Saat membuka matanya, Clarissa Wilson tidak mengingat, kapan dia telah menikah dengan Stephen Sylvester, lelaki yang sudah lama ia suka.
Clarissa ingat, kalau ia baru saja menyatakan rasa sukanya pada Stephen, di acara kelulusan Sekolah mereka, tapi.. kenapa tiba-tiba saat membuka mata, ia sudah memiliki seorang putri berusia lima tahun bersama Stephen?
Apa yang sebenarnya terjadi? Clarissa merasa ada yang ia lewatkan, begitu ia terjatuh saat ingin memeluk Stephen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 7.
Melihat Clarissa diam saja, Stephen tahu Clarissa tidak akan bisa menjawabnya.
Stephen mencoba menahan emosi dalam dirinya, yang ingin kembali memberi pelajaran pada Clarissa.
Selain marah, Stephen juga menahan rasa sakit dalam hatinya, membuat matanya semakin merah ingin menangis.
Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Clarissa, untuk mencoba meredakan rasa marahnya.
Sementara Clarissa masih diam bersandar pada badan lemari, dengan wajah kusut seperti waktu masa sekolah dimarahi kepala sekolah di ruang guru.
Ia mulai gemetar dan gugup, dan juga mulai menangis, karena tidak tahu harus memberi penjelasan apa pada Stephen.
Otaknya buntu!
Stephen yang mencoba meredakan amarahnya, menghela nafas dengan panjang.
Rasa marah dalam dadanya, ternyata masih belum bisa reda.
Ia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Clarissa lagi, dan membuat Clarissa seketika menjadi semakin gugup dan gemetar.
"Kamu tidak dapat menjelaskan, kan? selama ini, kamu setiap hari tahunya hanya mengejar Ethan Grayson, kamu tidak perduli dengan keluargamu! kamu malah selalu memarahi Aurora!"
Stephen memandang Clarissa dengan mata yang semakin merah.
Clarissa dapat melihat, kalau Stephen sangat marah sekali padanya, sampai Stephen ingin menangis karena sakit hati padanya.
Clarissa menggelengkan kepalanya, tidak mengakui, kalau ia mengejar Ethan Grayson, karena ia merasa tidak mengejar pria lain selain Stephen Sylvester.
Clarissa juga mulai menangis, karena mulai takut melihat kemarahan Stephen, yang tidak pernah diperlihatkan Stephen padanya.
Stephen memegang ke dua bahu Clarissa, dan seketika membuat tubuh Clarissa menciut semakin gugup, dan air matanya tidak dapat ia bendung lagi.
"Kamu tahu tidak, Aurora jadi anak kecil yang tertutup sampai sekarang, dia tidak bisa bicara karena kamu!!" Stephen mengguncang tubuh Clarissa.
Mata sembab Clarissa menatap mata Stephen.
Ia melihat air mata Stephen telah mengalir, saat melontarkan kemarahannya kepadanya.
Dan membuat tangis Clarissa semakin deras mengalir, mengetahui keadaan psikis putri kecilnya.
"Coba jelaskan padaku, bagaimana menurutmu! apakah kamu pantas disebut sebagai seorang Ibu? Hah?!!" bentak Stephen mengguncang bahu Clarissa dengan kencang.
Clarissa terperanjat sembari memejamkan matanya, dengan cengkraman tangan Stephen yang begitu erat pada bahunya.
Air matanya yang semakin deras mengalir.
Ia menangis begitu sedihnya mengetahui, apa yang sudah ia lakukan pada putri kandungnya, yang tidak ia ingat selama enam tahun belakangan.
Stephen memandang Clarissa dengan lekat, yang menangis sembari memejamkan matanya, dengan tubuh yang menciut di badan lemari.
Sikap Clarissa terlihat seperti waktu Clarissa berusia delapan belas tahun.
Tidak terlihat seperti Clarissa yang dewasa, yang biasa diperlihatkan Clarissa sejak mereka menikah.
Stephen dengan kesal melepaskan cengkraman tangannya pada bahu Clarissa.
"Tidak, bukan begitu... !"
Sembari menangis, perlahan tangan Clarissa meraih pergelangan tangan Stephen, "Bukan seperti itu, aku sungguh tidak pernah berpikiran sedikit pun untuk menyakiti putri kita! aku sama sekali tidak tahu kenapa bisa seperti ini!"
Stephen dengan wajah yang masih terlihat marah, menarik tangannya dengan kasar dari pegangan tangan Clarissa.
"Cukup! aku tidak ingin mendengar alasanmu lagi!!"
Ia kemudian melangkah ke lemari, lalu membuka pintu lemari, dan mengambil sebuah dokumen dari dalam lemari.
Clarissa menoleh melihat ke arah Stephen, yang telah memegang setumpuk berkas, dalam genggaman kedua tangan Stephen.
"Kamu sangat ingin bercerai dariku, kan?"
Stephen melangkah ke arah meja, lalu menghempaskan berkas itu ke atas meja.
"Aku sudah menandatanganinya, aku mengabulkan keinginan mu bercerai denganku!"
Mata sembab Clarissa sontak membulat mendengar apa yang dikatakan Stephen.
"Tidak! aku tidak mau cerai!!" sahutnya reflek.
Stephen memejamkan matanya mendengar jawaban Clarissa, yang terdengar begitu panik mendengar ia mengabulkan perceraian mereka.
Ia menjadi semakin marah dengan sikap Clarissa, yang semakin tidak ia mengerti.
Bersambung........
ihhh gemesss deh kenapa gk saling jujur gtu. atau komunikasi kek bir gk salah paham... 😭
memang benar sekertaris nya ettan berbohong.baru aj mulai baikan udah mau salah paham lagi...