"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Jeruji yang Berkilau
Deru mesin Rolls-Royce hitam milik Arkan membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Arkan bersandar pada kursi kulitnya. Tatapannya tertuju pada kerlip lampu jalanan yang berkelebat di balik jendela kaca yang gelap. Rahangnya masih mengatup rapat, sisa-sisa amarah dari pertemuannya dengan keluarga Clarissa masih membakar dadanya.
Ponsel di saku jasnya bergetar. Arkan mengambilnya dan melihat sebuah pesan singkat dari Baskara.
“Tuan, peningkatan fasilitas kamar VIP untuk Ibu Karyawan Viona telah selesai dilakukan. Semua tim medis terbaik sudah disiagakan. Karyawan Viona sempat mendatangi rumah sakit siang tadi dan sudah mengetahui hal ini.”
Arkan tidak membalas pesan itu. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu memejamkan mata. Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara, muncul di sudut bibirnya. Dia tahu tindakan ini akan membuat Viona merasa tertekan. Dia tahu gadis itu akan menganggapnya sebagai bentuk pengekangan baru. Namun, Arkan tidak peduli. Selama rantai emas itu bisa menahan Viona agar tidak melangkah pergi darinya, dia akan terus mempererat lilitannya.
Ketika pintu utama penthouse lantai tiga puluh enam terbuka, suasana di dalam ruangan tampak begitu sepi. Lampu utama sengaja dimatikan, hanya menyisakan pendar lampu hias dinding yang temaram, menciptakan siluet yang dramatis di atas lantai marmer.
Arkan melangkah masuk, melepaskan jasnya dan melonggarkan kancing kemeja atasnya dengan gerakan malas. Matanya langsung mencari keberadaan wanita yang memenuhi kepalanya sepanjang hari ini. Dia berjalan menuju kamar tidur utama.
Di sana, di atas ranjang king size bernuansa abu-abu gelap, Viona sedang berbaring miring. Gadis itu sudah mengganti pakaiannya. Malam ini dia tidak lagi mengenakan gaun satin marun yang provokatif seperti semalam, melainkan sebuah piyama katun polos berlengan panjang berwarna putih yang menutupi seluruh tubuhnya hingga ke leher.
Viona tidak tidur. Dia menatap lurus ke arah dinding dengan pandangan kosong. Begitu mendengar suara langkah kaki Arkan mendekat, tubuhnya otomatis menegang, sebuah reaksi naluriah yang tidak bisa dia sembunyikan dari sang tiran.
Arkan duduk di tepi ranjang. Kasur yang ambles karena beban tubuhnya membuat posisi Viona sedikit bergeser. Pria itu mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang bergerak membelai rambut panjang Viona yang terhampar di atas bantal sutra.
"Kau sengaja memakai pakaian ini untuk menghindariku?" suara bariton Arkan memecah keheningan kamar, rendah dan penuh selidik.
Viona perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Arkan dengan mata yang tampak bengkak dan letih. "Saya lelah, Tuan Arkan. Jika Anda menginginkan tugas saya malam ini, silakan lakukan dengan cepat. Saya tidak memiliki energi untuk berdebat."
Mendengar nada suara yang begitu pasrah dan dingin, tangan Arkan yang sedang membelai rambut Viona seketika terhenti. Pria itu mencengkeram dagu Viona, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya yang berkilat tajam.
"Kenapa kau memindahkan ibuku ke kamar VIP tanpa izin saya, Tuan?" tanya Viona sebelum Arkan sempat melayangkan protes. Suaranya bergetar, menahan rasa sesak yang kembali membuncah di dadanya. "Kenapa Anda selalu menggunakan uang Anda untuk mengatur hidupku? Apakah belum cukup tubuhku yang Anda beli, hingga Anda juga harus membeli sisa-sisa kebebasanku melalui ibuku?!"
Arkan menyipitkan matanya. Cengkeramannya di dagu Viona sedikit mengeras. "Aku memberikan perawatan terbaik untuk ibumu, Viona. Seharusnya kau berterima kasih, bukan malah menuduhku yang tidak-tidak."
"Berterima kasih?" Viona tersenyum getir, sebutir air mata lolos dari sudut matanya, membasahi jemari Arkan yang berada di wajahnya. "Anda melakukannya bukan karena peduli pada ibuku, Tuan Arkan. Anda melakukannya untuk mempertegas kontrak ini. Anda ingin memastikan bahwa utang budiku pada Anda semakin menumpuk, sehingga aku tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari pintu penthouse ini, benar kan?!"
Tuduhan Viona tepat sasaran, menghantam kebenaran yang coba Arkan sembunyikan di balik topeng kebaikannya. Rahang Arkan mengeras. Ego posesifnya yang ekstrem tidak suka jika motif tersembunyinya ditelanjangi seperti ini.
"Jika iya, lalu kenapa?!" desis Arkan kejam, wajahnya mendekat hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Napasnya yang beraroma alkohol tipis menerpa wajah Viona. "Aku sudah mengatakannya berkali-kali, Viona. Kau adalah milikku. Dan aku akan melakukan apa saja untuk memastikan milikku tetap berada di tempatnya. Jika kamar VIP itu bisa membuatmu tetap diam di sini, maka aku akan membelikan seluruh rumah sakit itu untukmu!"
Viona memejamkan matanya rapat-rapat. Dia memalingkan wajahnya dari cengkeraman Arkan, menolak untuk melihat wajah pria yang kian hari kian menjelma menjadi monster dalam hidupnya. Rasa sakit di hatinya menjalar ke seluruh tubuh, membuatnya merasa lumpuh. Dia jatuh cinta pada pria ini, namun di saat yang sama, dia juga membenci betapa kejamnya cara pria ini mengikatnya.
Melihat Viona yang kembali menutup diri dan menangis dalam diam, rasa bersalah yang asing itu kembali menyengat dada Arkan. Pria itu melepaskan cengkeramannya dari dagu Viona. Dia menatap telapak tangannya sendiri yang bergetar tipis. Mengapa setiap kali dia mencoba menegakkan dominasinya, dia justru merasa sedang kehilangan wanita ini sedikit demi sedikit?
Arkan mengembuskan napas berat. Dia tidak melanjutkan tindakannya. Dia tidak menyentuh Viona lebih jauh malam itu. Pria itu berdiri dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Viona yang masih terisak pelan di atas ranjang yang luas.
Keesokan harinya, Viona kembali bekerja di kantor logistik. Suasana kantor hari ini terasa sedikit lebih normal karena desas-desus tentang hubungannya dengan Tuan Mahendra mulai mereda, digantikan oleh kesibukan akhir bulan yang padat. Viona sengaja menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen untuk mengalihkan pikirannya yang carut-marut.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Menjelang sore hari, salah seorang rekan kerjanya di divisi administrasi menghampiri kubikel Viona dengan wajah penuh gosip.
"Vio, kau sudah dengar berita terbaru belum?" tanya rekan kerja itu dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu.
Viona mendongak, memaksakan sebuah senyuman tipis. "Berita apa?"
"Itu, lho! Berita tentang Tuan Arkan Mahendra!" seru rekan kerjanya bersemangat, sambil menyodorkan ponselnya yang menampilkan sebuah artikel berita hiburan dan bisnis papan atas. "Ada rumor besar yang beredar di kalangan pebisnis kalau hubungan pertunangan antara Tuan Arkan dan Nona Clarissa dari Wijaya Corps dibatalkan secara sepihak oleh Tuan Arkan semalam! Bahkan saham Wijaya Corps langsung anjlok pagi ini karena Mahendra Group menarik beberapa investasi besar dari sana!"
Jantung Viona serasa berhenti berdetak sesaat membaca tajuk utama berita tersebut.
“Pembatalan Sepihak: Arkan Mahendra Putuskan Hubungan Bisnis dan Rencana Pertunangan dengan Keluarga Wijaya.”
Viona menatap layar ponsel itu dengan tangan yang mendadak dingin. Arkan membatalkannya? Mengapa pria itu mengambil keputusan seekstrem itu? Apakah ini ada hubungannya dengan ancaman Clarissa kepadanya kemarin siang?
Pikiran Viona berkecamuk. Mengingat bagaimana marahnya Arkan semalam saat dia menyebut nama Clarissa, Viona menyadari satu hal yang mengerikan: Arkan benar-benar serius dengan ucapannya. Pria itu rela menghancurkan hubungan bisnis bernilai miliaran rupiah dan memicu konflik antar keluarga besar hanya untuk menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh atau mengganggu jalannya kontrak rahasia mereka.
Rasa takut yang luar biasa kini mulai menjalar di dalam benak Viona. Jika Arkan bisa bersikap sekejam itu pada tunangan resminya sendiri, lalu apa yang akan terjadi pada dirinya jika suatu hari nanti dia melanggar kontrak ini? Pria itu bukan lagi sekadar CEO yang dingin, dia adalah penguasa mutlak yang siap menghancurkan apa saja demi memuaskan obsesi posesifnya.
Malam harinya, ketika Viona kembali ke penthouse, dia mendapati suasana ruangan sedikit berbeda. Pintu menuju ruang kerja pribadi Arkan yang biasanya tertutup rapat, kini terbuka sedikit, menampilkan pendar cahaya lampu meja dari dalam.
Viona melangkah perlahan mendekati ruangan tersebut. Melalui celah pintu yang terbuka, dia bisa melihat Arkan sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar, tanpa mengenakan jas, dengan lengan kemeja putihnya yang digulung hingga ke siku. Pria itu tampak sedang memeriksa beberapa dokumen dengan kening yang berkerut dalam, memancarkan aura serius yang sangat mengintimidasi.
Seolah merasakan kehadiran seseorang, Arkan mendongak dan tatapan matanya langsung terkunci pada figur Viona yang berdiri di dekat pintu.
"Masuk, Viona," suara bariton Arkan terdengar datar namun penuh perintah.
Viona mendorong pintu lebih lebar dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi oleh rak-rak buku besar dan aroma kayu palo santo yang menenangkan itu. Dia berhenti tepat dua langkah di depan meja kerja Arkan.
"Kenapa Anda melakukan itu, Tuan?" tanya Viona langsung, tidak bisa lagi menahan rasa penasaran dan ketakutan yang menghimpit dadanya sejak siang tadi. "Kenapa Anda membatalkan pertunangan Anda dengan Nona Clarissa? Apakah karena... saya?"
Arkan meletakkan pena emasnya ke atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewahnya. Dia menatap Viona dengan tatapan mata yang dalam dan sulit diartikan.
"Aku tidak suka ada orang lain yang mencoba mengatur jalannya hidupku, Viona," jawab Arkan dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan ketegasan. "Clarissa telah melewati batasnya dengan mendatangimu dan mencoba menyuapmu dengan uang. Dia mengira dia memiliki kuasa atas diriku, dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan."
"Tapi dia adalah tunangan Anda! Dia adalah wanita yang sah untuk mendampingi Anda!" suara Viona sedikit meninggi, dipenuhi oleh rasa frustrasi yang mendalam. "Dengan melakukan ini, Anda hanya akan membuat seluruh dunia luar mencurigai keberadaanku! Anda membuatku merasa kian bersalah!"
Arkan berdiri dari kursinya, melangkah memutari meja kerjanya, lalu berhenti tepat di depan Viona. Dia merapatkan tubuh mereka, memaksa Viona untuk mundur selangkah hingga punggung gadis itu membentur tepian meja kerja marmer yang dingin.
"Aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh dunia luar, Viona," bisik Arkan rendah, kedua tangannya mengurung tubuh Viona di sisi kiri dan kanan meja, mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya. "Satu-satunya hal yang penting bagiku saat ini adalah kau tetap berada di sini, di bawah kendaliku. Kontrak kita belum selesai, dan selama aku belum mengizinkanmu pergi, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang boleh mengusik posisimu sebagai milikku."
Viona menatap sepasang mata elang di hadapannya yang kini berkilat oleh gairah dan obsesi yang kian menggelap. Dia tahu, jeruji sangkar emas ini kini telah berubah menjadi jauh lebih tebal dan berkilau, mengurungnya dalam sebuah hubungan kontrak penuh gairah yang kian hari kian mencekik jiwanya tanpa ampun.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.