Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.
Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.
Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang tak di sengaja
Hari itu jadwal kuliah Karin berakhir lebih cepat dari biasanya. Dia berjalan santai keluar dari gedung fakultas, sambil memainkan ujung tali tas ranselnya. Udara siang itu lumayan terik, tapi anginnya cukup sejuk bikin gerah sedikit berkurang. Rencananya dia mau mampir dulu ke warung depan kampus beli es teh manis rasanya ada yang kurang kalau pulang belum minum yang seger-seger.
Baru saja dia berbelok ke jalan setapak yang agak sepi, tiba-tiba ada suara panggilan dari belakang.
"Karin!"
Dia menoleh cepat, kaget. Di sana berdiri Rio teman sekelasnya yang sering satu kelompok tugas. Cowok itu berjalan cepat menyusul, senyumnya lebar sekali.
"Kirain salah orang, ternyata beneran kamu," kata Rio sambil menyamakan langkah. "Kamu mau pulang ya? Kebetulan aku juga. Yuk jalan bareng sekalian."
Karin tersenyum tipis. "Boleh. Aku mau beli minum dulu di depan,Emm kamu mau?"
"Wahh asik nih, sekalian traktir aku deh," jawab Rio sambil tertawa, lalu tanpa sadar tangannya menepuk pelan bahu Karin.
Gerakan itu cuma hal biasa buat teman sekelas, tapi sayang sekali momen itu terlihat jelas dari arah parkiran fakultas tempat Arkan baru saja memarkirkan motornya. Arkan yang hendak masuk ke gedung berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke arah mereka berdua. Dia tidak berniat mengintip, tapi melihat tangan cowok lain menempel di bahu Karin membuat dadanya tiba-tiba terasa sesak panas.
Rio terus bercerita tentang tugas kelompok yang kemarin tertunda, sambil berjalan beriringan dengan Karin. Dia bahkan sempat menahan ranting pohon yang menjuntai supaya tidak kena wajah Karin, dan tertawa saat Karin melongo terima kasih.
Arkan menghela napas kasar, berbalik badan seolah tidak melihat apa-apa, tapi langkah kakinya jadi lebih cepat dari biasanya. Dia tidak punya hak cemburu dia tahu itu. Tapi melihat Karin begitu santai dan tertawa lepas sama orang lain, rasanya ada yang mengganjal di hati.
Siang itu di apartemen, suasana jadi agak aneh. Biasanya kalau Karin pulang duluan, dia bakal menyapa duluan sambil meletakkan tas, atau langsung bertanya mau makan apa. Tapi hari ini Arkan pulang lebih dulu, dan dia cuma duduk diam di ruang tengah sambil membaca buku, tidak menoleh saat Karin masuk.
"permisi...selamat siang...aku pulang..." sapa Karin pelan, bingung kenapa suasana jadi hening begini.
Arkan mengangguk singkat. "Emmm."
Karin meletakkan tas di kursi, lalu mendekat sedikit. "Kamu kenapa sih? Lagi sakit atau lagi capek?"
"gpp," jawab Arkan datar, matanya tetap pada halaman buku. "Tadi pulang bareng siapa?"
Pertanyaan tiba-tiba itu bikin Karin tertegun sebentar. "Oh sama Rio, teman sekelas aku. Kebetulan jalan searah. Kenapa emangnya?"
Arkan menutup buku pelan-pelan, lalu menatapnya sekilas. "Cuma tanya aja. Hati-hati aja, jangan terlalu dekat sama orang lain."
"Hah? Kok tiba-tiba ngomong gitu?" Karin makin bingung, duduk di seberangnya. "Dia cuma teman kok. Cuma jalan bareng doang."
"Kamu ini..." Arkan berhenti bicara, menelan kata-kata yang hampir keluar. Dia sebenarnya mau bilang kalau dia tidak suka lihat orang lain menyentuhnya, tapi sadar itu bukan haknya. Akhirnya dia cuma menggeleng pelan. "Lupakan saja. Aku mau ke kamar dulu."
Dia berjalan cepat meninggalkan ruangan, meninggalkan Karin yang cuma bisa melongo sendirian. Karin mengerutkan kening, bingung setengah kesal. "Kok aneh banget sih tiba-tiba?" batinnya.
Sore berganti malam, tidak ada percakapan di antara mereka. Arkan makan di kamar, Karin makan sendirian di meja makan. Rasanya aneh sekali seharian ini mereka seperti orang asing yang numpang tinggal satu atap.
Sampai jam sembilan malam, Karin tidak tahan lagi. Dia berjalan ke depan pintu kamar Arkan, mengangkat tangan hendak mengetuk, tapi ragu-ragu. Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam, dan Arkan berdiri di sana dengan gelas kosong di tangan. Keduanya sama-sama kaget.
"Mau apa?" tanya Arkan pelan, nada bicaranya sudah tidak setajam tadi siang.
"Ini aku..." Karin menunduk sebentar, lalu memberanikan diri menatapnya. "Kamu tadi cemburu ya?"
Arkan terdiam seketika, wajahnya perlahan berubah merah padam. Dia buru-buru menoleh ke samping, tidak berani menatap mata Karin. "Siapa yang cemburu? Aku cuma... cuma nasihatin aja. Kita kan masih dalam perjanjian. Kalau ada yang salah paham, nanti susah."
"Terus kenapa mukanya merah gitu?" goda Karin pelan, senyum tipis mulai muncul di bibirnya. "Kalau nggak cemburu, nggak usah takut ngaku aja kali."
Arkan mendengus pelan, tapi akhirnya tersenyum kecil juga. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menghela napas panjang. "Iya... oke aku cemburu. Puas kamu?"
Karin tertawa pelan, suara tawanya terdengar ceria sekali di ruangan yang hening itu. "Puasss banget. Kirain kamu nggak punya perasaan sama sekali."
"Bukan nggak punya perasaan," gumam Arkan pelan, menatapnya lama. "Cuma... aku belum biasa. Belum pernah ada yang bikin aku merasa begini sebelumnya."
Mereka berdiri berhadapan begitu saja di lorong kamar, tanpa bergerak, tanpa banyak bicara. Hanya ada kehangatan yang perlahan menyebar di antara keduanya, menghapus rasa canggung yang ada seharian ini.
"Maaf ya tadi aku bikin kamu kesal," kata Karin akhirnya. "Nanti aku hati-hati kok."
"Maaf juga aku tadi kayak anak kecil marah-marah begitu," jawab Arkan pelan. Dia melangkah maju sedikit, lalu tanpa sadar menyentuh ujung rambut Karin yang sedikit berantakan. "Sebenarnya... aku cuma takut aja. Takut kamu malah lebih nyaman sama orang lain, terus lupa sama kesepakatan kita."
"gak bakal gitu kok," jawab Karin lembut. "Lagian... kamu kan bukan orang asing buat aku lagi sekarang."
Malam itu tidak ada pengakuan cinta yang berlebihan, tidak ada janji manis yang berat, hanya saja cara obrolan yang mulai terlihat berbeda,tidak ada kecanggungan bahkan sudah menggunakan aku kamu.
Tapi setidaknya satu hal yang jelas Arkan tidak lagi menyembunyikan perasaannya sepenuhnya, dan Karin tau kalau hatinya tidak sedang berjuang sendirian.