Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagai Sihir
“Daddy, bibirmu berdarah,” ucapnya cemas.
Leo tertawa kecil menatapnya.
“Kau terlalu bersemangat mengigitnya.”
Yuna terdiam sebentar mendengar jawaban Leo dan ia mengalihkan pandangan dengan rona dikedua pipinya. Dia malu dan merasa bersalah tetapi tidak ingin minta maaf karena membuat luka di bibir Leo. Itu bukan kesalahan menurutnya. Itu karena ia begitu tergoda, itu karena Leo begitu lezat.
“Sini, biar ku obati.” Yuna mencoba bangkit dengan tubuh yang masih terekspos sempurna.
Leo membantu Yuna untuk duduk tapi langsung memeluknya. Dia tidak mengizinkan bahkan seekor nyamuk melihat tubuh polos istrinya.
“Hei, bagaimana aku bisa mengobati bibirmu jika kau memelukku seperti ini,” ucap Yuna. Tangannya berada di punggung Leo. Punggung yang masih terbalut kemeja.
“Tidak perlu mengobatinya. Ini adalah bukti jika kau sangat menginginkanku,” jawab Leo. Dan Yuna langsung memukul punggungnya pelan.
“Bagaimana, Sayang. Disini sangat menantang bukan?” Leo berbisik menggodanya lagi. Hembusan nafasnya hangat dan menyihir.
Wajah Yuna memerah dengan malu. Dia menyembunyikan wajahnya di pundak Leo. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Leo yang memabukkan.
Leo tersenyum menang. Yuna diam dan tidak menyangkal itu artinya, iya. Tangan Leo mengusap punggung halus Yuna dan bergerak ke bawah, mengangkat Yuna dan membuat wanita itu duduk di pangkuannya.
“Awww." Yuna menjerit dan langsung memeluk Leo. “Daddy.”
“Hmm.” Jawab Leo tanpa membuka mulutnya. “Bergeraklah, Sayang,” bisik Leo.
Bagai sihir, saat sebuah mantra diucapkan tubuh itu bergerak dengan begitu indah. Menciptakan debaran-debaran dahsyat yang membuatnya semakin gila.
Matahari siang yang terik hari ini tidak terlihat. Hanya ada gelombang panas dari diri yang mencinta. Mereka terbakar bukan oleh panas matahari, bukan juga oleh api tetapi oleh gairah yang menjalar disetiap aliran darah. Kemeja itu tertanggal dari pemiliknya.
Leo kembali merebahkan Yuna dan peluh keringatnya jatuh di kening wanitanya. Bagai lelehan salju dingin yang semakin membuat mereka berpelukan erat. Tidak ada syair seindah ini, tidak pula dengan sajak-sajak cinta milik para pujangga. Ini adalah sebuah rasa yang aksa yang tak tersentuh oleh apapun selain dua hati yang mencinta.
Dan teriakan panjang penuh pemujaan mengakhiri siang panas ini.
Leo membawa Yuna ke kamar mandi setelah itu. Bagaimana Leo tidak berani melakukan ini di kantor. Disini, tersedia pakaian ganti miliknya, milik Yuna dan bahkan milik si kecil.
Leo keluar kamar mandi terlebih dahulu, ia menempelkan tangannya pada dinding yang terletak diujung bagian kanan dan dinding itu terbuka. Memperlihatkan banyak sekali pakaian dan segala macam aksesorisnya.
Setelah mengganti baju dan duduk kembali di sofa. Yuna mengusap bibir Leo.
“Sakit?” tanyanya.
Leo menggeleng. Dia mengambil minuman di atas meja lalu memberikannya pada Yuna. Dia minum setelah Yuna meminumnya. Kemudian ia mengambil makanan yang tadi Yuna bawa dan ia mulai menyendoknya. Dia juga menyendok untuk Yuna.
“Daddy, aku ingin berkunjung ke rumah Mama,” ucap Yuna.
Leo menjawabnya dengan anggukan. Dia tidak bersuara karena dia tengah makan. Dan Yuna juga langsung diam tidak melanjutkan pembicaraan.
Setelah selesai makan, dia baru melanjutkan.
“Bagaimana jika aku langsung kesana setelah menjemput si kecil,” ucap Yuna. Dia tahu jika hari ini Leo akan pulang larut lagi.
“Boleh. Yang penting kau harus selalu hati-hati,” jawab Leo.
Yuna mengangguk dengan senyum dan memberi kecupan manis di bibir Leo.
“Aku mencintaimu,” ucap Yuna dan kemudian mencubit pipi Leo. Dia tiba-tiba gemas pada laki-laki itu. Bibirnya sangat seksi, sungguh. Bagaimana dia bisa tidak tergoda dan menikmatinya hingga berdarah.
“Sayang, apa kau menginginkannya lagi?” Leo bertanya dengan pandangan mata yang menggoda.
“Hahaa, kau harus kerja. Aku tidak mau tidur malamku kedinginan karena kau tidak segera menyelesaikan pekerjaanmu hari ini,” jawab Yuna.
Leo tertawa lebar dan melihat jam dipergelangan tangannya. Dia sudah telat tiga puluh menit sebenarnya. Dion di depan sana bahkan sampai kesemutan karena menunggunya. Asisten satu itu tidak berani untuk mengetuk. Dia akan habis jika berani melakukannya.
Pelan, pintu ruangan itu terbuka dan Dion bernafas dengan lega.
“Hati-hati,” ucap Leo lagi saat mengantar Yuna sampai di depan ruangannya. Dia meminta maaf karena tidak bisa mengantar sampai ke bawah.
"Tidak apa-apa," jawab Yuna. "Semangat dan aku menunggumu pulang," ucap Yuna penuh kelembutan.
Leo mengangguk.
Dion membungkukkan badan dan dengan sopan mengantar nyonya mudanya turun ke bawah. Selanjutnya, ia mempercayakan pada Albar.
Albar membukakan pintu mobil dengan sopan. Dan ia langsung sadar jika Nyonya muda berganti pakaian. Pikirannya menjadi jalan-jalan kemana-mana.
Disisi lain, Dion segera kembali ke ruangan Leo dan memberinya beberapa berkas yang harus Leo koreksi sebelum kembali masuk ke ruang pertemuan lagi.
Dion mengerutkan keningnya saat ia memperhatikan wajah Leo.
“Boss, maaf, bibir anda terluka,” ucapnya pelan takut ia salah kata. Dia berfikir jika mungkin Tuan muda membutuhkan obat atau vitamin.
“Siapa yang mengizinkanmu untuk berbicara,” jawab Leo tegas, menakutkan dan mencekam.
Dion mendelik dan langsung menunduk mendengar itu. “M-maaf, Boss,” ucapnya tergagap. Namun sejurus kemudian ia menyadari satu hal. Dia langsung menarik mundur ingatannya. Baju dua tuannya yang berganti, bibir terluka. Oh my … membayangkan itu, dia ingin segera menyudahi keplayboy-annya dan segera menikah.
🍃🍃🍃
Si kecil langsung bersorak bahagia saat Yuna memberitahunya jika mereka langsung kerumah Oma. Sesampainya di sana. Oma langsung menyambutnya. Menghujaninya dengan ciuman di pipi hingga pipi Arai terasa sakit.
“Kau semakin besar, Sayang. Sepertinya Oma tidak kuat menggendongmu lagi,” ucap Oma sambil terus menciumi pipi Arai.
“Aku sudah besar Oma, jadi Oma tidak perlu menggendongku. Yang harus digendong itu adik kecil,” jawab si kecil.
“Ohh, iya, ya. Benar.” Oma mengangguk-angguk. Kemudian Mama beralih pada Yuna. Mencium kedua pipi dan juga keningnya. Tak ketinggalan, sebuah usapan penuh kasih untuk cucu yang masih di dalam perut. Beliau kemudian mengajak mereka masuk.
“Ada Kak Nora di dalam, ada Nyonya Mahaeswara juga,” ucap beliau.
Yuna mengangguk. “Senangnya bisa bertemu semua,” jawab Yuna.
“Mereka ada di kamar samping bersama Neva,” jelas Mama. Lalu Yuna pamit untuk menemani si kecil mengganti baju terlebih dahulu.
“Biar sama Mama saja,” jawab Mama segera. Beliau suka saat cucunya berkunjung dan beliau tidak akan melewatkan apapun untuk bercengkrama bersama mereka.
“Yuk, sama Oma,” ajaknya pada Arai.
“Tapi aku sudah besar, tidak perlu ditemani,” si kecil menolaknya dengan tegas.
Oma langsung menatapnya dan mengelikitik pinggangnya. “Gayanya …,” seru beliau. “Kau benar-benar Lee kecil,” lanjut beliau dan mencium pipi halus cucunya.
Setelah Mama dan Arai pergi ke kamar, Yuna berjalan ke kamar samping yang Mama maksud, untuk menemui semuanya. Kamar dengan dinding-dinding kaca yang mengelilinginya. Dari dalam kamar itu, terlihat taman luas dan burung-burung serta kupu-kupu yang mengisinya.
Yuna menyapa semuanya dan ia mencium pipi Neva dengan sayang.
“Besok jadwal ke dokter lagi, bukan,” ucap Yuna. Dia ingat jadwal control Neva.
“Iya,” jawab Neva. “Rasanya aku tidak sabar,” lanjutnya. Pun juga dengan Mama Mahaeswara, beliau sangat tidak sabar dengan hasilnya. Semoga janinnya sudah terlihat jelas.
Mereka berbincang disana. Yuna duduk di samping Nora. Dia menanyakan keberadaan Kak Zora dan Aurora.
“Zora masih mengikuti eksra, dan si baby baru saja tidur. Dia ada di kamar,” jawab Nora. Yuna mengangguk. Dan mereka kembali saling berbincang. Kemudian, Nora meminta waktu untuk berbicara pada Yuna.
Mereka berdua duduk di ruangan sebelah kiri dekat kolam renang.
“Aku melihat dia tadi pagi,” ucap Nora.
Yuna menatapnya. “Kiara?” tebaknya.
Nora mengangguk.
“Iya, Kak. Dia memang ada di Ibu Kota,” kata Yuna.
“Jadi kau sudah tahu.”
Yuna mengangguk.
“Sejak kapan?” tanya Nora.
“Aku tidak tahu jelas. Aku juga tidak sengaja bertemu dengannya,” jawab Yuna. Dia menatap Nora lebih dalam. “Apa ada sesuatu yang terjadi antara Kak Nora dan dia?”
Nora membalas tatapan Yuna dan kemudian dia mengalihkan pandangan. “Tidak ada. Aku hanya takut,” ujarnya.
Yuna diam menunggu Nora melanjutkan ucapannya.
“Sejauh ini, hanya kamu dan dia yang mengetahui semuanya,” ucap Nora. Dia membawa kembali tatapannya pada Yuna. “Aku takut dia membongkar rahasia itu,” lanjutnya dengan tatapan mata yang cemas.
boleh request gk kak... kpan² klo kiara ketemu yuna pas ada leo juga,pasti seru..