Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
^^^[Yolla, gimana ini? Aku bakal dijodohin]^^^
Tak berselang lama, layar ponsel Kyra bergetar. Sebuah balasan singkat namun telak dari Yolla muncul di layarnya.
[Dijodohin? Kok bisa?]
^^^[Seharusnya Sherly yang dijodohin, tapi dia hamil dan aku harus gantiin dia. Gimana ini? Kalau aku nikah, artinya rencana kita bakal gagal]^^^
[Kamu tahu siapa pria dijodohin sama kamu?]
^^^[Aku gak tahu, tapi aku dengar mereka bilang dari keluarga Raymond namanya Tuan Brian, gimana dong La?]^^^
[Jangan panik, Kyra. Pernikahan bukan akhir dari segalanya, mungkin aja dengan perjodohan ini nanti memudahkan rencana kita]
^^^[Maksudnya?]^^^
[Aku tahu keluarga Raymond, mereka bukan keluarga sembarangan, Ra. Dengan pernikahan ini, kamu bisa masuk ke lingkaran kekuasaan yang jauh lebih besar, pasti keluarga kamu gak akan berani merendahkan kamu karena kamu adalah menantu keluarga Raymond dan masa depan mereka ada di tangan kamu]
Membaca pesan itu, napas Kyra yang tadinya memburu perlahan mulai teratur dan senyumnya kembali terukir di bibirnya. Benar kata Yolla, selama ini ia hanya berpikir untuk menghancurkan keluarga Andreas, namun dengan masuk ke dalam keluarga Raymond, keluarga konglomerat paling berpengaruh di ibu kota, ia justru memegang senjata yang jauh lebih mematikan untuk menghancurkan orang-orang yang telah membuangnya.
.
Dua hari berlalu dalam kurungan yang ketat. Selama empat puluh delapan jam, Kyra tidak diizinkan keluar dari gudang belakang. Makanan yang diberikan kepadanya hanyalah roti tawar kering dan secangkir air putih, seolah-olah keluarga Andreas sengaja membiarkan fisiknya tetap terlihat rapuh agar mudah dikendalikan.
Malam yang ditentukan akhirnya tiba, pintu gudang terbuka kasar dan menampilkan Tante Thania yang berdiri dengan gaun malam berbahan sutra merah menyala, didampingi oleh dua orang perias salon yang dibawanya secara rahasia melalui pintu belakang.
"Cepat mandi dan ganti pakaianmu!" bentak Tante Thania seraya melemparkan selembar gaun berwarna krem polos ke atas kasur kapuk Kyra.
"Ingat pesan Mama dan Papamu! Nanti di restoran, kamu cukup menunduk, tersenyum dan jangan banyak bicara! Jika sampai kamu mengucapkan satu kata saja yang merusak suasana atau membongkar identitasmu yang sebenarnya, kamu tidak akan pernah melihat matahari esok hari!" pesan Tante Thania.
Kyra memegang gaun itu tanpa membantah, ia mengangguk pelan dengan raut wajah patuh yang amat menyedihkan.
"Iya, Tante... Kyra mengerti," jawab Kyra.
Kedua perias salon bergerak cepat di bawah tatapan tajam Tante Thania, mereka memoles wajah Kyra yang pucat dengan riasan tipis untuk menutupi bekas lebam di pipinya dan membiarkan rambut panjang hitamnya terurai lurus menutupi bahunya yang kurus.
Tante Thania mendengus sinis saat melihat hasil akhir penataan Kyra, "Dasar anak desa, dipakaikan baju sebagus apa pun tetap kelihatan murah. Tapi sudahlah, yang penting kamu tidak bikin malu di depan Tuan Besar Raymond," ucapnya.
Kyra dituntun keluar dari pintu belakang menuju mobil hitam yang sudah menunggu di garasi samping. Di dalam mobil, Papa Freddy dan Mama Dania sudah duduk dengan wajah tegang luar biasa dan tidak ada satu pun dari mereka yang menyapa atau menanyakan keadaan Kyra. Bagi mereka, Kyra tak ubahnya barang dagangan yang dipaksakan untuk menutupi utang moral.
Mobil mewah itu melaju menembus gemerlap lampu ibu kota menuju The Grand Luminary, sebuah restoran privat paling eksklusif yang biasa disewa oleh para petinggi negara dan pengusaha kelas atas.
Suasana di dalam private dining room lantai teratas restoran The Grand Luminary terasa begitu mengintimidasi, ruangan luas berkilau lampu kristal itu didominasi oleh perabotan kayu jati ukir dan aroma kayu cendana yang mahal.
Papa Freddy, Mama Dania, Nenek Fia dan Tante Thania duduk di sisi meja panjang dengan punggung tegak dan pelipis bersimbah keringat dingin. Kyra duduk di sudut paling pinggir dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, jemarinya gemetar hebat di atas pangkuannya.
Pintu ganda ruangan itu mendadak terbuka lebar, dua orang pengawal bertubuh tegap berpakaian setelan jas hitam melangkah masuk dan berdiri di sisi pintu sebelum seorang pria paruh baya berambut perak dengan wibawa yang sangat kuat melangkah masuk. Dialah Tuan Besar Gerald Damarius Raymond, kepala keluarga Raymond sekaligus pemilik imperium bisnis terbesar di ibu kota.
Di samping Tuan Gerald, melangkah seorang pria muda berbadan tegap dengan setelan jas hitam buatan penjahit ternama Italia. Pria itu memiliki rahang yang tegas, tatapan mata tajam bagaikan elang, serta aura dingin mencekam yang langsung menguasai seluruh penjuru ruangan, dia adalah Brian Sebastian Raymond
"Selamat malam, Tuan Raymond! Sungguh sebuah kehormatan besar Anda berkenan hadir malam ini!" Papa Freddy langsung bangkit dari duduknya dengan senyum lebar yang dipaksakan dan mengulurkan tangannya yang sedikit bergetar.
Tuan Gerald menyambut uluran tangan itu sekadarnya, sementara Brian hanya berdiri kaku di samping Ayahnya tanpa mengumbar senyum sedikit pun. Tatapan mata tajam pria muda itu menyapu seluruh isi ruangan, memindai raut wajah penuh kepanikan terselubung dari keluarga Andreas.
"Duduklah, Freddy. Panggil seperti biasa saja. lagipula kami datang untuk memenuhi kesepakatan yang telah dijanjikan antara dua keluarga kita," ujar Tuan Gerald dengan suara berat dan tenang.
Mama Dania menyenggol lengan Kyra dengan sangat keras di bawah meja dan memberi isyarat memaksa agar gadis itu mendongakkan kepala dan memberikan penghormatan.
Kyra perlahan mengangkat wajahnya, matanya yang tenang namun menyimpan luka mendalam bertemu langsung dengan manik mata tajam milik Brian.
Untuk sepersekian detik, udara di antara mereka seolah membeku. Brian menghentikan gerakannya yang hendak menarik kursi dan matanya menatap dalam-dalam ke arah Kyra, seolah sanggup membaca seluruh kebohongan yang tersimpan rapi di balik meja makan mewah tersebut.
"Siapa dia?" tanya Tuan Gerald.
Pertanyaan Tuan Gerald mengejutkan semua keluarga Andreas, bahkan Kura pun ikut terkejut dan takut dalam waktu bersamaan.
'Gak, aku nggak mau masuk kedalam keluarga Raymond. Mereka sangat menakutkan,' batin Kyra.
"Aku tidak suka mengulangi pertanyaanku, Freddy. Kau tahu, kan?" tanya Tuan Gerald.
"Tuan Gerald, perkenalkan ini anak kandung saya... namanya Kyra, sejak kecil dia tinggal dengan Paman dan Bibinya di desa. Tapi, Paman dan Bibinya baru saja meninggal, jadi saya suruh dia datang kesini. Sebenarnya, saya sudah sering menjemput dia, tapi dia tidak mau," jawab Papa Freddy penuh dusta.
"Lalu, yang dijodohkan dengan Brian adalah dia?" tanya Tuan Gerald.
"I-iya, Tuan," jawab Papa Freddy.
"Bukankah seharusnya Sherly, kenapa tiba-tiba berubah?" tanya Tuan Gerald.
Papa Freddy merasakan tenggorokannya tercekat seketika, keringat dingin sebesar biji jagung mengalir deras di pelipisnya dan membasahi kerah jas mahal yang dikenakannya.
Papa Freddy melirik sekilas ke arah Mama Dania yang wajahnya sudah sepucat kertas, sebelum akhirnya kembali menatap Tuan Gerald dengan senyum yang dipaksakan hingga bibirnya bergetar hebat.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧