"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Sangkar Baru di Lantai Tertinggi
Pernyataan Arkan membuat seluruh persendian Viona mendadak lemas. Ancaman dari Clarissa kemarin ternyata bukan sekadar gertakan kosong, dan kini, sosok yang jauh lebih berkuasa—ibu kandung Arkan sendiri—telah ikut mengendus keberadaannya. Viona menatap keluar jendela Rolls-Royce yang melaju tenang membelah kemacetan kota. Di dalam kabin yang sejuk ini, dia merasa seperti seorang narapidana yang sedang dipindahkan ke sel dengan tingkat keamanan yang lebih ketat.
"Kenapa..." Suara Viona tercekat, dia harus berdehem kecil untuk mengembalikan kekuatannya. "Kenapa Anda tidak melepaskan saya saja, Tuan Arkan? Jika keberadaan saya hanya mendatangkan masalah bagi aliansi bisnis dan hubungan keluarga Anda, bukankah lebih mudah jika kontrak ini dibatalkan?"
Arkan yang kembali membuka laptopnya seketika menghentikan gerakan jemarinya di atas papan ketik. Dia menoleh perlahan, menatap Viona dengan sepasang mata elang yang menggelap. Ada kilat kemarahan yang tertahan di sana, sebuah ego yang terluka setiap kali wanita di sampingnya ini menyuarakan kata 'pergi' atau 'lepas'.
"Sudah berapa kali harus kukatakan padamu, Viona?" Suara bariton Arkan merendah, bergetar oleh penekanan yang mutlak. Pria posesif itu memajukan tubuhnya, mempersempit jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya kembali mendominasi indra penciuman Viona. "Kau tidak punya hak untuk meminta pembatalan. Aku yang memulai permainan ini, dan hanya aku yang berhak menentukan kapan permainan ini berakhir. Menempatkanmu di kantor pusat adalah cara terbaik untuk melindungimu sekaligus memastikan kau tetap berada di tempat yang semesthesinya: dalam jangkauanku."
Viona memalingkan wajah, menolak tenggelam lebih dalam pada tatapan mata yang selalu berhasil mengintimidasi nuraninya. Dia mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Dilindungi? Istilah itu terdengar sangat ironis. Arkan melindunginya dari ancaman luar, namun di saat yang sama, dialah pria yang paling gencar menghancurkan kebebasan dan harga diri Viona setiap malam di penthouse lantai tiga puluh enam.
Keesokan paginya, langkah kaki Viona terasa amat berat saat memasuki lobi megah Gedung Mahendra Group, sebuah pencakar langit yang menjadi simbol kekuasaan mutlak keluarga Mahendra di pusat ibu kota. Berbeda dengan kantor logistik yang sederhana, di sini suasananya jauh lebih formal, kaku, dan dipenuhi oleh orang-orang berpenampilan necis dari kalangan profesional kelas atas.
Viona mengenakan setelan kerja terbaik yang dia miliki—sebuah kemeja biru muda formal dan rok hitam selutut. Sederhana, namun pas di tubuh rampingnya. Tetap saja, dia merasa sangat asing di tempat ini.
"Selamat pagi, Nona Viona," sapa Baskara dengan anggun begitu Viona keluar dari lift khusus eksekutif di lantai paling atas.
"Selamat pagi, Pak Baskara," sahut Viona ragu.
"Panggil Baskara saja, Nona. Mari, saya tunjukkan meja kerja baru Anda," ujar Baskara sambil menuntun Viona menuju sebuah area terbuka yang luas tepat di depan pintu ganda kayu jati kokoh—pintu masuk ruang kerja pribadi Arkan Mahendra.
Di sana, sebuah meja kerja modern berbahan marmer putih dengan peralatan komputer tercanggih sudah disiapkan. Jaraknya hanya beberapa meter dari pintu ruangan Arkan. Ini benar-benar sebuah pengawasan dua puluh empat jam penuh yang nyata. Dari posisi duduknya nanti, Arkan hanya perlu membuka pintu sedikit untuk memantau setiap gerak-gerik yang Viona lakukan.
"Tugas Anda di sini adalah membantu saya menyaring dokumen sekunder, menjadwalkan beberapa pertemuan internal, dan mengurus keperluan pribadi Tuan Arkan," Baskara menjelaskan dengan nada profesional tanpa cela. "Tuan Arkan tidak suka keterlambatan, kesalahan sekecil apa pun pada dokumen, dan dia... sangat posesif terhadap privasinya. Saya harap Anda bisa segera menyesuaikan diri."
Viona mengangguk lemah. 'Aku sudah sangat tahu bagaimana tabiat tiran pria itu, Baskara,' batin Viona getir.
Belum sempat Viona mendudukkan diri di kursi barunya, pintu lift eksekutif kembali berdenting terbuka. Sosok Arkan Mahendra melangkah keluar dengan langkah tegap yang berwibawa. Setelan jas abu-abu gelapnya memancarkan aura dominasi mutlak yang langsung membuat beberapa staf yang berada di lantai itu membungkuk hormat dengan takzim.
Mata elang Arkan langsung menyapu area sekretariat, dan sedetik kemudian, tatapannya terkunci pada figur Viona yang berdiri di dekat meja marmer putih. Gurat kepuasan yang samar melintas di wajah tegasnya melihat wanita miliknya kini benar-benar berada di tempat yang dia inginkan.
"Baskara, bawa laporan keuangan kuartal kedua ke ruanganku sekarang. Dan kau, Viona..." Arkan menghentikan langkahnya tepat di depan meja Viona, menatap gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan posesif yang pekat. "Buatkan aku kopi hitam tanpa gula. Bawa langsung ke dalam."
"Baik, Tuan Arkan," jawab Viona dengan nada formal yang dipaksakan, mencoba menjaga jarak profesional di depan Baskara.
Arkan mendengus pelan mendengar panggilan formal itu, namun dia tidak memprotesnya di depan publik. Pria itu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas.
Sepuluh menit kemudian, Viona berdiri di depan pintu ganda ruang kerja Arkan sambil membawa secangkir kopi hitam di atas nampan kecil. Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian sebelum mengetuk pintu kayu jati tersebut.
"Masuk," terdengar suara bariton dari dalam.
Viona mendorong pintu perlahan. Ruangan kerja Arkan sangat luas, dengan dinding kaca raksasa yang menyuguhkan pemandangan seluruh kota Jakarta dari ketinggian. Arkan sedang duduk di balik meja kerjanya, jasnya sudah tersampir di sandaran kursi, menampilkan kemeja putihnya yang membungkus otot dada bidangnya dengan sempurna.
Viona melangkah mendekat dengan hati-hati, meletakkan cangkir kopi itu di sisi meja yang kosong. "Kopi Anda, Tuan."
Begitu Viona hendak menarik kembali nampannya dan berbalik pergi, tangan kekar Arkan bergerak secepat kilat. Pria itu menangkap pergelangan tangan Viona, menahannya dengan kekuatan yang tidak menyakitkan namun mutlak tak bisa dibantah.
"Tuan Arkan, lepaskan. Ini di kantor," bisik Viona panik, matanya melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka, takut jika Baskara tiba-tiba masuk membawa laporan.
Arkan tidak memedulikan kepanikan Viona. Dia justru menarik tangan gadis itu, memaksa Viona melangkah maju hingga tubuh rampingnya bersandar pada pinggiran meja kerja marmernya—posisi yang sangat familiar yang selalu membuat jantung Viona berdegup liar. Pria itu mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata Viona dengan kilat gairah yang menggelap.
"Di lantai ini, tidak ada yang berani masuk tanpa izin dariku, Viona. Bahkan Baskara sekalipun," ucap Arkan, suaranya merendah, serak dan penuh dominasi. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap kulit halus di pergelangan tangan Viona yang kini sudah tidak lagi memerah. "Bagaimana meja kerja barumu? Kau menyukainya?"
"Ini bukan soal suka atau tidak suka, Tuan. Anda menjebakku di sini," sahut Viona dengan kilat kemarahan yang kembali menyala di matanya. "Anda memotong semua akses sosialku. Anda menjauhkan aku dari teman-temanku, dari Kak Rendy, dan sekarang Anda mengurungku tepat di depan mata Anda sendiri!"
Mendengar nama Rendy kembali meluncur dari bibir Viona, rahang Arkan seketika mengatup rapat. Kilat kecemburuan yang ekstrem mendadak menyambar manik mata hitamnya. Pria posesif itu berdiri dari kursinya, membuat tubuh tegapnya menjulang tinggi di depan Viona, mengintimidasi kesadaran gadis itu sepenuhnya.
"Aku sudah memperingatkanmu semalam untuk tidak pernah menyebut nama pria lain di hadapanku, Viona!" desis Arkan berbahaya, wajah tampannya mendekat hingga kening mereka nyaris bersentuhan. "Kekesalanmu tentang pria itu hanya membuktikan bahwa kau masih memikirkannya, dan aku sangat membenci kenyataan itu."
"Dia sahabatku!" bela Viona, air matanya mulai menggenang karena rasa frustrasi atas sikap posesif Arkan yang kian tidak masuk akal.
"Kau tidak butuh sahabat, kau tidak butuh pria lain, dan kau tidak butuh siapa pun selama kau berada dalam masa kontrak denganku!" bentak Arkan rendah, suaranya bergetar oleh amarah dan obsesi yang menggelap.
Sebelum Viona sempat mengeluarkan bantahan lagi, Arkan sudah merapatkan tubuh mereka tanpa celah. Pria itu membungkam bibir Viona dengan ciuman yang menuntut dan penuh gairah yang membara—sebuah ciuman yang tidak hanya bertujuan untuk mendominasi, melainkan untuk menghapus setiap sisa ingatan Viona tentang dunia luar di siang hari. Arkan mencengkeram pinggang ramping Viona dengan erat, mengangkat tubuh gadis itu sedikit hingga bersandar sepenuhnya pada meja marmer, melampiaskan seluruh rasa kepemilikan mutlaknya di dalam ruangan kerja tertinggi yang menjadi saksi bisu dari jerat kontrak yang kian mencekik jiwa mereka berdua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.