NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22 Runtuhnya Kertanegara

"Adipati, wajah orang yang ditinggalkan memang sulit disembunyikan."

Kalimat Arjuna membuat Balai Agung meledak dalam bisik-bisik.

Kertanegara berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat, napasnya pendek. Beberapa jam lalu ia masih seorang adipati kaya yang pintunya diketuk banyak pejabat. Kini semua orang melihatnya seperti melihat peti busuk yang baru dibuka.

Prabu Naradewa mengangkat tangan.

Seketika balai menjadi sunyi.

"Kertanegara," kata raja, suaranya rendah, "kau diberi kesempatan menjelaskan."

Kertanegara jatuh berlutut. "Baginda, hamba difitnah. Hamba memang memiliki gudang, tetapi hamba tidak mengurus isinya satu per satu. Pengurus, buruh, bahkan penjaga pos bisa memakai nama keluarga hamba. Pangeran Mahkota terlalu cepat menuduh."

Arjuna tidak memotong.

Ia justru membiarkan Kertanegara bicara panjang. Orang yang sedang tenggelam sering menyeret lumpur ke mulutnya sendiri.

"Hamba setia pada kerajaan," lanjut Kertanegara. "Selama bertahun-tahun keluarga hamba memberi kain untuk upacara, beras untuk lumbung, minyak untuk pelita istana. Apakah semua itu akan dilupakan hanya karena beberapa peti yang belum tentu milik hamba?"

Baskara akhirnya mengangkat wajah. "Baginda, Adipati Kertanegara benar bahwa keluarganya sudah lama membantu istana. Barangkali pemeriksaan lebih tertutup akan lebih bijaksana agar nama kerajaan tidak gaduh."

Beberapa pejabat mengangguk kecil. Bukan karena mereka percaya Kertanegara, melainkan karena banyak orang takut jika buku besar itu membuka nama lain.

Arjuna menatap Baskara. "Adinda sangat memperhatikan nama kerajaan."

"Tentu, Kakanda."

"Kalau begitu, Adinda tentu setuju bahwa orang yang memakai nama kerajaan untuk menyelundupkan bahan senjata harus dihukum lebih berat, bukan disembunyikan demi menjaga wajah."

Baskara tersenyum tipis. "Adinda hanya meminta kehati-hatian."

"Kehati-hatian sudah dilakukan." Harsa maju satu langkah. "Penyitaan disaksikan Pengadilan Kerajaan, dua saksi gudang, saksi pasar, dan penjaga pos. Buku besar disegel di tempat. Peti senjata mentah disimpan di Pengadilan. Jika Baginda menghendaki, semua saksi bisa dipanggil satu per satu."

Naradewa menatap Harsa. "Kau berani menjamin prosesnya?"

Harsa berlutut. "Dengan jabatan dan kepala hamba, Baginda."

Jawaban itu membuat beberapa orang menarik napas. Tidak banyak pejabat muda berani meletakkan kepala di depan raja.

Kertanegara mulai panik. "Baginda, hamba meminta waktu. Beri hamba waktu mencari pengurus yang bersalah."

Arjuna mengangkat tangan. Adi membawa nampan kecil berisi surat basah yang tintanya sedikit luntur.

"Ini ditemukan di rumah utama Kertanegara semalam."

Wajah Kertanegara berubah.

Baskara menegang, sangat halus.

Arjuna membuka surat itu di depan semua orang. "Isinya pendek. Jangan sebut nama Pangeran Baskara. Selesaikan sendiri."

Balai Agung benar-benar sunyi.

Baskara langsung berdiri. "Kakanda."

Arjuna menoleh. "Aku belum berkata surat ini ditulis oleh Adinda."

Wajah Baskara membeku.

Naradewa menatap kedua putranya. Udara di antara mereka menegang seperti tali yang ditarik dari dua arah.

Arjuna melanjutkan, "Surat ini tidak cukup untuk menuduh Pangeran Baskara. Tulisannya bisa dipalsukan, utusannya bisa disangkal. Karena itu Ananda tidak memakainya untuk menuntut Adinda."

Baskara duduk kembali perlahan. Senyumnya kembali, tetapi lebih tipis.

"Namun surat ini cukup untuk menunjukkan bahwa Kertanegara sendiri percaya ada nama yang harus ia lindungi."

Kertanegara tiba-tiba menengadah. "Yang Mulia Pangeran Baskara tahu! Semua uang itu mengalir ke..."

"Adipati!" Baskara memotong, kali ini suaranya lebih keras daripada yang ia inginkan.

Semua orang menoleh.

Baskara segera mengatur napas. "Jangan menyeret nama kerajaan untuk menutup kejahatanmu. Jika kau bersalah, akui di depan Baginda."

Kertanegara menatapnya seperti baru melihat wajah asli seseorang yang selama ini ia sembah.

"Kau..." suaranya serak. "Kau menerima emas itu."

Baskara tidak menjawab.

Ratih tidak ada di balai. Tidak ada tangan permaisuri yang bisa menariknya keluar. Tidak ada Puri Baskara yang membuka gerbang. Hanya ada lantai dingin Balai Agung dan ratusan mata.

Arjuna menurunkan pandangan pada Kertanegara. "Adipati, kau ingin menyeret orang lain, tetapi seluruh peti memakai cap keluargamu. Para buruh menerima perintah dari rumahmu. Gudangmu menyimpan bahan senjata. Buku besarmu mencatat pembayaran. Jika ada orang lain di atasmu, bawa bukti. Jangan hanya membawa ketakutan."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tamparan.

Kertanegara membuka mulut, tetapi tidak ada bukti yang bisa ia keluarkan. Semua surat yang menghubungkan langsung ke Puri Baskara sudah dibakar, disembunyikan, atau dibawa Parman lari. Ia sendiri yang dulu menganggap itu aman.

Harsa tidak membiarkan ruang itu jatuh ke kasihan yang salah.

"Baginda, masih ada dua saksi yang menunggu di luar."

Naradewa menoleh sedikit. "Panggil."

Pintu Balai Agung dibuka. Seorang buruh gudang masuk lebih dulu. Pakaiannya sederhana, lututnya gemetar saat menyentuh lantai, tetapi ia membawa sepotong papan kecil yang ujungnya hangus. Di belakangnya, seorang pedagang pasar berjalan dengan bahu kaku. Pergelangan tangannya masih dibalut kain.

Kertanegara langsung membentak, "Mereka orang rendahan! Kesaksian mereka bisa dibeli."

Pedagang itu mengangkat wajah. Matanya merah, bukan karena berani, melainkan karena terlalu lama takut.

"Hamba memang orang rendahan, Baginda," katanya. "Karena itu orang Adipati mudah memukul hamba ketika hamba menolak membayar biaya jalan. Kios hamba ditutup tiga hari. Anak hamba tidak makan nasi, hanya bubur encer."

Bisik-bisik kembali pecah. Kali ini bukan karena penasaran, tetapi marah yang mulai mendapat arah.

Buruh gudang meletakkan papan hangus itu di depan Harsa. "Ini dari pintu gudang barat. Hamba yang diperintah menyiram minyak. Mereka bilang kalau api naik, semua bukti hilang, dan Pangeran Mahkota akan terlihat seperti membuat keributan kosong."

"Siapa yang memberi perintah?" tanya Harsa.

Buruh itu menelan ludah. Tangannya bergetar keras. "Pengurus rumah Kertanegara, Tuan. Ia memakai cincin cap keluarga."

Kertanegara maju setengah langkah. "Bohong!"

Petugas Pengadilan segera menahannya.

Arjuna tidak mengangkat suara. Justru karena itulah ucapannya terdengar sampai ke sudut paling belakang.

"Adipati meminta pemeriksaan tertutup demi nama kerajaan. Tetapi orang pasar diperas dengan nama kerajaan. Buruh kecil disuruh membakar bukti dengan nama kerajaan. Jika semua ini ditutup, yang terlindungi bukan nama kerajaan, melainkan tangan yang kotor."

Naradewa memandang papan hangus itu lama. Sesuatu di wajah raja mengeras. Selama ini ia melihat perkara ini sebagai pengkhianatan pejabat. Kini ia melihat suara rakyat kecil yang selama bertahun-tahun tidak sampai ke balai.

Kertanegara menyadari perubahan itu. Kakinya kehilangan tenaga sebelum palu keputusan dijatuhkan.

Naradewa akhirnya berdiri.

Semua orang langsung berlutut.

"Adipati Kertanegara," katanya, "atas bukti penyelundupan rempah dan logam, pemakaian segel kerajaan palsu, penggelapan pajak, ancaman terhadap saksi, dan penyimpanan bahan senjata tanpa izin, keluarga Kertanegara dicabut hak pengelolaan gudang dan tanah dagang sampai pemeriksaan selesai."

Kertanegara gemetar. "Baginda..."

"Kau ditahan oleh Pengadilan Kerajaan."

Suara di balai seperti tertahan di tenggorokan semua orang.

"Jika terbukti kau membiayai pasukan pribadi, hukumanmu bukan hanya pencabutan gelar."

Kertanegara jatuh terduduk.

Harsa memberi isyarat kepada petugas Pengadilan. Dua orang maju, tetapi Kertanegara tiba-tiba meronta.

"Baskara!" teriaknya. "Pangeran Baskara! Jangan diam! Katakan sesuatu!"

Baskara menatapnya.

Untuk satu detik, Arjuna melihat kemarahan dan ketakutan bertemu di mata adiknya. Namun Baskara memilih menunduk pada raja.

"Baginda, Adinda turut prihatin bila ada orang memakai nama kerajaan untuk kejahatan seperti ini."

Kertanegara tertawa. Suaranya pecah.

"Prihatin?"

Petugas menariknya berdiri. Ia masih berteriak saat dibawa keluar.

"Emas itu! Gudang itu! Puri Baskara tidak akan berdiri setinggi itu tanpa..."

Salah satu petugas menutup mulutnya atas perintah Harsa, bukan untuk melindungi Baskara, melainkan untuk menjaga proses tidak berubah menjadi kekacauan tanpa bukti.

Namun semua orang sudah mendengar cukup.

Baskara tetap duduk. Wajahnya tenang, tetapi tangannya di balik lengan jubah terkepal sampai kuku menekan kulit.

Arjuna melihatnya.

Ini belum cukup untuk menjatuhkan Baskara. Ia tahu itu. Naradewa juga tahu. Semua orang di balai tahu. Tetapi uang, gudang, jalur air, dan salah satu keluarga penyokong terbesar Baskara runtuh di depan mata mereka.

Untuk pertama kalinya, adiknya kehilangan sesuatu yang tidak bisa diganti hanya dengan senyum.

***

Sore itu, keputusan raja ditempel di papan pengumuman Kota Raja.

Gudang Kertanegara disegel. Jalur dagang mereka dibekukan. Pengurus utama ditahan. Barang-barang gelap dipindahkan ke Pengadilan. Para saksi pasar diberi perlindungan sementara.

Di Pasar Sentosa, orang-orang membaca pengumuman sambil berbisik. Beberapa takut, beberapa puas. Para pedagang kecil yang selama ini dipaksa membayar biaya jalan kepada orang Kertanegara mulai berani saling memandang.

Darmawan berdiri di depan kedainya, tersenyum seperti orang yang hanya menikmati sore.

"Satu dinding retak," gumamnya.

Garuda yang berdiri di sampingnya menjawab, "Belum runtuh semua."

"Dinding besar selalu mulai dari retak kecil."

Di Puri Timur, Anindya mendengar kabar dari Wulan.

"Kertanegara ditahan?" tanyanya.

"Benar, Gusti Putri. Semua orang di dapur membicarakannya."

Anindya bersandar di bantal. Tubuhnya masih lemah, tetapi matanya lebih terang.

"Yang Mulia sudah kembali?"

"Belum."

Namun tidak lama kemudian, Arjuna masuk. Ia masih mengenakan jubah dari Balai Agung. Wajahnya lelah, tetapi langkahnya lebih ringan daripada semalam.

"Kau menang?" tanya Anindya.

Arjuna duduk di kursi dekat dipan. "Belum."

Anindya menatapnya.

"Tapi satu kaki mereka patah."

Ia memahami. Kertanegara bukan akhir. Ia adalah awal dari keretakan.

"Baskara?" tanyanya pelan.

"Masih tersenyum."

"Senyum orang yang marah?"

Kali ini Arjuna benar-benar tersenyum. "Kau semakin pandai membaca musuhku."

"Musuh Puri Timur," koreksi Anindya.

Kata itu membuat Arjuna diam sesaat.

Puri Timur. Bukan hanya dirinya.

Ia menunduk, mengambil selimut yang mulai turun dari bahu Anindya, lalu menariknya kembali dengan hati-hati.

"Benar," katanya. "Musuh Puri Timur."

Di sisi lain keraton, Baskara melempar cangkir ke dinding.

Pecahannya berserakan di lantai Puri Baskara. Parman berdiri di sudut, masih menyembunyikan luka di lengan akibat pelarian dari Gedung Wayang Enam.

"Kertanegara bodoh," kata Baskara.

Parman menunduk. "Pangeran Mahkota bergerak lebih cepat dari perkiraan."

Baskara menatap pecahan cangkir. Dalam pantulannya yang kecil-kecil, ia melihat wajahnya sendiri terpecah.

"Tidak," katanya pelan. "Dia bukan bergerak lebih cepat."

Ia mengangkat mata, dingin dan gelap.

"Dia tahu ke mana aku akan bergerak sebelum aku bergerak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!