NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Mama Tahu

Angela tahu pada pagi yang sangat tidak tepat.

Hari itu Keira hanya berniat mengembalikan mangkuk sup ke apartemen Xavier. Semalam Xavier membuat sup jagung karena Keira mengeluh malas makan nasi. Ia membawa pulang satu mangkuk, menghabiskannya sambil menggambar, lalu tertidur sebelum sempat mencuci.

Pagi-pagi, dengan rambut diikat asal, cardigan menutupi piyama, dan mangkuk bersih di tangan, Keira mengetuk pintu seberang.

Xavier membuka pintu dengan kaus rumah dan wajah setengah mengantuk.

"Pagi."

"Aku balikin mangkuk."

"Masuk dulu?"

"Aku belum cuci muka dengan layak."

"Aku sudah lihat kamu lebih parah."

Keira menatapnya tajam. "Sebagai pacar, tugas kamu adalah pura-pura tidak tahu."

"Baik. Aku pura-pura."

Mochi muncul dari belakang kaki Xavier dan langsung mengeong pada Keira. Tentu saja Keira kalah. Ia masuk hanya untuk mengelus Mochi sebentar. Sebentar berubah menjadi sepuluh menit karena Xavier menyeduh teh hangat, lalu memaksa Keira makan dua potong roti sebelum minum obat pagi.

"Kamu ini seperti aplikasi pengingat obat berbentuk manusia," gerutu Keira.

"Lebih efektif."

"Lebih cerewet."

"Makan."

Keira makan.

Saat ia akhirnya keluar dari apartemen Xavier, satu tangan memegang mangkuk kosong baru berisi buah potong yang Xavier paksa bawa pulang, satu tangan lagi mengelus Mochi yang mencoba ikut keluar.

Pintu lift di ujung koridor terbuka.

Angela keluar.

Keira berhenti.

Xavier yang berdiri di belakangnya juga berhenti.

Mochi mengeong.

Seluruh koridor lantai enam belas mendadak terasa seperti ruang sidang.

Angela membawa tas kerja kecil dan paper bag obat dari apotek. Rambutnya rapi, blazer kremnya sempurna, wajahnya tetap tenang. Namun mata Angela bergerak cepat: dari Keira yang keluar dari apartemen Xavier, ke mangkuk di tangan Keira, ke Xavier yang berdiri di balik pintu, lalu kembali ke wajah putrinya.

"Keira."

Satu kata.

Tidak keras.

Tetapi cukup membuat Keira ingin kembali menjadi cairan.

"Mama," jawab Keira, terlalu cepat. "Mama kok datang?"

"Mama bilang semalam akan mampir pagi ini mengantar obat."

Keira mengingat chat yang belum ia baca karena semalam tertidur.

Sempurna.

Hari ini Tuhan jelas sedang bereksperimen dengan hidupnya.

Xavier melangkah sedikit ke depan. Wajahnya langsung berubah lebih sopan.

"Selamat pagi, Tante Angela."

Angela menatapnya.

Keira hampir tersedak napas sendiri. Xavier memanggil ibunya Tante Angela dengan begitu natural, seolah mereka tidak baru saja tertangkap dalam posisi yang sangat mudah disalahpahami.

"Selamat pagi," balas Angela. Suaranya tetap rapi. "Xavier, ya?"

"Iya."

"Tetangga Keira."

Keira cepat-cepat menambahkan, "Teman sekampus juga, Ma."

Jeda satu detik.

Keira ingin menutup mata.

Xavier menjawab dengan sangat tenang, "Sekarang pacarnya juga, Tante."

Keira menoleh tajam.

Xavier tetap menatap Angela.

Koridor terasa semakin sunyi.

Angela tidak langsung bereaksi. Ia hanya memandang Xavier lebih lama, seperti sedang membaca kontrak penting yang huruf kecilnya berbahaya.

"Begitu," katanya akhirnya.

Keira langsung berdiri lebih tegak. "Ma, aku bisa jelaskan."

"Mama rasa memang perlu."

Tidak ada teriakan. Tidak ada drama. Justru ketenangan Angela membuat Keira lebih gugup.

Xavier menatap Keira sekilas. "Aku tunggu di sini?"

Keira belum sempat menjawab, Angela sudah berkata, "Lebih baik Keira bicara dengan Mama dulu."

"Baik, Tante."

Xavier mundur. Sebelum menutup pintu, ia menatap Keira sebentar, tatapan yang bertanya apakah ia baik-baik saja.

Keira mengangguk kecil.

Pintu Xavier tertutup.

Mochi mengeong dari dalam, seolah kecewa tidak diundang ke rapat keluarga.

Di apartemen Keira, Angela meletakkan paper bag obat di meja, lalu duduk di sofa. Keira meletakkan mangkuk buah di dapur, mencuci tangan lebih lama dari perlu, kemudian duduk di kursi seberang.

Beberapa detik mereka hanya diam.

Angela membuka lebih dulu.

"Sejak kapan?"

"Baru beberapa hari resmi."

"Resmi?"

Keira menggigit bibir. "Kami pacaran."

Kata itu terasa berbeda saat diucapkan di depan Angela. Lebih berat. Lebih nyata.

Angela menatap putrinya. "Sebelumnya?"

"Sebelumnya... dekat. Dia yang sering bantu aku makan teratur. Dia juga yang punya Mochi. Mama pernah dengar aku cerita soal kucing tetangga, kan?"

"Mama ingat."

Keira menunduk. "Aku belum cerita karena semuanya masih baru. Dan karena aku tidak tahu harus mulai dari mana."

Angela menghela napas pelan.

Keira langsung menegang, bersiap menerima kalimat tentang fokus berobat, tentang jangan pacaran dulu, tentang tubuhnya sedang tidak punya ruang untuk patah hati.

Namun Angela berkata, "Kamu terlihat lebih sering tersenyum belakangan ini."

Keira mengangkat kepala.

Angela menatap vas bunga di meja gambar, buket besar yang sudah dipindahkan ke vas lain, sticky note sarapan yang Keira kira sudah ia sembunyikan tetapi ternyata masih menempel di papan kecil.

"Mama bukan tidak melihat," lanjut Angela. "Kamu lebih mau makan. Lebih mau membalas pesan. Waktu kontrol terakhir, kamu tidak lagi seperti orang yang menunggu vonis."

Tenggorokan Keira terasa penuh.

"Xavier salah satu alasannya?" tanya Angela.

Keira terdiam, lalu mengangguk.

"Iya."

Angela menutup mata sebentar. Ketika membukanya lagi, ekspresinya melembut, tetapi kecemasan di sana tidak hilang.

"Mama senang kamu punya alasan untuk bahagia, Nak."

Kata `Nak` membuat mata Keira panas.

"Tapi Mama juga takut."

Keira menggenggam ujung piyamanya. "Aku tahu."

"Kondisimu belum stabil. Kamu masih butuh kontrol, obat, pola makan, istirahat. Mama tidak mau kamu merasa harus kuat hanya karena punya pacar."

"Xavier tidak membuat aku begitu."

"Mama belum tahu dia."

"Dia..." Keira berhenti, mencari kata yang cukup. "Dia tidak sempurna. Dia kadang nyebelin. Terlalu mengatur soal makanan. Terlalu tenang sampai membuat aku ingin mengguncangnya. Tapi dia tidak membuat aku merasa sakit itu merepotkan."

Angela diam.

Keira melanjutkan, suaranya lebih pelan. "Di depan dia, aku bisa bilang aku mual. Aku bisa tidur. Aku bisa takut. Dan dia tidak pergi."

Ruangan menjadi hening.

Angela menatap Keira lama sekali.

"Kamu suka dia?"

Keira tersenyum kecil, malu tapi tidak menghindar. "Iya."

"Dia tahu tentang penyakitmu?"

Jantung Keira mencelos.

Pertanyaan itu bukan soal sistem. Hanya soal kanker. Namun tetap saja, rahasia itu terasa seperti batu di lidahnya.

"Belum semuanya," jawab Keira hati-hati. "Dia tahu aku punya masalah lambung dan sering kontrol. Tapi diagnosis lengkap... belum."

Angela langsung menegakkan punggung. "Keira."

"Aku tahu, Ma."

"Itu bukan hal kecil."

"Aku tahu."

"Kalau hubungan kalian serius, dia perlu tahu suatu saat."

Keira menunduk. "Aku belum siap."

Angela ingin mengatakan sesuatu, tetapi menahannya. Keira bisa melihat perjuangan itu di wajah ibunya. Angela yang dulu mungkin akan langsung mengatur, memutuskan, memaksa. Angela sekarang mengambil napas dulu.

"Mama tidak akan memaksamu hari ini," katanya akhirnya. "Tapi jangan tunggu sampai rahasia itu menyakiti kalian berdua."

Keira mengangguk pelan.

"Aku janji akan pikirkan."

"Bukan hanya pikirkan. Persiapkan."

"Iya, Ma."

Angela berdiri. "Mama ingin bicara sebentar dengan Xavier."

Keira langsung panik. "Ma."

"Bukan untuk menginterogasi."

"Wajah Mama tidak mendukung pernyataan itu."

Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Angela bergerak sedikit.

"Sedikit saja."

Xavier datang setelah Keira mengirim pesan. Ia memakai jaket tipis di atas kaus rumah, rambutnya sudah dirapikan. Begitu masuk, ia tidak duduk sebelum Angela mempersilakan.

Keira berdiri di dekat dapur, siap menjadi pemadam kebakaran.

Angela menatap Xavier. "Keira sedang menjalani perawatan. Kamu tahu?"

Xavier menjawab tenang, tetapi matanya langsung bergerak ke Keira. "Saya tahu dia harus menjaga makan dan sering tidak enak badan. Saya belum tahu semua detail."

Angela menangkap kejujuran itu.

"Kalau kamu dekat dengan Keira, kamu tidak boleh menganggap ini permainan."

"Saya tidak menganggap Keira permainan, Tante."

Keira menahan napas.

Suara Xavier rendah. Tidak defensif. Tidak sok dewasa. Hanya tegas.

"Saya mungkin belum tahu semuanya. Tapi saya tahu saya ingin menjaga dia dengan benar."

Angela menatapnya cukup lama hingga Keira hampir lupa bernapas.

Akhirnya, Angela berkata, "Menjaga bukan berarti mengatur seluruh hidupnya."

"Saya mengerti."

"Dan kalau suatu saat kamu merasa tidak sanggup, jangan menyakitinya dengan setengah hati."

Wajah Xavier mengeras sedikit.

"Saya tidak akan pergi hanya karena dia sakit."

Keira menggenggam ujung meja.

Angela juga diam.

Kalimat itu belum bisa diuji oleh semua kenyataan yang nanti datang. Tetapi untuk saat ini, Keira mendengarnya dengan seluruh tubuh.

Setelah Xavier kembali ke apartemennya, Angela bersiap pergi. Di depan pintu, ia berhenti dan menatap Keira.

"Mama tidak melarang."

Keira berkedip.

"Tapi Mama akan tetap khawatir."

"Aku tahu."

Angela mengulurkan tangan, merapikan rambut Keira yang masih berantakan dari pagi.

"Bahagia boleh, Keira. Tapi jangan lupa hidupmu juga harus dijaga."

Keira menelan rasa hangat yang naik ke tenggorokan.

"Iya, Ma."

Setelah Angela pergi, Keira berdiri lama di ruang tamu. Vas bunga di meja, paper bag obat, mangkuk buah dari Xavier, semua benda itu berada di ruangan yang sama.

Cinta dan sakit.

Harapan dan kekhawatiran.

Untuk pertama kalinya, Keira tidak merasa harus memilih salah satu.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!