NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: S404

"Bersihkan darah di lenganmu."

Kalimat itu masih menempel di telinga Rayhan ketika Keira keluar dari aula amal dengan langkah yang tidak sekali pun menoleh.

Di belakangnya, para tamu masih berbisik tentang Anya, polisi, dan darah yang tertinggal di lantai marmer. Kilatan kamera dari wartawan yang tertahan di luar pagar terus menyambar seperti petir kecil. Malam yang seharusnya dipakai orang kaya untuk saling memamerkan kemurahan hati berubah menjadi panggung pembunuhan, dan Keira berjalan menembus semuanya dengan punggung tegak.

Rayhan mengikuti dari jarak tiga langkah.

Ia tidak berani terlalu dekat. Pertanyaan bodoh yang baru saja keluar dari mulutnya masih menggantung di antara mereka, terlalu telanjang untuk lelaki sepertinya.

Bisa nggak, sekali-kali kau juga sayang padaku?

Keira tidak menjawab.

Ia hanya masuk ke mobil, menyebut nama sebuah bar di kawasan PIK kepada sopir, lalu menutup pintu sebelum Rayhan sempat menyentuh gagangnya.

Rayhan berdiri di sisi mobil selama dua detik. Luka di lengannya masih basah, perihnya datang terlambat. Ia mengangkat tangan, mengetuk kaca jendela sekali.

Kaca turun setengah.

"Pulang ke Villa Teluk," katanya pelan. "Kau baru saja menembak orang. Kau butuh istirahat."

Keira menoleh. Matanya kering, terlalu kering untuk seseorang yang baru saja membunuh perempuan yang pernah menghancurkan rumah tangganya.

"Aku tidak butuh perintah dari pelayanku."

Kaca naik lagi.

Mobil itu melaju.

Rayhan menarik napas, lalu masuk ke mobil lain yang disiapkan Sinar. Di kaca spion, ia melihat wajahnya sendiri, pucat dan berantakan. Untuk pertama kalinya sejak perceraian, ia berharap Keira memarahinya lebih lama. Apa pun lebih baik daripada diam yang membuatnya merasa ia sudah dikeluarkan dari hidup perempuan itu tanpa suara.

Bar yang dipilih Keira tidak terlalu ramai, tetapi cukup bising untuk menenggelamkan pikiran. Lampu biru dan merah bergerak di dinding, memantul di gelas-gelas tinggi. Musik berdenyut dari lantai, membuat meja ikut bergetar halus. Di sudut VIP lantai dua, Keira duduk sendirian dengan segelas minuman yang belum ia sentuh.

Rayhan masuk beberapa menit kemudian.

Ia tidak duduk di sebelahnya. Sesuai kontrak, ia berdiri di belakang sofa, seperti pelayan yang sedang menunggu perintah.

"Jangan berdiri di situ," kata Keira tanpa menoleh.

"Kalau aku duduk, kau akan bilang aku lupa posisiku."

"Kalau kau bicara terus, aku akan menyuruh keamanan menyeretmu keluar."

Rayhan diam.

Keira akhirnya mengangkat gelas. Cairan bening itu berhenti tepat di depan bibirnya. Ujung jarinya bergetar sedikit, sangat kecil, tetapi Rayhan melihatnya.

Ia menahan dorongan untuk merebut gelas itu.

"Keira."

"Apa?"

"Tanganmu."

Keira menatap jarinya sendiri, lalu tersenyum tipis. "Takut aku trauma?"

"Aku takut kau pura-pura tidak apa-apa sampai tubuhmu runtuh."

Ia tertawa pendek. Tidak ada hangat di sana. "Kau ahli soal pura-pura."

Rayhan menerima tamparan itu tanpa membalas. Di lantai bawah, seorang bartender memecahkan gelas. Suara pecahnya tajam, membuat beberapa orang menoleh. Keira tidak.

Di seberang bar, dekat tangga darurat, Nathan berdiri dengan kemeja hitam dan mantel tipis. Tidak ada pengawal yang mencolok di sekitarnya, tetapi sikap tubuhnya terlalu tenang untuk seorang tamu biasa. Matanya sempat bertemu mata Rayhan.

Rayhan membaca sesuatu di sana.

Peringatan.

Atau rasa bersalah yang terlalu cepat disembunyikan.

"Koh Nathan datang," kata Keira, mengikuti arah pandangnya.

Nathan mengangkat gelas dari kejauhan. Senyumnya rapi, seolah kejadian di aula amal tadi hanya gangguan kecil dalam jadwal malamnya.

Keira tidak membalas.

"Dia tidak seharusnya ada di sini," gumam Rayhan.

"Semua laki-laki yang tidak seharusnya ada di dekatku ternyata selalu muncul," kata Keira. "Kau salah satunya."

Rayhan baru hendak menjawab ketika seorang pria berjaket hitam naik ke lantai dua.

Langkah pria itu tidak stabil, seperti mabuk, tetapi mata Rayhan menangkap tangan kanannya terlalu kaku di dalam saku. Tubuh Rayhan langsung menegang. Musik masih berdentum. Seorang pramusaji melintas membawa nampan. Dua perempuan tertawa keras di ujung koridor.

Pria itu mendadak menarik sesuatu dari sakunya.

Tabung kaca kecil.

Cairan di dalamnya berwarna nyaris bening, tetapi berkilau kehijauan saat terkena lampu bar.

Nathan, di sisi bawah tangga, bergerak setengah langkah.

Lalu berhenti.

"Keira, turun!"

Rayhan tidak menunggu Keira memahami. Ia melompati sofa, meraih bahunya, dan memutar tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya.

Tabung kaca pecah di punggung Rayhan.

Suara desis langsung naik, tipis dan mengerikan, seperti air mendidih menyentuh besi panas. Bau tajam menusuk hidung, campuran logam, antiseptik, dan sesuatu yang busuk. Kain kemeja Rayhan menghitam seketika. Kulit di bawahnya seperti disambar api.

Tubuhnya mengeras.

Keira membeku di dadanya.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu jeritan pecah di lantai dua.

"Jangan sentuh cairannya!" suara Nathan terdengar dari bawah, keras namun tidak naik mendekat.

Keira mengangkat kepala. "Rayhan?"

Rayhan ingin bilang ia baik-baik saja. Kalimat itu sudah terlalu sering ia pakai sampai hampir menjadi kebohongan favoritnya. Namun kali ini tenggorokannya terasa seperti diremas. Panas dari punggungnya menembus tulang, lalu turun ke dada dengan cara yang salah.

Ia menelan.

Darah naik ke mulutnya.

Keira melihat warna merah di sudut bibirnya sebelum Rayhan sempat memalingkan wajah.

"Rayhan!"

Pria berjaket hitam mencoba berlari. Dua orang pengawal yang tidak dikenal menahan tangannya di tangga, tetapi ia menggigit salah satu dari mereka dan hampir lolos. Nathan berdiri tiga meter dari kekacauan itu. Matanya terpaku pada punggung Rayhan, wajahnya berubah putih.

Keira melihatnya.

Ia melihat Nathan tahu sesuatu.

Namun Nathan tidak maju.

"Panggil ambulans!" Keira berteriak.

Rayhan mencengkeram lengan sofa. "Jangan ambulans umum."

"Kau tidak berhak memilih sekarang."

"RS Pondok Indah. VIP. Jangan biarkan petugas menyentuh cairan itu tanpa sarung tangan kimia."

Keira menatapnya. "Kau tahu ini apa?"

Rayhan memejamkan mata sesaat. Punggungnya terasa seperti dikupas hidup-hidup, tetapi yang paling menakutkan bukan luka bakar itu. Ada dingin yang mulai merambat dari jantung, berlawanan dengan panas di kulit.

"Bawa aku ke rumah sakit dulu."

Keira mencengkeram kerahnya. "Jawab aku!"

Rayhan menunduk ke arahnya. Wajah Keira berada sangat dekat, pucat di bawah lampu merah bar. Untuk sesaat, ia lupa bahwa ia sedang kesakitan. Ia hanya melihat perempuan itu menatapnya dengan panik yang tidak sempat disembunyikan.

"Kalau kau masih bisa membentakku," ia berbisik, "berarti aku belum mati."

"Rayhan!"

Ia tersenyum sedikit.

Lalu tubuhnya kehilangan tenaga.

Keira menangkapnya sebisa mungkin, tetapi berat Rayhan terlalu besar. Sinar muncul entah dari mana, bersama dua pria berjas hitam. Mereka mengangkat Rayhan dengan hati-hati, menjaga punggungnya tidak menyentuh apa pun. Bar sudah kacau. Orang-orang merekam. Keira merampas ponsel salah satu tamu yang terlalu dekat dan membantingnya ke meja.

"Satu video pun bocor," katanya dingin, "aku beli tempat ini dan kubuat kalian semua kehilangan pekerjaan."

Tidak ada yang berani mendekat lagi.

Di tangga, Keira melewati Nathan.

"Koh Nathan."

Nathan menoleh. "Kei, aku bisa jelaskan."

"Tadi kau melihat tabung itu."

Ia diam terlalu lama.

Keira tersenyum tanpa suara. "Dan kau tidak bergerak."

"Kalau aku maju tanpa alat, cairan itu bisa mengenai lebih banyak orang."

"Tapi Rayhan boleh kena?"

Wajah Nathan menegang.

Rayhan, setengah sadar di atas tandu darurat, membuka mata. "Keira... jangan sekarang."

"Aku sedang bicara dengan orang yang berdiri diam saat kau terbakar."

"Dia benar soal alat pelindung," Rayhan memaksa suaranya keluar. "Cairan itu... bukan bahan biasa."

Nathan menatapnya tajam, seolah satu kalimat lagi bisa membuka rahasia yang tidak boleh terdengar di tempat umum.

Keira menangkap tatapan itu. Jantungnya turun.

"Kalian berdua tahu," katanya pelan. "Aku satu-satunya yang tidak tahu."

Tidak ada jawaban.

Malam itu, jalan menuju RS Pondok Indah terasa lebih panjang dari biasanya. Keira duduk di samping Rayhan di mobil hitam yang melaju kencang, satu tangan menekan kain steril di dekat bahunya, bukan tepat di luka. Sinar menyetir dengan wajah kaku. Sirene mobil pengawal di depan membelah lalu lintas.

Rayhan muntah darah dua kali.

Yang pertama, ia masih sempat menutup mulut dengan handuk. Yang kedua, tubuhnya membungkuk tiba-tiba, darah jatuh ke lantai mobil, gelap di bawah lampu kabin.

Keira tidak berteriak lagi.

Ia hanya memegang rahangnya agar ia tidak tersedak.

"Lihat aku," katanya. "Jangan tutup mata."

Rayhan membuka mata, susah payah. "Galak sekali."

"Aku akan lebih galak kalau kau mati di mobilku."

"Mobil ini milikmu?"

"Mulai malam ini, iya."

Sudut bibir Rayhan bergerak. "Baik, Bu CEO."

"Jangan bercanda."

"Kalau tidak bercanda, aku akan mengeluh sakit. Kau tidak suka mendengarku lemah."

Keira menekan napasnya sendiri. Punggung tangan Rayhan sedingin es, padahal tubuhnya panas. Ia pernah melihat banyak luka dalam hidupnya, dari operasi Morgan, laporan kecelakaan Darren, sampai foto-foto investigasi bisnis yang sengaja dibuat kotor. Namun melihat Rayhan berusaha tersenyum dengan darah di bibir membuat sesuatu di dalam dadanya berantakan.

"Kau bodoh," katanya.

"Aku tahu."

"Aku tidak minta kau melindungiku."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa?"

Rayhan menatap langit-langit mobil. Matanya mulai kabur. "Karena tubuhku bergerak lebih dulu."

Keira tidak menemukan kata-kata untuk membalas.

Di IGD VIP RS Pondok Indah, dokter sudah menunggu karena Sinar menghubungi mereka di jalan. Rayhan langsung dibawa masuk ke ruang tindakan khusus. Keira hendak ikut, tetapi seorang perawat menahannya.

"Bu, cairan kimia masih mungkin menempel di pakaian beliau. Kami harus dekontaminasi dulu."

"Saya istrinya."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Perawat terdiam.

Keira juga.

Status itu secara hukum sudah tidak berlaku. Namun dalam kepalanya, saat melihat darah di lantai mobil, kata lain tidak sempat ia pilih.

Dari ranjang tindakan, Rayhan mendengarnya.

Matanya terbuka sedikit.

Untuk pertama kalinya malam itu, rasa sakit di wajahnya kalah oleh sesuatu yang hampir mirip bahagia.

"Mantan," Keira mengoreksi dengan suara lebih dingin. "Saya mantan istrinya. Tapi saya yang bertanggung jawab atas biaya dan keputusan darurat malam ini."

Cahaya kecil itu padam lagi di mata Rayhan, tetapi ia tetap tersenyum samar.

"Tetap terdengar bagus," gumamnya.

Pintu ruang tindakan tertutup.

Keira berdiri di koridor dengan tangan berlumur darah yang mulai mengering. Nathan datang dua puluh menit kemudian. Mantelnya sudah dilepas, lengan kemejanya digulung. Tidak ada noda darah di tubuhnya.

Keira menatap kebersihan itu terlalu lama.

"Penyerangnya sudah diamankan," kata Nathan.

"Aku tidak tanya."

"Kei."

"Jangan panggil aku begitu kalau kau masih memilih bagian mana dari kebenaran yang boleh kubaca."

Nathan mengusap wajah. "Bahan itu sangat berbahaya. Kau tidak boleh terlibat."

"Aku targetnya."

"Justru karena itu."

Keira melangkah mendekat. "Namanya apa?"

Nathan menutup mulut.

"Koh Nathan, jangan paksa aku mencari sendiri."

Di ujung koridor, lampu ruang tindakan berubah dari merah menjadi hijau, lalu kembali merah. Seorang dokter keluar dengan wajah basah keringat. Ia tidak langsung mendekati Keira. Ia melihat Nathan lebih dulu, lalu menunduk sedikit, seolah menunggu izin.

Keira melihat semua itu.

"Dokter," katanya. "Pasien saya."

Dokter itu tersentak. "Luka bakar kimia di punggung cukup luas. Kami sudah membersihkan area kontak, memberi analgesik, dan memantau organ vital."

"Darah yang dia muntahkan?"

"Iritasi lambung karena stres dan efek obat yang pernah beliau konsumsi sebelumnya. Tidak ada tanda kerusakan organ berat."

Jawaban itu terlalu rapi.

Keira mengambil satu langkah lagi. "Tunjukkan laporan lab."

"Sedang dicetak."

"Sekarang."

Dokter mengangguk, lalu masuk kembali dengan tergesa. Nathan menatap lantai. Sinar berdiri di ujung lorong, wajahnya kaku seperti batu.

Lima belas menit kemudian, Keira memegang lembar laporan yang mengatakan fungsi jantung Rayhan stabil, paru-paru bersih, organ dalam tanpa tanda kerusakan akut. Semua angka tampak wajar. Terlalu wajar untuk lelaki yang baru saja muntah darah di mobilnya.

"Dia akan sembuh?" tanya Keira.

Dokter menelan ludah. "Dengan perawatan luka intensif, ya."

"Berapa lama?"

"Beberapa minggu untuk luka luar."

"Luka dalam?"

"Tidak ada luka dalam yang signifikan."

Keira memandang angka-angka itu. Ia ingin percaya. Ia sangat ingin percaya sampai telapak tangannya terasa lemas.

Di balik pintu ruang tindakan, Rayhan berbaring miring dengan punggung dibalut perban tebal. Setelah dokter keluar, ia membuka mata dan memanggil dokter kepala dengan suara serak.

"Laporannya sudah kau berikan?"

"Sudah, Pak."

"Dia percaya?"

Dokter tidak menjawab.

Rayhan menoleh sedikit. Gerakan kecil itu membuat napasnya putus. Darah kembali terasa di tenggorokan, tetapi ia menahannya sampai rasa besi memenuhi mulut.

"Transfer yang dijanjikan Sinar sudah masuk?"

"Pak Rayhan, ini bukan soal uang. Paparan ini bukan sekadar luka kimia. Kalau benar itu S404, rumah sakit umum tidak punya protokol lengkap. Kami harus melaporkan..."

"Tidak."

"Tapi organ Anda mulai bereaksi. Muntah darah bukan stres. Detak jantung Anda tidak stabil. Kalau racun masuk lewat kulit dan uap, efeknya bisa..."

"Aku bilang tidak."

Dokter terdiam.

Rayhan memejamkan mata. Wajah Keira muncul di balik kelopak matanya, tangan berlumur darah, suara yang menyebut dirinya istri sebelum buru-buru menariknya kembali.

Ia rela membayar apa pun untuk mendengar satu kata itu lagi.

Termasuk sisa hidupnya.

"Tulis yang perlu dia baca," katanya. "Luka luar, kondisi stabil, tidak ada kerusakan organ. Besok beri tahu dia aku boleh rawat jalan."

"Itu berbahaya."

"Yang berbahaya adalah membiarkan Keira merasa bersalah."

Di luar, Keira masih berdiri dengan laporan di tangan. Nathan sudah pergi setelah menerima panggilan singkat. Sinar mendekat, membawa pakaian ganti dan kantong plastik medis berisi kemeja Rayhan yang hangus.

Keira melihat kantong itu.

Di label kecilnya tertulis kode dari ruang tindakan, ditulis cepat dengan spidol hitam.

Paparan kimia: S404.

Jari Keira berhenti di atas plastik.

Sinar membeku.

Keira mengangkat wajah. Matanya tidak lagi kosong. Ia menatap pintu ruang tindakan seperti seseorang yang baru menemukan lubang di balik panggung sandiwara.

"Panggil dokter itu lagi," katanya.

Di dalam ruangan, Rayhan menoleh ke pintu saat langkah Keira mendekat.

Ia sudah tahu kebohongannya tidak bertahan sampai pagi.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!