Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Penghuni Kos Baru
Azan magrib berkumandang, mengalun sampai ke sudut-sudut Desa Bukit Tinggi. Ratna, Nara, dan seseorang tamu tak diundang masih berdiri di halaman rumah.
Anak gadis satu-satunya Ratna tidak memudarkan tatapan sengitnya pada Sagara. Menunggu jawaban dari pria itu, jari telunjuknya masih teracung tegas, menuding pria itu.
"Saya mau tanya penginapan untuk saya berteduh malam ini," ucap Sagara, mengubah haluan. Ia masih tidak bisa menghubungi Bagja, lalu ke rumahnya malam ini juga terasa tidak sopan, ditambah memang dia yang belum tahu alamatnya.
"Nara, tidak boleh begitu." Ratna menurunkan jari telunjuk anaknya yang menunjuk tamu dengan tidak sopan. Ia pun mengambil alih pembicaraan.
"Kebetulan kami punya kos-kosan, Nak. Kalau kamu mau dan cocok, bisa menginap. Kosnya memang dikhususkan untuk laki-lak," jelas Ratna seraya menunjuk kos dua lantainya di samping rumahnya.
Sagara menoleh ke arah yang ditunjuk, melihat palang kos yang memang tertulis khusus untuk laki-laki di sana. Lalu di halaman kos, terdapat warung makan.
"Saya mau, Bu. Ndak ada waktu kalau cari tempat lain," ujar Sagara. Lagi pula tubuhnya sudah lelah dan butuh segera beristirahat.
"Kalau begitu, Ibu ambil kuncinya dulu. Nara ... nanti kamu yang antar Nak Saga, ya." Ratna segera masuk ke dalam rumahnya.
"Lohh, kenapa aku?" protes Nara menujuk dirinya sendiri. Ibunya itu sudah berlalu, tidak mendengarkan protesnya.
"Ehem!" Sagara berdehem tak kala hanya ditinggal berdua.
"Apa?!" pelotot Nara, ia masih sansi dengan pria ini. Entahlah, melihat wajahnya saja dapat membuatnya emosi. Mungkin ini efek siklus bulanan yang baru datang. Ditambah lagi, ucapan pria tadi soal penampilannya telanjur menyentil ego, membangkitkan kembali memori tentang mantan yang mati-matian ingin ia lupakan.
Sagara mengernyit, inilah salah satu sifat perempuan yang membuatnya risih dengan mereka. Tiba-tiba marah tidak jelas, harus dibujuk, puja dan puji. Kalau tidak, dunia tidak akan baik-baik saja. Tapi, ehh ... dia kan bukan si kembar Anna dan Anne. Jadi tidak ada alasan untukku membujuk agar mood gadis ini membaik. Toh, duniaku akan tetap baik-baik saja. Batin Sagara, tidak menanggapi tatapan tidak bersahabat dari Nara.
Tidak lama kemudian, Ratna keluar dengan membawa kunci kos. Ia memberikan pada Nara dan kemudian mempersilakan Sagara mengikuti anaknya.
"Masih ada dua kamar yang kosong, lantai dua sama lantai satu. Mau yang mana?" tanya Nara menoleh sekilas.
"Lantai satu saja," singkat pria itu.
Tiba di kos-kosan, Nara memasukkan kunci untuk kamar itu. Memutarnya dua kali dan pintu pun terbuka.
"Di sapu dulu, sapunya ada di belakang pintu ini." Nara menjelaskan, juga memberitahukan beberapa hal mengenai kamar kos tersebut.
Sagara mengangguk, "Jadi berapa sewanya?" tanyanya kemudian, sama sekali tidak berharap tinggal gratis di penginapan orang.
"Memangnya mau berapa hari?" Nara balik tanya.
Sagara terdiam sejenak, ia belum tahu berapa hari akan berada di desa ini. Pria itu pun menggeleng kemudian. "Saya belum tahu, tapi kayaknya tidak akan lama," jawabnya.
"Kalau begitu, bicarakan saja sama ibu. Nih, kuncinya."
Sagara menerima kunci kamar kosnya, Nara pamit dari sana dengan segera. Ia merasa risih dan ingin segera membersihkan diri. Perutnya juga rasanya tidak nyaman.
***
Tok ... Tok ...
Pintu rumah Nara diketuk, Ratna keluar dari kamarnya dengan masih mengenakan mukenah. Ia baru saja selesai sholat isya.
"Eh, Nak Saga. Baru saja dari masjid, ya?" Ratna malah salah fokus dengan pakaian yang dikenakannya penghuni kos barunya. Sagara mengenakan sarung dan baju koko, rambutnya yang panjang diikat dengan karet.
"Iya, Bu. Baru balik dari sana," jawab pemuda itu sopan. "Aduh, saya mohon maaf karena ganggu Ibu. Ini ... saya boleh pinjam pel, sama kalau boleh juga pinjam seprei dan sarung bantal satu? Soalnya saya lupa bawa dari rumah," ujarnya canggung, meringis seraya mengusap tengkuknya. Baru kali ini ia meminjam sesuatu pada orang lain yang baru ditemuinya, tapi mau bagaimana lah, ia tidak terbiasa jika tempat tidurnya tidak dialasi seprei yang bersih dan lantainya masih berdebu. Ada niatan untuk membeli yang baru saja, tetapi terlalu malas. Lagi pula, ia tidak akan lama di sini.
"Oh, boleh. Tunggu sebentar, ya. Kamu duduk saja dulu." Ratna berlalu.
"Naraaa, ambilkan seprei bersih di lemari sama satu sarung bantal, Nak."
"Iyaaa, tunggu sebentar, Bu. Nara masih di kamar mandi."
Sahut-menyahut teriakan ibu dan anak itu terdengar oleh Sagara yang kini duduk di kursi teras.
Tidak lama kemudian, Nara keluar dengan membawa seprei bersih dan sarung bantalnya. "Kata ibu, jangan dulu pergi." Setelah mengatakannya, Nara masuk lagi.
"Nak Saga," panggil Ratna yang membuat Sagara langsung berdiri.
"Iya, Bu," jawab pria itu, menghadap ibu kosnya yang datang bersama anaknya.
"Nih," Nara menyodorkan pel yang diminta pria itu, Sagara menerimanya.
Ratna mengedip, melihat tangan pemuda itu yang telah penuh oleh bawaan. Lalu tatapannya turun pada rantang makanan dan botol air minum di tangannya.
"Ini, Ibu ada makanan. Kamu pasti belum makan malam kan? Tapi tangan kamu semuanya sudah penuh," ujar Ratna seraya mengangkat rantang makanan.
Sagara mengulum senyum, senyum yang tidak bisa ia tutupi. "Aduh, saya merasa merepotkan. Tapi makasih loh, Bu. Saya memang belum makan dari siang," balas pria itu tanpa malu, mengundang reaksi berlebih dari Nara.
Nolak dulu kek, nunggu dipaksa! gumam gadis itu dalam hati.
"Nggak papa, Bu. Saya bisa bawa semuanya," ujar Sagara seraya menjepit ganggang besi pel di ketiaknya, lalu mengulurkan salah satu tangannya yang kini bebas.
Ratna menggeleng. "Biar Nara saja yang bawai rantang sama botol air minumnya," ucapnya yang sontak saja membuat mata Nara membulat.
Ia ingin protes, tapi tidak jadi karena melihat tatapan tajam dari sang ibu. Nara pun mengambil alih yang seharusnya menjadi bawaan Sagara dari tangan ibunya.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Bu. Terima kasih atas makanan dan semuanya." Sagara mengangguk sebagai tanda pamitan, ia pun berjalan menuju kamar kosnya, diiringi langkah ogah-ogahan dari Nara. Gadis itu menendang-nendang kerikil sepanjang jalan ke sana.
Dug!
"Arggh!"
Nara mengusap dahinya yang kepentok punggung Sagara yang seperti beton. "Kok berhenti tiba-tiba?" protes gadis itu.
"Ada sesuatu yang mengenai tengkuk ku," ujar pria itu mengusap belakang lehernya.
"Oh ya?" Nara menaikkan alis, pura-pura bertanya. Lalu menggaruk alisnya yang tidak gatal, rupanya kerikil yang ia tendang mengenai pria itu.
"Hm," degus Sagara, melanjutkan langkah. Tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang baru saja mengenai belakang lehernya.
Sagara membuka pintu kamar kosnya dengan lebar, terlihat kos tersebut sudah bersih. Bahkan jaring laba-laba di atas langit-langit kamar tidak terlihat lagi.
Nara angguk-angguk, pria ini walaupun berpenampilan bak berandal, bahkan tidak berubah setelah mengenakan baju koko karena rambutnya—adalah pribadi yang suka kebersihan.
"Taru di sudut sana saja, makasih," ujar Sagara lalu menunggu di pintu, bersiap menutupnya saat gadis ini keluar.
Nara mendengus, saat pintu itu benar-benar tertutup di depan matanya. "Haiss ...! Sekedarnya tunggu tamu jauh dulu kek, baru tutup pintunya," dumbel gadis itu melangkah pulang.
***
Bersambung ...