NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Ayah Tabib yang Kembali

Kokok ayam hutan yang bersahut-sahutan di lereng Gunung Han menyambut datangnya fajar. Kabut putih tebal yang semalam mengepung pondok kayu perlahan-lahan menipis, menyisakan tetesan embun pagi yang segar di ujung-ujung daun bambu.

Di dapur pondok yang mulai diterangi cahaya pagi, suara pisau memotong sayuran terdengar berirama. Shen Liya berdiri di depan meja kayu, mengenakan gaun katun fana berwarna biru muda pemberian Gu Jue. Meskipun wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa kelelahan kronis, warna kulitnya hari ini terlihat jauh lebih segar berkat obat herbal hitam yang ia minum semalam.

Ia sedang mencoba memotong beberapa umbi jalar untuk direbus. Namun, tangannya yang kurus masih agak gemetar menahan beban pisau dapur yang cukup berat bagi fisiknya yang lemah.

"Biar aku yang melakukannya."

Sebuah suara bariton yang rendah mengejutkan Shen Liya. Sebelum ia sempat menoleh, Gu Jue sudah berdiri di sampingnya. Dengan gerakan yang sangat alami, pria itu mengambil alih pisau dapur dari jemari Shen Liya.

Jubah rami abu-abu kasarnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan kekar yang dengan sangat cekatan memotong umbi jalar tersebut menjadi bagian-bagian kecil dalam hitungan detik.

Shen Liya mundur satu langkah, menatap profil samping wajah Gu Jue dengan perasaan yang campur aduk. Rasa canggung yang sempat membeku selama delapan tahun seolah perlahan-lahan mulai mencair oleh kehangatan dapur pagi ini.

"Kau... kau selalu bangun sepagi ini, Ah Jue?" tanya Shen Liya pelan, mencoba memecah keheningan di antara mereka.

"Hutan ini tidak akan menyediakan kayu bakar dan tanaman obat jika aku malas mendengkur di atas ranjang," jawab Gu Jue datar, tanpa menghentikan gerakan tangannya. Ia melirik sekilas ke arah luar jendela dapur.

"Anak itu... dia memiliki ketahanan fisik dan koordinasi tubuh yang teramat aneh untuk ukuran anak fana biasa."

Gu Jue menjawab datar, tanpa menghentikan gerakan pisaunya. Ia melirik sekilas ke arah luar jendela dapur, melihat bagaimana Gu Yu kecil membelah kayu dengan kuda-kuda yang kokoh.

"Kau membesarkannya dengan sangat baik di pelosok barat, Liya. Di usianya yang baru tujuh tahun, inti spiritualnya mengalir terlalu padat, tidak seperti bocah mortal yang ringkih."

Shen Liya menoleh mengikuti arah pandangan Gu Jue. Di halaman depan pondok, di bawah siraman cahaya fajar yang keemasan, Gu Yu kecil sudah berdiri siaga.

Bocah tujuh tahun itu mengenakan pakaian rami abu-abu yang persis sama dengan milik Gu Jue. Ia memegang kapak kecil yang ukurannya sengaja disesuaikan oleh Gu Jue, mencoba membelah kayu gelondongan kecil dengan wajah yang teramat serius.

Setiap kali kapaknya menghantam kayu, sepasang mata sehitam tintanya berkilat penuh tekad.

Melihat putranya yang begitu bersemangat, seulas senyuman tulus terukir di bibir pucat Shen Liya.

"Yu'er anak yang sangat mandiri sejak kecil. Dia berjanji akan menjadi kuat agar bisa menjagaku. Terima kasih karena kau sudi menerimanya di sini, Ah Jue."

Gu Jue menghentikan potongan pisaunya sejenak. Sepasang mata sehitam malam miliknya menatap lurus ke dalam manik mata Shen Liya.

"Aku menyanggupi permohonanmu bukan karena belas kasihan, Liya. Tapi karena aku tidak suka berutang budi pada seorang wanita pelarian yang pernah menaruh mantra tidur padaku."

Wajah Shen Liya seketika merona merah mendengar sindiran halus itu. Ia buru-buru memalingkan muka, berpura-pura memeriksa kuali air yang mulai mendidih di atas tungku.

Aktivitas pagi itu berlanjut dengan sarapan sederhana di ruang tengah.

Ketiganya duduk melingkari meja kayu bundar. Suasana terasa sangat unik—sebuah makan bersama yang kaku, sarat akan rahasia besar, namun diam-diam dialiri oleh ikatan batin yang sangat pekat. Gu Yu kecil duduk di samping ibunya, sesekali matanya yang tajam mencuri pandang ke arah Gu Jue yang makan dengan gerakan tenang tanpa cela.

Setiap kali pandangan mata mereka yang sama-sama sehitam tinta itu saling mengunci, Gu Yu akan buru-buru mengalihkan wajahnya dengan ekspresi kaku khas anak kecil yang gengsi.

Setelah sarapan selesai, Gu Jue membawa Gu Yu kecil masuk ke dalam hutan untuk mulai mengenali jenis tanaman obat, sementara Shen Liya diminta untuk tetap tinggal di pondok demi beristirahat.

Waktu bergulir cepat hingga malam kembali menjemput Gunung Han.

Hutan Bambu Ungu kembali terkunci oleh pekatnya kabut malam. Di dalam kamar tidur kecil, Gu Yu sudah tertidur lelap di atas kasur jeraminya, memeluk pedang kayu kecil yang diam-diam telah disegel oleh energi iblis ayahnya.

Di kamar utama, Shen Liya juga telah memejamkan mata, napasnya mengalun halus di bawah pengaruh aroma dupa penenang yang sengaja dibakar Gu Jue di sudut ruangan.

Pintu kamar utama berderit terbuka dengan sangat senyap, nyaris tidak menimbulkan getaran udara sedikit pun.

Gu Jue melangkah masuk dari kegelapan koridor. Wujud manusianya sebagai tabib rami abu-abu seketika runtuh. Sepasang mata hitamnya berubah menjadi warna ungu menyala yang mengerikan, memancarkan aura keagungan Mo Jue sang Raja Iblis yang mutlak.

Ia berjalan lambat mendekati ranjang, lalu duduk di tepi tempat tidur kayu. Mo Jue menundukkan tubuhnya sedikit, menatap lekat-lekat wajah damai Shen Liya yang sedang tertidur. Di balik kulit pucat sang Dewi, Mo Jue bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana sulur-sulur hitam dari racun Jue Qing San mengalir di pembuluh darah leher wanita itu, perlahan-lahan merayap menuju inti suci di dadanya.

"Kau benar-benar keras kepala, Liya," bisik Mo Jue rendah, suaranya terdengar sangat dalam dan magnetis di tengah keheningan kamar. "Kau menahan siksaan ini selama delapan tahun sendirian demi membesarkan anak kita."

Mo Jue mengangkat tangan kanannya, membalikkan telapak tangannya di atas dada Shen Liya tanpa menyentuh kulit wanita itu secara langsung. Ia memejamkan mata ungunya, memusatkan seluruh pikirannya pada inti spiritual kegelapan di dalam tubuhnya sendiri.

Wusss!

Dari telapak tangan Mo Jue, sulur-sulur energi dingin murni (Yin) sepekat malam melesat keluar secara perlahan. Energi itu merayap halus, menembus pakaian katun biru muda Shen Liya, lalu menyusup masuk melalui pori-pori kulit menuju aliran meridian tubuh sang Dewi.

Mo Jue mengendalikan energinya dengan kehati-hatian yang luar biasa ekstrem; ia menekan seluruh kebuasan iblisnya, menyaring energinya hingga menjadi selembut sutra malam agar tidak merusak dinding-dinding meridian Shen Liya yang sudah rapuh.

Begitu energi dingin murni itu masuk ke dalam tubuh Shen Liya, api kutukan dari racun langit yang sedang membakar inti sucinya seketika terkesiap.

Seolah-olah menemukan musuh alaminya, sulur-sulur hitam racun tersebut mencoba melawan, namun pelukan hawa es murni dari sang Raja Iblis dengan cepat mengunci dan menjinakkan pergerakan racun tersebut.

"Ugh..." Shen Liya mengeluarkan lenguhan pelan di balik tidurnya. Alisnya yang anggun sedikit mengkerut menahan sensasi dingin yang mendadak menyerbu dadanya. Namun, sedetik kemudian, wajahnya kembali relaks. Rasa nyeri yang setiap malam menyiksa relung jiwanya kini menguap tak bersisa, digantikan oleh rasa nyaman dan kedamaian spiritual yang luar biasa pekat.

Penyatuan energi rahasia ini berlangsung selama berjam-jam di tengah sunyinya malam fana. Mo Jue terus mengalirkan energinya tanpa henti, memandu sisa racun di tubuh Shen Liya untuk perlahan-lahan kembali mengendap dan tertidur. Ini adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan di dunia fana ini untuk memperpanjang usia Shen Liya, menahan laju kematian sang Dewi hingga batas maksimal sampai tiba saatnya ia membawa keluarga kecilnya ini pulang ke Alam Kegelapan.

Melalui aliran energi yang saling menjalin tersebut, Mo Jue juga bisa merasakan bagaimana inti spiritual milik Shen Liya bergetar halus, memancarkan sisa-sisa frekuensi ikatan spiritual yang dulu mengunci takdir mereka pada malam pertama. Ikatan itu tidak pernah hilang; ia justru tumbuh menjadi lebih pekat setelah kelahiran Gu Yu kecil.

Ketika semburat cahaya fajar pertama mulai membayangi langit timur, Mo Jue perlahan menarik kembali telapak tangannya. Sisa-sisa energi hitam sepekat malam di tangannya memudar, dan sepasang mata ungunya kembali berganti menjadi warna hitam pekat milik Gu Jue sang tabib fana.

Wajah Shen Liya di atas bantal jerami kini tampak memancarkan rona merah alami yang sehat. Napasnya terdengar sangat teratur dan ringan, jauh lebih bertenaga daripada hari-hari sebelumnya selama delapan tahun terakhir.

Wanita itu akan terbangun beberapa jam lagi dengan rasa heran mengapa tubuhnya terasa begitu bugar dan segar di pondok kayu ini, tanpa pernah menyadari bahwa setiap malam, pria dingin yang ia kira manusia mortal lemah telah menyerahkan separuh energi kegelapannya demi memeluk sukmanya dari ambang kematian.

Gu Jue berdiri dari tepi ranjang, merapikan selimut tebal yang membungkus tubuh Shen Liya dengan gerakan yang sangat cermat. Ia melangkah mundur, menatap wajah istrinya untuk terakhir kali sebelum berbalik berjalan keluar dari kamar dan menutup pintu dengan sangat senyap.

Berjalan menuju halaman depan, udara fajar yang dingin menusuk langsung menyapa wajahnya. Gu Jue menarik napas panjang, menatap Hutan Bambu Ungu yang kian pekat diselimuti kabut pertahanan. Sandiwara perlindungan dalam sunyi ini akan terus ia pertahankan dengan kokoh, membentengi kehidupan manis keluarga kecil rahasianya dari amarah langit dan badai dunia atas yang suatu hari nanti pasti akan pecah di atas tanah Gunung Han.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!