NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salam paham

Sore itu hujan turun lumayan deras, mengetuk-ngetuk kaca jendela apartemen sampai suasananya jadi agak redup. Karin baru saja selesai merapikan tumpukan berkas tugas di meja belajarnya, lalu meregangkan tubuh yang terasa kaku seharian duduk. Perutnya mulai berbunyi pelan dia lupa belum makan siang tadi karena sibuk menyelesaikan makalah yang harus dikumpulkan lusa.

Dia berjalan menuju dapur, langkahnya pelan supaya tidak berisik. Biasanya jam segini Arkan masih di kampus, atau kalau sudah pulang pasti mengurung diri di kamar. Tapi begitu dia sampai di ambang pintu dapur, dia berhenti melangkah.

Pintu dapur sedikit terbuka. Dari celah itu, dia bisa melihat punggung tegap Arkan sedang berdiri di depan kompor. Dia memakai kaos oblong abu-abu biasa, bukan kemeja rapi seperti saat di kampus. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi sekarang sedikit berantakan, ada helai yang jatuh menutupi dahi. Di tangannya ada spatula, dan aroma harum masakan bumbu tumis mulai menyebar memenuhi ruangan.

Karin mengerjap pelan. Sejauh ini dia cuma tahu Arkan itu orangnya dingin, kaku, kalau bicara kadang bikin orang lain merinding. Bahkan dulu dia pikir laki-laki itu cuma tau menuntut tugas dan memarahi mahasiswa yang telat. Tapi melihat dia berdiri di sana sambil menumis sayur dengan gerakan yang terlihat terlatih... rasanya aneh sekali.

"Kamu ngapain berdiri di situ kayak patung?"

Suara Arkan tiba-tiba terdengar, membuat Karin tersentak kaget sampai hampir mundur. Dia buru-buru memberanikan diri masuk sepenuhnya.

"Eh... nggak kok. Cuma mau cari makan," jawabnya sambil menggaruk pipi yang tidak gatal. "Kamu belum pulang ke kampus tadi sore?"

Arkan mematikan kompor, lalu memindahkan tumisan buncis dan daging ke piring. "Ada urusan jadi selesai lebih cepat. Mau makan?"

"Iya, lupa belum makan dari tadi siang."

"Cuci tangan dulu. Ini kebetulan lebih."

Karin melongo sedikit. Biasanya kalau Arkan bicara cuma seperlunya saja, atau malah membalas dengan nada ketus. Sekarang malah menawari makan duluan Dia bergegas ke wastafel, mencuci tangan sampai bersih, lalu duduk di kursi meja makan. Di atas meja sudah ada nasi hangat, sup bening, dan tumisan yang tadi dia lihat.

"Kamu yang masak semuanya?" tanyanya pelan saat Arkan duduk di hadapannya.

"Habis ini siapa lagi kalau bukan aku," jawab Arkan singkat, tapi nadanya tidak setajam biasanya. Dia mendorong piring sup ke arah Karin. "Makan. Jangan banyak bicara."

Karin mulai menyuap pelan. Rasanya enak banget bumbunya pas, tidak terlalu asin, sayurnya tidak lembek. Dia bahkan sempat berpikir, kalau saja sifatnya di kampus selembut masakannya, pasti tidak ada mahasiswa yang takut padanya.

"Enak?" tanya Arkan tiba-tiba, matanya menatapnya sekilas.

"banget! Kamu jago masak ya?" seru Karin tanpa sadar. "Kirain cuma jago nilai ulangan mahasiswa aja."

Arkan terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya bergerak sedikit, seolah ingin tersenyum tapi ditahan. "Dulu nenek yang ajarin. Dia bilang laki-laki harus bisa urus diri sendiri, jangan cuma bisa nyuruh orang lain."

Karin mengangguk pelan. Baru kali ini dia mendengar Arkan cerita soal keluarganya. Biasanya dia menutup rapat hal-hal soal dirinya sendiri.

Belum sempat dia membalas, bel pintu berbunyi nyaring.

Karin menoleh bingung. "Siapa yang datang jam segini?"

Arkan bangkit berdiri. "Tunggu di sini. Jangan keluar dulu."

Dia berjalan menuju pintu depan, membukanya sedikit. Dari tempat duduknya, Karin bisa melihat ada perempuan berdiri di luar. Rambutnya panjang terurai, memakai gaun yang terlihat mahal, senyumnya manis sekali saat melihat Arkan.

"Kak Arkan! Lama banget nggak ketemu," sapa perempuan itu ceria, lalu tanpa ragu dia melangkah masuk dan mau memeluk lengan Arkan.

Arkan mundur selangkah, menghindar pelan. "Kenapa kamu ke sini? Katanya kamu masih di luar kota."

"Sudah pulang kemarin. Kebetulan lewat sini jadi mampir sebentar," jawab perempuan itu santai, lalu matanya menoleh ke arah ruang makan. Tatapannya berhenti lama pada Karin yang masih duduk kaku. "Eh? Siapa dia, Kak?"

Karin buru-buru berdiri, merasa canggung sekali. Dia tidak tahu harus menyapa atau pura-pura tidak melihat.

"Ini Karin," jawab Arkan singkat. "Teman kuliah sekaligus... dia lagi numpang sebentar."

Jantung Karin seakan berhenti berdetak sejenak. Numpang sebentar? Padahal ini rumah mereka berdua, rumah yang mereka tempati sama-sama karena perjanjian nikah kontrak. Tapi tentu saja Arkan tidak bisa bilang yang sebenarnya. Hanya saja kata numpang itu terdengar begitu asing, seolah dia benar-benar orang asing yang tidak berhak ada di sana.

Perempuan itu melangkah mendekat, mengulurkan tangan dengan senyum yang masih terlihat ramah tapi matanya meneliti Karin dari atas ke bawah. "Saya Rara. Sepupu jauh Kak Arkan sekaligus teman dekat dari kecil. Kamu angkatan berapa?"

"Eh... Karin. Angkatan terakhir," jawabnya pelan sambil menyambut uluran tangan itu.

Rara tertawa kecil, lalu menoleh ke Arkan. "Kakak aneh banget sih. Punya teman cantik nggak pernah bilang. Kebetulan banget nih, nanti malam ada acara reuni sekolah kita. Kamu pasti ikut kan? Sudah lama banget nggak kumpul bareng teman-teman lama."

Arkan menggeleng. "Maaf, nanti malam ada kerjaan."

"Yah... masa sih? Bisa diatur kan? Nanti aku jemput jam tujuh ya. Jangan bilang nggak bisa lagi," bujuk Rara sambil menepuk pelan lengan Arkan, lalu berbalik ke arah Karin. "Kamu ikut aja Biar nggak sendirian di sini."

"Eh nggak usah, makasih. Aku harus selesaikan tugas," tolak Karin cepat. Dia sebenarnya tidak nyaman saja melihat cara Rara memperlakukan Arkan seolah-olah dialah orang yang paling berhak di dekat laki-laki itu.

Setelah Rara pamit, suasana di apartemen jadi hening sekali. Hanya suara hujan yang masih terdengar dari luar.

Arkan menutup pintu, lalu berbalik menatap Karin. "Jangan ambil hati apa yang tadi aku bilang. Aku cuma nggak mau dia tanya-tanya panjang lebar soal kita."

Karin mengangguk pelan, tapi dadanya terasa sesak. "Iya, aku ngerti. Lagian emang bener kan aku cuma numpang sebentar di sini. Kontraknya cuma setahun, kan?"

karin sengaja menekan kata numpang dan setahun itu, meski rasanya pahit sekali di lidah, berusaha tersenyum, tapi pasti senyumnya terlihat paksa. Tanpa menunggu balasan Arkan, karin berbalik cepat menuju kamarnya, menutup pintu rapat-rapat sampai terdengar bunyi klik.

Di dalam kamar, duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya sendiri. karin tau tidak seharusnya dia merasa sakit hati. Dia dan Arkan memang tidak punya hubungan apa-apa selain perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak. Arkan menyelamatkan ibunya, dan dia membantu memenuhi wasiat nenek Arkan. Itu saja. Tidak ada yang lebih dari itu.

Tapi kenapa rasanya seperti ada yang hilang di dada Kenapa dia merasa cemburu saat liat Rara begitu dekat dengan Arkan Kenapa dia benci sekali saat Arkan memperlakukannya seperti orang asing di depan perempuan lain.

Di ruang tengah, Arkan masih berdiri diam di tempat. Dia menatap pintu kamar Karin yang tertutup rapat, tangannya mengepal pelan. Dia tahu kata-katanya tadi menyakiti hati gadis itu. Dia sendiri sebenarnya tidak bermaksud begitu. Hanya saja kalau Rara tau soal pernikahan mereka, pasti berita itu akan menyebar cepat ke seluruh keluarga, dan itu yang paling dia hindari saat ini.

Dia berjalan mendekati pintu kamar Karin, tangannya terangkat mau mengetuk, tapi kemudian turun lagi. Dia tidak tahu harus berkata apa. Kalau dia menjelaskan, takutnya Karin malah makin salah paham. Kalau diam aja, takutnya gadis itu makin menganggap dirinya tidak berharga.

Malam itu berlalu dengan hening. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada percakapan seperti biasanya. Hanya ada dua orang yang saling berpikir satu sama lain, tapi tidak berani melangkah mendekat.

Keesokan paginya, Karin bangun lebih awal dari biasanya. Dia berniat berangkat ke kampus lebih cepat supaya tidak berpapasan dengan Arkan. Dia sudah siap dengan tas di pundak, tapi saat membuka pintu kamarnya, dia melihat ada segelas susu dan selembar roti di atas meja makan. Di sampingnya ada secarik kertas tulisan tangan yang rapi:

"Maaf soal kemarin. Makan ini dulu sebelum berangkat. Hati-hati di jalan."

Tidak ada nama, tapi Karin tahu siapa yang menulisnya. Dia menatap kertas itu lama sekali, lalu menghela napas panjang. Laki-laki itu memang tidak pernah bisa bicara manis secara langsung. Tapi dia selalu punya cara lain untuk bilang kalau dia peduli.

Hanya saja, di dalam hati Karin masih ada satu pertanyaan besar. Sampai kapan dia harus menyembunyikan hubungan ini? Dan kalau nanti perasaan ini makin hari makin dalam, siapa yang akan terluka paling parah saat kontrak ini berakhir?

Dia memasukkan kertas itu ke dalam saku baju, lalu memakan roti itu pelan. Rasanya tawar, tapi hangat susu itu menjalar sampai ke dada. Hari ini dia harus berani berhadapan dengan Arkan. Dia harus tahu, apakah Arkan hanya merasa berkewajiban, atau memang ada hal lain yang dia simpan diam-diam.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!