NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Pertunangan Ini Batal

Bisikan Shaquena begitu lirih, tetapi sanggup menghantam telinga Stefanus lebih keras daripada gelegar petir.

Waktu di aula megah itu seolah membeku. Bisik-bisik panik keluarga Mahardika memudar, menyisakan keheningan yang menyesakkan di telinganya.

Stefanus menatap sepasang mata cokelat gelap di hadapannya tanpa berkedip. Ada gurat luka teramat dalam di sana, sorot mata yang hancur oleh darah dan pengkhianatan.

Lantai pualam sedingin es, kemeja yang basah oleh noda merah, amukan badai di luar jendela, serta tubuh kaku Shaquena dalam pelukannya kembali membayangi benak Stefanus.

Sumpah terakhir sebelum pusaran energi misterius menyentak jiwa mereka menembus waktu kembali bergaung di kepalanya.

Stefanus menelan ludah yang terasa kesat. Dia juga kembali? Membawa semua kepedihan dari kehidupan sebelumnya?

Sebuah gerakan kasar di tengah aula menyentak lamunannya.

Sebastian menerjang maju membelah kerumunan. Wajahnya merah padam dengan urat-urat leher yang menegang kaku. Penolakan terang-terangan di depan publik meruntuhkan kendali akal sehatnya.

Tangan besar Sebastian menyambar cepat, mencengkeram kasar pergelangan tangan Shaquena.

Shaquena terkesiap, tubuh ringkihnya terhuyung ke depan akibat tarikan paksa itu. Kuku-kuku Sebastian menekan dalam, memerah di atas kulit putih Shaquena.

Amarah seketika membakar dada Stefanus. Ia melangkah cepat menghalangi tubuh Shaquena. Gerakannya melesat kilat, mencengkeram balik pergelangan tangan Sebastian sekuat tenaga.

Krak.

Tulang jari Sebastian berderak pelan di bawah cengkeraman kokoh Stefanus.

"Jangan sentuh dia," desis Stefanus.

Suaranya begitu rendah dan sedingin es, sebuah nada ancaman yang belum pernah didengar siapa pun. Selama ini, Stefanus selalu menunduk patuh di bawah bayang-bayang kebesaran Mahendra.

Sebastian tersentak. Ia menatap cengkeraman adiknya dengan mata membelalak tak percaya.

"Berani kamu menyentuhku, Stefanus?" geram Sebastian tertahan, menatap murka adik tiri yang selama ini ia anggap benalu kotor. "Lepaskan tanganmu dari gadisku! Ini sama sekali bukan urusanmu!"

"Gadis ini baru saja menolakmu dengan jelas," balas Stefanus tenang, membalas tajam tatapan kakaknya. "Dia bukan milikmu."

Stefanus menyentak tangan Sebastian dengan sekali hentakan kuat, memutuskan paksa cengkeraman pria itu dari pergelangan tangan Shaquena.

Sebastian terhuyung mundur. Wajah tampannya memucat saat memandangi telapak tangan sendiri yang memerah, sebelum menatap Stefanus dengan sorot kebencian yang mendalam.

"Kamu benar-benar pecundang yang tidak tahu diuntung," ejek Sebastian sinis, dengan napas memburu. "Kamu pikir wanita kelas atas dari keluarga Mahardika sudi hidup melarat denganmu? Kamu hanya anak haram yang menumpang hidup di keluargaku!"

Kalimat tajam itu menggema di aula. Beberapa kerabat Mahardika spontan membekap mulut, terkejut.

Stefanus bergeming. Hinaan itu tak lagi mempan bagi mentalnya. Di kehidupan lalu, ia membiarkan intimidasi serupa melumpuhkan nyalinya hingga melepaskan Shaquena ke tangan monster ini.

Kini, ia tidak akan mundur setapak pun.

"Pecundang sejati adalah pria yang memaksa wanita untuk menerima pinangannya," balas Stefanus datar. "Shaquena sudah memilihku hari ini."

Stefanus memutar sedikit tubuhnya, mengulurkan tangan kiri untuk menggenggam telapak tangan Shaquena yang masih bergetar tipis.

Ia menarik wanita itu berlindung di belakang bahu lebarnya, memosisikan tubuhnya sebagai perisai dari amukan keluarga Mahendra.

Seketika, sengatan emosi merambat naik saat kulit mereka bersentuhan.

Stefanus menahan napas. Matanya melebar sempurna.

Kilasan memori asing yang bukan miliknya menghantam kepalanya dengan brutal melalui sentuhan tangan mereka.

Sidang pengadilan yang pengap. Samuel mengenakan rompi tahanan oranye dengan wajah hancur, vonis lima belas tahun penjara akibat manipulasi keji ayah kandungnya sendiri.

Lorong dingin rumah sakit pinggiran, bau karbol menyengat, suara melengking garis lurus monitor jantung, dan jasad Zoya yang membeku.

Lalu, kilasan paling mematikan: tubuh hangat seorang bayi perempuan yang menggigil demam di tengah badai, embusan napasnya yang perlahan menghilang di dekapan Shaquena.

Semua penderitaan dan keputusasaan tak berujung milik Shaquena membanjiri batin Stefanus hanya dalam hitungan detik.

Stefanus mengeratkan cengkeraman jemarinya pada tangan Shaquena. Matanya memanas, menahan duka mendalam yang mendesak dadanya.

Wanita di belakangnya ini telah menanggung siksaan yang melampaui batas kewarasan. Shaquena tidak hanya kehilangan nyawa malam itu, tapi dipaksa menyaksikan satu per satu keluarganya dihancurkan perlahan oleh suaminya sendiri.

"Kurang ajar!"

Pekikan tajam Nyonya Mahendra memecah ketegangan. Wanita tua itu bangkit berdiri dengan dada kembang kempis. Wajahnya merah padam saat mengacungkan telunjuknya yang gemetar ke arah Stefanus.

"Berani sekali kau bicara seperti itu pada kakakmu!" Nyonya Mahendra melangkah mendekat, gaun sutranya berdesir kasar. "Kau sengaja merencanakan ini semua, kan? Kau merayu perempuan tidak tahu diri ini untuk menghancurkan acara penting kakakmu!"

Ibu Shaquena ikut maju, wajahnya basah oleh air mata.

"Shaquena, keluar dari belakang pria itu!" teriaknya histeris, menatap sang putri dengan pandangan memohon. "Minta maaf pada Nak Sebastian sekarang juga! Ibu tidak pernah mendidikmu menjadi anak yang mempermalukan keluarga!"

Merasakan tubuh Shaquena menegang, Stefanus menariknya semakin merapat ke punggungnya, menghalangi gadis itu dari tatapan menghakimi seisi ruangan.

Shaquena tak bergeming. Ia justru membalas genggaman Stefanus dengan cengkeraman kian erat, kuku-kukunya menekan telapak tangan pria itu. Sebuah isyarat bisu yang tegas bahwa ia menolak untuk kembali.

"Shaquena Mahardika!" Ayah Shaquena kini maju dengan raut wajah mengeras. "Ini adalah kesepakatan bisnis dua keluarga. Kau tidak bisa membatalkannya hanya karena kau sedang bertingkah kekanak-kanakan. Lepaskan tangan Stefanus dan kembali ke tempatmu!"

"Aku tidak akan melepaskannya," balas Shaquena dari balik punggung Stefanus.

Nada tenangnya memicu gejolak amarah baru di ruangan yang sudah gaduh itu.

Nyonya Mahendra bersedekap, melemparkan tatapan menghina pada Ayah Shaquena.

"Lihat bagaimana kalian mendidik putri kalian, Tuan Mahardika," desisnya tajam. "Dia lebih memilih anak haram yang tidak memiliki masa depan dibandingkan pewaris utama Mahendra Group."

Upaya menjatuhkan mental itu mental begitu saja. Stefanus sama sekali tak terusik. Di kehidupan masa lalu, ia sudah kenyang dengan cacian yang jauh lebih menyakitkan.

Stefanus membalas tatapan Nyonya Mahendra dengan raut datar tanpa ekspresi. Sikap tenang itu justru kian memicu murka wanita paruh baya tersebut, yang biasanya terbiasa melihat Stefanus menunduk patuh.

Sebastian melangkah maju, mengabaikan keributan di sekitarnya dan menatap tajam sang adik.

"Minggir, Stefanus," perintah Sebastian dengan nada rendah. "Ini peringatan terakhirku."

"Atau apa?" tantang Stefanus.

Ia melepaskan genggaman tangannya dari Shaquena, melangkah maju sepenuhnya menutup akses jalan Sebastian. "Kau akan membunuhku?"

Stefanus berdiri tegap dengan kepalan tangan yang mengunci rapat. Otot lengannya menegang keras, siap meremukkan siapa saja yang berani menyentuh wanita di belakangnya.

"Cukup!"

Pekikan kencang Nyonya Mahendra menghentikan ketegangan fisik di antara keduanya.

Dengan dada kembang kempis, wanita tua itu menyambar cangkir teh porselen dari atas meja. Matanya memancarkan kebencian mendalam pada Shaquena dan Stefanus bergantian. Ia tidak sudi putra mahkota kebanggaannya dipermalukan oleh anak haram dan gadis pembangkang.

Nyonya Mahendra mengangkat tinggi-tinggi cangkir berukir emas tersebut, lalu menghempaskannya keras ke lantai.

Prang!

"Pertunangan ini BATAL!"

1
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
falea sezi
baru aja baca😕 uda nyesek😓 air mata keluar sendiir😓
DdCantik
ribet banget jadi orang kaya🤭
Pratiwiajah
kaya gini palingan beneran ada di Konoha sini ya????🤭
Pratiwiajah
ok Fik aku benci si basbas ini
Pratiwiajah
tragis bgt/Sob/
NolaRona
up🙏
Betharia Anggita Dominique
thor, bikin cerita mesti sadis👍
Betharia Anggita Dominique
bagussss👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
wih, kaga bisa bayangin begimana jadi shaqena duh
Betharia Anggita Dominique
keluarga lucknut
Jitison
ditunggu 🙏
Jitison
kasihan skali
Carisoy
lanjutkan yu
DdCantik
makin seru👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!