NovelToon NovelToon
Kembaran Rahasia Si Culun

Kembaran Rahasia Si Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Bad Boy / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fayepey

Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.

Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.

Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.

Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balapan

Sekarang, di sinilah mereka berada. Di sebuah kursi gazebo yang terletak di belakang rumah Nara. Tepat di depannya, ada air mancur yang sengaja dibuat untuk maminya. Mereka duduk saling berhadapan di sana. Udara dingin menusuk kulit gadis itu, tetapi sama sekali tidak membuatnya ingin kembali masuk ke rumah.

"Gimana? Lo bisa, kan, retas CCTV itu?" tanya Nara langsung, tanpa basa-basi.

Arvard mengembuskan napas pelan. "Gue udah coba kemarin, tapi enggak tahu kenapa pas gue coba login, error terus. Kayaknya enggak semua orang deh yang bisa retas CCTV itu."

Nara menunduk, merasa makin buntu. "Jadi ini gimana? Gue bingung mulai dari mana," ucapnya frustrasi.

"Coba deh lo dekatin diri ke orang-orang yang penting di sana. Siapa kek gitu, siswa prestasi, ketos, atau siapa pun yang punya akses ke banyak informasi," ucap Arvard.

Ucapan itu langsung membuat Nara teringat pada Alden. Dia kan ketua OSIS. Apa mungkin Nara bisa menggali informasi lewat cowok itu? Namun, sebelum pikirannya berjalan lebih jauh, Nara kembali bicara.

"Tapi kayaknya enggak mungkin kalau siswa biasa. Maksud gue, cari yang lain. Pokoknya orang yang kedudukannya penting di sana."

"Kalau mau yang penting, ya petugas keamanan, admin sistem CCTV di sana, sama pemilik sekolah," jawab Arvard.

"Pemilik sekolah, kata lo?" Nara mengulang pelan.

Seketika, dia teringat ucapan Alden kemarin. Papa Niel adalah pemilik sekolah itu. Pikiran Nara langsung berputar. Apa dia harus mendekati Niel untuk mencari tahu?

"Apa gue deketin Niel, ya, buat nyari tahu?" gumam Nara pelan. Namun, detik berikutnya dia langsung menggeleng cepat. "Enggak boleh. Dia kan calon tunangan teman gue. Ewww, bukan gue banget rebut punya teman," ucapnya dalam hati.

Arvard memperhatikan ekspresi Nara yang berubah-ubah, lalu berkata, "Jadi, cara satu-satunya buat nemuin petunjuk ya HP Naya. Siapa tahu ada barang bukti di sana."

"Masalahnya, gue enggak tahu HP-nya ada di mana," jawab Nara dengan nada frustrasi.

Arvard menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. "Lo kan baru banget sekolah di sana. Enggak usah terlalu pusing dulu. Kalau lo terlalu fokus buat nyelesain semuanya, yang ada beberapa orang malah curiga sama lo. Jadi santai aja. Boleh dibawa santai, tapi jangan lengah. Itu aja sih."

Nara mendengar nasihat itu, lalu mengangguk pasti. "Makasih, Kak. Lo emang bisa gue andalkan dalam bentuk apa pun," ucap Nara dengan tulus.

"My pleasure," jawab Arvard singkat.

Arvard dulu pernah tinggal bersama Oma Ena waktu di London. Dia juga cucu Oma Ena, dan papanya Arvard adalah adik Ronald. Karena itulah Nara dekat dengan cowok itu. Sayangnya, Arvard pindah setelah papanya menyuruh dia kuliah di Indonesia. Nara dan Arvard hanya berbeda dua tahun. Sekarang, Arvard sudah menjadi mahasiswa baru di salah satu universitas swasta di Jakarta.

"Mau ikut enggak nanti?" tanya Arvard tiba-tiba.

"Mau ke mana?" Nara balik bertanya.

"Nanti malam ada balapan. Lo mau ikut?" ajaknya.

Mata Nara langsung berbinar semangat. "Mau. Di mana?"

"Ada. Nanti gue tunjukin," jawab Arvard santai.

Nara mengangguk antusias. "Udah lama gue enggak balap. Lawannya siapa?"

"Ketua Blaze, katanya sih," ucap Arvard.

Nara mengernyit. "Kayak pernah dengar," ucapnya dalam hati.

"Rencananya sih gue yang bakal turun, soalnya teman gue yang minta. Ada geng yang dulu pernah diketuai sama teman gue. Nah, ketua geng yang sekarang minta tolong ke dia buat ikut balapan malam ini. Tapi teman gue malah nyaranin gue aja yang turun, karena gue yang paling sering ikut balapan," jelas Arvard. Ia berhenti sebentar, lalu menatap Nara dengan senyum tipis. "Tapi sekarang, gue malah lebih baik nyuruh lo yang turun. Lo lebih jago."

Nara menatap Arvard seolah memastikan cowok itu serius. Namun, dari sorot mata Arvard, dia tahu kalau cowok itu benar-benar percaya padanya.

"Welcome back, Mont," ucap Arvard.

Mont adalah nama samaran Nara setiap kali berurusan dengan dunia balapan. Nama itu diambil dari nama tengahnya, Elnara Bellamont Valenzia. Ia sengaja memakai nama tengahnya supaya tidak ada yang tahu identitas aslinya. Selama balapan, Nara selalu memakai masker yang menutupi seluruh wajahnya, kecuali bagian mata. Jadi, kalau ada orang iseng yang membuka helmnya, identitasnya masih tetap aman. Selain itu, dia juga takut orang tuanya tahu.

"Lo, ya, yang pamit ke orang tua gue nanti," ucap Nara.

"Aman. Gue mah bisa," jawab Arvard santai.

Dan seperti yang sudah dikatakan sore tadi, tepat pukul sembilan malam, Nara akhirnya mengendarai motor sport yang sudah lama berdiri di pekarangan rumahnya. Sejak motor dan mobilnya diantarkan ke rumah, gadis itu lebih sering menggunakan mobil ke mana pun dia pergi, sementara motornya hanya dibiarkan terparkir di rumah.

Namun, malam ini berbeda. Setelah sekian lama tidak menyentuh motor itu, Nara kembali duduk di atasnya, merasakan lagi suasana yang sudah cukup lama dia tinggalkan. Sekarang, di sinilah gadis itu berada, melaju menuju lokasi balapan yang sudah diberitahukan Arvard sebelumnya.

Arvard sendiri sempat datang menjemput Nara ke rumah. Alasannya sederhana, dia ingin mengajak Nara keluar malam-malam. Bahkan, Arvard juga berdalih akan membawa temannya, jadi dia meminta izin agar Nara boleh membawa motor sendiri. Untung saja papi Nara percaya. Lagi pula, Arvard masih keponakannya juga, jadi kepercayaan itu sudah seratus persen aman di tangan cowok itu.

Nara tidak banyak bicara saat pamit. Dia hanya berusaha bersikap sesantai mungkin, seolah malam itu benar-benar cuma akan keluar biasa.

Sementara itu, di sirkuit, suara sorakan penonton sudah memenuhi seluruh area. Malam itu terasa begitu ramai, penuh teriakan, tawa, dan suara mesin motor yang sesekali meraung dari berbagai arah. Niel berdiri di dekat motornya dengan wajah tengil, seolah kemenangan sudah pasti ada di tangannya. Dari tatapannya saja, cowok itu sudah kelihatan terlalu percaya diri.

"Enggak mungkin kalah lo, Bos. Lo kan king racing," ucap Vano sambil menyeringai.

"Iyalah. Enggak ada sejarahnya gue kalah selama balapan," jawab Niel dengan nada tengil.

Cowok itu lalu menoleh ke arah geng Neon yang berada tidak jauh dari sana. "Woi! Mana tuh teman lo yang mau ikut? Jadi kagak, nih?" teriak Niel menantang.

"Sabar dulu, Anjing. Orang balapannya jam setengah sepuluh," jawab Jaegar, ketua geng Neon, tidak kalah keras.

Jaegar lalu menoleh ke arah Satria, mantan ketua Neon yang berdiri di sampingnya. "Bang, mana teman lo?"

"Sabar, Njir. Dia lagi otw. Lo enggak usah takutlah," ucap Satria berusaha menenangkan.

Tidak lama setelah itu, dua orang muncul dari arah pintu masuk. Seorang cowok dan seorang cewek datang dengan motor masing-masing. Beberapa pasang mata langsung menoleh ke arah mereka. Arvard turun lebih dulu, lalu membuka helmnya dengan santai.

"Sorry, Brother. Gue telat," ucap Arvard.

"Santai. Jadi, kan, lo ikut?" tanya Satria.

Di samping Arvard, Nara masih diam di atas motornya. Helm full face masih menutupi seluruh wajahnya. Gadis itu hanya sesekali merenggangkan otot bahu dan tangannya, seolah sedang menyiapkan tubuhnya sebelum turun ke lintasan.

"Sorry, gue enggak jadi ikut. Tapi sepupu gue yang turun," ucap Arvard sambil menunjuk ke arah Nara.

Nara tetap diam, tidak banyak bergerak, apalagi bicara. Sikapnya yang tenang justru membuat beberapa orang makin penasaran.

"Yakin lo? Dia cewek, Njir," protes Satria.

"Alah, santai aja kali. Dia udah biasa ikut balapan," jawab Arvard santai, seolah itu bukan hal besar.

"Yang benar aja lo," protes Satria lagi.

"Bener. Lihat aja nanti," ucap Arvard yakin.

Di seberang sana, Nathanniel masih memperhatikan dengan bingung. Dia belum tahu siapa yang akan menjadi lawannya malam ini. Cowok yang baru datang itu, atau cewek berhelm full face yang sejak tadi diam di sampingnya.

"Woi! Mana, nih, lawan gue!" teriak Niel.

"Lo enggak lihat? Udah datang, nih!" balas Jaegar dari seberang.

Niel menatap ke arah Nara, lalu tersenyum remeh begitu sadar lawannya adalah seorang cewek. "Cewek, Njir. Makin gampang, nih, gue menang," ucapnya meremehkan.

Nara yang tadinya fokus ke arah Arvard langsung menoleh ke sumber suara itu. Begitu melihat siapa orang yang berteriak tadi, matanya melebar di balik helm. "Niel? Oh my God, jadi lawan gue malam ini dia?" ucapnya dalam hati, masih setengah tidak percaya. Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah sinis. "Enggak bisa gue biarin, nih."

Suasana di sirkuit semakin heboh setelah Arvard mengumumkan bahwa yang akan melawan geng Blaze malam ini adalah adik sepupunya, Mont. Nama itu langsung membuat beberapa orang bersorak. Ada yang penasaran, ada yang meragukan, dan ada juga yang justru terlihat bersemangat karena akhirnya ada lawan baru untuk Niel. Sementara itu, Niel masih menatap Nara dengan wajah meremehkan. Helm full face yang menutupi wajah gadis itu membuatnya tidak bisa melihat siapa sosok di balik nama Mont.

"Enggak bakal kalah gue sama cewek. Sok jagoan banget," gumam Niel.

Di balik helmnya, Nara menatap lurus ke depan. "Awas lo, Niel. Gue tunjukin malam ini siapa gue sebenarnya," desisnya dalam hati.

Brom... brom... brom...

Suara motor sport mulai memenuhi udara malam. Getarannya terasa sampai ke dada, bercampur dengan sorakan penonton yang semakin keras. Di depan sana, seorang cewek cantik dan seksi sudah berdiri sambil memegang bendera. Saat cewek itu memberi kode, semua mata langsung tertuju ke tengah lintasan. Bendera itu kemudian dilempar ke atas sebagai tanda balapan dimulai.

Dua motor langsung melaju kencang dari garis awal. Niel berada di depan, sementara Nara, yang di dunia balapan dikenal sebagai Mont, sengaja menjaga posisinya di belakang. Dia tidak terburu-buru. Nara hanya membaca gerakan lawannya, memperhatikan setiap celah, dan menunggu waktu yang tepat. Niel yang merasa masih unggul malah semakin percaya diri.

"Cih, masih di belakang gue. Lemah tuh cewek," gumam Niel meremehkan.

Nara bisa membaca permainan Niel dari jauh. Cara cowok itu membawa motor terlalu mudah ditebak baginya. "Dih, taktik kuno. Udah banyak gue dapat pembalap kayak gini," gerutu Nara pelan di balik helmnya.

Menjelang garis akhir, Niel mencoba membuat situasi semakin sulit. Gerakannya terlihat jelas ingin mengacaukan ritme Nara. Namun, sial baginya, Nara sudah lebih dulu mengantisipasi. Dengan tenang, Mont mengambil celah dari samping dan melaju lebih cepat. Dalam hitungan detik, posisinya langsung berubah. Sekarang, dialah yang berada di depan.

"Anjing—" umpat Niel kesal.

Sorakan penonton langsung pecah begitu Mont berhasil melewati Niel. Motor Nara melesat sampai garis akhir, lalu ia sengaja memutar motornya dengan penuh percaya diri. Suara mesin kembali meraung beberapa kali, seperti tanda kemenangan yang sengaja ia tunjukkan di depan semua orang.

Sementara itu, Niel berhenti tidak jauh dari sana dengan wajah kesal. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah Mont. "Fuck, siapa sih dia?" umpatnya sambil meninju bagian motornya sendiri karena kesal.

"Gimana sih, Bos? Masa sama cewek aja kalah," protes Vano.

"Bacot lo," sewot Niel tanpa menoleh.

Di balik helmnya, Nara tersenyum miring. Ada rasa puas yang tidak bisa ia tahan setelah berhasil menjatuhkan kesombongan cowok itu di depan banyak orang. "Masa queen dilawan," ucapnya pelan, meremehkan.

1
Lxjn
Mangat kak💪
fayepey: Terimakasih
total 1 replies
ana Ackerman
kak lanjut ya jangan lupa up kak semangat
fayepey: Terimakasih kak
Nanti sore aku up lagii
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak
Bu Dewi
seru kk😍😍😍😍
fayepey: Terimakasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!