Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!
Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14-Sosok Mama Ghea
Tidak lama kemudian, terdengar suara derapan high heels berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan. Membuat kedua insan yang berada diruang tamu itu menoleh secara bersamaan.
Seorang wanita paruh baya dengan umur sekitar 48 tahun itu menuruni tangga dengan wajah datarnya. Ghea, ibu dari Arhan berjalan anggun menuruni tangga. Meski diusianya yang sudah mau menginjak kepala lima, namun penampilan serta gayanya masih terlihat seperti anak muda dan wajahnya yang sering diberi perawatan juga membuat kulitnya tampak lebih cantik dan kencang. Kali ini, Ghea menggunakan pakaian modisnya, dress ketat dengan rambut blonde yang sudah dicatok sebelumnya.
Arhan tersenyum melihat kedatangan seseorang yang ditunggu-tunggu nya. "Itu mama aku kak." Ucap Arhan yang memberi tahu pada Lula.
Lula menundukkan pandangannya. Entah ini instingnya atau bagaimana, tapi ia merasa seperti tidak tenang dengan tatapan mama nya Arhan. Ia takut jika mama nya Arhan tidak menyukai keberadaannya. Apalagi melihat penampilan nya yang begitu wah, mana mungkin wanita itu mau menerimanya sebagai teman Arhan? Lihat dirinya yang tidak ada apa-apanya ini?.
Ghea duduk di sofa terpisah dengan mereka hingga mereka saling berhadapan. Ia duduk dengan menyilangkan kakinya. Tatapannya datar melihat Lula yang duduk berdampingan dengan anaknya. "Ini wanita yang mau kamu kenalkan pada mama?." Pertanyaan itu terlontar dari mulut Ghea. Bahkan bukan seperti kesannya bertanya, tapi lebih ke merendahkan.
Arhan mengangguk. Tangannya menggenggam erat tangan Lula yang terlihat panas dingin. Ia mencoba untuk menenangkan cewek itu dan mengkode bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Iya ma, ini Lula Khansa. Cewek yang sering aku ceritakan ke mama." Jawab Arhan kemudian.
Lula sedikit memberikan senyuman manisnya, namun sama sekali tidak dibalas oleh mama dari Arhan itu. Ia pun berniat untuk menyalimi ibu Ghea namun ditolak oleh wanita itu dengan mengkode tangannya yang diangkat satu, pertanda ia tidak mau disalimi.
Lula menatap Arhan dengan wajah pucat nya. Sungguh, ia rasanya sangat ingin sekali pulang dari tempat ini. Ia merasakan hawa yang begitu tajam dan tidak enak sekarang.
Arhan tersenyum pada Lula. Sekali lagi ia memberikan sebuah penenangan pada cewek itu seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Arhan, papa tadi telfon mama, dia minta kamu antarkan berkas yang ada diruang kerja untuk rapat hari ini. Papa kamu minta cuman kamu yang boleh mengantarkan berkas itu. Perempuan ini biar mama yang temani." Ucap Ghea pada anaknya.
Arhan yang notabenenya memang cwok yang penurut dan tidak berani membantah orang tuanya langsung mengangguk cepat. "Iya ma, minta tolong temenin kak Lula ya. Mama ajak ngobrol dia, soalnya orangnya pemalu." Arhan kemudian memberikan senyuman lagi pada Lula.
Lula menatap Arhan seolah ia tidak mau jika ia ditinggalkan sendirian dirumah ini. Lula benar-benar takut jika Arhan pergi dari dampingannya.
"Cuman sebentar kok, aku bakal pulang lebih cepet oke?." Arhan pun berdiri dan pergi meninggalkan ruang tamu untuk keruang kerja papa nya, mengambil berkas yang ingin ia antarkan ke kantor. Tak lama Arhan keluar dari ruangan sang papa dengan membawa beberapa berkas yang disampuli oleh map kemudian pergi meninggalkan rumahnya.
Kini, hanya tersisa Lula dan Ghea, mama dari Arhan Ardigo.
Suhu tubuh Lula terlihat semakin dingin dan mencekam ketika Arhan benar-benar pergi meninggalkannya. Ia menunduk tak kala tatapan Ghea semakin tidak bersahabat padanya. Lula takut sekarang, sungguh ia benar-benar takut dengan tatapan tersebut.
"Ehem..." Ghea berdehem setelah dirasa Arhan sudah benar-benar pergi dari rumah. Ia menatap perempuan didepannya dengan tatapan meremehkan dan tidak suka. Sangat tidak bersahabat dengan perempuan yang katanya bernama Lula itu. "Jadi kamu Lula Khansa itu?" Tanya Ghea yang kini membuka sesi tanya jawab dengan nada dinginnya.
Ghea melihat penampilan Lula dari atas sampai bawah. Ghea yakin melihat penampilan perempuan didepannya yang begitu sederhana, hanya kaos oblong dan celana jeans panjang yang tidak terlalu ketat pasti Lula adalah perempuan biasa. Bahkan ia tidak melihat letak keistimewaan dari dalam diri seorang Lula Khansa.
"Iy-iya Tante.." Jawab Lula dengan terbata-bata.
"Saya tau kamu adalah teman dekat anak saya Arhan. Anak itu sering sekali bercerita tentang kamu. Tentang keseharian kamu yang bekerja sebagai seorang pelayan ditoko bunga grasea, tentang ke akraban kalian ketika diluar. Anak saya begitu sumringah saat menceritakan siapa sosok Lula Khansa itu. " Titah Ghea namun masih dengan tatapan datar pada Lula. Ghea kemudian menyilangkan kedua tangannya seolah ruangan itu akan semakin panas walaupun suhu AC sudah yang paling dingin.
Lula menelan salivanya dengan susah payah. Tatapannya tidak berubah, ia masih menunduk, memainkan ujung jari tangannya dengan gelisah. Ia sebenarnya sedikit terkejut karena ternyata Arhan selama ini menceritakan dirinya pada wanita yang disebut sebagai mama dari Arhan ini. Dan, kenapa Arhan harus menceritakan sosok dirinya pada Ghea?
"Lula Khansa, tatap saya! Tegakkan pandanganmu." Perintah Ghea dengan sebuah penekanan.
Dengan perlahan Lula mengangkat kepalanya, menatap Ghea dengan mata sayu.
Pandangan Ghea pada perempuan didepannya semakin menyipitkan matanya. Ia kemudian berdiri namun masih dengan tangan menyilang. "Saya mau kamu jauhi anak saya Arhan."
Degh...
Lula melebarkan kelopak matanya mendengar permintaan dari Tante Ghea. "M-menjauhi Arhan?" Tanya nya yang mengulang permintaan Tante Ghea.
Ghea mengangkat kedua alisnya. Lalu mengangguk. "Ya, jauhi anak saya. Saya kabulkan semua apapun yang kamu mau Lula. Kamu mau kuliah diluar negri? Saya bisa membantumu hanya dengan satu gesekan. Bahkan saya bisa kasih kamu uang bulanan saat kamu diluar negri. Asal kamu jauhi anak saya Arhan."
Pandangan Lula mulai kabur. Matanya perlahan mengembun tebal seakan air mata itu mau tumpah dari dalam matanya. Berjauhan dengan Arhan? Mana mungkin ia bisa melakukan itu? Cowok yang membuatnya pertama kali merasakan cinta dan kasih sayang serta perhatian lebih. Bahkan bisa dibilang Arhan adalah cinta pertama nya semasa ia hidup disini. Tapi kenapa ia harus diberi lagi cobaan oleh tuhan??. "S-saya masih belum siap Tante..." Lirih Lula dengan air mata yang langsung lolos membasahi pipinya.
Ghea menarik nafasnya dalam lalu membuangnya secara kasar. "Saya mama nya, saya lebih berhak atas anak saya. Saya tau, dari ekspresi kamu, pasti kamu begitu mencintai Arhan. Tapi sayang, cintamu salah sasaran Lula. Harusnya sebagai manusia dari kalangan biasa itu sadar dengan posisinya yang seperti apa. Arhan anak keluarga Ardigo, pewaris perusahaan terkenal baik didalam negri maupun diluar negri. Dan kamu? Siapa kamu?? Bahkan saat saya bertanya asal usul tentangmu, Arhan diam tidak menjawab. Apalagi kalau bukan tidak jelas?."
Bagaikan hati yang ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum. Hati Lula terasa begitu sakit dan ngilu mendengar ucapan dari Tante Ghea. Air matanya semakin banyak ia keluarkan. Bahkan isakan demi isakan keluar dari mulut cewek itu. Ya, Tante Ghea benar, tidak seharusnya ia mencintai cowok seperti Arhan, cintanya salah besar. Tapi? Apa bisa cinta itu tau kapan akan datang? Kalau sedari awal ia bisa mencegah rasa cintanya pada Arhan. Ia akan cegah sekuat mungkin agar tidak akan pernah mencintai pria sebaik Arhan.