NovelToon NovelToon
THE 13TH FLOOR

THE 13TH FLOOR

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Putri CS

1. "THE 13TH FLOOR"

Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist

Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.

Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.

Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab kebenaran yang disembunyikan

Kalimat Direktur X terus terngiang di kepala Alea.

«"Bagaimana kalau ilusi yang kau tolak tadi... justru kenyataan?"»

Untuk sesaat...

Alea ragu.

Bagaimana jika Maya benar-benar masih hidup?

Bagaimana jika selama ini ia telah mempercayai kebohongan?

Namun kemudian ia teringat kata-kata Maya di akhir perpisahan mereka.

«"Jangan ulangi kesalahan kami."»

Alea memejamkan mata.

Ia menarik napas panjang.

"Tidak..."

"Kak Maya tidak akan memintaku hidup di masa lalu."

"Beliau ingin aku terus melangkah."

Saat Alea membuka mata, bayangan Direktur X di hadapannya menghilang seperti asap.

"Itu ilusi," bisiknya.

 

Sementara itu, Naura masih memeluk sosok yang mengaku sebagai ayahnya.

"Naura..."

"Ayah di sini."

"Ayo pulang."

Air mata Naura mengalir deras.

Ia sudah bertahun-tahun merindukan sosok itu.

Namun perlahan ia teringat sebuah hal.

Ayahnya selalu memanggilnya...

"Nana."

Bukan "Naura."

Sosok di hadapannya tak pernah sekali pun menggunakan panggilan itu.

Naura perlahan mundur.

"Siapa kamu...?"

Wajah pria itu berubah.

Kulitnya retak.

Matanya menjadi hitam.

Lalu seluruh tubuhnya hancur menjadi debu.

Naura berhasil lolos dari ilusi.

 

Di sisi lain, Dimas berdiri berhadapan dengan dirinya yang masih kecil.

Anak kecil itu tersenyum.

"Kalau kamu ikut denganku..."

"...semua rasa sakit akan hilang."

Dimas menatapnya lama.

"Aku memang ingin melupakan semuanya."

"Tapi..."

"...aku juga ingin mengingat teman-temanku."

Ia menutup Buku Ketiga Belas yang berada di tangannya.

"Aku memilih kenyataan."

Dalam sekejap, ilusi itu menghilang.

 

Kini hanya tinggal satu orang.

Elang.

Ia masih berdiri diam.

Matanya kosong.

Di hadapannya berdiri seorang wanita yang terus menangis.

"Maafkan Ibu..."

"Aku tidak bisa menyelamatkanmu."

Alea menghampirinya.

"Elang!"

Tidak ada jawaban.

Eleanor berbisik pelan.

"Itu adalah kenangan yang paling ingin ia ubah."

"Kalau dibiarkan lebih lama..."

"...jiwanya akan terperangkap."

Alea memegang bahu Elang.

"Elang!"

"Kami membutuhkanmu!"

Tidak ada reaksi.

Naura ikut mendekat.

"Elang..."

"Kamu pernah bilang aku nggak sendirian."

"Sekarang..."

"...kami juga nggak akan ninggalin kamu sendirian."

Air mata menetes dari sudut mata Elang.

Perlahan ia mengangkat wajahnya.

"Ibu..."

"Maaf..."

Bayangan wanita itu tersenyum.

Lalu memudar menjadi cahaya.

Elang akhirnya sadar.

Ia langsung berlutut sambil menangis.

"Aku gagal menyelamatkan Ibu waktu kecil."

"Itu sebabnya aku bergabung dengan Organisasi XIII."

"Mereka bilang bisa mengembalikan waktu."

"Tapi semuanya bohong."

Alea memeluk sahabatnya itu.

"Kamu nggak sendiri lagi."

Tiba-tiba...

Seluruh perpustakaan bergetar hebat.

Rak-rak buku mulai roboh.

Eleanor menatap langit-langit dengan wajah panik.

"Mereka berhasil..."

"Apa maksudnya?" tanya Raka.

Eleanor menunjuk ke arah tengah ruangan.

Di sana...

Buku Ketiga Belas mulai memancarkan cahaya merah.

Dan perlahan...

Sebuah pintu raksasa muncul dari lantai batu.

Pintu itu berwarna hitam.

Di permukaannya terukir ribuan nama.

Di bagian atasnya tertulis:

Gerbang Karunia.

Dari balik pintu itu terdengar suara ketukan.

Tok...

Tok...

Tok...

Seolah...

Ada seseorang...

Atau sesuatu...

Yang sedang mencoba keluar.

Tok...

Tok...

Tok...

Suara ketukan dari balik Gerbang Karunia terdengar semakin keras.

Lantai Perpustakaan XIII bergetar hebat.

Debu berjatuhan dari langit-langit.

Rak-rak buku bergeser sendiri, seolah seluruh bangunan sedang hidup.

Naura menatap pintu raksasa itu dengan napas memburu.

"Itu... apa yang ada di balik sana?"

Eleanor menggenggam tongkatnya erat.

"Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu."

"Selama ratusan tahun, para Penjaga hanya diberi satu tugas."

"Jangan pernah membiarkan gerbang itu terbuka."

Dimas memandang Buku Ketiga Belas yang masih berada di tangannya.

"Kalau begitu..."

"...kenapa buku ini memilihku?"

Eleanor menatapnya dalam.

"Karena hanya Penulis yang dapat menentukan akhir dari sebuah perjanjian."

"Dan setiap akhir..."

"...selalu membutuhkan pengorbanan."

Ucapan itu membuat semua terdiam.

 

Di sisi lain ruangan, Direktur X berdiri di depan Gerbang karunia.

Ia mengangkat kedua tangannya.

"Sudah lebih dari seratus tahun kami menunggu."

"Sebentar lagi..."

"...kebenaran akan kembali."

Selena mendekat.

"Direktur, segelnya mulai retak."

Benar saja.

Retakan-retakan merah mulai muncul di permukaan gerbang.

Dari celahnya keluar kabut hitam yang terasa sangat dingin.

Tiba-tiba...

Terdengar suara dari balik gerbang.

Bukan suara monster.

Bukan suara jeritan.

Melainkan suara seorang pria yang tenang.

«"Siapa yang membangunkanku?"»

Semua orang membeku.

Naura merasakan jantungnya berdegup sangat cepat.

Suara itu...

Entah mengapa terdengar begitu akrab.

"Jangan dengarkan!"

teriak Eleanor.

"Suara itu akan memanfaatkan kelemahan hati kalian!"

Namun terlambat.

Suara itu kembali terdengar.

Kali ini lebih jelas.

«"Naura..."»

Naura membelalak.

Ia tidak pernah memberi tahu namanya.

«"Aku sudah menunggumu."»

Air mata mulai memenuhi mata Naura.

"Ayah...?"

Suara itu tertawa pelan.

«"Bukan."»

«"Aku jauh lebih tua dari ayahmu."»

Alea langsung menarik Naura menjauh dari gerbang.

"Jangan percaya!"

Dari balik pintu terdengar helaan napas panjang.

«"Alea..."»

Kini giliran Alea yang membeku.

«"Kau masih menyalahkan dirimu atas kematian Maya."»

Wajah Alea memucat.

Tak seorang pun selain dirinya yang mengetahui rasa bersalah itu.

Bagaimana suara itu bisa tahu?

Sementara itu, Dimas menatap Buku Ketiga Belas.

Tulisan di dalamnya berubah dengan sendirinya.

«"Jangan buka gerbang."»

Beberapa detik kemudian...

Tulisan itu menghilang.

Digantikan kalimat baru.

«"Buka gerbang."»

Dimas langsung menutup buku itu.

"Tulisannya berubah sendiri..."

Elang menatap Direktur X.

"Itu ulahmu?"

Direktur X menggeleng sambil tersenyum.

"Bukan."

"Itu karena ada dua kehendak yang sedang memperebutkan Buku Ketiga Belas."

"Dua kehendak?" tanya Raka.

"Ya."

"Satu ingin dunia tetap seperti sekarang."

"Dan satu lagi..."

"...ingin mengulang semuanya dari awal."

Mendengar itu, Eleanor langsung memucat.

"Itu tidak mungkin..."

"Dia..."

"...sudah bangun."

Tiba-tiba...

bruk!!

Salah satu rantai raksasa yang mengikat Gerbang Karunia putus.

Suara dentumannya menggema ke seluruh perpustakaan.

Kabut hitam keluar semakin banyak.

Dan dari celah pintu yang mulai terbuka...

Terlihat sesosok mata berwarna emas sedang memperhatikan mereka.

Mata itu berkedip sekali.

Lalu terdengar sebuah kalimat yang membuat seluruh ruangan membeku.

«"Akhirnya... kalian datang."»

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!