NovelToon NovelToon
Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: R²_Chair

Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ages,papa yang sedang khawatir

Jam dinding di ruang keluarga sudah menunjukkan pukul tujuh malam.Ages Sabiru duduk di sofa dengan ponsel di tangannya.

Sesekali, ia melihat layar ponsel tersebut.Tidak ada pesan atau panggilan telpon dari Kalandra.

Tadinya Ages tidak terlalu khawatir.Kalandra memang terkadang pulang terlambat ketika ada kegiatan di sekolah.Namun, biasanya putranya selalu memberi kabar.

Tetapi malam ini, tidak ada satu pun pesan.Ages mencoba menelepon. Kalandra kembali.Telpon tersambung namun tak lama panggilan terputus.

Ages mengerutkan kening.Ia mencoba lagi tapi hasilnya tetap sama tidak tersambung.

Ages mulai berdiri dari sofa.

"Kenapa ponselnya tidak aktif?"

Ia mencoba menghubungi wali kelas Kalandra.Namun, tidak ada jawaban.

Ages berjalan menuju jendela.Langit yang sejak sore mendung kini semakin gelap.Awan hitam menutupi langit dan angin bertiup cukup kencang.

Ages menatap halaman rumah yang mulai diterpa angin.Entah mengapa, rasa khawatir di dadanya semakin besar.

Sementara itu, di sekolah.Kalandra baru saja keluar dari ruang olahraga.Ia mengenakan pakaian latihan karate.Rambutnya sedikit berantakan dan wajahnya tampak lelah.

"Sudah selesai kan?" Tanya nya pada Raka

"Sudah," jawab Raka.

Kalandra mengambil ponselnya dari dalam tas.Namun, saat menekan tombol power, layar ponsel itu tidak menyala.Ia menekan tombolnya sekali lag tapi tetap tidak menyala.

"Ah."

Raka menoleh. "Kenapa?"

"Hp gue abis batre."

"Belum diisi?"

"Gue lupa." Kalandra menghela napas.

"Yaudah, yuk balik."

Mereka kemudian berjalan menuju gerbang sekolah.Namun, begitu sampai di luar, Kalandra melihat langit yang semakin gelap.

"Kayaknya ujan,Ka."

"Ya iyalah. Dari tadi mendung."

"Berarti kita harus cepat."

Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika hujan turun.Awalnya hanya rintik-rintik.Namun, dalam hitungan detik,hujan berubah menjadi deras.Kalandra dan Raka segera berlari menuju halte terdekat.

"Mau pulang pake apa lu?" teriak Raka.

"Biasanya gue dijemput!"

"Ya udah telepon bokap lo!"

"Ponsel gue mati kampret."

Raka langsung menatapnya dan Kalandra hanya terdiam.Namun tak lama,ia menyadari sesuatu.

"Papa..." lirihnya.

Ia lupa tidak memberikan kabar pada sang ayah.

.

.

Di rumah, Ages semakin tidak tenang.Ia sudah berkali-kali berjalan dari ruang keluarga menuju jendela.Kemudian kembali mengambil ponselnya dan menelepon Kalandra lagi namun tetap saja tidak aktif.

Ages akhirnya mengambil kunci mobil.Ia tidak bisa hanya duduk menunggu,pikirannya tak tenang.Di pikirannya nama Kalandara terus berputar.

Baru saja hendak keluar, Arsen datang.

"Mau kemana lo?"

"Jemput Kala."

"Dia kenapa?"

"Dia belum pulang."

Arsen melihat jam. "Memangnya dia ada kegiatan?"

"Entahlah." Ages menghela napas.. "Dia gak ngabarin gue."

Arsen langsung memahami kekhawatiran adiknya. "Udah coba hubungi?"

"Ponselnya mati."

Arsen terdiam,ia juga bingung.Hatinya ikut khawatir sedangkan di luar, hujan semakin deras.

"Tenang, Ges. Mungkin dia masih di sekolah."

"Gue juga mikirnya gitu."

Namun, suara Ages terdengar tegang. "Gue tahu mungkin dia masih di sekolah.Tapi dia biasanya dia kasih kabar dulu."

Arsen menatap wajah adiknya.Ages bukanlah seorang ayah yang mudah panik.Namun, Kalandra adalah satu-satunya hal yang paling ia takutkan untuk kehilangan.

"Ya udah. Kita cari adek bareng."

Ages mengangguk.

Tak lama mobil Ages melaju menembus hujan.Wiper bergerak cepat.Jalanan mulai dipenuhi genangan air.

Ages terus menggenggam kemudi dengan erat.

"Harusnya tadi gue jemput langsung."

Arsen yang duduk di sampingnya menoleh. "Jangan menyalahkan diri sendiri."

"Kala selalu ngabarin kala ada apa-apa."

"Ges."

"Gue tahu dia udah besar."

Ages menarik napas panjang. "Tapi tetap aja..." Kalimatnya terhenti,dadanya berubah sesak saat memikirkan hal hal buruk hang melintas di pikirannya.

Arsen tahu.

Bagi Ages, Kalandra mungkin sudah tumbuh menjadi remaja tinggi yang mampu menjaga dirinya sendiri.Namun, di mata Ages,Kalandra tetaplah bayi kecil yang dulu pernah ia gendong ketika menangis.Tetap anak kecil yang selalu mencari ayahnya.Dan tetap menjadi satu-satunya alasan Ages selalu ingin pulang.

Sementara itu, Kalandra masih menunggu hujan reda di halte.Raka sudah dijemput oleh keluarganya.Kini hanya tersisa Kalandra seorang diri.Ia duduk sambil memeluk tasnya.

Raka sudah menawarkan untuk mengantarnya pulang,tapi Kala tidak ingin merepotkan Raka sehingga ia menolak halus ajakan Raka.

Hujan membuat suasana semakin dingin.Kalandra mulai merasa tidak nyaman,ada sesuatu membuat hatinya gundah namun ia tahu Ages pasti sedang mencarinya.

"Ya ampun..."

Kalandra mengusap wajahnya. "Kenapa gue bisa sampe lupa ngabarin papa sih?"

Ia tahu betul bagaimana sifat ayahnya.Ages pasti khawatir.Bahkan mungkin sudah menghubungi sekolah.Kalandra menatap ponselnya yang mati.

"Maaf, pap."

Satu jam kemudian, mobil Ages akhirnya tiba di sekolah.Namun, sekolah sudah hampir kosong.Ages turun dari mobil tanpa memedulikan hujan yang langsung membasahi tubuhnya.

"Kalandra!"

Suaranya menggema di area parkir.Tidak ada jawaban.Ages berjalan menuju gedung olahraga.Pintu ruangan sudah terkunci dan tidak ada siapa pun.

Rasa khawatir di dada Ages semakin besar.Ia kembali mengambil ponselnya.Kemudian menelepon beberapa orang yang mungkin mengetahui keberadaan Kalandra.

Hingga akhirnya salah satu teman Kalandra mengangkat telepon.

"Hallo, Om?"

"Raka? Kalandra di mana?"

"Terakhir sama saya, Om. Kami latihan karate."

Ages terdiam.

"Latihan karate?"

"Iya, Om. Tapi setelah itu saya dijemput. Kalandra masih di sekolah.Tadi Raka ajak buat bareng,tapi Kala gak mau."

Ages memejamkan mata. "Di mana tepatnya?"

"Sepertinya dia ke halte dekat gerbang belakang, Om."

Ages langsung kembali menuju mobil.Beberapa menit kemudian aebuah mobil berhenti di dekat halte.

Kalandra yang sedang duduk langsung mengangkat kepala.Ia mengenali mobil itu.

Pintu mobil terbuka Ages turun tanpa peduli hujan menerpa tubuhnya.

"Kalandra!"

Kalandra langsung berdiri. "Papa!"

Ages berjalan cepat menghampirinya.Begitu sampai, Ages langsung menarik Kalandra ke dalam pelukannya.

Kalandra terdiam.Ia bisa merasakan tubuh ayahnya yang basah karena hujan.

"Pap.."

"Kenapa tidak mengabari papa?"

Suara Ages terdengar rendah sedangkan Kalandra menunduk.

"Maaf."

"Ponselmu kenapa?"

"Baterainya habis."

"Kenapa tidak pinjam ponsel teman?"

Kalandra terdiam,ia lupa padahal tadi ia bersama Raka dan Kala tau jika Raka menyimpan nomor telpon papanya.

Ages menghela napas panjang.Ia ingin marah namun, ketika melihat putranya berdiri sendirian di bawah hujan dengan pakaian latihan yang masih basah, rasa marah itu langsung menghilang.Yang tersisa hanya rasa lega.

Ages mengusap kepala Kalandra.

"Jangan ulangi lagi."

"Iya."

"Papa sangat khawatir."

Kalandra menatap wajah ayahnya. "Maafin adek ya,pap."

Ages mengangguk."Sudah. Ayo pulang."

Kalandra berjalan mengikuti Ages.Namun, sebelum masuk ke mobil, ia tiba-tiba memeluk ayahnya.

Ages terdiam."Kenapa?"

"Maaf." suaranya terdengar bergetar membuat Ages tersenyum kecil.

"Sudah papa maafkan."

Kalandra masih memeluknya. "Papa takut adek kenapa-napa?"

Ages terdiam sejenak. "Ya iyalah dek,pake di tanya segala."

Kalandra mengangkat wajahnya."I'm sorry pap"

"Kalau kamu sudah tahu papa takut, lain kali jangan membuat papa khawatir."

"Iya."

"Dan..."

"Hm?"

"Jangan lupa isi baterai ponsel."

Kalandra mengangguk. "Siap Bos."

Ages menatap putranya dengan wajah serius. "Serius?"

"Serius."

"Promise?"

"Promise ."

Kalandra tersenyum. "Kalau nanti lupa lagi?" godanya

Ages langsung berkacak pinggang dan menatapnya tajam.

Kalandra segera masuk ke mobil. "Tenang pap,nggak akan lagi!" pekiknya.

Dari dalam mobil, Arsen hanya bisa tersenyum melihat keduanya.Ages mungkin terlihat tegas.Namun, semua orang tahu di balik ketegasan itu,ia seorang ayah yang hampir kehilangan ketenangannya hanya karena putranya terlambat pulang.

Dan bagi Kalandra tidak ada tempat yang lebih nyaman selain berada di samping Ages Sabiru.

.......

.......

.......

...♡ Sabiru ♡...

1
Puji Hastuti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Puji Hastuti
kala sabar yaa
Puji Hastuti
ayo kala, bangun.
Nurgusnawati Nunung
seruuuu... ramai... saling menghargai yaaa
Nurgusnawati Nunung
Kalandra.. jadi sedih yaaa
Nurgusnawati Nunung
Ampun... se tengil itu namanya Kalandra. hahaha
Nurgusnawati Nunung
Mamanya Kalandra bakal hadir..
Nurgusnawati Nunung
hadir.. kompak ya papa sama anak..
Puji Hastuti
kala kamu harus kuat
Puji Hastuti
gue kecewa ama lu ages
Puji Hastuti
Nadia, kampret lu
Puji Hastuti
keluarga yang solid
Danny Muliawati
bagus cerita nya
Puji Hastuti
tapi up nya jangan lama lama
Puji Hastuti
sukaaaa AQ ceritanya kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!