masa Lalu

Waktu terus melangkah tenang, membawa serta kedamaian yang tampak tak akan pernah goyah. Namun tak ada kedamaian yang abadi selamanya, sebelum diuji sepenuhnya. Suatu sore, saat langit mulai berubah jingga dan Argan baru saja tiba di rumah setelah menyelesaikan urusan di kantor, telepon lama yang sudah lama tak berbunyi tiba-tiba berdering. Itu bukan telepon kantor, melainkan saluran pribadi yang hanya diketahui oleh sedikit orang.

Argan mengangkatnya dengan perasaan yang tiba-tiba gelisah. Dari seberang sambungan, terdengar suara yang sudah lama tak ia dengar—suara yang dulu pernah mengisi hari-harinya, namun kini terdengar begitu parau dan penuh kepahitan.

“Kau pikir kau sudah menang, Argan?” suara Aisyah terdengar tajam, menyusup ke dalam tulang bagai duri. “Kau pikir dengan menikmati hidup bahagia bersama istri dan anakmu, semua kesalahan yang pernah kau lakukan bisa hilang begitu saja?”

Argan berdiri mematung di tempat, napasnya tertahan sejenak. Ia mengira urusan dengan kakak iparnya itu telah selesai sepenuhnya. Bahwa hukuman yang dijatuhkan pengadilan serta pertobatan yang dijanjikannya saat diadili sudah cukup menjadi penutup bagi semua masa lalu. Namun ternyata, luka di hati Aisyah belum kering. Ia justru menyimpan dendam yang makin membara seiring melihat kebahagiaan keluarga Adhyaksa yang semakin bersinar.

“Aisyah,” ucap Argan pelan namun tegas. “Aku tidak ingin memperpanjang perselisihan ini. Semua sudah diadili dan diputuskan secara adil. Jika kau menyesali perbuatanmu, bangunlah hidupmu kembali dengan cara yang benar.”

“Benar?” Aisyah tertawa sinis di seberang sana. “Yang benar adalah kau merebut segalanya dariku. Pengantin yang seharusnya menjadi milikku, keluarga yang seharusnya kuhuni, dan kebahagiaan yang seharusnya kugenggam. Kau mencurinya, Argan. Dan aku tidak akan pernah membiarkannya begitu saja.”

Sambungan terputus. Argan berdiri diam, menatap layar ponsel yang gelap. Rasa cemas perlahan merayap di dadanya. Ia bukan takut untuk dirinya sendiri. Namun ia takut—sangat takut—jika dendam yang masih membara itu mulai mengarah kepada Aruna, atau yang lebih mengkhawatirkan, kepada Arka.

Malam itu, Argan menyampaikan hal itu kepada Aruna dengan jujur. Ia tak ingin menyembunyikan apa pun dari istrinya, sekalipun hal itu mungkin menimbulkan kekhawatiran di hati wanita itu. Aruna mendengarkan dengan tenang, namun genggamannya pada tangan Argan perlahan mengerat.

“Kakakku belum menyadari kesalahannya,” ucap Aruna pelan dengan nada yang sedih namun teguh. “Ia masih berpikir bahwa kebahagiaannya harus dirampas dari kebahagiaan kita. Padahal kebahagiaan tak bisa dicuri atau dirampas paksa.”

“Namun kita tidak boleh menyepelekan ancamannya,” Argan menatap tajam ke arah jendela kamar yang tertutup rapat. “Ia tahu kelemahan kita. Ia tahu siapa yang paling berharga bagi kita. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu atau melukai Arka, walau itu darah dagingmu sendiri.”

Keesokan harinya, Argan memperketat penjagaan di sekeliling rumah dan sekolah Arka. Ia tak lagi membiarkan putranya bermain tanpa pengawasan, dan ia selalu menyempatkan diri menjemput dan mengantar setiap hari. Namun hal itu tak lepas dari perhatian Arka. Suatu sore saat dalam perjalanan pulang, anak itu bertanya dengan polos namun penuh rasa ingin tahu.

“Ayah, kenapa sekarang ada orang-orang yang selalu mengikuti kita ke mana pun pergi? Apakah ada hal buruk yang akan terjadi?”

Argan menoleh ke arah putranya yang duduk di kursi belakang dengan sabuk pengaman terpasang rapi. Hatinya terasa sesak melihat ketulusan di mata anak itu. Ia tak ingin Arka hidup dalam ketakutan, namun ia juga tak boleh membiarkan anak itu tidak waspada.

“Ada seseorang dari masa lalu Ayah dan Ibu yang belum sepenuhnya damai dengan hatinya,” jawab Argan dengan suara yang tenang namun tegas. “Ia mungkin tidak menyukai Ayah. Tapi itu bukan salahmu, Arka. Dan karena itu, Ayah memintamu untuk tetap bersama Ibu atau pengawal setiap kali keluar rumah. Jangan berbicara dengan orang asing, dan jangan pergi ke mana pun tanpa izin. Bukan karena Ayah melarangmu bermain, tapi karena Ayah ingin menjagamu tetap aman.”

Arka mengangguk pelan, seolah mengerti beban yang tersirat di balik kata-kata ayahnya. “Arka mengerti, Ayah. Arka akan menjaga diri. Dan... Ayah jangan khawatir. Jika orang itu datang, Arka akan mendoakannya agar hatinya menjadi baik kembali.”

Mendengar ucapan polos namun begitu dalam dari putranya, hati Argan terasa tersentuh. Ia menatap Arka lekat-lekat lewat pantulan kaca depan, lalu mengangguk pelan.

“Terima kasih, Nak. Itulah yang paling baik. Tetaplah berhati tulus meski orang lain tidak demikian. Namun tetaplah berhati-hati. Karena kebaikan tidak boleh dijadikan alasan untuk melalaikan kewaspadaan.”

Sementara itu, jauh dari kediaman Adhyaksa, Aisyah berdiri mematung di balik jendela rumah kecil tempat ia tinggal sendirian. Di tangannya tergenggam berita tentang ulang tahun Arka yang akan segera tiba—sebuah acara keluarga yang sederhana namun pasti dihadiri oleh semua orang yang dikasihi Argan dan Aruna. Sebuah senyum tipis namun kelam terukir di bibirnya. Ia belum menyerah. Ia justru menemukan celah yang selama ini ia cari.

Musuh dari masa lalu itu ternyata belum benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali muncul. Dan kali ini, ia tak lagi hanya mengincar nama baik atau harta. Ia berniat melukai di bagian yang paling dalam—mengancam kebahagiaan yang tumbuh dari kasih sayang tulus itu, dengan harapan yang kelam: agar Argan dan Aruna merasakan kepedihan yang sama seperti yang ia rasakan selama ini.

 

Lanjut ke Bab 31: Cinta yang Tak Luntur? 📖

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!