NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Pak Harun menutup pintu ruang kepala sekolah dengan hati-hati.

Di ruangan itu ada tiga orang dewasa: Pak Harun, Maya, dan guru BK bernama Bu Ratih. Ketiganya menatap Alya seperti ia kasus yang harus ditangani, bukan siswa baru yang baru sehari masuk.

Maya lebih dulu bicara.

"Alya, Tante tidak mau memperpanjang masalah di rumah. Tapi sekarang Dinda sampai pingsan di sekolah. Tante tidak bisa diam."

Alya duduk tenang. "Dinda tidak pingsan."

Bu Ratih mengerutkan kening. "Alya, saya melihat kondisinya sendiri. Napasnya tidak stabil."

"Karena dia mengatur napasnya terlalu cepat."

Maya menutup mata. "Lihat, Pak Harun? Dia selalu begini. Semua orang salah, hanya dia yang benar."

Pak Harun tidak langsung mengikuti arah Maya. Ia menatap Alya. "Kamu punya alasan mengatakan Dinda berpura-pura?"

"Ada."

Maya tampak kaget.

Alya mengeluarkan ponsel. "Saat saya masuk aula, saya memegang pergelangan tangannya. Denyut nadinya stabil. Kulitnya dingin karena AC aula, bukan karena syok. Dia juga menunggu saya datang sebelum memanggil saya."

Bu Ratih terdiam.

Maya tersenyum sedih. "Alya, kamu bukan dokter."

"Belum."

Jawaban itu membuat Pak Harun mengangkat alis.

Maya cepat berkata, "Maksudnya, dia sering bicara terlalu percaya diri. Di rumah juga begitu."

"Saya mengerti kekhawatiran Ibu," kata Pak Harun. "Tapi kita tidak bisa menyimpulkan sepihak."

Maya menegang sedikit. Mungkin ia terbiasa sekolah langsung tunduk begitu nama Wiratama disebut.

Alya menatap kepala sekolah itu dengan penilaian baru. Pak Harun tidak mudah dibeli. Baik.

Bu Ratih berkata lembut, "Alya, mungkin kamu juga merasa berat. Baru kembali ke keluarga, masuk sekolah baru, lalu ada tekanan media. Kalau kamu butuh bicara..."

"Saya akan bicara kalau perlu."

"Tapi jangan melampiaskan pada Dinda."

Alya menatap Bu Ratih. "Ibu sudah bicara dengan Dinda berapa lama?"

"Sekitar sepuluh menit."

"Dengan saya?"

Bu Ratih terdiam.

"Belum sampai tiga menit," kata Alya. "Tapi Ibu sudah menyimpulkan saya melampiaskan sesuatu pada dia."

Wajah Bu Ratih memerah.

Pak Harun menahan senyum tipis, lalu berdeham. "Baik. Saya rasa untuk hari ini cukup. Ibu Maya, kami akan mengawasi situasi tanpa memihak."

Maya jelas tidak puas. "Pak Harun, keluarga kami adalah donatur utama."

Pak Harun menatapnya. "Justru karena itu, saya harus memastikan sekolah tidak terlihat menjadi alat konflik keluarga."

Kalimat itu halus, tetapi tegas.

Maya berdiri. "Baik. Saya harap sekolah bisa menjaga Dinda."

"Kami menjaga semua siswa," kata Pak Harun.

Setelah Maya keluar, Pak Harun meminta Bu Ratih pergi lebih dulu. Tinggallah ia dan Alya.

"Kamu sengaja mendapat nilai biasa di tes penempatan?"

Alya menatapnya. "Pak Harun juga melihat?"

"Saya sudah menjadi kepala sekolah cukup lama. Anak yang benar-benar tidak paham soal tidak akan berhenti di langkah yang tepat."

Alya tidak menyangkal.

Pak Harun menyandarkan badan. "Kenapa?"

"Saya ingin tahu siapa yang meremehkan saya."

"Dan setelah tahu?"

"Tergantung mereka."

Pak Harun menghela napas. "Sekolah bukan tempat perang keluarga."

"Saya setuju."

"Tapi kamu membawa perang itu ke sini."

"Mereka membawanya lebih dulu."

Pak Harun terdiam beberapa detik, lalu berkata, "Ada seleksi tim olimpiade sains minggu depan. Kalau kamu memang menyembunyikan kemampuan, gunakan di tempat yang benar."

Alya mengangkat alis. "Pak mau saya ikut?"

"Saya mau kamu berhenti berpura-pura bodoh di kelas saya."

Untuk pertama kali hari itu, Alya tersenyum sedikit lebih tulus. "Baik, Pak."

Ketika Alya keluar, Dinda sudah menunggu di koridor bersama dua temannya. Wajahnya tampak cemas.

"Kak, Mama marah?"

"Tidak terlalu."

"Pak Harun bilang apa?"

"Dia menyuruhku ikut seleksi olimpiade."

Senyum Dinda retak.

Teman-temannya langsung heboh. "Serius? Anak baru langsung seleksi?"

Dinda cepat berkata, "Pak Harun mungkin hanya ingin Kak Alya mencoba. Tidak apa-apa, Kak. Kalau belum lolos, jangan sedih."

Alya menatapnya. "Kamu ikut?"

"Aku..." Dinda tersenyum. "Aku biasanya fokus acara sosial sekolah. Kesha yang ikut olimpiade."

Kesha muncul dari belakang mereka sambil membawa buku. "Namaku disebut?"

Dinda tampak kurang senang. "Kak Alya katanya mau ikut seleksi."

Kesha menatap Alya, lalu tertawa. "Bagus. Akhirnya ada yang menarik."

Seorang teman Dinda berbisik, "Kamu yakin? Seleksi itu susah banget."

Alya menjawab, "Kalau susah, berarti layak dicoba."

Dinda menggenggam tali tasnya.

Berita Alya ikut seleksi menyebar sebelum pulang sekolah. Sebagian tertawa. Sebagian penasaran. Sebagian yakin ia hanya ingin mencari perhatian setelah kasus Dinda.

Di mobil pulang, Dinda tidak banyak bicara.

Baru ketika mereka hampir sampai rumah, ia berkata, "Kakak sengaja membuatku terlihat buruk di sekolah."

Alya menatap jendela. "Aku tidak menyuruhmu pura-pura pingsan."

"Aku benar-benar sesak."

"Kalau begitu besok aku antar ke dokter."

Dinda diam.

Alya meliriknya. "Tidak mau?"

"Tidak perlu."

"Berarti tidak terlalu parah."

Wajah Dinda merah karena kesal.

Di rumah, suasana tidak lebih baik. Baskara sudah menunggu di ruang tengah. Maya duduk di sampingnya. Raka belum pulang.

"Alya," kata Baskara, "Papa dengar kamu membuat masalah lagi di sekolah."

Alya meletakkan tas. "Cepat sekali."

"Maya menelepon."

"Tante Maya memang cepat."

Maya berkata lembut, "Aku hanya melapor supaya Mas tahu."

"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Baskara.

"Dinda pura-pura pingsan, sekolah memanggilku, Tante Maya datang, lalu gagal membuatku terlihat bermasalah."

Dinda yang baru masuk hampir menangis. "Kakak!"

Baskara berdiri. "Kamu tidak boleh terus menuduh adikmu."

"Kalau Papa tidak suka aku menuduh, minta Dinda berhenti melakukan hal yang bisa dituduh."

"Alya!"

Ponsel Baskara berbunyi sebelum ia melanjutkan. Kali ini dari kantor.

Ia mengangkat dengan wajah kesal, tetapi beberapa detik kemudian wajahnya berubah serius.

"Apa? Saham turun?"

Maya langsung tegang.

Baskara berjalan menjauh, tetapi suaranya masih terdengar. "Santoso menarik semua pernyataan kerja sama? Media menanyakan hubungan keluarga? Siapa yang bocorkan draf itu?"

Alya menatap Dinda.

Dinda menatap balik dengan wajah bingung yang tampak asli.

Berarti bukan dia.

Raka masuk dari pintu utama saat itu, wajahnya dingin.

"Aku yang bocorkan sebagian draf ke dewan internal," katanya.

Baskara menurunkan ponsel. "Kamu apa?"

Raka berdiri tegak. "Aku tidak akan membiarkan perusahaan terseret menutup kasus Kevin."

Maya berbisik, "Raka, kamu gila?"

Raka menatap ayahnya. "Kalau Papa mau menyalahkan seseorang, salahkan aku. Bukan Alya."

Alya tidak menyangka Raka akan bergerak secepat ini.

Baskara menatap putra sulungnya, wajahnya antara marah dan kecewa.

"Mulai besok, kamu tidak perlu masuk kantor."

Raka terdiam.

Alya berdiri lebih tegak.

Jadi begitu.

Kalau anak membela kebenaran, ia dicabut dari perusahaan.

Malam itu, perang keluarga berubah dari ruang makan ke ruang direksi.

Raka tidak naik ke kamar setelah itu. Ia duduk sendirian di teras belakang, menatap kolam yang airnya gelap. Alya melihatnya dari tangga, tetapi tidak langsung mendekat. Ia tahu rasa bersalah kadang perlu dibiarkan bernapas dulu.

Beberapa menit kemudian, Raka berkata tanpa menoleh, "Kamu masih di situ?"

"Ya."

"Kamu senang aku dihukum?"

"Tidak."

"Bagus. Aku juga tidak." Ia tertawa pendek. "Tapi anehnya, aku tidak menyesal."

Alya turun satu anak tangga. "Berarti Mas mulai sehat."

Raka menoleh, lalu benar-benar tertawa untuk pertama kalinya malam itu. Tawa kecil, lelah, tapi nyata.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!