NovelToon NovelToon
Mekanik Rongsokan Menaklukkan Galaksi

Mekanik Rongsokan Menaklukkan Galaksi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
​Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
​Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Tungku Kematian

​WUUUSSH!

​Algojo Zirah Tulang itu mengayunkan pilar beton di tangannya dengan tenaga yang membelah udara. Suara angin bergemuruh mengerikan sesaat sebelum bongkahan aspal di ujung pilar itu menghantam tanah tempat kelompok Yudha berdiri sedetik yang lalu.

​BOOM!

​Jalanan aspal hancur berkeping-keping. Gelombang kejut dari hantaman itu mementalkan Bara dan tiga mantan preman di belakangnya hingga mereka bergulingan di tanah. Kaca-kaca rumah di sekitar mereka yang masih tersisa pecah berantakan akibat getaran hebat.

​"Menyebar!" teriak Lin Tian.

​Ia dan Lin Chen membelah arah layaknya dua anak panah yang lepas dari busurnya. Kecepatan mereka yang telah melampaui batasan manusia biasa berkat serapan energi malam sebelumnya kini diuji hingga batas maksimal.

​Algojo itu menarik kembali senjatanya, mengangkat pilar beton itu dari kawah kecil yang baru saja ia ciptakan, lalu memutar tubuh besarnya ke arah Lin Chen.

​Lin Chen tidak gentar. Ia meluncur rendah di atas aspal yang basah, menghindari sapuan pilar beton yang melintas tepat di atas kepalanya. Sambil mempertahankan momentum, pemuda itu menebaskan golok bajanya dengan sekuat tenaga ke arah persendian lutut belakang sang monster.

​TRANG!

​Bunga api memercik terang di tengah kabut ungu. Golok baja tebal di tangan Lin Chen memantul keras, menyisakan getaran yang membuat telapak tangannya mati rasa. Zirah tulang putih yang melapisi lutut makhluk itu hanya menyisakan goresan putih tipis, tidak menembus sama sekali.

​"Tulangnya sekeras baja murni!" seru Lin Chen, mundur beberapa langkah untuk menghindari injakan kaki raksasa itu.

​Dari arah berlawanan, Lin Tian melompat menggunakan kap mobil yang hancur sebagai pijakan. Ia mengincar bagian tengkuk raksasa itu. Ujung pipa besinya yang telah ditajamkan menusuk tepat ke arah celah zirah tulang di leher.

​Namun, seolah memiliki insting petarung veteran, monster itu tiba-tiba menaikkan bahunya. Tusukan Lin Tian meleset, hanya menghantam pinggiran lempeng tulang. Raksasa itu menggeram marah, memutar lengannya yang bebas, dan meninju ke arah Lin Tian di udara.

​Lin Tian menyilangkan kedua lengannya tepat waktu. Benturan keras terjadi. Tubuh Lin Tian terlempar bagaikan boneka kain, menabrak dinding bata sebuah rumah kosong hingga runtuh sebagian.

​"Kakak!" teriak Lin Chen panik.

​"Jangan alihkan pandanganmu dari musuh!" suara dingin Yudha menggema menembus kekacauan.

​Bara yang baru saja bangkit dengan tubuh gemetar menyadari bahwa ketua barunya tidak sedang bercanda. Jika mereka tidak berguna, Yudha akan membiarkan mereka mati. Memaksakan keberanian yang tersisa, Bara menendang paha anak buahnya.

​"Bangun, keparat! Tusuk dari belakang!" teriak Bara. Ia sendiri berlari maju, melemparkan parang beratnya langsung ke arah wajah sang monster untuk mengalihkan perhatian.

​Parang itu memantul di dahi berlapis tulang sang Algojo, sama sekali tidak melukainya, namun cukup membuat makhluk itu menoleh ke arah Bara dengan mata ungu yang menyala penuh amarah. Raksasa itu mengangkat pilar betonnya tinggi-tinggi, bersiap menghancurkan Bara menjadi genangan darah.

​Pada detik yang menentukan itu, sebuah bayangan hitam melesat melewati Bara dengan kecepatan yang mengejutkan.

​Yudha tidak menunggu lebih lama lagi. Atribut kelincahannya membawanya tepat ke bawah bayang-bayang pilar beton yang sedang meluncur turun.

​"Ketua! Menghindar!" jerit Bara histeris.

​Yudha tidak menghindar. Ia memutar tumitnya, menanamkan kakinya kuat-kuat di aspal, lalu mengangkat lengan kanannya yang kini terbungkus kerangka mekanis hitam pekat. Batu energi merah di punggung tangannya berputar dengan kecepatan gila.

​[Kemampuan Aktif: Genggaman Tungku - Diaktifkan!]

​Udara di sekitar lengan kanan Yudha seketika berubah menjadi uap panas yang menari-nari. Garis-garis merah pada kerangka bajanya menyala terang benderang.

​Alih-alih menahan serangan itu, Yudha meninju ujung pilar beton yang meluncur ke arahnya.

​TSSSS! BOOM!

​Bukan suara benturan benda keras yang terdengar, melainkan suara desisan mengerikan layaknya air yang dilemparkan ke dalam kawah gunung berapi. Suhu delapan ratus derajat Celcius meledak dari telapak tangan mekanis Yudha.

​Beton setebal batang pohon itu tidak mampu menahan panas ekstrem tersebut. Dalam hitungan detik, beton itu rapuh, meleleh, dan hancur berkeping-keping. Bahkan rangka besi baja di dalam pilar itu berubah menjadi cairan logam kemerahan yang menetes jatuh ke aspal.

​Algojo Zirah Tulang kehilangan keseimbangan akibat senjatanya yang hancur sebagian. Matanya melebar, menyadari bahwa manusia kecil di depannya bukanlah mangsa, melainkan predator sungguhan.

​Memanfaatkan keterkejutan raksasa itu, Yudha melangkah maju menembus hujan kerikil panas. Ia memutar lengan mekanisnya, mengarahkan telapak tangannya yang masih memancarkan panas melebur langsung ke dada sang monster, tepat di bagian zirah tulangnya yang paling tebal.

​"Lebur menjadi abu," desis Yudha tanpa emosi.

​Telapak tangan baja itu menghujam dada raksasa tersebut. Zirah tulang yang sebelumnya tidak bisa digores oleh baja, kini mendesis keras. Asap hitam berbau busuk mengepul tebal. Tulang itu terbakar, menghitam, dan meleleh layaknya plastik murahan, memberikan jalan bagi lengan Yudha untuk menembus lebih dalam.

​Raksasa itu menjerit dengan suara yang mengguncang seluruh perumahan. Ia mencoba meronta, namun cengkeraman mekanis Yudha di dadanya bagaikan capit kematian.

​Yudha mendorong lengannya lebih dalam hingga menembus rusuk makhluk itu, lalu meremas organ jantung yang berdenyut di dalamnya dengan suhu delapan ratus derajat.

​Jeritan monster itu terputus seketika. Tubuh raksasanya mengejang kaku sejenak, sebelum akhirnya ambruk ke aspal dengan suara dentuman keras, tak bernyawa.

​[Entitas 'Algojo Zirah Tulang' (Tingkat 5) berhasil dimusnahkan.]

[Perbedaan tingkat terdeteksi. Bonus pencapaian diberikan.]

[+800 Poin Pengalaman.]

[Tingkat 3 -> Tingkat 4]

[Anda mendapatkan 5 Poin Atribut Bebas.]

​Yudha menarik perlahan lengan mekanisnya dari dada makhluk itu. Asap panas masih mengepul dari jemari bajanya. Ia mematikan aliran energi dari Inti Api, membiarkan kerangka mekanisnya perlahan mendingin kembali menjadi warna hitam pekat.

​Keheningan mutlak menyelimuti jalanan tersebut, hanya tersisa suara rintik gerimis dan desisan aspal yang meleleh.

​Bara dan anak buahnya jatuh terduduk, lutut mereka kehilangan tenaga. Mereka menatap Yudha layaknya menatap dewa perang yang turun dari langit. Pemandangan di mana seorang manusia menghancurkan senjata beton dan melebur dada monster raksasa hanya dengan satu tangan benar-benar menghancurkan akal sehat mereka.

​Lin Tian yang terbatuk darah dan Lin Chen yang kelelahan segera berjalan tertatih mendekati Yudha, lalu tanpa ragu berlutut di tanah yang basah.

​"Kami tidak berguna, Ketua. Kami gagal menembus pertahanannya," ucap Lin Tian dengan kepala tertunduk, merasa sangat malu.

​Yudha menatap dua bersaudara itu, lalu beralih menatap bangkai raksasa di depannya.

​Dari dada monster yang hangus itu, melayang keluar sebuah cahaya merah pekat yang jauh lebih besar dan terang dari kristal energi yang pernah mereka lihat sebelumnya. Bersamaan dengan itu, sebuah benda jatuh berdentang ke aspal.

​[Hadiah Khusus: Inti Energi Padat (Tingkat 5)]

[Benda Ditemukan: Gulungan Cetak Biru (Peringkat Menengah)]

​Yudha mengambil kedua benda tersebut. Senyum tipis yang mematikan tersungging di wajahnya. Kabut ungu di sekitar mereka perlahan mulai menipis, menandakan bahwa sang penguasa wilayah telah mati.

​"Kalian belum kuat, bukan tidak berguna," ucap Yudha dingin. Ia menoleh ke arah pengikutnya.

1
REY ASMODEUS
lanjut thor
Aisyah Suyuti
good
REY ASMODEUS
karya ini menarik untuk dinanti kelanjutannya. petualangan di dunia apocalipse sungguh membawa aroma baru untuk kalian yang haus ketegangan dan pertempuran epik. 10 Jempol untuk karya terbarumu othor badhot
REY ASMODEUS: othornya salh 🤣🤣🤣. othor bhodat
total 1 replies
REY ASMODEUS
i like it
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!