Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Rumah Sakit Milik Siapa?
"Hendry... tolong... perutku sakit sekali..."
Suara Jessica hampir putus di ujung telepon.
Hendry sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai. Bungkus nasi di tangannya jatuh kembali ke meja. Wajahnya, yang baru saja sedikit longgar, berubah dingin dan tajam.
"Kamu di mana?" tanyanya cepat.
"Rumah... kamar..." Napas Jessica tersendat. "Aku tidak kuat..."
"Jangan bergerak. Aku datang sekarang."
Ia menutup telepon dan menatap Budiman. Orang tua itu tidak perlu diberi penjelasan panjang. Ia langsung mengangkat ponselnya.
"Mobil siap di depan," kata Budiman. "Bagus ikut."
Bagus sudah berdiri. Nasi lima porsinya ditinggalkan begitu saja. Tubuh besarnya bergerak cepat menuju pintu, tidak ada lagi keluguan di wajahnya.
Hendry berlari ke mobil.
Malam Kota Biru basah oleh gerimis tipis. Lampu jalan memantul di aspal, memanjang seperti garis-garis pisau. Mobil hitam itu melesat tanpa suara berlebihan, tetapi kecepatannya membuat setiap belokan terasa seperti ditarik paksa.
Di kursi belakang, Hendry menggenggam ponsel. Nama Jessica masih terasa panas di layar.
Satu jam lalu ia diusir dari rumah itu.
Sekarang ia kembali.
Ia datang tanpa niat meminta tempat tidur atau membuktikan apa pun kepada Mama Ayu. Wanita yang selama tiga tahun ia panggil istri sedang kesakitan.
Ketika mobil berhenti di depan rumah keluarga Mahendra, pintu utama sudah terbuka. Mama Ayu berdiri di ruang tamu dengan wajah panik, rambutnya berantakan, jauh dari sikap angkuh pagi tadi.
"Hendry!" Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak penuh hinaan. "Jessica di atas! Dia sakit sekali!"
Hendry tidak menjawab. Ia naik tangga dua langkah sekaligus.
Jessica meringkuk di tempat tidur, satu tangan menekan perut kanan bawah. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Bibirnya gemetar, tetapi ketika melihat Hendry, matanya sedikit terbuka.
"Aku... tidak mau merepotkan..." bisiknya.
"Diam dulu." Suara Hendry rendah, tegas. "Kita ke rumah sakit."
Ia membungkuk dan mengangkat Jessica tanpa ragu. Tubuh Jessica ringan, terlalu ringan untuk seseorang yang biasanya berdiri tegak memimpin rapat dan menahan semua masalah sendirian.
Mama Ayu mengikuti dari belakang. "Hati-hati! Jangan asal angkat! Kalau terjadi apa-apa, kamu--"
Hendry menoleh. Tatapannya membuat kalimat itu berhenti di tenggorokan Mama Ayu.
"Kalau Mama masih ingin Jessica selamat, jangan menghalangi."
Mama Ayu membeku.
Bagus membuka pintu mobil. Mama Ayu naik dengan wajah kusut, memegang tas Jessica dan kartu identitasnya. Mobil langsung meluncur ke RS Sejahtera, rumah sakit swasta terbaik di Kota Biru.
Di perjalanan, Jessica beberapa kali menggenggam baju Hendry karena nyeri. Hendry membiarkan tangannya dicengkeram sampai kainnya kusut.
"Bertahan," katanya. "Sebentar lagi sampai."
"Daun..." Jessica berbisik.
"Dia aman di rumah. Sekarang pikirkan dirimu."
Jessica menatapnya samar. Dalam sakitnya, ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun gelombang nyeri datang lagi, membuat tubuhnya menegang.
Begitu mereka tiba di IGD RS Sejahtera, perawat langsung membawa brankar. Dokter jaga memeriksa cepat, wajahnya serius.
"Kemungkinan apendisitis akut. Harus observasi dan siap operasi. Keluarga, urus administrasi sekarang."
Hendry mengangguk. "Siapkan yang terbaik."
Mama Ayu sudah kembali menemukan suaranya. "Tentu harus yang terbaik! Kami mau ruang VIP. Anak saya bukan pasien kelas biasa."
Petugas administrasi mengetik beberapa saat, lalu wajahnya berubah canggung. "Maaf, Bu. Ruang VIP penuh malam ini. Yang tersedia hanya kamar kelas satu."
"Penuh?" Mama Ayu membentak. "Ini RS Sejahtera. Rumah sakit sebesar ini masa satu ruang VIP pun tidak ada?"
"Sistem menunjukkan penuh, Bu."
Hendry berdiri di samping meja, masih menatap pintu IGD tempat Jessica dibawa masuk. "Coba cek lagi."
Petugas itu tampak ragu. Sebelum ia menjawab, seorang pria berkemeja putih dengan jas dokter datang dari koridor. Usianya sekitar empat puluhan, wajahnya licin, kartu jabatannya bertuliskan Wakil Kepala Bagian Rawat Inap.
"Ada masalah apa?" tanyanya.
Petugas administrasi cepat berdiri. "Pak, keluarga pasien Jessica Mahendra meminta ruang VIP."
Pria itu melihat Hendry dari kepala sampai kaki. Pakaian Hendry sederhana, tidak ada jam mahal, tidak ada pengawal yang tampak seperti pengusaha. Bagus berdiri beberapa meter di belakang dengan diam, tetapi pria itu bahkan tidak memperhatikannya.
"VIP sudah penuh," katanya datar. "Kalau mau kelas satu, silakan. Kalau tidak, tunggu."
Mama Ayu langsung menunjuk Hendry. "Lihat? Semua gara-gara kamu! Kalau kamu punya relasi sedikit saja, masa istrimu sakit harus menunggu kamar?"
Hendry tidak membalas.
Saat itu, suara laki-laki lain terdengar dari pintu masuk.
"Aduh, Tante Ayu? Jessica sakit?"
Yanto Mulyadi masuk dengan langkah santai, memakai polo mahal dan jam tangan mengilap. Di tangannya ada buket bunga yang jelas bukan dibeli untuk pasien darurat. Ia berhenti ketika melihat Hendry, lalu senyumnya melebar.
"Oh. Menantunya juga ada."
Mama Ayu seperti melihat penyelamat. "Yanto, kamu kenal orang rumah sakit ini, kan? Jessica butuh ruang VIP, tapi mereka bilang penuh."
Yanto melirik Hendry. "VIP? Itu gampang kalau tahu siapa yang harus ditelepon."
Ia berjalan ke meja administrasi, lalu menepuk bahu Wakil Kepala Bagian Rawat Inap seolah mereka teman lama.
"Pak, keluarga saya butuh satu kamar VIP."
Pria itu tersenyum lebih ramah dari tadi. "Pak Yanto, sebenarnya penuh, tapi saya coba cek lagi."
Kata-kata itu membuat mata Mama Ayu menyala. Ia langsung menatap Hendry dengan jijik lama yang kembali utuh.
"Kamu lihat? Inilah yang namanya kemampuan. Menggendong orang sakit saja tidak cukup."
Yanto tertawa pelan. "Tante, jangan terlalu keras. Pak Hendry mungkin memang tidak punya koneksi. Setiap orang punya nasib masing-masing."
Hendry mengeluarkan ponselnya.
Yanto melihat gerakan itu dan mencibir. "Mau telepon siapa? Teman ojek? Atau satpam kompleks?"
Mama Ayu tidak menahan diri. "Sudah, jangan pura-pura sibuk. Kalau tidak bisa bantu, minggir."
Hendry berjalan beberapa langkah menjauh dari meja administrasi. Ia menekan nomor Budiman.
Panggilan tersambung dalam satu nada.
"Pak Hendry?"
"RS Sejahtera," kata Hendry pendek. "Jessica butuh operasi dan ruang VIP. Mereka bilang penuh."
Di ujung sana, suara Budiman langsung berubah dingin. "Siapa yang mengatakan itu?"
"Wakil Kepala Bagian Rawat Inap."
"Tunggu tiga menit."
Hendry menutup telepon.
Tiga menit.
Yanto masih sibuk berbicara di depan meja, suaranya cukup keras agar semua orang mendengar.
"Saya kenal beberapa orang di yayasan rumah sakit ini. Kalau saya bicara, biasanya mereka paham."
Wakil Kepala Bagian itu mengangguk cepat. "Benar, Pak Yanto. Kami akan usahakan."
"Usahakan?" Hendry kembali berdiri di dekat mereka.
Yanto menoleh. "Kenapa? Tidak sabar? Orang tanpa koneksi memang biasanya cuma bisa marah."
Hendry menatapnya tenang. "Aku hanya ingin tahu. Kalau ruang VIP penuh, apa yang sedang kau usahakan?"
Wajah Wakil Kepala Bagian berubah sedikit.
Yanto menyipit. "Nada bicaramu cukup besar untuk seorang menantu yang baru diusir dari rumah."
Mama Ayu terkejut. "Yanto, kamu tahu?"
"Tante, Kota Biru kecil. Berita keluarga Mahendra cepat sekali menyebar." Yanto tersenyum tipis. "Saya hanya kasihan pada Jessica. Wanita sehebat dia harus bergantung pada laki-laki seperti ini."
Sebelum Mama Ayu menjawab, koridor mendadak ramai.
Beberapa dokter senior dan staf manajemen berjalan cepat dari lift. Di depan mereka, seorang pria berusia lima puluhan dengan jas dokter putih panjang melangkah paling cepat. Wajahnya tegang, dahinya berkeringat.
Wakil Kepala Bagian Rawat Inap langsung pucat.
"Direktur..."
Direktur RS Sejahtera tidak menatapnya. Ia berjalan melewati Yanto, melewati Mama Ayu, lalu berhenti tepat di depan Hendry.
Di bawah tatapan semua orang, ia membungkuk dalam.
"Pak Hendry, maafkan kelalaian kami."
Koridor seketika sunyi.
Yanto membeku.
Mama Ayu membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.
Hendry menatap Direktur itu. "Istri saya sedang menunggu tindakan medis."
"Operasi sudah kami siapkan. Dokter bedah terbaik sedang menuju ruang tindakan. Ruang VIP utama di lantai delapan kosong dan akan dibersihkan dalam lima menit."
Wakil Kepala Bagian Rawat Inap gemetar. "Tapi... tapi sistem tadi--"
Direktur berbalik. Tatapannya tajam seperti pisau.
"Sistem menunjukkan tiga ruang VIP kosong sejak pukul tujuh malam. Kenapa kau bilang penuh?"
Wajah pria itu langsung kehilangan warna. "Saya... saya hanya mengikuti prioritas pasien..."
"Prioritas atau pesanan pribadi?" suara Direktur turun menjadi dingin. "Mulai malam ini, kau dibebastugaskan. Besok pagi serahkan laporan tertulis ke komite etik rumah sakit."
"Direktur, saya--"
"Diam."
Satu kata itu memotong semua pembelaan.
Hendry tidak menikmati kepanikan pria itu. Matanya tetap tertuju ke pintu IGD.
"Pastikan operasi Jessica aman."
Direktur kembali membungkuk. "Kami akan bertanggung jawab penuh, Pak Hendry."
Yanto akhirnya menemukan suaranya. "Direktur, apa maksud Anda memanggil dia Pak Hendry? Dia hanya--"
Direktur menoleh, dingin dan sopan. "Pak Yanto, ini urusan internal RS Sejahtera. Mohon jangan mengganggu keluarga pasien."
Keluarga pasien.
Dua kata itu seperti tamparan di wajah Yanto.
Mama Ayu menatap Hendry seolah baru pertama kali melihatnya. "Hendry... kamu... kamu kenal Direktur?"
Hendry tidak menjelaskan. Ia hanya berkata, "Kenal beberapa orang."
Jawaban itu ringan, tetapi justru membuat koridor terasa lebih berat.
Beberapa menit kemudian, Jessica didorong menuju ruang operasi. Saat brankar melewati Hendry, Jessica membuka mata dengan susah payah.
"Hendry..."
Hendry menggenggam tangannya sebentar. "Aku di sini."
Jessica menatap wajahnya, masih pucat, tetapi genggamannya sedikit menguat sebelum perawat membawanya masuk.
Lampu ruang operasi menyala.
Waktu berjalan lambat. Mama Ayu duduk di kursi tunggu, masih gelisah, sesekali melirik Hendry. Yanto berdiri tidak jauh, wajahnya kaku. Ia ingin pergi, tetapi gengsinya menahannya.
Bagus berdiri di dekat pintu koridor seperti tembok hidup. Tidak ada yang berani mendekat sembarangan.
Satu jam kemudian, Direktur keluar bersama dokter bedah.
"Operasi berhasil," kata dokter bedah. "Apendiksnya hampir pecah. Untung cepat dibawa. Pasien akan dipindahkan ke ruang VIP untuk observasi."
Hendry menghela napas pelan. Baru kali itu bahunya turun.
Mama Ayu menutup wajah, hampir menangis. "Syukurlah..."
Yanto memaksakan senyum. "Baguslah. Kalau begitu saya--"
"Pak Yanto," kata Direktur tiba-tiba.
Yanto berhenti.
"Untuk kunjungan pasien Jessica Mahendra, harap mengikuti jam besuk resmi. Malam ini keluarga inti saja."
Wajah Yanto merah.
Kali ini, Hendry bahkan tidak perlu mengatakan apa-apa.
Setelah Jessica dipindahkan ke ruang VIP, koridor menjadi lebih tenang. Ruangan itu luas, bersih, dengan sofa pendamping dan kaca besar menghadap lampu kota. Mama Ayu berdiri di ambang pintu, matanya masih tidak percaya.
Ia baru saja melihat sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Hendry yang tadi pagi ia usir, cukup menelepon satu kali untuk membuat Direktur RS Sejahtera berlari.
Menjelang subuh, pintu lift terbuka.
Michelle Mahendra berlari keluar dengan seragam sekolah yang belum rapi, napasnya terengah-engah. "Mbak Jessica gimana?"
"Sudah selesai operasi," jawab Hendry. "Aman. Masih tidur."
Michelle menatapnya. Matanya masih merah karena panik, tetapi di dalamnya ada kilatan yang berbeda.
Ia berjalan mendekat, menarik pelan lengan baju Hendry, lalu berbisik,
"Mas Hendry, tadi kamu keren banget. Kamu sebenarnya siapa sih?"